Kamis, 10 Maret 2011 kemarin saya berkesempatan naik KA Logawa dari Pwt ke Lpn. Masih tertanam dalam ingatan saya betapa sebulan sebelumnya ketika saya ke Lpn juga dengan KA Logawa dan gerbong aling-aling, suasana berjubel dan sulit untuk bergerak, bahkan mau turun juga sulit, padahal rangkaian saat itu terdiri dari 9 kereta (setelah ditambah 3 kereta di Kroya). Namun mengingat situasinya juga situasi liburan, maka 7 kereta yang tersedia tidak mencukupi untuk menampung seluruh penumpang, belum lagi mogoknya CC20158 sebagai lok penarik di Kemranjen. Walhasil, ketika itu terlambatlah Logawa tiba di Lpn, sektar jam 11 siang baru sampai Lpn. Banyak penumpang yang mengeluhkan kondisi ini, mereka kebanyakan menyesalkan keberadaan 2 gerbong aling-aling yang mereka anggap mubazir dan justru mengurangi okupansi. Ada juga yang berkomentar bahwa PT. KAI tidak bisa menjamin keselamatan perjalanan KA-nya, dan seolah mereka menjamin akan terjadi tabrakan karena itu disediakan aling-aling. Nah, itu sih terserah para penumpang, mereka berhak mengkritisi layanan yang mereka dapatkan walau dengan nada pedas sekalipun. Namun demikian, secara logika bagi saya wajar muncul komentar demikian.
Dengan kenangan yang kurang menyenangkan itu, Kamis, 10 Maret 2011 kemarin saya berangkat lagi ke Lpn dengan Logawa. Okupansi lumayan bagus walau tidak berjubel. Rangkaiannya saat itu terdiri dari (maaf kalo agak kurang akurat, ingatan saya memang kurang bagus) CC20155-3K3-KMP3-2K3-aling-aling-1K1-Barang Dinas. KA berangkat tepat waktu, dan sesaat sebelum diberangkatkan PPKA berlari-lari ke loko dan membisikkan sesuatu ke asisten masinis. Saat berangkat KA langsung melaju dengan lumayan cepat, dan tiba di wilayah Pasir Muncang seperti biasa masinis rajin membunyikan

, wajar mengingat daerah sini adalah daerah pemukiman padat dan terdapat beberapa perlintasan liar. Yang tidak wajar, sesaat setelah menikung KA mengurangi laju perjalanannya dan

tidak berhenti. Saat itu saya duduk di kereta terdepan, belum beraling-aling karena akan ditambah di Kroya. Astaga, pemandangan yang saya lihat adalah palang pintu perlintasan masih terbuka lebar, tidak tertutup karena kedua palang tersebut masih dengan gagah menunjuk ke angkasa. Di pos PJL terlihat sang petugas tertidur dengan pintu pos yang tertutup rapat! Masinis menghentikan KA-nya dengan posisi kereta yang saya tumpangi berada di tengah jalan, hanya nampak sepeda motor di kanan dan kiri kereta menunggu giliran jalan. Saat kereta berhenti 2 PKD dan seorang petugas PT. KAI dengan R-6 turun dan menggedor pintu pos PJL beberapa lama. Ketika akhirnya pintu terbuka, petugas PJL keluar dan PKD menunjuk ke kereta, petugas jaga hanya bengong dan akhirnya memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Tak lama kereta melanjutkan perjalanan kembali, masih melaju dengan kecepatan tinggi. Untung tidak terjadi PLH, sebab biasanya di daerah ini banyak bus yang berkejaran terutama bis Purwokerto – Tegal dan bus-bus ¾.
Tiba di Kroya sudah menanti rangkaian dari Cilacap, terdiri dari 1 aling-aling dan 2 K3. Setelah disambung rangkaian menjadi CC20155-aling-aling-5K3-KMP3-2K3-aling-aling-1K1-Barang Dinas. Rangkaian panjang 12 kereta dengan 1 loko, alhasil tarikan awal lumayan berat walau KA masih bisa melaju dengan cukup cepat. Tiba di Lpn sekitar jam 09.30, gerbong Barang Dinas ditinggal sementara K1 yang dibawa masih ikut serta. Cukup cepat juga, hanya terlambat 15 menit jika dihitung nyaris PLH di Pasir Muncang dan panjangnya rangkaian yang dibawa.
Demikian sedikit sharing pengalaman dengan KA Logawa. Point saya di sini adalah kejadian palang yang masing mengacung ke angkasa sementara kereta lewat, memprihatinkan. Positifnya, KA melaju lumayan cepat dan tidak banyak terlambat. Terima kasih, mohon maaf jika kurang berkenan.
Dheni
Purwokerto