12-Feb-2010, 17:59 PM
Pages: 1 2
27-Mar-2010, 10:47 AM
Wah. dilihat dari postingan sebelumnya, jadi kerasa asyik, lokomotif presiden Soekarno emang luar biasa, kelas VIP, mengalahkan CC 203 24 dan CC 203 36. Kelas presiden Djadoel...
Entah saya tidak tahu secara pasti dimana keberadaan lokomotif yang asli, tapi ada lok penggantinya di TMII, namun aku nggak yakin kalo itu lok asli, karena ada lokomotif dengan nomer seri yang sama di Museum KA Ambarawa. Mungkin sejak dulu lok yang asli sudah dirucat, jadi diganti 2 lokomotif dengan nomer seri yang beda dikasih plat nomer seri yang sama.
Entah saya tidak tahu secara pasti dimana keberadaan lokomotif yang asli, tapi ada lok penggantinya di TMII, namun aku nggak yakin kalo itu lok asli, karena ada lokomotif dengan nomer seri yang sama di Museum KA Ambarawa. Mungkin sejak dulu lok yang asli sudah dirucat, jadi diganti 2 lokomotif dengan nomer seri yang beda dikasih plat nomer seri yang sama.
10-Oct-2010, 22:55 PM
astaga, dipotong - potong......?
sedih bacanya......
sedih bacanya......

10-Oct-2010, 23:14 PM
uda dpotong , proses pmotongannya juga diabadikan pula oleh orang asing






16-Nov-2010, 11:32 AM
(27-Mar-2010 10:47 AM)Aldio Yudha Trisandy Wrote: [ -> ]Wah. dilihat dari postingan sebelumnya, jadi kerasa asyik, lokomotif presiden Soekarno emang luar biasa, kelas VIP, mengalahkan CC 203 24 dan CC 203 36. Kelas presiden Djadoel...
Entah saya tidak tahu secara pasti dimana keberadaan lokomotif yang asli, tapi ada lok penggantinya di TMII, namun aku nggak yakin kalo itu lok asli, karena ada lokomotif dengan nomer seri yang sama di Museum KA Ambarawa. Mungkin sejak dulu lok yang asli sudah dirucat, jadi diganti 2 lokomotif dengan nomer seri yang beda dikasih plat nomer seri yang sama.
Kisah heroik KLB (kereta Luar Biasa) ditarik loko uap C28 ini dapat disimak secara lengkap disini
29-Nov-2010, 01:37 AM
Sedih banget rasanya mbaca cerita nasib kereta2 uap tua yg dirucat....
kemajuan jaman melindas masa lalu.... yg kadang keindahannya baru kita sadari setelah semua itu tiada
kemajuan jaman melindas masa lalu.... yg kadang keindahannya baru kita sadari setelah semua itu tiada
20-Feb-2011, 22:26 PM
Yg di karawang itu C2801 bukan C2849!
foto dijepret th1989
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461629008/
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461026179/
TC
foto dijepret th1989
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461629008/
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461026179/
TC
03-Mar-2011, 00:05 AM
keberadaanya dimna tuh??? coba diposting terakhr dia sm rangkaiannya...
09-May-2011, 01:01 AM
(08-Oct-2008 09:10 AM)Ngmut Nciku Wrote: [ -> ]Hi, temen2, ni tadi barusan gwe temukan di http://www.traindi.blogspot.com. Ni cerita lumayan bagus lho..
Met Nikmati
:esmile: :esmile:
"MKA
Jawa Barat
31 Juni 2007
Penulis: Dian Pujayanti
Sekitar dua tahun lalu, saya melihat ada sebuah bangunan mirip bengkel kereta di lintas Kerawang-Cikampek. Di dalamnya tampak dua buah loko uap hitam, yang satu ada kupingnya. Bisakan Majalah KA menelusuri loko-loko itu? Apakah masih ada?
