Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: All About Mutiara Timur
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
hallo RF wetan and muttim mania...

wah ane turut prihatin kalo muttim sekarang makin kurang baik .. waktu gw masih di jatim pernah naik KA ini, yang ane rasain adalah... lambat. and pernah ane bandingkan ma sritanjung.. (gw pernah posting koq kalo ga salah di paji 1 ato 2)
gw mo coba analisis nih KA, sapa tau bisa jadi solusi nih.....Xie Xie
setau gw ni KA adalah KA ekspres dan satu-satunya KA unggulan DAOP IX... kalo di tempat gw KA model ini kaya ciregal express, atawa sancaka (berdasarkan jarak tempuhnya).. cuman persoalannya, KA ciregal expres (sory... kata temen2 RF daop III, coz beberapa cirebon express udah diperpanjang ampe TG Ngakak) and KA Sancaka makin lama makin maju and dapat diandalkan... sedangkan si Muttim ni ..........
secara gw tau muttim adalah KA unggulan yang statusnya KA express... beda banged kan ma sritanjung, logawa and tawangalun yang sama2 dari DAOP IX, nah setau gw yang dijual dari KA unggulan selain kelas adalah waktu tempuh.. gw ngeliat dari postingan temen2 bahwa tarip muttim sekarang mahal banget (75 buat K-2) untu perjalanan sekitar 300Km and waktu tempuh 7 jam.. itu jelas2 overprice value (harga yang kemahalan dibandingkan manfaatnya) coma bandingkan dengan sancaka (K-2 50-75rb dengan waktu tempuh SB-YK 5 jam) atau cirex (K-2 65rb) untuk waktu tempuh 3 jam...
OK masalah medan daop IX yang memang sulit kita kesampingkan dulu.. secara untuk bersaing dengan roda karet, mereka juga lewat medan yang susah juga... yang gw tangkep dari lambatnya KA ini adalah terlalu banyak mandeg and berentinya lama-lama di tasiyun2 tsb... masa KA unggulan mandeg di wonokromo, SDA, BG, pasuruan, Pb, tanggul, rambipuji, JR, kalisat, kalibaru, kalisetail, rogojampi and karangasem.. dan anehnya malah melewatkan klakah, yang secara peluang penupang lumajang tidak tercover.. bandingkan dengan sancaka (sgu-jg-kts-mn-slo-klaten-yk)wonokromo, mojokerto, nganjuk, caruban, paron, sragen kaga berenti atau cirex (cn-jtb-jng-gmr)

jadi mungkin ni train bisa lebih cepet and lebih "elite" kalo berenti2 di tasiyun kecil dipangkas jadi berentinya sgu-sda-pb-klakah-jr-kalibaru-rogojampi and karangasem.. and berenti2nya juga jangan lama2 cukup di JR aja yang 10 menitan lalu di tasiyun2 tsb cukup 2-3 menit. mungkin ni KA bisa lebih cepet, elite and bisa bersaing dengan roda karet, dan turunin taripnye.. (untuk K-2 50-75 dan K-1 75-100)
ya ni cuman masukan, biar ada solusi jelas and penumpangnya kembali berbondong2 lagi naik ni train Xie Xie
(06-02-2010, 11:06 PM)Bangunkarta Wrote: [ -> ]hallo RF wetan and muttim mania...

