Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
jadi harus 10 kereta harus buang angin satu demi satu... lumayan juga "kerja baktinya".
mantabbbb informasinya... thank's mas Totok...
kalaw geneh rasanya, baru saya puasssss...
oke mas Totok, saya tunggu diagramnya.
sekalian satu lagi ya mas.... mengenai masalah rem, untuk rem Dinamic, kapan rem dinamic digunakan ?.. saya sering menanyakan kepada "user" saat melihat "semboyan turun, datar dan naik" (semboyan berapa ya ? di kamus reglemen belum terlihat) sepanjang perjalanan, tapi jawabannya selalu sama, karena tidak perlu... so kalaw tidak perlu, buat apa ada rem dinamic, pikir saya sambil lihat tuas handle rem dinamic yang sudah berdebu tapi masih terlihat "kinclong" meski "temannya" yang lain 'dah bulukan, apalagi tuas Semboyan 35.
mas Agus
klo rem dinamic itu sebenernya rem mesin
pada mobil jika turunan, selain mengnjak rem roda, juga biasanya mengoper transmisi ke gigi rendah atau jika matic melepas overdrive.
pada loko Diesel elektrik, rem dinamic dilakukan dengan cara mengubah motor traksi menjadi generator yg menghasilkan arus listrik sehingga putarannya tertahan. selanjutnya listrik yg dihasilkan di salurkan ke Rheostat yg ada di atas ruang batere, berupa kisi kisi yang didinginkan kipas. dengan kalta lain energi mekanik dari roda diubah menjadi panas.
dengan menggunakan rem dinamik, kecepatan kereta bisa ditahan di turunan tanpa membuat roda kereta rusak. karena selama menahan lajunya roda tetap berputar, tidak seperti rem yg cenderung menghentikan putaran roda.
kira kira demikian yg saya tahu
bagaimana om purwo?
WOODWARD Wrote:mas Agus
klo rem dinamic itu sebenernya rem mesin
pada mobil jika turunan, selain mengnjak rem roda, juga biasanya mengoper transmisi ke gigi rendah atau jika matic melepas overdrive.
pada loko Diesel elektrik, rem dinamic dilakukan dengan cara mengubah motor traksi menjadi generator yg menghasilkan arus listrik sehingga putarannya tertahan. selanjutnya listrik yg dihasilkan di salurkan ke Rheostat yg ada di atas ruang batere, berupa kisi kisi yang didinginkan kipas. dengan kalta lain energi mekanik dari roda diubah menjadi panas.
dengan menggunakan rem dinamik, kecepatan kereta bisa ditahan di turunan tanpa membuat roda kereta rusak. karena selama menahan lajunya roda tetap berputar, tidak seperti rem yg cenderung menghentikan putaran roda.
kira kira demikian yg saya tahu
bagaimana om purwo?
tapi katanya klo rem dinamik cenderung merusak TM yah, dengan kata laen mengawetkan roda kereta tp mengorbankan TM, apakah begitu??
betul mas CC201_106... sedikit saya pernah membaca dan dapat info bahwa penggunaan rem dinamic "mengorbankan" TM karena (mohon koreksi kalawa salah) intinya rem dinamik itu membuat semacam "panahanan" putaran (dengan cara menahan putaran TM pada saat rem dinamic difungsikan) sehingga laju lok tertahan... rem dinamic ini hanya ada pada Lok saja.
oleh karena itu hampir dapat dipastikan kalaw fisik komponen rem dinamic disetiap Lok pasti masih "kinclong" bin "kinyis-kinyis"...
but tha's no problem kalaw tak dipergunakan dengan pertimbangan efisiensi serta keuangan dan yang lebih penting keselamatan dan kenyamanan pengguna KA tetap menjadi prioritas utama...
dilanjut bravo ke topic.......
kaitannya dengan rem kereta jadi inget dengan semboyan 8
yg berupa papan besi dua buah disisi rel dicat putih hitam
itu sebenarnya buat tanda masinis untuk mulai mengikat remnya ya?
karena semboyan itu selalu ada sebelum stasiun.
berhubung rem kereta jaman uap ngiketnya ada delay jadi dipasang tanda itu
benerkah begitu?
weh, klo baru ngeremnya pas di Semboyan 8 apa bisa tepat brenti di sinyal masup dengan kecepatan 90km/jam (anggaplah taspatnya segini) jika sinyal masup aspek merah?
emang klo lok uap dulu sistem pengeremannya seperi apa?? bukannya sistem pengereman lok uap itu manual di masing2 kereta??
cc201_106 Wrote:weh, klo baru ngeremnya pas di Semboyan 8 apa bisa tepat brenti di sinyal masup dengan kecepatan 90km/jam (anggaplah taspatnya segini) jika sinyal masup aspek merah?
wah klo berhenti di sinyal masuk yg ndak bisa juragan. secara sinyal masuk kan dekat dengan semboyan 8
klo berhenti di sinyal keluar yg menunjukkan aspek merah baru bisa, itu pun tergantung kekuatan rem rangkaiannya
emang klo lok uap dulu sistem pengeremannya seperi apa?? bukannya sistem pengereman lok uap itu manual di masing2 kereta??
klo lok uap hampir mirip. tapi tekanan udara diambil dari boiler (ketel) setepah sebelumnya di saring supaya mengurangi kadar airnya. klo lok diesel memompa angin dengan di trotel, lok uap mompanya dengan memasukkan lebih bnyak batubara ke tungku.
tapi karena jaman lok uap belum ditemukan sisitim rem seperti sekarang, maka mengerjakan pengeremen pada lok uap agak sedikit berbeda.
Tuas rem nya punya gerakan yg jauh
posisi tengah itu "TAHAN" digerakkan ke depan menambah kekuatan pengereman, digerakkan kebelakang mengurangi kekuatan pengereman. tidak seperti rem kereta sekarang, tarik saja ke posisi tertentu dan kekuatan rem langsung tercapai sesuai posisi handel dan tertahan otomatis disitu (self Lapping), lepasnya tinggal release aja.
jadi klo kereta uap mo ngerem, dari posisi tahan dorong kedepan untuk menambah kekuatan rem kembalikan lagi ketengah untuk menahan, karena klo di biarkan di posisi depan terus jadinya malah emergency (remnya mengikat tambah kencang, bablas), melelease nya jg gitu pelan pelan.
itu yg saya tahu
Biaya dihitung untuk beli sepatu rem....
Sepatu remnya ternyata berat juga hare...., walau dari campuran besi ringan....
ngga apa2 mas,selama pas ngerem posisi kampas sejajar dengan roda,dan mengerem sempurna..
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13