Semboyan35, Indonesian Railfans

Full Version: Double Track Tangerang-Beos
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8
(23-Dec-2011 19:03 PM)BungRomay Wrote: [ -> ]Smenjak sminggu ini tiap akhir pekan saya mendengar dr rumah sperti ada suara Tag_semboyan35 dr lok CC mlintas kawasan poris. Barusan saya mendengar lg suara itu & minggu kmarin pun pd hr sabtu mendengar suara serupa. Apa saya yg cuma salah denger ya? Jarang2 ada loko maen & mlintas disini kcuali memang sdang mengangkut sesuatu

Betul Mas itu KLB kricak yang ditarik lok CC201, jarang2 memang masuk lintas tangerang, saking jarangnya anak2 bocah yang tinggal dekat rel pada kegirangan gak karuan pas liat lok CC lewat New_ngakak mungkin bosan liat KRL melulu
Kemarin lewat Grogol, kesiapan jalur baru pada tahap penimbunan Kricak
Sekarang sudah tahun 2012, mudah2n bulan ini sudah bisa pasang bantalan n rel, ap bisa ya kalau bulan April sudah bisa dobel track smp tangerang? Apa teman teman ada yg mempunyai Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga milik Ditjen KA? Supaya kita sbagai railfans bisa mengikuti perkembangan kemajuan Prasrana n sarana Kereta api.
Kalau April 2012 ini sudah dobel trek sih... pesimis mas... Aku khan ngantor suka lewatin Jl. Panjang apalagi sisi selatan stasiun Rawa Buaya... Gak ada tanda2 minimal penimbunan bebatuan kricak tuh...
Stasiun Pesing yang penuh dengan papan nama....

Padahal penghuninya sedikit... Jarang naik - turun KRL di stasiun ini... tapi tiap naik - turun jumlah penumpang gak pernah banyak....

Belum lagi ini suatu wujud penipuan besarrr.....

Kedua stasiun yang ditunjukin itu bener2 gak berfungsi.... Boro2 stasiunnya terwujud... 1 peron yang ada aja dah kayak kuburan mati alias bukan kuburan utk umum...
Sempet tadi kirain mau BLB di stasiun Grogol, gak taunya cuma lajunya yang lambat, terus cepet lagi...
stasiun pesing ini lebih mudah masuk lewat pjl disebelah barat, ketimbang lewat sisi jalan daan mogotnya. soalnya posisi stasiun tersembunyi masuk kedalam sekitar 50m. kalo naik bus turunnya bilang sama kernet di pintu kereta. kalo bilang mau turun di stasiun pesing, malah bingung dia.

padahal pesing dilewati busway juga. tapi haltenya nggak ada.
(03-Mar-2012 21:48 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Stasiun Pesing yang penuh dengan papan nama....

Padahal penghuninya sedikit... Jarang naik - turun KRL di stasiun ini... tapi tiap naik - turun jumlah penumpang gak pernah banyak....

Belum lagi ini suatu wujud penipuan besarrr.....

Kedua stasiun yang ditunjukin itu bener2 gak berfungsi.... Boro2 stasiunnya terwujud... 1 peron yang ada aja dah kayak kuburan mati alias bukan kuburan utk umum...
Sempet tadi kirain mau BLB di stasiun Grogol, gak taunya cuma lajunya yang lambat, terus cepet lagi...

ini stasiun kan punya 2 jalur ya??? disisi selatan flyover tanahnya udh rata tapi belum keliatan ada pengerjaan lanjutannya. Pdhl nih stasiun deket jalan besar loh, tapi ya gitu macetnya minta ampuun dah.
(03-Mar-2012 22:25 PM)ady_mcady Wrote: [ -> ]stasiun pesing ini lebih mudah masuk lewat pjl disebelah barat, ketimbang lewat sisi jalan daan mogotnya. soalnya posisi stasiun tersembunyi masuk kedalam sekitar 50m. kalo naik bus turunnya bilang sama kernet di pintu kereta. kalo bilang mau turun di stasiun pesing, malah bingung dia.

padahal pesing dilewati busway juga. tapi haltenya nggak ada.


"Out of Topic"
Emang sih, lah busway saja lewat atas
(03-Mar-2012 21:48 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Stasiun Pesing yang penuh dengan papan nama....

Padahal penghuninya sedikit... Jarang naik - turun KRL di stasiun ini... tapi tiap naik - turun jumlah penumpang gak pernah banyak....

Belum lagi ini suatu wujud penipuan besarrr.....