wah ane turut prihatin kalo muttim sekarang makin kurang baik .. waktu gw masih di jatim pernah naik KA ini, yang ane rasain adalah... lambat. and pernah ane bandingkan ma sritanjung.. (gw pernah posting koq kalo ga salah di paji 1 ato 2)
gw mo coba analisis nih KA, sapa tau bisa jadi solusi nih.....Xie Xie
setau gw ni KA adalah KA ekspres dan satu-satunya KA unggulan DAOP IX... kalo di tempat gw KA model ini kaya ciregal express, atawa sancaka (berdasarkan jarak tempuhnya).. cuman persoalannya, KA ciregal expres (sory... kata temen2 RF daop III, coz beberapa cirebon express udah diperpanjang ampe TG Ngakak) and KA Sancaka makin lama makin maju and dapat diandalkan... sedangkan si Muttim ni ..........
secara gw tau muttim adalah KA unggulan yang statusnya KA express... beda banged kan ma sritanjung, logawa and tawangalun yang sama2 dari DAOP IX, nah setau gw yang dijual dari KA unggulan selain kelas adalah waktu tempuh.. gw ngeliat dari postingan temen2 bahwa tarip muttim sekarang mahal banget (75 buat K-2) untu perjalanan sekitar 300Km and waktu tempuh 7 jam.. itu jelas2 overprice value (harga yang kemahalan dibandingkan manfaatnya) coma bandingkan dengan sancaka (K-2 50-75rb dengan waktu tempuh SB-YK 5 jam) atau cirex (K-2 65rb) untuk waktu tempuh 3 jam...
OK masalah medan daop IX yang memang sulit kita kesampingkan dulu.. secara untuk bersaing dengan roda karet, mereka juga lewat medan yang susah juga... yang gw tangkep dari lambatnya KA ini adalah terlalu banyak mandeg and berentinya lama-lama di tasiyun2 tsb... masa KA unggulan mandeg di wonokromo, SDA, BG, pasuruan, Pb, tanggul, rambipuji, JR, kalisat, kalibaru, kalisetail, rogojampi and karangasem.. dan anehnya malah melewatkan klakah, yang secara peluang penupang lumajang tidak tercover.. bandingkan dengan sancaka (sgu-jg-kts-mn-slo-klaten-yk)wonokromo, mojokerto, nganjuk, caruban, paron, sragen kaga berenti atau cirex (cn-jtb-jng-gmr)

jadi mungkin ni train bisa lebih cepet and lebih "elite" kalo berenti2 di tasiyun kecil dipangkas jadi berentinya sgu-sda-pb-klakah-jr-kalibaru-rogojampi and karangasem.. and berenti2nya juga jangan lama2 cukup di JR aja yang 10 menitan lalu di tasiyun2 tsb cukup 2-3 menit. mungkin ni KA bisa lebih cepet, elite and bisa bersaing dengan roda karet, dan turunin taripnye.. (untuk K-2 50-75 dan K-1 75-100)
ya ni cuman masukan, biar ada solusi jelas and penumpangnya kembali berbondong2 lagi naik ni train Xie Xie

koreksi dikit bro. . . . .
mngapa KA MuttiM terLaLu banyak berhenti. .itu disebabkan karna pnp KA ini justru tersebar di sta." tersebut. . . .cthnya Kalisetail. . . .okupansi KA ini dari sta. ini mengcover hempir 40% dari keseLuruhan pnp KA MuttiM dari wiLayah Banyuwangi. . . . .cz dari wiLayah bwi sLatan emg pnp bnyk naik dari sta. ini
untuk Klakah knp KA ini Ls itu karna emag di sta. ini okupansinya rendah. . . . .untuk K3 saja hanya beLasan orang pnpnya. . . .
jadi bukan pemberhentian yang terLaLu banyak. . . .mungkin emg harga tiket yang terLaLu tinggi. . . . .
Dari analisis om bangunkarta memang bener...ya sebagai masyarakat awam ya mungkin bilang mutim ni ka expres tapi koq lambat bgt...Tapi mungkin ne ya...pendapat ane..tiket mahal karena buat nutupin biaya operasional daop IX.
Pendapatan daop IX kan ga seberapa besar dibanding daop laen. Trus daop IX juga harus menerima kenyataan kalo armadanya terbatas, lok CC masih asist..apalagi loknya BB udah tua..pasti biaya operasional terutama perawatan besar banget. Nah yang bisa diandalin ya cuma ni mutim.
Trus masalah warga lumajang yg gak tercover mungkin benar juga..okpansi di klakah kecil mungkin benar juga..alasannya karena warga Lumajang lebih memilih travel atau bus karena moda transportasi itulah yang paling dekat dengan kota lumajang..beda lagi kalo jalur lumajang-klakah aktif terus dibuat KA feeder, mungkin okupansi muttim di klakah bisa naik drastis..ini analisis ane lho..CMIIW
(09-02-2010, 01:36 PM)BB 30501 Wrote: [ -> ]koreksi dikit bro. . . . .
mngapa KA MuttiM terLaLu banyak berhenti. .itu disebabkan karna pnp KA ini justru tersebar di sta." tersebut. . . .cthnya Kalisetail. . . .okupansi KA ini dari sta. ini mengcover hempir 40% dari keseLuruhan pnp KA MuttiM dari wiLayah Banyuwangi. . . . .cz dari wiLayah bwi sLatan emg pnp bnyk naik dari sta. ini
untuk Klakah knp KA ini Ls itu karna emag di sta. ini okupansinya rendah. . . . .untuk K3 saja hanya beLasan orang pnpnya. . . .
jadi bukan pemberhentian yang terLaLu banyak. . . .mungkin emg harga tiket yang terLaLu tinggi. . . . .

