(07-Mar-2012 14:32 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Stasiun Roxy nampaknya masih menunggu kepastian apakah trek ke bandara Soetta itu pakai 2 alternatif saja atau cuma 1 alternatif? Yang mana alt. 1 dr Roxy berbelok ke kiri sambung ke st. Grogol dan alt. 2 berbelok ke kiri dr st. Angke via Pluit.
Berjalan sedikit ke arah barat tampak pasar tumah ruah :

Kerumunan warga yg bertransaksi jual beli.
Masih di lokasi yang sama :

Merasa gondrong, biar lebih cakep atau kepanasan nih? Rambut dicukur akhh...
Tampak palang lampu perlintasan KA termenung :

...krn ibarat dagu, si lampu perlintasan yg bunder itu bersender di atas kanopi lapak pasar kaget.
Masih di lokasi yg sama....

Saat ada KRL hendak melintas.

Saat palang pintu perlintasan KA menutup.

KRL pun melintas yang kala itu masih KRL AC Benteng Ekspres (ekspres).
lokasi ini kalo dibandingkan sm pasar gaplok dan gang sentiong lebih semrawut mana ya???
nyumbang artikel dari
http://arkeologi.web.id/articles/memori-...ke-batavia
(sori kalo repost)
Stasiun Angke dan Stasiun Duri, Pintu Gerbang ke Batavia
Tuesday, 02 March 2010 05:29 rochtri
Batavia dan jalur kereta api. Batavia dan kanal. Batavia dan rimbun pepohonan. Itu dulu, berabad lampau. Kini, Jakarta dan macet. Jakarta dan kanal yang menyempit dan dangkal, alias got. Jakarta yang gersang. Jakarta yang tak nyaman. Jakarta yang tak punya transportasi massal yang terpadu dan dikelola pemerintah, bukan Organda. Transportasi massal dan terpadu adalah bentuk layanan publik yang harusnya disediakan oleh pemerintah. Itu adalah pertanggungjawaban atas semua pajak warga, Anda dan saya.
Saya hanya bisa membayangkan ketika Jakarta masih Batavia dengan trem, kereta yang menghubungkan Tanjungpriuk-Batavia-Meester Cornelis-Weltevreden yang pada akhirnya menghubungkan Batavia dengan kota-kota di Jawa Barat, Timur, dan Tengah. Bahkan jika sempat Anda tengok jalur kereta api dari puncak Monas, maka akan terlihat, Batavia dikelilingi jalur lintas kereta api. Jenis transportasi yang pertama kali dibawa Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini sungguh jadi andalan Batavia.
Pada akhirnya, seluruh kawasan Batavia bisa dijangkau dengan kereta api. Foto-foto kuno milik KITLV menunjukkan beberapa halte trem Tanah Abang West-Weltevreden. Ketika masa NISM berakhir, Staatspoorwegen (SS) menggantikan urusan penyelenggaraan jaringan kereta api. Di Batavia, hidup makin sumringah ketika pada April 1875 dibuka jaringan kereta listrik oleh Electrische Staatspoorwegen. Maka kawasan pinggiran yang di masa itu sulit dijangkau, kawasan di luar Batavia, kini mudah dicapai.
Beberapa waktu lalu, saya sempatkan mampir kembali ke Jembatan Lima, Jakarta Barat. Kawasan ini tak hanya dipenuhi jembatan tapi juga dilalui jalur kereta api. Hanya saja, lintas ini jarang disebut-sebut. Padahal, dari catatan Dinas Museum tahun 1993, Kampung Jembatan Lima merupakan pintu gerbang orang dari kulon ke Batavia. Penghubungnya tak lain kereta api, dengan Stasiun Angke yang membawa orang dari Tangerang, Pandeglang, Banten, Baturaja, Rangkasbitung, dll.
Kini, stasiun itu sudah berubah total dengan toko yang memenuhi hampir seluruh gedung stasiun yang ada di areal pasar buah, Angke. Setelah Stasiun Angke dengan lintasan yang tak pernah sepi dari warga berkegiatan, maka muncullah Stasiun Duri. Kondisi lintasan di sini juga tak jauh berbeda. Sore hari, ketika orang menanti kereta, warga sekitar juga memenuhi lintasan. Anak-anak bahkan bermain bola.
Tak seperti Stasiun Angke, Stasiun Duri masih menyisakan tanda-tanda sebagai stasiun kuno. Bangunan itu telihat baru saja dicat ulang namun tak tampak nama stasiun seperti yang biasa ada pada setiap stasiun lengkap dengan angka ketinggian stasiun.
Dua stasiun tadi, termasuk Tanah Abang, Paal Merah, memang stasiun kecil. Hanya sebagai stasiun antara yang mengantar warga di lintas barat Batavia. Meski kecil, stasiun-stasiun dan jalur tersebut bukanlah jalur biasa karena sudah dibikin oleh Belanda. Kisah jalur kereta api hingga ke Bayah, jalur mati, dan Merak tak kalah menarik dengan jalur Batavia-Buitenzorg atau jalur dalam kota Batavia. Hanya saja, kisah itu tampaknya kurang terangkat. Sejarah, perkiraan tahun pembangunan jalur dan stasiun kecil tersebut di atas pun belum terlacak. Semoga ini menjadi perhatian Divisi Pelestarian PT KA.
Stasiun Utama
Dalam rangka mengembangkan angkutan massal berbasis kereta api, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerjasama dengan PT Kereta Api (KA), berencana mengembangkan layanan transportasi kereta lingkar kota (loopline) di wilayah utara Jakarta yang langsung terhubung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Untuk keperluan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pernah menyatakan, akan menjadikan Stasiun Duri sebagai salah satu stasiun utama. Sehingga stasiun ini akan mulai direvitalisasi pada tahun ini.
Untuk itu, revitalisasi Stasiun Duri harus menyeluruh, temasuk penyediaan transportasi pendukung (feeder) dan pembenahan permukiman liar. Selain itu, menurut Fauzi, tahun ini Pemprov DKI juga akan membangun Pluit City Terminal, yaitu stasiun lengkap dengan jalur kereta yang langsung menuju bandara.
Pradaningrum Mijarto
Sumber:
http://www1.kompas.com/readkotatua/