Kedua stasiun yang ditunjukin itu bener2 gak berfungsi.... Boro2 stasiunnya terwujud... 1 peron yang ada aja dah kayak kuburan mati alias bukan kuburan utk umum...
Sempet tadi kirain mau BLB di stasiun Grogol, gak taunya cuma lajunya yang lambat, terus cepet lagi...

Kalo diliat-liat ni mas dana, Stasiun grogol kayanya bakalan dihidupin lagi. soalnya di peta Coomuter Stasiun Grogol dimiunculin di peta coba lihat ini:

tapi kalo stasiun taman kota ngga tahu deh gimana masa depannya, padahal prospeknnya bagus karena banyak penghuni GreenGarden yang berpotensi pindah ke KRL dan meninggalkan mobil mereka karena kemacetan ibukota yan makin parah. Sepenglihatan saya belum ada tanda-tanda pemasokkan bantalan apa lagi pemasangan. Semoga tahun ini selesai, dan PT KCJ tidak lupa menambah dayanya.
Terlihat, sampai detik ini belum ada tanda2 akan stasiun Grogol dihidupkan kembali.
Lih. Pict

New_demam New_bye
Yuppp.... Foto situ ini tampak dr Jl. Latumenten mengarah ke arah Tangerang yah... Sisi kanan pada foto dulu haltenya yg super kecil panjangnya... Cuma muat maks. 3 unit KRD kala itu. Soalnya aku ngalamin wkt suka nongkrong di halte Grogol ini.
Trus soal keberadaan stasiun memang nih stasiun dan secara keseluruhan di seantero Jabodetabek masih banyak yang dianak tirikan... Halte busway di Jl. Latumenten masih bernama "Latumenten Stasiun KA". Kapan yah ada stasiun KA namanya "Halte busway"???
Kalau stasiun Pesing memang masih banyak yang blm paham lokasi pastinya... Sebetulnya gampang aja kalau pemerintah mau sungguh2 mencantumkan nama stasiunnya dan berharap lebih ekstrimnya lagi, stasiunnya dibuat minimal kayak Tj. Barat yah... Jadi terlihat megah, gak tersembunyi gitu...
(05-Mar-2012 12:03 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Yuppp.... Foto situ ini tampak dr Jl. Latumenten mengarah ke arah Tangerang yah... Sisi kanan pada foto dulu haltenya yg super kecil panjangnya... Cuma muat maks. 3 unit KRD kala itu. Soalnya aku ngalamin wkt suka nongkrong di halte Grogol ini.
Trus soal keberadaan stasiun memang nih stasiun dan secara keseluruhan di seantero Jabodetabek masih banyak yang dianak tirikan... Halte busway di Jl. Latumenten masih bernama "Latumenten Stasiun KA". Kapan yah ada stasiun KA namanya "Halte busway"???
Kalau stasiun Pesing memang masih banyak yang blm paham lokasi pastinya... Sebetulnya gampang aja kalau pemerintah mau sungguh2 mencantumkan nama stasiunnya dan berharap lebih ekstrimnya lagi, stasiunnya dibuat minimal kayak Tj. Barat yah... Jadi terlihat megah, gak tersembunyi gitu...

wah nanti bakalan ada kalimat "naik busway turun dihalte Stasiun KA lalu transit menggunakan KRL di Stasiun Halte Busway"
New_lupa

Mumpung belum jadi double traknya mending di pugar dari sekarang ya. kalo stasiun ini berfungsi mungkin masyarakat jelamabar memiliki alternatif lain jika mau kemana2. Dari pada naik Bajaj atau mikrolet macet, apalagi mobil pribadi yg nambah penuh jalan ibukota.

kalo ngga salah mau ada wacana pembangunan stasiun di Roxy (antara DU THB), klo bisa sih stasiun mati suri seperti stasiun Grogol dan Taman kota dihidupkan lagi. Sebelum sampai ditujuan akhir di tangerang ada stasiun mati suri juga, namanya stasiun Tanah tinggi. Padahal dekat menuju pusat pemerintakan kota Tangerang dan Pasar induk Tanah tinggi.