Berbekal email Deny Nurdin yang terus memberi informasi seputar temuannya tersebut, MKA berangkat bersama Odong-odong untuk menelusuri jejak si hitam legam di Karawang. Odong-odong merupakan sebutan KA penumpang jurusan Pasar Senen-Purwakarta. Disebut odong-odong, menurut penuturan pengasong Stasiun Senen, Selain kondisinya yang buruk KA ini selalu mengalah terhadap kereta lain.
KA Odong-odong terdiri dari 2 kelas. Ekonomi dan bisnis masing-masing berjalan satu kali. Tiket KA Odong-odong cuman Rp 2500,- untuk kelas ekonomi, dan Rp 5000 kelas bisnis. KA ini bebas menurunkan dan menaikkan penumpang di setiap stasiun sepanjang linta Pasar Senen-Purwakarta. Uniknya, siang itu si Odong-odong ditarik lok CC 203 01 milik Depo Yogyakarta. Sedang lok CC 201 warna merah yang biasa menemani, justru digunakan menarik KA Eksekutif Taksaka. Yang lagi nganggur ini, makanya dipakai. Sedang lok yang biasanya untuk narik Taksaka, terang Rijadi, asisten masinis KA Odong-odong lepas stasiun Cikampek, Haah?
Bengkel Perucatan Loko Uap
Lepas stasiun Cikampek, udara panas kian mengitari kami berdua. Sesekali kami mengusapkan ribuan tisu untuk menghilangkan keringat yang mengucur. Tak ayal, kumpulan tisu memenuhi ¾ dari tas kami. Kami pun terus mengorek cerita dari masinis dan asistennya.
Menurut Rijadi, keberadaan loko uap sudah tidak tercium sejak dua-tiga tahun lalu. Kalaupun ada hanya deponya saja yang tertinggal, yaitu di Purwakarta dan Kerawang. Depo Purwakarta yang menjadi basis loko uap fungsinya sudah beralih menjadi lapangan tenis dan bulu tangkis. Sedang Depo Kerawang sekitar tahun 2003-2005 pernah sebagai tempat mangkrak loko uap.
Dari stasiun Kerawang, kami berjalan menuju bekas depo Kerawang, tempat dimana dua loko uap pernah dilihat Deny. Depo ini terletak sekitar 500 meter ke arah timur stasiun Kerawang. Meski keberadaan depo sudah terhalang rumah-rumah penduduk, sangat mudah mencarinya. Masyarakat sekitar akan menunjukkan arah depo tersebut.
Bangunan seluas 40 x 20 meter ini terdiri dari 6 pintu utama dengan 4 buah jendela besar. Ada 3 bekas landasar sepur ukuran 750 mm, dan 3 gudang penyimpanan. Selain itu terdapat 2 sepur ukuran 1.067 mm diluar depo. Sayang kondisi depo sangan parah. Pengeroposan tembok dimana-mana dan beberapa bagian atap telah hilang. Tak dijumpai secuil relpun disini. Apalagi loko!.
Layaknya depo KA era kolonial, tepat di samping depo sekitar 10 meter terdapat tower air. Tak jauh dari sini dan masih satu komplek ada kantor PUK yang masih utuh dan telah beralih fungsi sebagai mushola dan tempat tinggal pegawai PT. KA. Sedang depo menjadi area bermain bola anak-anak sekitar. Menurut Bagus (10), salah satu anak-anak yang sedang bermain, dirinya melihat ada loko hitam dua-tiga tahun lalu. Ia dan teman-temanya juga melihat loko hitam tersebut dipotong-potong. Orang-orang saling berebut teh, terus di jual ke tukang besi, katanya ringan.
Loko Presiden Soekarno
Pak Hari, salah satu warga menyatakan saat terjadi pemotongan (perucatan) seluruh lok, ada orang luar negeri yang turut menyaksikan. Dulu ada 5 lokomotif yang biasa berbaris di depo ini. Tiga lok kecil di dalam dan 2 lok besar di luar. Saat motong-motong juga ada orang Perancis selain orang-orang dari PJKA (PT. KA).
