Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: KRL EX Jepang Seri JR-203 Telah Tiba Di Jakarta
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7

Sebelumnya ini datang kan ada TM6000, itu sudah dinasan belum ya Bingung
(05-08-2011, 09:04 AM)sepur21 Wrote: [ -> ]
Sebelumnya ini datang kan ada TM6000, itu sudah dinasan belum ya Bingung

TM 6000 udah testrun dan sertifikasi
cuma sertifikat jalannya itu belum keluar2
ya seenggaknya sblm akhir tahun dy udh jalan lah
atw awal tahun depan??
kita tunggu aja sama2
dulu biasanya KRL Eks JPN klo awal dinas jadi Depeks/Bojess
paling sekarang jadi KRL CL DP/BJD
cmiiw
Bye Bye
(05-08-2011, 09:41 AM)aatea_goparmania Wrote: [ -> ]TM 6000 udah testrun dan sertifikasi
cuma sertifikat jalannya itu belum keluar2
ya seenggaknya sblm akhir tahun dy udh jalan lah
atw awal tahun depan??
kita tunggu aja sama2
dulu biasanya KRL Eks JPN klo awal dinas jadi Depeks/Bojess
paling sekarang jadi KRL CL DP/BJD
cmiiw
Bye Bye

lama juga keluar sertifikat jalannya ya ... padahal testnya ud lumayan lama ya


waktu TM7000 sepertinya lebih cepat .... semoga cepat segera keluar biar cepat dinasan .....
masalah sertifikasi sih bisa dicepetin, tapi kl gak kepake juga gimana? soalnya kan kemampuan LAA juga kurang, paling2 kalo pun dipake berarti ada krl lain yang istirahat... ya jumlah perjalanan akan tetap.....

kl JR203 ini, modifikasi apa aja yg bakal dilakuin? non aktif ATS-nya kah???
(06-08-2011, 10:29 AM)TukangBengkel Wrote: [ -> ]masalah sertifikasi sih bisa dicepetin, tapi kl gak kepake juga gimana? soalnya kan kemampuan LAA juga kurang, paling2 kalo pun dipake berarti ada krl lain yang istirahat... ya jumlah perjalanan akan tetap.....

kl JR203 ini, modifikasi apa aja yg bakal dilakuin? non aktif ATS-nya kah???

kalo ATS nya sih emang ga diaktifin.... disini kan emang ga ada ATS dan ATC.... CMIIW
(06-08-2011, 10:29 AM)TukangBengkel Wrote: [ -> ]masalah sertifikasi sih bisa dicepetin, tapi kl gak kepake juga gimana? soalnya kan kemampuan LAA juga kurang, paling2 kalo pun dipake berarti ada krl lain yang istirahat... ya jumlah perjalanan akan tetap.....

kl JR203 ini, modifikasi apa aja yg bakal dilakuin? non aktif ATS-nya kah???

Modifikasi yang dilakukan hanyalah pada skema warna yang diubah menjadi merah-kuning ala PT. KCJ, sisanya tak ada yang berubah, dan sistem ATS di lintas Jabodetabek sendiri belum ada.

Seri 6000 sendiri sebenarnya sudah layak dinas, akan tetapi karena pasokan daya listrik yang belum optimal kedua rangkaian 6000 tersebut masih menjadi rangkaian cadangan untuk Commuter Line di dipo DP yang digunakan pada saat ada rangkaian yang bermasalah atau menjalani PAL.

Saya dengar dua rangkaian lagi yang tersisa masih berada di Niigata sekarang, dan seri 203 ini tidak hanya didatangkan ke Jakarta saja, tetapi juga ada 2 rangkaian yang akan dikirim ke Manila, Filipina.
(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Yang datang itu adalah JR East 203, saya baru cegat di MRI tadi untuk pembersihan.

pas set ini masuk, saya seharian di MRI. tapi ga liat situ tuh Mikir Dulu

(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Yang saya bisa ambil cuma 1 peta JR East sama stiker KKW aja, bersih souvenirnya alias udah pada dicabutin waktu masih di Jepang.

petanya masih di temen saya, disuruh ambil katanya :XD:

(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Rangkaian yang datang itu MaTo 51 dan MaTo 66, MaTo 52 katanya menyusul.