Kalo di lihat dari judul thread ini sudah tidak relevan lagi "Double Track Tangerang-Beos" padahal Duri sampe Beos kan udah Double Track dari zaman dulu
New_ngikik
(07-Mar-2012 13:54 PM)zulfahmi Wrote: [ -> ]
(05-Mar-2012 12:03 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Yuppp.... Foto situ ini tampak dr Jl. Latumenten mengarah ke arah Tangerang yah... Sisi kanan pada foto dulu haltenya yg super kecil panjangnya... Cuma muat maks. 3 unit KRD kala itu. Soalnya aku ngalamin wkt suka nongkrong di halte Grogol ini.
Trus soal keberadaan stasiun memang nih stasiun dan secara keseluruhan di seantero Jabodetabek masih banyak yang dianak tirikan... Halte busway di Jl. Latumenten masih bernama "Latumenten Stasiun KA". Kapan yah ada stasiun KA namanya "Halte busway"???
Kalau stasiun Pesing memang masih banyak yang blm paham lokasi pastinya... Sebetulnya gampang aja kalau pemerintah mau sungguh2 mencantumkan nama stasiunnya dan berharap lebih ekstrimnya lagi, stasiunnya dibuat minimal kayak Tj. Barat yah... Jadi terlihat megah, gak tersembunyi gitu...

wah nanti bakalan ada kalimat "naik busway turun dihalte Stasiun KA lalu transit menggunakan KRL di Stasiun Halte Busway"
New_lupa

Mumpung belum jadi double traknya mending di pugar dari sekarang ya. kalo stasiun ini berfungsi mungkin masyarakat jelamabar memiliki alternatif lain jika mau kemana2. Dari pada naik Bajaj atau mikrolet macet, apalagi mobil pribadi yg nambah penuh jalan ibukota.

kalo ngga salah mau ada wacana pembangunan stasiun di Roxy (antara DU THB), klo bisa sih stasiun mati suri seperti stasiun Grogol dan Taman kota dihidupkan lagi. Sebelum sampai ditujuan akhir di tangerang ada stasiun mati suri juga, namanya stasiun Tanah tinggi. Padahal dekat menuju pusat pemerintakan kota Tangerang dan Pasar induk Tanah tinggi.

Kalo di lihat dari judul thread ini sudah tidak relevan lagi "Double Track Tangerang-Beos" padahal Duri sampe Beos kan udah Double Track dari zaman dulu
New_ngikik

Padahal deket tuh Tn. Tinggi drpd stasiun TNG yg rada jauh dikit ke pusat kotanya
Stasiun Roxy nampaknya masih menunggu kepastian apakah trek ke bandara Soetta itu pakai 2 alternatif saja atau cuma 1 alternatif? Yang mana alt. 1 dr Roxy berbelok ke kiri sambung ke st. Grogol dan alt. 2 berbelok ke kiri dr st. Angke via Pluit.
Jembatan kecil peninggalan sejarah keberadaan petak rel ini :


Berjalan sedikit ke arah barat tampak pasar tumah ruah :

Kerumunan warga yg bertransaksi jual beli.

Masih di lokasi yang sama :

Merasa gondrong, biar lebih cakep atau kepanasan nih? Rambut dicukur akhh...

Tampak palang lampu perlintasan KA termenung :

...krn ibarat dagu, si lampu perlintasan yg bunder itu bersender di atas kanopi lapak pasar kaget.
Masih di lokasi yg sama....


Saat ada KRL hendak melintas.


Saat palang pintu perlintasan KA menutup.


KRL pun melintas yang kala itu masih KRL AC Benteng Ekspres (ekspres).

"Out of Topic"

@zulfahmi,
o, ya trims koreksinya. dulu waktu buat thread ini masih ngantuk. jadi lupa kalo duri-beos udah dobel dari dulu. hehehe...

bagaimana mas bravo, judul thread ini apakah bisa disesuaikan? dari tangerang-beos menjadi tangerang-duri.

dan juga letaknya apakah sudah cukup pas di gerbong komuter atau lebih pas di letakkan di jalur barat, terserah mas bravo bagaimana pertimbangannya.
(07-Mar-2012 14:32 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Stasiun Roxy nampaknya masih menunggu kepastian apakah trek ke bandara Soetta itu pakai 2 alternatif saja atau cuma 1 alternatif? Yang mana alt. 1 dr Roxy berbelok ke kiri sambung ke st. Grogol dan alt. 2 berbelok ke kiri dr st. Angke via Pluit.

lokasi ini kalo dibandingkan sm pasar gaplok dan gang sentiong lebih semrawut mana ya???

nyumbang artikel dari http://arkeologi.web.id/articles/memori-...ke-batavia

(sori kalo repost)

Stasiun Angke dan Stasiun Duri, Pintu Gerbang ke Batavia
Tuesday, 02 March 2010 05:29 rochtri

Batavia dan jalur kereta api. Batavia dan kanal. Batavia dan rimbun pepohonan. Itu dulu, berabad lampau. Kini, Jakarta dan macet. Jakarta dan kanal yang menyempit dan dangkal, alias got. Jakarta yang gersang. Jakarta yang tak nyaman. Jakarta yang tak punya transportasi massal yang terpadu dan dikelola pemerintah, bukan Organda. Transportasi massal dan terpadu adalah bentuk layanan publik yang harusnya disediakan oleh pemerintah. Itu adalah pertanggungjawaban atas semua pajak warga, Anda dan saya.

