buset dah...
dubai dah kayak kota masa depan di pilm2 gt...
ajib dah...
Tanjakannya terjal amat tuh... coba lok kita narik di situ.. tebak kayak apa jadinya
![[Image: new_ngakak.gif]](http://www.semboyan35.com/images/smilies/new_ngakak.gif)
Nah kalo ada di jakarta, saya jamin jakarta gak bakalan macet.
Itu kayaknya udah diatur sama system komputer ya?
saya pernah baca di majalah konstruksi punya temen saya. katanya sistemnya mirip sama yang di KL. cuma koridornya lebih panjang.
(18-11-2010, 03:51 PM)g10d Wrote: [ -> ]Nah kalo ada di jakarta, saya jamin jakarta gak bakalan macet.
Itu kayaknya udah diatur sama system komputer ya?
Kereta semacam itu hampir sama seperti maglev yang tanpa masinis, yaitu dikendalikan dengan sistem komputer secara terpusat melalui kabel yang dipasang di sepanjang jalur atau secara nirkabel (sepertinya untuk Dubai Metro ini menggunakan sistem nirkabel).
Salah satu pic Dubai Metro:
Relnya kalau tidak salah pakai standard gauge (1435 mm).
dasar negara banyak fulus. tinggal buat jalur mrt, langsung jadi.
ini menurut majalah, koridor 1 (red line) panjang sekitar 50 km an. koridor 2 (green line) sepanjang 17 km rampung tahun depan.
belum cukup, ada 3 koridor lagi yang sedang diajukan proposalnya. panjang total ke 3 nya kira2 100 km an. jadi total panjang koridor mrt di dubai sekitar 160 km rencananya.
KAPAN INDONESIA BISA ????
dg sistem ini malah hebat biaya operasional, krn ga adanya masinis n kondektur maka ga perlu menggaji masinis n kondektur.
(18-11-2010, 10:33 PM)kemal reza Wrote: [ -> ]KAPAN INDONESIA BISA ????
pasti bisa, tinggal nunggu waktu aja
(19-11-2010, 01:28 PM)ouilevio Wrote: [ -> ]dg sistem ini malah hebat biaya operasional, krn ga adanya masinis n kondektur maka ga perlu menggaji masinis n kondektur.![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
(18-11-2010, 10:33 PM)kemal reza Wrote: [ -> ]KAPAN INDONESIA BISA ????
pasti bisa, tinggal nunggu waktu aja
Sistem semacam ini pada pelaksanaannya memang lebih hemat dari segi biaya operasional karena jumlah SDM tanggungan berkurang, namun biaya konstruksi dan biaya pemeliharaan sarana dan prasarana lebih mahal dibandingkan sistem KA konvensional (dikarenakan peralatannya yang serba otomatis dan membutuhkan energi yang lebih besar).
Hal yang menyebabkan Dubai berhasil membangun sarana KA cepat tersebut adalah kebutuhan listrik yang mendukung serta okupansi penumpang yang seimbang dengan pengeluaran untuk operasional, konstruksi dan pemeliharaan baik sarana maupun prasarana yang ada.
CMIIW.