ow getoo ya bro... menurut agan apakah ada pemberhentian yang perlu dipangkas tapi tidak menurunkan potensi? kaya wonokromo, bangil, pasuruan and rambipuji (jarak tanggul-rambipuji menurut gw deket, jadi mungkin bisa berenti salah satu aja) trus diantara kalisat, kalibaru, setail ma rogojampi ada yang bisa dipangkas, karna jaraknya deket?
karena penting sekali KA unggulan ini "terasa expressnya"... ini menyangkut psikologi pasar juga.... dimana penumpang akan bangga naik kereta yang tidak berenti tasiyun gede... selain itu psikologis konsumen akan meningkat ketika KA yang dinaiki menyusul KA lain.... cz saya pas naik muttim tidak pernah nyusul n pas silang juga sama2 berentinya.... ini sangat penting, misal KA sancaka dari SGU 07.00 walopun nyampe YK jam 12.10 tapi psikologis penumpang akan meningkat karna KA Sancaka menyusul KA pasundan yang budal SGU jam 05.50... meskipun KA sancaka bakal disusul Argo Wilis... selain itu Sancaka akan menang pas silang ma Rapih Dhoho, Sritanjung... misal muttim ini bisa nyusul sebuah KA entah itu lokal atao penataran/komuter, maka penumpang akan merasa KA nya adalah KA unggulan...
(09-02-2010, 05:01 PM)fun_plano Wrote: [ -> ]Dari analisis om bangunkarta memang bener...ya sebagai masyarakat awam ya mungkin bilang mutim ni ka expres tapi koq lambat bgt...Tapi mungkin ne ya...pendapat ane..tiket mahal karena buat nutupin biaya operasional daop IX.
Pendapatan daop IX kan ga seberapa besar dibanding daop laen. Trus daop IX juga harus menerima kenyataan kalo armadanya terbatas, lok CC masih asist..apalagi loknya BB udah tua..pasti biaya operasional terutama perawatan besar banget. Nah yang bisa diandalin ya cuma ni mutim.
Trus masalah warga lumajang yg gak tercover mungkin benar juga..okpansi di klakah kecil mungkin benar juga..alasannya karena warga Lumajang lebih memilih travel atau bus karena moda transportasi itulah yang paling dekat dengan kota lumajang..beda lagi kalo jalur lumajang-klakah aktif terus dibuat KA feeder, mungkin okupansi muttim di klakah bisa naik drastis..ini analisis ane lho..CMIIW

nah ini dia... tarif mahal, selain itu KA ini pake sistem satu tarip, padahal kita tahu kota besar yang dilalui Muttim adalah SBY-probolinggo ma JR, mungkin bw juga... maka yang dicover juga cuman jarak terjauh... mungkin ni KA bisa pake sistem 2 tarip (pendek and panjang) kaya sancaka geto... ada tarif panjang (YK-sgu) ma tarif pendek (YK/SGU-MN)... nah kalo bisa diaplikasikan ke muttim dengan tarif panjang (sby-jr/bw) ma tarif pendek (sgu/bw-probolinggo/klakah) mungkin penumpang akan lumayan.. secara banyak loh pnp dari sby yang ke pb/sebaliknya and penumpang dari bw yang ke pb/sebaliknya....