Hari juga melihat, orang-orang bule tersebut mengabadikan dalam sebuah kamera. Pria yang pamannya adalah masinis lok uap depo Kerawang ini, menyebutkan jenis-jenis lok uap yang di rucat yaitu TC, TD, D2, D3, dan C. Uniknya khusus lokomotif uap seri TC, masyarakat biasa menyebutnya si Cemet yang berarti loko kecil ukuran menengah.
Si Cemet ternyata tidak sendiri. Ada loko besar yang diduga loko penarik KLB Presiden Soekarno C 2849, juga dirucat di depo ini. “Lok besar, peninggalan Bung Karno juga dipotong disini. Rencananya mau dipindah ke Taman Mini tapi karena rodanya sudah hancur jadi dipotong juga, jelas Ndung, warga lainnya.
Hingga MKA meninggalkan tawa ceria anak-anak masih menghias di bekas depo tua lok uap itu. Meski bangkai lok-lok uap tak berhasil ditemukan setidaknya sepenggal sejarah raibnya loko uap KLB Presiden Soekarno, sedikit terkuak. Penelusuran MKA belum berakhir, kami segera bertandang ke salah satu masinis loko uap yang berumur 80 tahun dengan 9 anak, 24 cucu da 5 cicit."
Bagus nggak toeh cerita?? :gembira:
Ini cerita asli bener gak????? Kalo memang bener tanpa rekayasa, saya cuma bisa bilang GO TO HELL, ♬·¯·♩¸¸♪·¯·♫♫♫, SIALAN DLL KATA2 KOTOR DAN MAKIAN DARI SAYA buat yg ngasih ijin ngrucat lok2 tua itu, buat yg menjalankan aksi ngrucat, buat yg makan duitnya itu. Khususnya lok C 2849, itu lok kan dicari2 bertahun2, krn bernilai sejarah. Ayo kita buru tuh bule yg sempet motret biar kita tau realitanya, kita pinjem fotonya, syukur2 ada pegawai KAI ato org yg ngrucat ato pelakunya juga kefoto biar bisa DIKUTUK. SIAL SEMUA ORG2 ITU, TOLOL, GOBLOK. Maaf OM MOMOD, Maaf REKAN2 RF, sy emosi, marah dan sedih

(25-Jan-2010 09:42 AM)rizky dr Wrote: [ -> ]apa2 yang ada hubungannya ma Bung Karno dihancurkan.. bukan cuma kereta api,
kapal KRI Irian buatan Rusia juga dibesituakan... padahal itu KRI fenomenal
pokoknya orba pengen agar jangan sampai anak2 muda mengidolakan bung Karno...
sadis
Kebetulan saya mengidolakan BUNG KARNO. SALAH SATU PEMIMPIN BESAR DALAM SEJARAH DI DUNIA
11-May-2011, 10:36 AM
(20-Feb-2011 22:26 PM)elteecee Wrote: [ -> ]Yg di karawang itu C2801 bukan C2849!
