30-12-2009, 12:19 PM
Hari selasa tanggal 29 desember 2009 kami putuskan untuk mengisi waktu luang dengan mblusu’an jalur mati Saketi – Bayah , dalam rencana awal, kami berangkat lepas cilegon pukul 05.00 WIB, tetapi pada kenyataannya kita baru lepas cilegon pukul 05.30 WIB (telat 30 menit mah gak papa lah) Kami memilih rute Serang – Pandeglang – saketi – malimping – bayah mengapa kami memilih rute tersebut dan tidak menggunakan rute Serang – pandeglang – rangkas – cikotok – bayah? Karena kami juga ingin menyaksikkan jalur mati pandeglang – saketi yang masih belum semua kami ketahui jalurnya yang berada di dalam hutan sana. Dan akhirnya pada pukul 05.30 kami berangkat dari cilegon menggunakan dua sepeda motor merek Yamaha, yang satu si kecil imut nan garang alias Vega R tahun 2005 dan yang satunya lagi si muda bermata belo tangguh nan berisik alias Jupiter MX, kami menempuh jarak cilegon pandeglang kurang dari 1 jam, karena target kami harus sampai pandeglang pukul 06.30. itu dikarenakan kami ingin menyempatkan diri menyantap bubur ayam khas pandeglang yang menggunakkan racikan bumbu rempah – rempah pilihan, selesai menyantap bubur ayam kami sempatkan berbincang – bincang dengan penjual bubur ayamnya yang sudah kelihatan berumur, dia bertanya kepada kami, kalian dari mana mau kemana?, lalu kami jawab, kami dari cilegon pak mau kebayah, lalu bapak tersebut mengatakan, bayah? Hebat sekali kalian,. Kami hanya tersenyum sambil rada nyengir dikit dan sedikit heran, Cuma kebayah kok dibilang hebat, dan itu membuat kami semakin penasaran, kami bertanya lagi ke bapak itu, kira kira dari sini kebayah berapa jam yah pak?, sekitar 4 jam an lah. Lalu kami bergegas bersiap siap melanjutkan perjalanan, sebelum kami berangkat, tak lupa kami membayar bubur yang kami santap tadi, seporsi bubur ayam komplit cukup merogoh kocek sebesar Rp.3000 saja, itu juga sudah termaksud minum dan sambel yang di sediakan. Tanpa basa basi lagi kami menuju tempat yang sudah di rencanakan dari awal, yaitu bayah, baru beberapa meter lepas dari mamang bubur ayam si Jupiter MX mengalami kerusakan, baut penyangga knalpotnya hilag semua dan mengakibatkan knalpot mengangguk-ngangguk saat berjalan, tak ingin mengambil resiko, kami mencari bengkel terdekat untuk membenarkannya, sesampainya di bengkel, kami langsung membenarkannya kembali, setelah selesai kami lanjut kembali, beberapa lama kemudian kami telah tiba di saketi, dan kami melihat bekas stasiun yang kini telah menjadi pasar, dan tak lupa juga kami melihat ke sisi kiri jalan untuk melihat jembatan saketi yang panjang nan tinggi sekali itu, tak buang waktu kami pun mulai mnyusuri jalan dari saketi ke bayah via malingping yang konon jalurnya gak jauh jauh dari jalan raya, belum genap 1 kilo lepas sta saketi kami melihat gundukkan tanah yang melintang di atas jalan raya, firasat saya itu dulunya bekas jembatan Ka, dilihat dari posisi tanah yang mendatar dan tinggi kanan dan kiri tanah yang berada di sisi jalan itu sama, dan ada bekas pancang tembok penahan baja yang hanya tersisa puingnya saja, tetapi saya masih ragu, apa benar itu jalurnya? Dan akhirnya saya biarkan saja dan kembali melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan kami, kami selalu terkecoh dengan apa yang kami lihat dan yang kami kira itu rel ternyata selokan air, jalan desa, jalan stapak sawah, dan saat kami berjalan lagi saya melihat gundukan tanah datar yang membelah persawahan dan ditumbuhi pohon pisang, karena kami takut terkecoh lagi kami putuskan untuk membiarkannya.
