Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Tarif Tunggal KRL Jabodetabek Diterapkan Mulai 2013
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7
^
tarif tunggal itungannya murah loh, mana ada angkutan AC dari serpong ke bekasi 5500?
naik busway gak bayar lagi.
['Bangunkarta' pid='133018' dateline='1265710013']
Quote:wah.. jelas2 kaga asik nih PT KCJ kalo gene......
1. kaga akan ada legi perjalanan cepet (jua-poc cuman 40menit).. kaga ada lagi KA secepat pakuan.... jelas2 itu bukan solusi tapi pola pikir picik dengan penyeragaman konsumen... padahal kita tahu, urgensi setiap personal dalam naik KRL beda-beda, ada yang kebutuhannya cepet (naik express meskipun mahal), ada yang asal nyampe and ada yang asal nyampe tapi lebih nyaman... lambat dikit kaga apa-apa

sabar guk. ini kan yang mengusulkan dephub. bisa saja nanti kcj kebijakannya beda dengan tetap mengadakan krl ekspress. lagipula siapa sih yang gak mau untung besar dengan mengoperasikan krl ekspres?

Quote:2. dengan penyeragaman konsumen, di sisi lain berarti menihilkan konsumen krl ekonomi, yang sangat butuh krl murah, asal mereka bisa terangkut... ini bertentangan dengan tujuan negara, masa perusahaan plat merah, malah tidak berpihak kepada masyarakat.....

rencananya kedepan memang krl eko bakalan hilang. saya gak bisa memprediksi apakah 2013 nanti masyarakat kita sudah mampu keluar wang rp 100 / km. tapi kayaknya masih bisa menerima.

Quote:3. kaga asik banget... tar gw kaga bisa nyusul eko AC di PSM and ekonomi panas di MRI... and kaga ada keunikan depex disusul pakuan di Dpb, and kaga bisa lagi merasakan sensasi "serasa KA mewah nan elite" kaya bekasi expres yang kaga brenti JNG.....

ini juga belum tentu krl ekspres dihilangkan. seperti poin 1 diatas, saya gak yakin kcj mau menghapus ekspres.

Quote:4. tarif tunggal tidak adil bagi penumpang jarak dekat (mis jakk-mri)

nah, kalo ini saya setuju abis. saya fanatik sama rezim rate by distance. lebih adil. siapa naik lebih jauh, bayar lebih mahal.

Quote:so lebih baik sistemnya tetep kaya gini... dan ekonomiAC ada tarif berdasarkan zonasi..... tapi yang paling urgen adalah benahi sarana KRLnya dolo....... dan tetep pertahankan KRL Express.......

setuju kalo sarana dibenahi, terutama pasokan daya listrik dan gangguan sinyal (bosen kita mendengarnya). tapi kalo sistemnya saya setuju adanya perubahan dari yang sekarang.
Kalau jenis layanan tunggal (EKO AC), mungkin saya bisa memahami dan menyetujui.

Tetapi kalau tarif tunggal, saya kurang setuju dan lebih setuju tarif zonasi walaupun dengan selisih tarif per zona yang tidak terlalu jauh berbeda.
KCJ mengikuti apa yang diterapkan oleh Tokyo Metro... di 9 line Metro (kecuali Tozai dan Fukutoshin) itu tidak ada KRL ekspres. Di jalur Tokyu Denentoshi - Metro Hanzomon - Tobu Isesaki itu tidak peduli apapun kelasnya, maka semua KRL harus berhenti di semua stasiun saat melewati jalur Metro mulai dari Shibuya sampai Oshiage...

Kalau mau mengadakan layanan ekspres, buatlah jalur sendiri (seperti JR East dengan Joban Line atau Tobu dengan Tojo Line). Jadi jalur KA lokal dan KA ekspres dipisah, sehingga tidak mengganggu perjalanan KA ekonomi.