foto dijepret th1989
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461629008/
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461026179/
TC
Jika kejadian itu tahun 2003 maka (alm) pak Toto Purwanto sudah dinas di stasiun Cirebon sebagai wakil KSB (kepala stasiun besar). Saat itu (alm) pak Toto Purwanto masih baru menjabat sebagai wakil KSB stasiun cirebon di DAOP 3 Cirebon dan tidak tau ada lokomotif-lokomotif uap di Karawang dan yang (alm) pak Toto Purwanto tahu bahwa bekas dipo Karawang akan dibongkar untuk gudang PLU (Proyek Lintas Utara) milik DEPHUB. Pada 31 Maret 2009, (alm) pak Toto Purwanto menelpon beberapa rekan yang saat itu dinas di stasiun Karawang. Informasi yang (alm) pak Toto Purwanto dapat adalah pada saat bangunan dipo akan dibongkar, lokomotif-lokomotif uap tersebut langsung dijarah oleh sebagian pegawai yang mengambil / mencopoti bagian-bagian yang terbuat dari kuningan. Salah seorang pegawai dari penjarah tersebut sempat ditemui (alm) pak Toto Purwanto, saat ini dia menjadi juru langsir di stasiun Cirebon, yang menyatakan tidak mengetahui kalau itu adalah benda bersejarah dan tidak ada yang melarang waktu mereka berebutan mengambil "yang bisa jadi duit" dari lokomotif-lokomotif uap tersebut. Saat itu ada pegawai dari DEPHUB (dari PLU) ada yang bilang "ambil saja sebelum dikilo" dan benar saja 2 hari kemudian datang 2 truk besar bersama juragan besi tua membawa alat potong dan habislah riwayat lokomotif-lokomotif uap tersebut. (alm) pak Toto Purwanto tidak berhasil melacak siapa pegawai dari DEPHUB tersebut namun (alm) pak Toto Purwanto sudah menghubungi beberapa rekan yaitu mantan Kepala Sub Dipo Karawang dan mantan Kepala Stasiun Karawang waktu itu menanyakan apakah ada surat permintaan agar lokomotif-lokomotif uap tersebut dijaga untuk dilestarikan, dan mereka menjawab "tidak ada". Tidak kalah akal, (alm) pak Toto Purwanto membongkar arsip surat tahun 2003 di registrasi surat menyurat, ternyata juga tidak tercatat.
11-May-2011, 15:49 PM
(11-May-2011 10:36 AM)spoor_jadul Wrote: [ -> ](20-Feb-2011 22:26 PM)elteecee Wrote: [ -> ]Yg di karawang itu C2801 bukan C2849!
foto dijepret th1989
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461629008/
http://www.flickr.com/photos/50347861@N03/5461026179/
TC
Jika kejadian itu tahun 2003 maka (alm) pak Toto Purwanto sudah dinas di stasiun Cirebon sebagai wakil KSB (kepala stasiun besar). Saat itu (alm) pak Toto Purwanto masih baru menjabat sebagai wakil KSB stasiun cirebon di DAOP 3 Cirebon dan tidak tau ada lokomotif-lokomotif uap di Karawang dan yang (alm) pak Toto Purwanto tahu bahwa bekas dipo Karawang akan dibongkar untuk gudang PLU (Proyek Lintas Utara) milik DEPHUB. Pada 31 Maret 2009, (alm) pak Toto Purwanto menelpon beberapa rekan yang saat itu dinas di stasiun Karawang. Informasi yang (alm) pak Toto Purwanto dapat adalah pada saat bangunan dipo akan dibongkar, lokomotif-lokomotif uap tersebut langsung dijarah oleh sebagian pegawai yang mengambil / mencopoti bagian-bagian yang terbuat dari kuningan. Salah seorang pegawai dari penjarah tersebut sempat ditemui (alm) pak Toto Purwanto, saat ini dia menjadi juru langsir di stasiun Cirebon, yang menyatakan tidak mengetahui kalau itu adalah benda bersejarah dan tidak ada yang melarang waktu mereka berebutan mengambil "yang bisa jadi duit" dari lokomotif-lokomotif uap tersebut. Saat itu ada pegawai dari DEPHUB (dari PLU) ada yang bilang "ambil saja sebelum dikilo" dan benar saja 2 hari kemudian datang 2 truk besar bersama juragan besi tua membawa alat potong dan habislah riwayat lokomotif-lokomotif uap tersebut. (alm) pak Toto Purwanto tidak berhasil melacak siapa pegawai dari DEPHUB tersebut namun (alm) pak Toto Purwanto sudah menghubungi beberapa rekan yaitu mantan Kepala Sub Dipo Karawang dan mantan Kepala Stasiun Karawang waktu itu menanyakan apakah ada surat permintaan agar lokomotif-lokomotif uap tersebut dijaga untuk dilestarikan, dan mereka menjawab "tidak ada". Tidak kalah akal, (alm) pak Toto Purwanto membongkar arsip surat tahun 2003 di registrasi surat menyurat, ternyata juga tidak tercatat.