Info dari temen saya di Jepang, MaTo 52 belum pasti masuk bung Xie Xie[Image: overstappen.png]
(06-08-2011, 09:27 PM)Charles Wrote: [ -> ]
(06-08-2011, 10:29 AM)TukangBengkel Wrote: [ -> ]masalah sertifikasi sih bisa dicepetin, tapi kl gak kepake juga gimana? soalnya kan kemampuan LAA juga kurang, paling2 kalo pun dipake berarti ada krl lain yang istirahat... ya jumlah perjalanan akan tetap.....

kl JR203 ini, modifikasi apa aja yg bakal dilakuin? non aktif ATS-nya kah???

Modifikasi yang dilakukan hanyalah pada skema warna yang diubah menjadi merah-kuning ala PT. KCJ, sisanya tak ada yang berubah, dan sistem ATS di lintas Jabodetabek sendiri belum ada.

Seri 6000 sendiri sebenarnya sudah layak dinas, akan tetapi karena pasokan daya listrik yang belum optimal kedua rangkaian 6000 tersebut masih menjadi rangkaian cadangan untuk Commuter Line di dipo DP yang digunakan pada saat ada rangkaian yang bermasalah atau menjalani PAL.

Modifikasi yang dilakukan selain warna juga pada pengaktifan kembali DeadMan Pedal yang sudah tergantikan ATS di Jepang.


Maaf bung, seri 6000 belum turun sertifkat kelayakannya, bukan jadi cadangan.
ini KRL JR 203 dulunya beroperasi di sub way....??? ada pintu darurat di kabin masinis...???
(07-08-2011, 06:39 PM)Faris GM-MarKA Wrote: [ -> ]
(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Yang datang itu adalah JR East 203, saya baru cegat di MRI tadi untuk pembersihan.

pas set ini masuk, saya seharian di MRI. tapi ga liat situ tuh Mikir Dulu

(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Yang saya bisa ambil cuma 1 peta JR East sama stiker KKW aja, bersih souvenirnya alias udah pada dicabutin waktu masih di Jepang.

petanya masih di temen saya, disuruh ambil katanya :XD:

(03-08-2011, 02:22 PM)Charles Wrote: [ -> ]Rangkaian yang datang itu MaTo 51 dan MaTo 66, MaTo 52 katanya menyusul.

Info dari temen saya di Jepang, MaTo 52 belum pasti masuk bung Xie Xie[Image: overstappen.png]
(06-08-2011, 09:27 PM)Charles Wrote: [ -> ]
(06-08-2011, 10:29 AM)TukangBengkel Wrote: [ -> ]masalah sertifikasi sih bisa dicepetin, tapi kl gak kepake juga gimana? soalnya kan kemampuan LAA juga kurang, paling2 kalo pun dipake berarti ada krl lain yang istirahat... ya jumlah perjalanan akan tetap.....

kl JR203 ini, modifikasi apa aja yg bakal dilakuin? non aktif ATS-nya kah???

Modifikasi yang dilakukan hanyalah pada skema warna yang diubah menjadi merah-kuning ala PT. KCJ, sisanya tak ada yang berubah, dan sistem ATS di lintas Jabodetabek sendiri belum ada.

Seri 6000 sendiri sebenarnya sudah layak dinas, akan tetapi karena pasokan daya listrik yang belum optimal kedua rangkaian 6000 tersebut masih menjadi rangkaian cadangan untuk Commuter Line di dipo DP yang digunakan pada saat ada rangkaian yang bermasalah atau menjalani PAL.

Modifikasi yang dilakukan selain warna juga pada pengaktifan kembali DeadMan Pedal yang sudah tergantikan ATS di Jepang.


Maaf bung, seri 6000 belum turun sertifkat kelayakannya, bukan jadi cadangan.

Saya juga minta maaf, yang saya dengar kemarin 6000 saat ini memang masih di dipo DP dan belum bisa operasional karena sertifikasinya belum selesai.

(08-08-2011, 08:01 AM)eling Wrote: [ -> ]ini KRL JR 203 dulunya beroperasi di sub way....??? ada pintu darurat di kabin masinis...???

Seri 203 ini beroperasi di lintas JR Joban dan melakukan thru service ke lintas Tokyo Metro Chiyoda yang merupakan subway sehingga diperlukan pintu darurat di muka kabin masinis dengan desain letak pintu di tengah seperti pintu darurat pada seri 6000 eks Toei beserta seri 8000 dan 8500 eks Tokyu juga seri 5000 eks Tokyo Metro.