Perjalanan kami menuju bayah bukanlah perjalanan yang gampang, kami harus melewatu jalan yang sangat sangat rusak sepanjang 9 Kilo meter lebih dan meleati tengah hutan perkebunan sawit dan karet, pantas saja tadi kami dikatakan hebat oleh mamang bubur, ternyata, jalannya EXTREME sekalii ! saat melewati jalan rusak kami sempat hamper bertabrakan dengan bus rudi karena supir bus yang ugal-ugalan , untungnya saja kami selamat, sepanjang jalan rusak kami khawatir motor kami rewel, untung saja kekhawatiran kami tidak terjadi, sudah 2 jam kami berjalan kami belum menemukan tanda tanda jalur kereta api, wajar sajalah, jalur ini di non aktifkan pada masa kemerdekaan Indonesia, alias pas jaman jepang sehingga bekas bekasnya tlah raib entah kemana. Sempat kami berfikiran bahwa yang kami lakukan ini sia sia, tetapi kami coba untuk tetap yakin bahwa pasti ada peninggalan fisiknya walaupun hanya sedikit. Setelah 2,5 jam perjalanan kami dengan perasaan yang sudah putus asa berjalan langsung menuju bayah, di tengah perjalanan saya iseng celingak – celinguk kea rah persawaah, dan tanpa sengaja saya melihat gundukan tanah datar lagi yang ditumbuhi pohon kelapa, walaupun masih ragu saya coba untuk memperhatikannya terus, tanpa terasa gundukan tersebut mendekati jalan raya dan saat kami melewati jembatan kecil saya kaget, dan bercampur rasa senang bahwa yang saya duga itu bekas jalur ka terbukti, saya melihat pondasi jembatan ka yang khas, dan saya turun dari motor dan mengeceknya dan ternyata dugaan saya tepat sekali, itu benar pondasi jembatan ka dan masih ada bekas dudukan rangka bajanya,
![[Image: 29122009.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009.jpg)
kepercayaan dan keyakinan kami pun mulai bangkit lagi, tanpa ragu kami melanjutkan perjalanan dengan mata yang masih mengamati sambil mengendarai motor, beberapa kilo kemudian kami sampai di tepi pantai dan kami sangat takjub melihat jembatan kereta api yang letaknya persis di tepi muara sungai dengan pemandangan yang langsung kea rah laut,
![[Image: 291220090091.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/291220090091.jpg)
kami berjalan kembali dan sepanjang perjalanan kami banyak menemukan pondasi pondasi jembatan KA yang berukuran kecil, dan ada juga beberapa y6ang berukuran besar,
benar saja, jalur KA bayah memang sudah tak ada yang tersisa rel nya, semua telah raib entah kemana, kami tersadar bahwa dari awal kami bertemu pantai jalur ka yang berada tepat di pinggir pantai itu panjangnya lebih dari 9 kilo meter. Andai saja masih ada kereta yang meliwatinya, pastilah sungguh amat sangat menawan dengan pemandangan laut yang sangat eksotik, jalur ka ini memiliki kontur yang beraneka ragam, dari membelah pantai hingga membelah gunungan karang,
![[Image: 29122009008.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009008.jpg)
sungguh sangat menakjubkan.
Sesampainya di bayah kami sempatkan makan siang di warung tupat tahu, dan beruntungnya bapak pedagangnya sudah berumur juga, saat kami iseng bertanya tentang jalur KA di sini dengan senang dia menjawabnya, dan ada satu pernyataan yang masih menjadi misteri sampai sekarang ini, pedagang dan beberapa mamang ojek yang manggkal di warung itu mengatakan bahwa “Disini Ada 2 terowongan kereta yang meliwati pegunungan karang menuju pulo manuk†, jelas saja saya kaget, padahal jalur ka mestinya hanya sampai bayah, kenapa ini sampai pulo manuk? Akhirnya dengan rasa penasaran kami berjalan mencari letak terowongan tersebut, kami mngendarai motor sambil beberapa kali berhenti untuk bertanya ke warga sekitar, dan akhirnya ada kabar bahwa ada terowongan di dalam perkebunan karet Deker, dengan bergegas kami langsung menuju tempat tersebut dengan arah jalan yang sudah kami ketahui, sialnya, setelah kami memasuki perkebunan karet dan bertemu oleh mandor nya dia berkata “Tidak ada terowongan kereta disini†serentak kami lemas dan berfikiran percuma kita kesini tapi dia melanjutkan perkataannya†Kalo jembatan kereta ada banyak disini†Nahhh.. ituuu dia.. walaupun jembatannya saja juga gak apaapa lah, yang penting ada bentuk fisiknya, saat kami menuju jembatan yang dimaksud saya malah heran..
![[Image: 29122009001.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009001.jpg)
Lah kok jembatannya kecil yah ??? usut punya usut, ternyata jembatan yang kami lihat ini bukan jembatak KA biasa, melainkan Jembatan Ka Lori Perkebunan, benar saja, di sini jembatan dan bekas jalurnya masih jelas terlihat, walaupun sudah tak ada rel, bantalan dan ballastnya, tapi kita menemukan patok patok kilometre yang biasanya tertancap di sepanjang jalur ka.