Saya hanya bisa membayangkan ketika Jakarta masih Batavia dengan trem, kereta yang menghubungkan Tanjungpriuk-Batavia-Meester Cornelis-Weltevreden yang pada akhirnya menghubungkan Batavia dengan kota-kota di Jawa Barat, Timur, dan Tengah. Bahkan jika sempat Anda tengok jalur kereta api dari puncak Monas, maka akan terlihat, Batavia dikelilingi jalur lintas kereta api. Jenis transportasi yang pertama kali dibawa Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini sungguh jadi andalan Batavia.

Pada akhirnya, seluruh kawasan Batavia bisa dijangkau dengan kereta api. Foto-foto kuno milik KITLV menunjukkan beberapa halte trem Tanah Abang West-Weltevreden. Ketika masa NISM berakhir, Staatspoorwegen (SS) menggantikan urusan penyelenggaraan jaringan kereta api. Di Batavia, hidup makin sumringah ketika pada April 1875 dibuka jaringan kereta listrik oleh Electrische Staatspoorwegen. Maka kawasan pinggiran yang di masa itu sulit dijangkau, kawasan di luar Batavia, kini mudah dicapai.

Beberapa waktu lalu, saya sempatkan mampir kembali ke Jembatan Lima, Jakarta Barat. Kawasan ini tak hanya dipenuhi jembatan tapi juga dilalui jalur kereta api. Hanya saja, lintas ini jarang disebut-sebut. Padahal, dari catatan Dinas Museum tahun 1993, Kampung Jembatan Lima merupakan pintu gerbang orang dari kulon ke Batavia. Penghubungnya tak lain kereta api, dengan Stasiun Angke yang membawa orang dari Tangerang, Pandeglang, Banten, Baturaja, Rangkasbitung, dll.

Kini, stasiun itu sudah berubah total dengan toko yang memenuhi hampir seluruh gedung stasiun yang ada di areal pasar buah, Angke. Setelah Stasiun Angke dengan lintasan yang tak pernah sepi dari warga berkegiatan, maka muncullah Stasiun Duri. Kondisi lintasan di sini juga tak jauh berbeda. Sore hari, ketika orang menanti kereta, warga sekitar juga memenuhi lintasan. Anak-anak bahkan bermain bola.

Tak seperti Stasiun Angke, Stasiun Duri masih menyisakan tanda-tanda sebagai stasiun kuno. Bangunan itu telihat baru saja dicat ulang namun tak tampak nama stasiun seperti yang biasa ada pada setiap stasiun lengkap dengan angka ketinggian stasiun.

Dua stasiun tadi, termasuk Tanah Abang, Paal Merah, memang stasiun kecil. Hanya sebagai stasiun antara yang mengantar warga di lintas barat Batavia. Meski kecil, stasiun-stasiun dan jalur tersebut bukanlah jalur biasa karena sudah dibikin oleh Belanda. Kisah jalur kereta api hingga ke Bayah, jalur mati, dan Merak tak kalah menarik dengan jalur Batavia-Buitenzorg atau jalur dalam kota Batavia. Hanya saja, kisah itu tampaknya kurang terangkat. Sejarah, perkiraan tahun pembangunan jalur dan stasiun kecil tersebut di atas pun belum terlacak. Semoga ini menjadi perhatian Divisi Pelestarian PT KA.

Stasiun Utama
Dalam rangka mengembangkan angkutan massal berbasis kereta api, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerjasama dengan PT Kereta Api (KA), berencana mengembangkan layanan transportasi kereta lingkar kota (loopline) di wilayah utara Jakarta yang langsung terhubung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Untuk keperluan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pernah menyatakan, akan menjadikan Stasiun Duri sebagai salah satu stasiun utama. Sehingga stasiun ini akan mulai direvitalisasi pada tahun ini.

Untuk itu, revitalisasi Stasiun Duri harus menyeluruh, temasuk penyediaan transportasi pendukung (feeder) dan pembenahan permukiman liar. Selain itu, menurut Fauzi, tahun ini Pemprov DKI juga akan membangun Pluit City Terminal, yaitu stasiun lengkap dengan jalur kereta yang langsung menuju bandara.



Pradaningrum Mijarto
Sumber: http://www1.kompas.com/readkotatua/
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8
Reference URL's