Data lengkap seri 203 bersama dengan pabrik perakitnya ada di sini:

[SPOILER]
http://charleskkb.blogspot.com/2010/12/j...-line.html
[/SPOILER]
Quote:Oktober, 20 Gerbong Kereta Tambahan Meluncur
SENIN, 08 AGUSTUS 2011 | 11:06 WIB
TEMPO/Wahyu Setiawan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mulai Oktober PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (KCJ) akan mengoperasikan 20 unit gerbong tambahan. Sekretaris perusahaan PT KCJ Makmur Syaheran menyebutkan 20 unit KRL seri JR 203 yang dibeli dari Jepang ini sudah sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa pekan lalu, 2 Agustus 2011. "Saat ini ke-20 kereta itu ada di Balai Yasa Manggarai untuk penambahan aksesori dan proses persiapan sertifikasi," ujar Makmur di kantornya, Stasiun Juanda, Senin 8 Agustus 2011.

Menurut Makmur, kedatangan 20 unit kereta ini merupakan yang pertama dari target pengadaan KRL di tahun 2011 sebanyak 130 unit KRL. Sedangkan tahun 2010 lalu KCJ sudah mendatangkan 110 unit kereta dan delapan unit pada 2009. Rencana penambahan kereta pada 2011 ini terdiri dari 50 unit KRL seri JR 203, 30 unit krl seri 05, dan 50 unit KRL seri 6000.

Rencananya penambahan sebanyak 130 kereta sudah terpenuhi hingga akhir November mendatang. Secara berangsur kedatangan kereta berikutnya dijadwalkan berjarak kurang dari sebulan. "Paling lambat 20 kereta lagi akan datang akhir Agustus."

Untuk mendatangkan satu unit kereta dibutuhkan biaya Rp 1 miliar. "Biaya Rp 1 miliar itu sudah termasuk pengiriman, asuransi, dan administrasi," ujar Makmur.

Kereta yang didatangkan ini adalah kereta bekas yang diproduksi tahun 1990-an. Di samping harganya yang sepuluh kali lebih murah, pemilihan kereta bekas, kata Makmur, juga disesuaikan dengan kebutuhan biaya operasional di dalam negeri. Kalau beli kereta baru yang harganya mencapai Rp 10 miliar, harga tiket pun akan naik hingga tujuh kali lipat. "Kalau beli baru, kami harus berpikir panjang, kecuali pemerintah sanggup menambah subsidi. Tapi itu kan mustahil," ujarnya.

Pada tahap awal penambahan armada ini, kata Makmur, akan digunakan untuk mengganti kereta yang sudah tidak andal. Selain itu juga memberi kesempatan KRL lain untuk mendapatkan perawatan. "Jadi keterlambatan perjalanan kereta api akibat kereta mogok bisa dikurangi." Untuk jangka panjang penambahan akan berfungsi menambah frekuensi perjalanan kereta. "Apalagi dengan pelaksanaan operasi tunggal, penambahan frekuensi kereta bisa dioptimalkan," ujarnya lagi.

Sementara itu Direktur Utama PT KCJ Bambang Wibiyanto menyebutkan penambahan armada akan dilakukan setiap tahun. Dengan begitu target KCJ untuk mengangkut hingga 1,2 juta penumpang per hari pada 2019 akan tercapai. "Rencananya mulai 2012 hingga 2019 kami programkan untuk menambah hingga 160 unit KRL per tahun. Diharapkan pada 2019 ada penambahan KRL sebanyak 1.000 unit, sehingga dapat mengangkut penumpang sesuai dengan target," tutur Bambang.

Meski begitu, selain penambahan armada, Bambang juga menyebutkan PT KCJ tetap akan fokus dalam meningkatkan kualitas layanan. Namun dia meminta peran serta pemerintah dalam meningkatkan sarana dan prasarana perkeretaapian terus ditingkatkan. Misalnya peningkatan sarana parkir, penambahan gardu listrik, penambahan daya listrik, renovasi persinyalan, dan peninggian peron. "Yang tak kalah penting adalah penambahan kapasitas perawatan sarana," ucap Bambang. Menurut dia, perbaikan layanan kereta harus menjadi tanggung jawab semua pihak.

IRA GUSLINA
Pages: 1 2 3 4 5 6 7