Akhirnya setelah puas berkeliling melihat jejak jalur Lori kami melanjutkan misi kami yaitu mecari sisa sisa jalur KA bayah, menurut info yang kami dapat, stasiun bayah terletak di belakang kantor polisi bayah, akhirnya kami bergegas meuju tempat yang di maksud, sesampainya kami di belakang kantor bolisi, kami sempat kkecewa karena yang kami temukan hanyalah sebuah lapangan luas, tetapi insting ka ku mulai berjalan, saya putuskan untuk berjalan sedikit masuk lebih dalam, dan akhirnya yang kami cari kami temukan walau hanya kecil sekali, Rel Ka Type R 25 yang masih bertuliskan KRUPP 1897 1904 KRUPP CORP sebagian teksnya hilang, ada dua buah rel, rel tersebut tertancap du lapangan untuk dijadikan tiang voli.
![[Image: 29122009002.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009002.jpg)
Tetapi stasiun yang kami cari belum juga ketemu hingga ada bapak tua yang melintas, saya langsung bertanya tentang letak stasiunnya, dan bapak tersebut menjawab, ya disini ini stasiunnya, eh tapi kayaknya disana, wah saya kurang tau, hayu saya antarkan ke orang sininya langsung. Akhirnya kami diantarkan ke rumah yang dimaksud, sesampainya di rumah tersebut kami mengobrol ngobrol dengan beberapa warga setempat. Dan ternyata terjawab sudah pertanyaannya, ternyata lapangan besar itu dulunya emplasemen stasiun bayah, dan belakang kantor polisinya adalah gedung stasiunnya, letak dipo Ka nya berada di belakang rumah yang kami Tanya ini, dan ternyata disini dulu memutar lok tidak menggunakan turn table melainkan dengan cara balon loop, rel dari spoor lansir di buat memutar menuju arah pantai dan kembali ke spoor dipo. Dari bentuk lapangan yang luas ini kami yakin bahwa dulu stasiun ini besar sekali, tetapi saying itu semua hanyalah menjadi masa lalu. Selesainya kami bertanya banyak hal kami minta pamit pulang, sebelum pamit mereka sempat mengira kami ini petugas PJKA (mereka hanya tau PJKA bukan KAI) dan bertanya apakah jalur ini mau diadain lagi? Wah bagus sekali, kalo kereta ada lagi itu sangat membantu kami sekali. Kami tidak bias menjawab apa apa, kami hanya menjawab “wah, belum tau juga pak, belum ada kabarlanjutannya†lalu ada seorang ibu menjawabâ€Âoh.. berarti kalo nanti ada kereta lagi, rumah saya ini digusur yah pak (soalnya rumah si ibu tepat berada di depan bekas Dipo alias masih berada di areal Stasiun)†“wah kami tidak tau bu, kabar aja belum ada mau bilang apa kami (sambil cengengesan)†akhirnya kami pamit pulang , pas di tengah jalan mana keujanan lagi, udah mah gak bawa jas ujan, basah dah baju, sesampainya di cilegon kami sempatkan meuju stasiun cilegon, pas masuk stasiun cilegon tepat di jalur 3 sedang stabling KA Baja Coil yang akan berangkat nanti malam jam 7 dan kami juga sempat melihat babarandek dan banten ekspress.
Perjalanan yang amat sangat melelahkan. Tetapi masih ada satu y6ang masih mengganjal di pikiran , sebenarnya ada gak sih terowongan yang tadi dimaksud orang orang itu, kalo ada dimana? Dan apa benar jalur bayah itu berakhir di pulo manuk? Itu masih menjadi misteri… untuk dari itu sudah ada rencana ke bayah lagi nanti untuk mengetahui kejelasannya… semoga benar benar ada dan tidak hanya omong kosong belaka.
