Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: tiket elektronik: jalan tol sudah. krl kapan..?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3
baru lihat brita di koran tempo, tiket elektronik sudah mulai berfungsi untuk beberapa ruas tol dalam kota. tiketnya bisa dibeli diberbagai tempat bernilai min 10 rb dan max 1 jut. bisa menghemat waktu di gerbang tol. Kapan ya...

pikiran saya langsung teringat krl. kapan ya menyusul...? Pasrah Aja Dah
hehe..kata petugas yang nge-set pintu elektronik di jalur JAK-BOO sih harusnya januari dah bisa..tapi kenyataannya sampe skarang msh blm...
kalo g salah baca katanya wat elektronifikasi seluruh tiket d daop 1 efektif 2010... nah lho...
2010? Bingung lama banget yak. ngikutin ngaret gaya mrt kah? atau monorel? Ngikik
kayaknya klo tahun depan pun susah deh, kecuali klo stasiun2 direnovasi/modifikasi biar anti-Kambingers
karena dimana ada celah disitu para Kambingers masuk Pasrah Aja Dah
i ya nih... sudah masuk taon 2011 ,...blum juga action...
tiket elektronis... itu suatu lompatan yg besar...untuk itu mental masyrakat dan petugasnya harus secara bertahap di ubah....misal tak akan ada lagi bayar di atas...tak ada lagi kondektur takut/segan nanya tiket yg tampang sangar.
semua sta yg terkait harus disesuaikan dg prog tsb..tak ada lagi jalan2 tikus, tak ada alagi penumpang datang pada detik2 terkahir...karena akan ada antrian penumpang di loket atau pintu putarnya..
banyak soal yg perlu sosialisasi lebih dulu : tiket itu untuk sekali jalan (seperti rencana untuk transjakarta) atau multy entry seperti kalau kita menggunakan bbrp kartu pra bayar dari bank??
waktu peresmian jalur ganda jakk- serpong ..di media katanya akan segera dilaksanakan tiket el ini...tapi nyatanya di sta jakk saja mesin2 masih dibungkus..
piye rek???
sepertinya masih belum bisa terealisasi dalam waktu dekat ini deh..
tampaknya masih banyak pembenahan..

sekarang saja,meskipun sudah dipasang (namun belum berfungsi),
masih banyak celah tikus karena kurangnya pagar pembatas
Bethe iya kapan ya di jalankan sistem tiket elektronik. padahal dah pengen pamer sama anak2 Busway.
Quote:Karcis Plastik untuk Penumpang Kereta
Selasa, 24 Mei 2011 | 05:52 WIB
TEMPO/Aditia Noviansyah
[Image: ?id=76719&width=490]

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebuah alat dari aluminium setinggi lebih dari 1 meter ditempatkan di pintu masuk peron stasiun kereta api Universitas Indonesia (UI) dan Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Alat itu adalah pemindai tiket elektronik kereta api.

PT Kereta Api Commuter Jabodetabek akan menguji coba tiket elektronik di 39 stasiun dari 63 stasiun di Jabodetabek yang sudah memiliki pemindai, termasuk stasiun UI dan Pondok Cina.

"Kami uji coba dulu untuk KRL Express, lalu kami evaluasi," kata Direktur Utama PT KA Commuter Jabodetabek, Bambang Wibiyanto, Jumat pekan lalu.

Uji coba akan dilakukan terus hingga akhir 2011. Namun, mulai 1 Juli 2011, uji coba tiket elektronik akan diberlakukan di Commuter Line. Menurut Bambang, Commuter Line adalah kereta baru yang berpenyejuk udara, tapi bukan jenis KRL Ekonomi AC maupun KRL Express. Sementara, kereta ekonomi non-AC tetap menggunakan karcis manual.

Bambang mengatakan penggunaan karcis yang bentuknya seperti kartu ATM itu akan diberlakukan secara bertahap. Peluncuran tiket elektronik ini secara resmi akan dilakukan akhir tahun untuk penggunaan di 63 stasiun. Sosialisasi tiket elektronik dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti melalui spanduk, media massa, dan melibatkan semua stakeholders.

Rencana ini disambut baik oleh pengguna kereta api. Enisa, warga Pamulang, Tangerang Selatan, mengaku gembira dengan rencana itu. Menurut perempuan 39 tahun yang biasa naik dari Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan, itu tiket elektronik sangat praktis.

“Saya tidak perlu antre untuk membeli tiket tiap berangkat dan pulang kerja,” ujar pegawai swasta yang berkantor di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu.

Enisa pernah menikmati kemudahan tiket elektronik itu. Ia membeli tiket elektronik beberapa bulan lalu yang bisa digunakannya selama sekitar satu bulan. Sayang, belum habis depositnya, alat pemindai tiket di Stasiun Sudimara rusak sehingga ia tidak bisa menggunakannya lagi.

Akibatnya, ia harus antre lagi untuk membeli karcis manual. Namun, kata dia, petugas stasiun mengatakan tiket elektronik miliknya masih bisa dipakai lagi. “Saya simpan, nanti saya pakai lagi kalau pemindai di stasiun sudah diperbaiki,” ujarnya.

Tiket elektronik itu tidak hanya memerlukan pemindai, tapi juga stasiun yang tertutup sehingga steril dari penumpang gelap. Hingga saat ini, stasiun yang akan diuji coba belum steril. Di Stasiun Sudimara, Universitas Indonesia (UI), dan Pondok Cina, penumpang ilegal mudah menumpang gratis karena banyaknya “pintu siluman”. “Penumpang dan pedagang bisa masuk Stasiun Sudimara dengan menyusuri rel,” kata Enisa.

Di Stasiun UI, misalnya, "pintu siluman" cukup banyak, di antaranya ada di ujung dua peron, berlawanan arah dengan pintu masuk yang dijaga pemeriksa karcis. Untuk bisa meloloskan diri dari pemeriksaan karcis, penumpang ilegal hanya perlu melompat dari peron atau bisa juga memanfaatkan tangga balok kayu yang telah tersedia untuk turun dari peron stasiun setinggi hampir 2 meter.

Dari peron, mereka dapat menyusuri rel kereta untuk kemudian berbelok arah ke jalan setapak dan langsung menuju ke permukiman warga di sekitar stasiun. Sebaliknya, jika ingin masuk ke peron kereta, mereka dapat melewati jalur yang sama, lalu menaiki peron dengan cara melompat atau memanfaatkan tangga kayu tersebut.

Risiko terbesar dari cara curang ini adalah tertabrak kereta.

Di peron Stasiun UI arah ke Jakarta Kota juga terdapat dua "pintu siluman". Dua pintu itu biasanya dimanfaatkan mahasiswa yang kos di sekitar stasiun sebagai akses keluar-masuk kampus.

Tidak ada petugas di dua “pintu siluman” itu sehingga penumpang gelap bisa mengakses dengan leluasa. Sementara itu, di Stasiun Pondok Cina, "pintu siluman" ada di ujung dua peron, berlawanan arah dengan pintu masuk peron.

PRIHANDOKO | ENDRI K
Pages: 1 2 3