14-Dec-2011, 05:08 AM
KRL JABODETABEK memang tak lepas dari masalah. Namun baru kali ini Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan dilabrak penumpang. Ceritanya, ketika sedang memantau ujicoba loppline (jalur lingkar) KRL di Stasiun Manggarai, Jonan dilabrak penumpang yang marah gara-gara jadwal KRL kacau. Namun, rombongan Jonan tak menanggapi kekecewaan penumpang dan langsung masuk ruangan.
Memang ujicoba itu, bahkan hingga kini, KRL masih kacau. Namun, Jonan masih bisa tersenyum karena pemerintah memberi kepercayaan besar kepada dia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir November lalu telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2011 tentang Penugasan kepada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk menyelenggarakan prasarana dan sarana kereta Bandara Soekarno-Hatta dan Jalur Lingkar Jabodetabek. Perpres itu menugaskan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengadakan, mengoperasikan, merawat, dan mengusahakan prasarana dan sarana perkeretaapian baik untuk KRL maupun kereta bandara.
Dalam Perpres disebutkan, seluruh proses penyelenggaraan prasarana dan sarana perkeretaapian, termasuk pengadaan lahan, tak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus mencari sumber pendanaan untuk biaya investasi prasarana dan sarana KRL dan kereta bandara. Salah satu sumber pendanaan yang memungkinkan adalah pinjaman bank.
Terkait pemberian kewenangan itu, Jonan mengatakan perusahaannya siap menerima penugasan ini. Seluruh perencanaan untuk mengoptimalkan KRL hingga terpenuhi target pengangkutan 1,2 juta penumpang per hari pada 2019 akan dijalankan.
Desain pengembangan KRL sudah dibuat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) hingga tahun 2019. Pengembangan itu meliputi penambahan listrik, persinyalan, hingga pengembangan stasiun. Total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 5 triliun. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) hanya diharuskan mengajukan desain dan spesifikasi teknis yang disetujui Menteri Perhubungan. ”Kami segera mengajukan perencanaan itu beserta detail teknisnya ke Kementerian Perhubungan,” ucap Jonan.
Mengenai jalur bandara, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan membangunnya Hatta melalui jalur selatan. Proyek ini diharapkan dapat dimulai akhir 2013. “Pengerjaan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini supaya lebih cepat dan sekaligus menghemat biaya APBN,” ujar Jonan. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah menunjuk PT Sarana Multi Infrastruktur untuk membangun jalur kereta api bandara sebelah utara melalui Pluit.
Pengerjaan jalur selatan ini memang diperkirakan akan jauh lebih cepat daripada jalur utara di Pluit. Hal ini mengingat jalur selatan, yaitu jalur kereta Jakarta-Tangerang, sudah tersedia sehingga hanya membutuhkan persiapan dan perbaikan sarana dan prasarana. Jalur tersebut akan melewati rute Duri-Grogol-Pesing-Bojong Indah-Rawa Buaya-Kalideres-Poris-Batu Ceper-Tangerang. “Kalau menunggu yang Pluit itu harus buat jalur baru, sedangkan jalur selatan sudah ada dan tinggal menambah 67 km dengan stasiun transit utama di Duri,” kata Jonan.
Saat ini, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sedang melakukan seleksi konsultan dan kemudian enam bulan ke depan dilanjutkan dengan uji kelayakan. Anggaran yang dihabiskan untuk mengoperasikan jalur selatan kereta bandara ini Rp 2,25 triliun.
Laporan selengkapnya mengenai artikel ini bisa disimak di majalah Inilah REVIEW edisi ke-16 yang terbit Senin (12/12/2011).
Memang ujicoba itu, bahkan hingga kini, KRL masih kacau. Namun, Jonan masih bisa tersenyum karena pemerintah memberi kepercayaan besar kepada dia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir November lalu telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2011 tentang Penugasan kepada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk menyelenggarakan prasarana dan sarana kereta Bandara Soekarno-Hatta dan Jalur Lingkar Jabodetabek. Perpres itu menugaskan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengadakan, mengoperasikan, merawat, dan mengusahakan prasarana dan sarana perkeretaapian baik untuk KRL maupun kereta bandara.
Dalam Perpres disebutkan, seluruh proses penyelenggaraan prasarana dan sarana perkeretaapian, termasuk pengadaan lahan, tak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus mencari sumber pendanaan untuk biaya investasi prasarana dan sarana KRL dan kereta bandara. Salah satu sumber pendanaan yang memungkinkan adalah pinjaman bank.
Terkait pemberian kewenangan itu, Jonan mengatakan perusahaannya siap menerima penugasan ini. Seluruh perencanaan untuk mengoptimalkan KRL hingga terpenuhi target pengangkutan 1,2 juta penumpang per hari pada 2019 akan dijalankan.
Desain pengembangan KRL sudah dibuat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) hingga tahun 2019. Pengembangan itu meliputi penambahan listrik, persinyalan, hingga pengembangan stasiun. Total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 5 triliun. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) hanya diharuskan mengajukan desain dan spesifikasi teknis yang disetujui Menteri Perhubungan. ”Kami segera mengajukan perencanaan itu beserta detail teknisnya ke Kementerian Perhubungan,” ucap Jonan.
Mengenai jalur bandara, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan membangunnya Hatta melalui jalur selatan. Proyek ini diharapkan dapat dimulai akhir 2013. “Pengerjaan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini supaya lebih cepat dan sekaligus menghemat biaya APBN,” ujar Jonan. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah menunjuk PT Sarana Multi Infrastruktur untuk membangun jalur kereta api bandara sebelah utara melalui Pluit.
Pengerjaan jalur selatan ini memang diperkirakan akan jauh lebih cepat daripada jalur utara di Pluit. Hal ini mengingat jalur selatan, yaitu jalur kereta Jakarta-Tangerang, sudah tersedia sehingga hanya membutuhkan persiapan dan perbaikan sarana dan prasarana. Jalur tersebut akan melewati rute Duri-Grogol-Pesing-Bojong Indah-Rawa Buaya-Kalideres-Poris-Batu Ceper-Tangerang. “Kalau menunggu yang Pluit itu harus buat jalur baru, sedangkan jalur selatan sudah ada dan tinggal menambah 67 km dengan stasiun transit utama di Duri,” kata Jonan.
Saat ini, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sedang melakukan seleksi konsultan dan kemudian enam bulan ke depan dilanjutkan dengan uji kelayakan. Anggaran yang dihabiskan untuk mengoperasikan jalur selatan kereta bandara ini Rp 2,25 triliun.
Laporan selengkapnya mengenai artikel ini bisa disimak di majalah Inilah REVIEW edisi ke-16 yang terbit Senin (12/12/2011).