ni sisa sisa yang lainya
![[Image: 29122009003.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009003.jpg)
![[Image: 29122009004.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009004.jpg)
![[Image: 29122009005.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009005.jpg)
![[Image: 29122009007.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009007.jpg)
![[Image: 29122009010.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009010.jpg)
Perjalanan kami menuju bayah bukanlah perjalanan yang gampang, kami harus melewatu jalan yang sangat sangat rusak sepanjang 9 Kilo meter lebih dan meleati tengah hutan perkebunan sawit dan karet, pantas saja tadi kami dikatakan hebat oleh mamang bubur, ternyata, jalannya EXTREME sekalii ! saat melewati jalan rusak kami sempat hamper bertabrakan dengan bus rudi karena supir bus yang ugal-ugalan , untungnya saja kami selamat, sepanjang jalan rusak kami khawatir motor kami rewel, untung saja kekhawatiran kami tidak terjadi, sudah 2 jam kami berjalan kami belum menemukan tanda tanda jalur kereta api, wajar sajalah, jalur ini di non aktifkan pada masa kemerdekaan Indonesia, alias pas jaman jepang sehingga bekas bekasnya tlah raib entah kemana. Sempat kami berfikiran bahwa yang kami lakukan ini sia sia, tetapi kami coba untuk tetap yakin bahwa pasti ada peninggalan fisiknya walaupun hanya sedikit. Setelah 2,5 jam perjalanan kami dengan perasaan yang sudah putus asa berjalan langsung menuju bayah, di tengah perjalanan saya iseng celingak – celinguk kea rah persawaah, dan tanpa sengaja saya melihat gundukan tanah datar lagi yang ditumbuhi pohon kelapa, walaupun masih ragu saya coba untuk memperhatikannya terus, tanpa terasa gundukan tersebut mendekati jalan raya dan saat kami melewati jembatan kecil saya kaget, dan bercampur rasa senang bahwa yang saya duga itu bekas jalur ka terbukti, saya melihat pondasi jembatan ka yang khas, dan saya turun dari motor dan mengeceknya dan ternyata dugaan saya tepat sekali, itu benar pondasi jembatan ka dan masih ada bekas dudukan rangka bajanya,
![[Image: 29122009.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009.jpg)
kepercayaan dan keyakinan kami pun mulai bangkit lagi, tanpa ragu kami melanjutkan perjalanan dengan mata yang masih mengamati sambil mengendarai motor, beberapa kilo kemudian kami sampai di tepi pantai dan kami sangat takjub melihat jembatan kereta api yang letaknya persis di tepi muara sungai dengan pemandangan yang langsung kea rah laut,
![[Image: 291220090091.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/291220090091.jpg)
kami berjalan kembali dan sepanjang perjalanan kami banyak menemukan pondasi pondasi jembatan KA yang berukuran kecil, dan ada juga beberapa y6ang berukuran besar,
benar saja, jalur KA bayah memang sudah tak ada yang tersisa rel nya, semua telah raib entah kemana, kami tersadar bahwa dari awal kami bertemu pantai jalur ka yang berada tepat di pinggir pantai itu panjangnya lebih dari 9 kilo meter. Andai saja masih ada kereta yang meliwatinya, pastilah sungguh amat sangat menawan dengan pemandangan laut yang sangat eksotik, jalur ka ini memiliki kontur yang beraneka ragam, dari membelah pantai hingga membelah gunungan karang,
![[Image: 29122009008.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009008.jpg)
sungguh sangat menakjubkan.
Sesampainya di bayah kami sempatkan makan siang di warung tupat tahu, dan beruntungnya bapak pedagangnya sudah berumur juga, saat kami iseng bertanya tentang jalur KA di sini dengan senang dia menjawabnya, dan ada satu pernyataan yang masih menjadi misteri sampai sekarang ini, pedagang dan beberapa mamang ojek yang manggkal di warung itu mengatakan bahwa “Disini Ada 2 terowongan kereta yang meliwati pegunungan karang menuju pulo manuk†, jelas saja saya kaget, padahal jalur ka mestinya hanya sampai bayah, kenapa ini sampai pulo manuk? Akhirnya dengan rasa penasaran kami berjalan mencari letak terowongan tersebut, kami mngendarai motor sambil beberapa kali berhenti untuk bertanya ke warga sekitar, dan akhirnya ada kabar bahwa ada terowongan di dalam perkebunan karet Deker, dengan bergegas kami langsung menuju tempat tersebut dengan arah jalan yang sudah kami ketahui, sialnya, setelah kami memasuki perkebunan karet dan bertemu oleh mandor nya dia berkata “Tidak ada terowongan kereta disini†serentak kami lemas dan berfikiran percuma kita kesini tapi dia melanjutkan perkataannya†Kalo jembatan kereta ada banyak disini†Nahhh.. ituuu dia.. walaupun jembatannya saja juga gak apaapa lah, yang penting ada bentuk fisiknya, saat kami menuju jembatan yang dimaksud saya malah heran..