Kalau tidak kuat bikin jalur, saran saya sih tetap dengan single class saja. Semua KA lokal - tanpa ekspres - , kalau demikian Tersenyuum
(10-02-2010, 12:14 PM)Shin Muhammad Wrote: [ -> ]KCJ mengikuti apa yang diterapkan oleh Tokyo Metro... di 9 line Metro (kecuali Tozai dan Fukutoshin) itu tidak ada KRL ekspres. Di jalur Tokyu Denentoshi - Metro Hanzomon - Tobu Isesaki itu tidak peduli apapun kelasnya, maka semua KRL harus berhenti di semua stasiun saat melewati jalur Metro mulai dari Shibuya sampai Oshiage...

Kalau mau mengadakan layanan ekspres, buatlah jalur sendiri (seperti JR East dengan Joban Line atau Tobu dengan Tojo Line). Jadi jalur KA lokal dan KA ekspres dipisah, sehingga tidak mengganggu perjalanan KA ekonomi.

Kalau tidak kuat bikin jalur, saran saya sih tetap dengan single class saja. Semua KA lokal - tanpa ekspres - , kalau demikian Tersenyuum

Sudah beberapa kali saya perhatikan KRL ekspres semakin sepi saja, berbanding terbalik dengan eko AC yang tadinya agak lengang pada jam sibuk menjadi penuh sesak sampai-sampai ada beberapa foto yang menampakkan suasana eko AC yang menyerupai KRL eko panas...

Semestinya layanan ekspres digabung dengan eko AC, yang mana beberapa eko AC bertindak selaku ekspres (tak berhenti di GMR) dengan penambahan beberapa stasiun perhentian.
menurut saya, konsep semua menjadi KRL ekonomi AC itu ide pejabat yang tidak merasakan naik KRL sehari-hari. Wek
JAKK-BOO berhenti di 20 stasiun rata-rata berhenti 2 menit bisa hilang 40 menit untuk berhenti saja.
saya lebih setuju kalo single fares tapi tetap ada KRL ekspres.
jadi orang bisa milih, mau naik apa aja bisa, tinggal liat aja tujuannya disinggahi semua jenis KRL atau ga?
semua orang bisa naik ekspres maupun ekonomi AC, tidak ada kesenjangan, namun sensasi fast trip dan penyusulan tetap ada.
itu sistem yang diterapkan Tokyu di semua jalurnya.
saya lebih setuju ini yang diterapkan.
(10-02-2010, 01:31 PM)m_ilhami Wrote: [ -> ]menurut saya, konsep semua menjadi KRL ekonomi AC itu ide pejabat yang tidak merasakan naik KRL sehari-hari. Wek
JAKK-BOO berhenti di 20 stasiun rata-rata berhenti 2 menit bisa hilang 40 menit untuk berhenti saja.

bener banged gan... KRL ekspres adalah solusi untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi.. karna sasaran yang dibidik adalah yang pengen mobilitasnya cepet.. ya wajar kalo mahal.. toh pendapatan terbesar dari PT KCJ juga dari KRL Ekspress.....

(10-02-2010, 12:36 PM)Charles Wrote: [ -> ]Sudah beberapa kali saya perhatikan KRL ekspres semakin sepi saja, berbanding terbalik dengan eko AC yang tadinya agak lengang pada jam sibuk menjadi penuh sesak sampai-sampai ada beberapa foto yang menampakkan suasana eko AC yang menyerupai KRL eko panas...

Semestinya layanan ekspres digabung dengan eko AC, yang mana beberapa eko AC bertindak selaku ekspres (tak berhenti di GMR) dengan penambahan beberapa stasiun perhentian.

elo orang mana gan? elo kaga pernah liat DEPEX yah atau BOJES (bojonggede Express), emang mereka cuman beroperasi pas jam berangkat and pul kerj aja... liat dunk kondisinya, mereka uda kaya ekonomi AC... cuman karne mereka cepet (jua-poc 40 menit).. so meskipun penuh tetep aja banyak diminati.... masa pas kita mo pengen cepet musti berlama2 di kereta... bisa2 para pelanggan express balik lagi ke mobil pribadi dunk..
(10-02-2010, 01:39 PM)Faris GM-MarKA Wrote: [ -> ]saya lebih setuju kalo single fares tapi tetap ada KRL ekspres.
jadi orang bisa milih, mau naik apa aja bisa, tinggal liat aja tujuannya disinggahi semua jenis KRL atau ga?
semua orang bisa naik ekspres maupun ekonomi AC, tidak ada kesenjangan, namun sensasi fast trip dan penyusulan tetap ada.
itu sistem yang diterapkan Tokyu di semua jalurnya.
saya lebih setuju ini yang diterapkan.

