Ada satu cerita perihal ketinggalan KA yang saya alami, yang menunjukkan ketidak dewasaan seorang railfans, biarpun yang bersangkutan sudah berumur 40an dan sudah punya anak.
Ceritanya suatu hari di akhir minggu saya berniat untuk mengunjungi seorang tokoh KA model terkenal yang punya layout besar di Bekasi. Karena saya tidak tahu tempatnya, saya meminta bantuan seorang railfans senior (Yang tidak dewasa itu) untuk membantu menunjukkan jalan.
Awalnya dia setuju untuk mengasih tahu jalan, tapi tidak memberi tahu dulu dimana kita akan ketemuan.
Waktu itu saya berangkat dari Bandung naik KA PArahyangan pagi (yang berangkat sekitar jam 6-7 dari Bandung), dan sampai ke Bekasi sekitar jam 10an. Sebelum memasuki Bekasi, saya menelepon yang bersangkutan, ketemuan dimana. Diluar dugaan saya, dia meminta saya untuk ketemuan di Ciputat saja.
Karena saya tidak tahu Ciputat (yang letaknya ternyata jauh sekali), akhirnya saya menuruti petunjuknya orang itu. Saya juga dengan gegabah menuruti petunjuknya untuk mencegat bis dari halte bis yang jauh sekali dari stasiun Gambir (sehingga saya berjalan di bawah gerimis mengelilingi areal Monas).
Perjalanan bis lama sekali, karena macet di hari minggu di sekitar jalan Thamrin, Jenderal Sudirman, hingga blok M.
Padahal di kantong saya sudah ada tiket KA Parahyangan balik pukul 3/4 sore dari Jakarta.
Setelah 3 jam perjalanan dari Monas ke Ciputat, saya menunggu kawan saya ini di sebuah perempatan di daerah Ciputat (sesuai arahan dia). Saya menunggu lama sekali di bawah terik sinar matahari. Sejam lebih begitu.

Tadinya saya pikir dia akan datang dengan menggunakan mobil, tapi ternyata datang naik angkot!
Dan saat ketemu, dia bilang kalau dia kepikiran untuk mentraktir saya menginap di rumahnya, sambil melihat koleksi KA model di rumahnya. Waktu itu sudah pukul 1 siang, dan saya menolak halus. Sewaktu saya bilang kalau sudah mengantongi tiket balik, dia terkejut dan berkata "Wah, saya pikir mau menginap segala?" Waduh, orang ini kayaknya tidak bisa menghargai orang lain, pikir saya.
Kamipun naik angkot dari Ciputat ke Bekasi, melewati banyak areal macet dan jalan rusak. Saya melihat jam, sudah jam 1.30 dan kuatir kalau nanti ketinggalan kereta. Dia malah berkata "Santai aja, kereta biasanya kan suka telat? Lagian ngapain juga loe beli tiket balik?" Dalam hati saya agak tersinggung dengan ucapannya.

Apa dia nggak tahu kalau KA sekarang makin sering on time, dan pembelian tiket balik di Gambir terkenal susah sekali?
Setelah berjam-jam naik angkot, dan bolak-balik pindah kendaraan, akhirnya kita sampai juga ke rumah sang pemilik KA model itu. Jam sudah menunjukkan jam 2 lebih.
Saya cukup terkesan dengan segala suguhan KA model, dan cemilan yang banyak sekali. Saya sebenarnya pingin lebih lama dirumah bapak yang punya KA model itu (Sekalian uji coba loko saya). Tapi sayang seribu sayang, waktu tinggal 15 menit lagi sebelum KA saya berangkat.
Akhirnya saya pamit kepada semua, dan langsung naik ojek. Saya pikir dari rumahnya ke stasiun Bekasi dekat. Rupanya tidak! Ada durasi 45 menit perjalanan!
Otomatis akhirnya saya terlambat naik KA Parahyangan, dan terpaksa naik KA Argo Gede yang datang setelah itu. MAsih untung pak kondektur tak menagih saya...
Pelajaran dari kejadian ini adalah, di Jakarta masih ada saja orang-orang yang merasa dirinya sok benar dan tak punya empati dengan orang lain. Sehingga akibat dari ulahnya railfans tua kekanak-kanakan itu, saya jadi terlambat naik KA.
Kalau misalnya ada yang kurang berkenan, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.