![[Image: 29122009001.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009001.jpg)
Lah kok jembatannya kecil yah ??? usut punya usut, ternyata jembatan yang kami lihat ini bukan jembatak KA biasa, melainkan Jembatan Ka Lori Perkebunan, benar saja, di sini jembatan dan bekas jalurnya masih jelas terlihat, walaupun sudah tak ada rel, bantalan dan ballastnya, tapi kita menemukan patok patok kilometre yang biasanya tertancap di sepanjang jalur ka.
Akhirnya setelah puas berkeliling melihat jejak jalur Lori kami melanjutkan misi kami yaitu mecari sisa sisa jalur KA bayah, menurut info yang kami dapat, stasiun bayah terletak di belakang kantor polisi bayah, akhirnya kami bergegas meuju tempat yang di maksud, sesampainya kami di belakang kantor bolisi, kami sempat kkecewa karena yang kami temukan hanyalah sebuah lapangan luas, tetapi insting ka ku mulai berjalan, saya putuskan untuk berjalan sedikit masuk lebih dalam, dan akhirnya yang kami cari kami temukan walau hanya kecil sekali, Rel Ka Type R 25 yang masih bertuliskan KRUPP 1897 1904 KRUPP CORP sebagian teksnya hilang, ada dua buah rel, rel tersebut tertancap du lapangan untuk dijadikan tiang voli.
![[Image: 29122009002.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009002.jpg)
Tetapi stasiun yang kami cari belum juga ketemu hingga ada bapak tua yang melintas, saya langsung bertanya tentang letak stasiunnya, dan bapak tersebut menjawab, ya disini ini stasiunnya, eh tapi kayaknya disana, wah saya kurang tau, hayu saya antarkan ke orang sininya langsung. Akhirnya kami diantarkan ke rumah yang dimaksud, sesampainya di rumah tersebut kami mengobrol ngobrol dengan beberapa warga setempat. Dan ternyata terjawab sudah pertanyaannya, ternyata lapangan besar itu dulunya emplasemen stasiun bayah, dan belakang kantor polisinya adalah gedung stasiunnya, letak dipo Ka nya berada di belakang rumah yang kami Tanya ini, dan ternyata disini dulu memutar lok tidak menggunakan turn table melainkan dengan cara balon loop, rel dari spoor lansir di buat memutar menuju arah pantai dan kembali ke spoor dipo. Dari bentuk lapangan yang luas ini kami yakin bahwa dulu stasiun ini besar sekali, tetapi saying itu semua hanyalah menjadi masa lalu. Selesainya kami bertanya banyak hal kami minta pamit pulang, sebelum pamit mereka sempat mengira kami ini petugas PJKA (mereka hanya tau PJKA bukan KAI) dan bertanya apakah jalur ini mau diadain lagi? Wah bagus sekali, kalo kereta ada lagi itu sangat membantu kami sekali. Kami tidak bias menjawab apa apa, kami hanya menjawab “wah, belum tau juga pak, belum ada kabarlanjutannya†lalu ada seorang ibu menjawabâ€Âoh.. berarti kalo nanti ada kereta lagi, rumah saya ini digusur yah pak (soalnya rumah si ibu tepat berada di depan bekas Dipo alias masih berada di areal Stasiun)†“wah kami tidak tau bu, kabar aja belum ada mau bilang apa kami (sambil cengengesan)†akhirnya kami pamit pulang , pas di tengah jalan mana keujanan lagi, udah mah gak bawa jas ujan, basah dah baju, sesampainya di cilegon kami sempatkan meuju stasiun cilegon, pas masuk stasiun cilegon tepat di jalur 3 sedang stabling KA Baja Coil yang akan berangkat nanti malam jam 7 dan kami juga sempat melihat babarandek dan banten ekspress.
Perjalanan yang amat sangat melelahkan. Tetapi masih ada satu y6ang masih mengganjal di pikiran , sebenarnya ada gak sih terowongan yang tadi dimaksud orang orang itu, kalo ada dimana? Dan apa benar jalur bayah itu berakhir di pulo manuk? Itu masih menjadi misteri… untuk dari itu sudah ada rencana ke bayah lagi nanti untuk mengetahui kejelasannya… semoga benar benar ada dan tidak hanya omong kosong belaka.
ni sisa sisa yang lainya
![[Image: 29122009003.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009003.jpg)
![[Image: 29122009004.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009004.jpg)
![[Image: 29122009005.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009005.jpg)
![[Image: 29122009007.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009007.jpg)
![[Image: 29122009010.jpg]](http://i414.photobucket.com/albums/pp221/Lok_Mr/29122009010.jpg)
kalo masih ada foto lainnya jangan lupa aplot ya... klo ke sana lagi, foto bekas jalur dari berbagai sudut dan dari dekat seperti jembatan yg di pinggir pantai itu...