jadi menurut gw sih beberapa solusi tersebut bisa buat mengangkat citra ma brand KA muttim sebagai KA unggulan wilayah timur, coz:
1. dengan naik KA yang nyusul KA laen, maka akan meningkatkan efek psikologis konsumen. dimana KA yang dinaiki adalah KA elite.
2. dengan tarif pendek, maka akan memberi keadilan bagi penumpang probolinggo, yang secara kalo gw pikir lumayan tuh
3. kalo no. 2 diterapkan, bisa menjaring lebih banyak pasar..

yah.. cuman gimana baiknya sih.. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP IX sebagai tuan rumah yang lebih tau dari gw... gw sih cuman buat asumsi berdasarkan mainstream seorang konsumen, yang ketika naik KA yang bayarnya mahal, maka yang didapat lebih sesuai dengan apa yang kita bayarkanBye Bye
^^
Pasundan berangkat dari SGU jam 06.00 bro, dan Sancaka gak disusul Argo Wilis (berdasarkan gapeka 2008) karena KA 5 baru sampe YK jam 12.30, Sancakanya kan udah masuk YK jam segitu

Sedikit koreksi
Muttim sebenarnya tidak menerapkan 1 tarif, tarif Muttim ke JR dan BW beda lho, demikian juga sebaliknya, kalo pemangkasan pemberhentian, IMO itu hampir tidak mungkin karena stasiun-stasiun tempat pemberhentian itu memang selalu ada penumpang yang naik maupun turun..Kalo dari perspektif konsumen memang konsumen ingin mendapatkan pelayanan setara dengan yang dibayarkan, seperti kasus Sri Tanjung dan Sancaka (SGU-YK/LPN), Sancaka hanya perlu waktu 5 jam lebih sedikit untuk sampai YK, sedangkan Sri Tanjung bisa sampai 7 jam. Itu memang sebanding dengan harga yang dibayarkan antara Sancaka dan Sri Tanjung...Sedangkan untuk Kasus Muttim dan Sri Tanjung (SGU-BW), saya setuju dengan anda, Muttim seperti KA AC Ekonomi untuk K1 nya, dan K2 seperti KA Ekonomi yang tempat duduknya lebih nyaman...Waktu tempuh Sri Tanjung dan Muttim juga gak jauh beda, demikian juga stasiun pemberhentiannya...Tapi dari perspektif PT. Kereta Api Indonesia (Persero), jika ada stasiun pemberhentian yang dipangkas, pasti akan menurunkan okupansi, dengan sistem yang sekarang ada saja okupansinya kecil, apalagi nanti kalo ada stasiun pemberhentian yang dipangkas.....Menurut saya solusinya perbaiki jalur antara PB-JR sehingga taspat bisa naik, karena medan jalur ini tidak seberat medan jalur JR - BW, jadi masih ada kemungkinan taspat bisa naik..Dan juga, tarifnya diturunkan, tirulah kebijakan DAOP 2 yang dolo sempat menurunkan tarif KA Parahyangan dan Argo Gede, akibatnya, okupansi bisa naik lagi...
(09-02-2010, 08:26 PM)Agus_Faisal Wrote: [ -> ]^^
Pasundan berangkat dari SGU jam 06.00 bro, dan Sancaka gak disusul Argo Wilis (berdasarkan gapeka 2008) karena KA 5 baru sampe YK jam 12.30, Sancakanya kan udah masuk YK jam segitu