ini juga berat gan... KRL express diminati karna selain cepet, juga nyaman.. coz hanya brenti di sedikit tasiyun and bayarnya mahal... nah kalo tarifnya jadi kaya ekoAC... bisa jadi krl express akan amat penuh dan kaga ada kenyamanan dengan kelengangan penumpang.. coz semua penumpang dari jakk-jua-gdd-ui-poc-dpb-dp-cta-bjd-clt-boo bakal nyerbu express.. lah bayarnya sama, mending yang cepet ajah......trus depex ma bojes bisa2 kaya ekoAC pas kaga ada eko Panas (pintu kaga bisa nutup n penuhnya.. masya Allah)Sakit
tarif express itu sudah cukup adil... siapa mau cepat and nyaman ya bayar lebih lah.. toh uda ada ekoAC yang juga aga nyaman meskipun lambat
(10-02-2010, 12:14 PM)Shin Muhammad Wrote: [ -> ]KCJ mengikuti apa yang diterapkan oleh Tokyo Metro... di 9 line Metro (kecuali Tozai dan Fukutoshin) itu tidak ada KRL ekspres. Di jalur Tokyu Denentoshi - Metro Hanzomon - Tobu Isesaki itu tidak peduli apapun kelasnya, maka semua KRL harus berhenti di semua stasiun saat melewati jalur Metro mulai dari Shibuya sampai Oshiage...

Kalau mau mengadakan layanan ekspres, buatlah jalur sendiri (seperti JR East dengan Joban Line atau Tobu dengan Tojo Line). Jadi jalur KA lokal dan KA ekspres dipisah, sehingga tidak mengganggu perjalanan KA ekonomi.

Kalau tidak kuat bikin jalur, saran saya sih tetap dengan single class saja. Semua KA lokal - tanpa ekspres - , kalau demikian Tersenyuum
kalau mau menghilangkan KA ekspress perlu dipikirkan juga dampaknya karena pengguna KA ini adalah para pekerja yang biasanya membawa mobil .... jangan sampai mereka jadi meninggalkan KRL, karena ini adalah pangsa yg potensial untuk pendapatan KCJ

(10-02-2010, 12:36 PM)Charles Wrote: [ -> ]Sudah beberapa kali saya perhatikan KRL ekspres semakin sepi saja, berbanding terbalik dengan eko AC yang tadinya agak lengang pada jam sibuk menjadi penuh sesak sampai-sampai ada beberapa foto yang menampakkan suasana eko AC yang menyerupai KRL eko panas...

Semestinya layanan ekspres digabung dengan eko AC, yang mana beberapa eko AC bertindak selaku ekspres (tak berhenti di GMR) dengan penambahan beberapa stasiun perhentian.
kalau menurut saya malah terbalik, makin lama makin penuh KRL ekspres di jam2 pagi/sore .... ini berdasarkan pengalaman saya yang sering naik KA263 Depok-Tanahabang, suasana sudah hampir mendekati eko AC. yang agak lenggang itu mungkin ekspres yg jalan di atas jam 7.30 pagi .... atau yang jalan sebelum jam 5 sore ....
Perlu diingat juga, kepadatan ekspres jgn disamakan dengan eko panas atau eko AC yang sangat berjubel karena para penumpang yg memilih kelas ini jg berharap akan kenyamanan dengan tidak terlalu berjubelnya penumpang.

kalau untuk eko AC, sering terjadi suasana eko panas karena juga disebabkan batalnya rangkaian eko panas .... saya tahunya eko AC yang jam 6.49 pocin, sering seperti itu karena eko panas tanah abang batal .....
Setuju aja,asal ada jaminan kenyamanan dan yang paling utama <b>DAPET TEMPAT DUDUK</B>
Pages: 1 2 3 4 5 6 7