Sedikit koreksi
Muttim sebenarnya tidak menerapkan 1 tarif, tarif Muttim ke JR dan BW beda lho, demikian juga sebaliknya, kalo pemangkasan pemberhentian, IMO itu hampir tidak mungkin karena stasiun-stasiun tempat pemberhentian itu memang selalu ada penumpang yang naik maupun turun..Kalo dari perspektif konsumen memang konsumen ingin mendapatkan pelayanan setara dengan yang dibayarkan, seperti kasus Sri Tanjung dan Sancaka (SGU-YK/LPN), Sancaka hanya perlu waktu 5 jam lebih sedikit untuk sampai YK, sedangkan Sri Tanjung bisa sampai 7 jam. Itu memang sebanding dengan harga yang dibayarkan antara Sancaka dan Sri Tanjung...Sedangkan untuk Kasus Muttim dan Sri Tanjung (SGU-BW), saya setuju dengan anda, Muttim seperti KA AC Ekonomi untuk K1 nya, dan K2 seperti KA Ekonomi yang tempat duduknya lebih nyaman...Waktu tempuh Sri Tanjung dan Muttim juga gak jauh beda, demikian juga stasiun pemberhentiannya...Tapi dari perspektif PT. Kereta Api (Persero), jika ada stasiun pemberhentian yang dipangkas, pasti akan menurunkan okupansi, dengan sistem yang sekarang ada saja okupansinya kecil, apalagi nanti kalo ada stasiun pemberhentian yang dipangkas.....Menurut saya solusinya perbaiki jalur antara PB-JR sehingga taspat bisa naik, karena medan jalur ini tidak seberat medan jalur JR - BW, jadi masih ada kemungkinan taspat bisa naik..Dan juga, tarifnya diturunkan, tirulah kebijakan DAOP 2 yang dolo sempat menurunkan tarif KA Parahyangan dan Argo Gede, akibatnya, okupansi bisa naik lagi...

stuju bro.!!!!!
satu satunya jaLan untuk mengmbaLikan kjayaan KA MuttiM adaLah seperti yg bro sampaikan di atas.!!!
muttim dah diatrik Lok CC 203 punya SDT. . . .jadi tinggaL jaLurnya aja yg diperbaiki. . . .
Jadi buat apa dong Caneks harus dihapus kalo semstinya permaslahannya ada di jalur yang harus diperbaiki?
Muttim mudah2an kamu bisa berjaya ya...
Kayakny penyebabnya kompleks de..kalo masalah perbaikan jalur aja sekarangpun udah dalam tahap pengerjaan. Jadi menurut ane se pt.ka harus melakukan survey ulang terutama dalam hal supply demand mutim. Kita sebagai RF kan cuma bisa mengira2 oh penumpang mutim yang banyak di JR misalnya. Kondisi setiap waktu kan berbeda2 stiap hari, bisa2 dulu distasiun A mengcover 10% mutim sekarang bisa jadi 40%. Jadi ga bisa asal pangkas pemberhentian. Kalau sudah tau kan tinggal nentuin ulang tarifnya. Dan kita cuma bisa berharap harga tiket murah, tapi jangan sampe juga pt.ka merugi. Trus melakukan usha apa agar masyarakat lebih memilih ka. Cuma pt.ka yang bisa menganalisisnya dan apapun hasilnya kita berharap itu baik untuk masyarakat dan untuk mutim sendiri.
. kmaren pas liburan naek muttim k2 bg-kne (90 rb) , pulangnya naek k1 kne-sgu (110 rb) , harga beda dikit , pelayanan beda jauh ! gimana neeh ?
. muttim jg lemot bgt , gatau knapa , jalan cuma 40-50 kmh gt .
. tapi untuk gerbong ekse , saya memberi jempol , udah ad stopkontak nya . lebih bgs lg kalo k1 muttim dibuatin mirip grbg gajayana yg k1-095xx , wah jadi mak nyus tuh Big Grin
Waw buat k-2nya aja sekarang nyampe 90 ya?
Apa ga bisa dikurangi tuh...
Mungkin tarif ini yang membuat Muttim bisa anjlok lho okupansinya...