Thx buat infonya. Sangat menarik. Ada kelanjutannya??? Maaf OOT ya, mau tanya Alm Toto Purwanto kan member di
juga kan??? saya tau dia sudah meninggal dari postingan di
yg pernah saya baca bbrp bulan lalu. Bisa liat foto beliau dan bisakah diceritakan tentang alm Toto Purwanto, baik dari sisi personalnya maupun dari karirnya. Thx ya18-May-2011, 19:52 PM
(08-Oct-2008 09:10 AM)Ngmut Nciku Wrote: [ -> ]Hi, temen2, ni tadi barusan gwe temukan di http://www.traindi.blogspot.com. Ni cerita lumayan bagus lho..
Met Nikmati
:esmile: :esmile:
Spoiler (Click to View)
"MKA
Jawa Barat
31 Juni 2007
Penulis: Dian Pujayanti
Sekitar dua tahun lalu, saya melihat ada sebuah bangunan mirip bengkel kereta di lintas Kerawang-Cikampek. Di dalamnya tampak dua buah loko uap hitam, yang satu ada kupingnya. Bisakan Majalah KA menelusuri loko-loko itu? Apakah masih ada?
Berbekal email Deny Nurdin yang terus memberi informasi seputar temuannya tersebut, MKA berangkat bersama Odong-odong untuk menelusuri jejak si hitam legam di Karawang. Odong-odong merupakan sebutan KA penumpang jurusan Pasar Senen-Purwakarta. Disebut odong-odong, menurut penuturan pengasong Stasiun Senen, Selain kondisinya yang buruk KA ini selalu mengalah terhadap kereta lain.
KA Odong-odong terdiri dari 2 kelas. Ekonomi dan bisnis masing-masing berjalan satu kali. Tiket KA Odong-odong cuman Rp 2500,- untuk kelas ekonomi, dan Rp 5000 kelas bisnis. KA ini bebas menurunkan dan menaikkan penumpang di setiap stasiun sepanjang linta Pasar Senen-Purwakarta. Uniknya, siang itu si Odong-odong ditarik lok CC 203 01 milik Depo Yogyakarta. Sedang lok CC 201 warna merah yang biasa menemani, justru digunakan menarik KA Eksekutif Taksaka. Yang lagi nganggur ini, makanya dipakai. Sedang lok yang biasanya untuk narik Taksaka, terang Rijadi, asisten masinis KA Odong-odong lepas stasiun Cikampek, Haah?
Bengkel Perucatan Loko Uap
Lepas stasiun Cikampek, udara panas kian mengitari kami berdua. Sesekali kami mengusapkan ribuan tisu untuk menghilangkan keringat yang mengucur. Tak ayal, kumpulan tisu memenuhi ¾ dari tas kami. Kami pun terus mengorek cerita dari masinis dan asistennya.
Menurut Rijadi, keberadaan loko uap sudah tidak tercium sejak dua-tiga tahun lalu. Kalaupun ada hanya deponya saja yang tertinggal, yaitu di Purwakarta dan Kerawang. Depo Purwakarta yang menjadi basis loko uap fungsinya sudah beralih menjadi lapangan tenis dan bulu tangkis. Sedang Depo Kerawang sekitar tahun 2003-2005 pernah sebagai tempat mangkrak loko uap.
Dari stasiun Kerawang, kami berjalan menuju bekas depo Kerawang, tempat dimana dua loko uap pernah dilihat Deny. Depo ini terletak sekitar 500 meter ke arah timur stasiun Kerawang. Meski keberadaan depo sudah terhalang rumah-rumah penduduk, sangat mudah mencarinya. Masyarakat sekitar akan menunjukkan arah depo tersebut.
Bangunan seluas 40 x 20 meter ini terdiri dari 6 pintu utama dengan 4 buah jendela besar. Ada 3 bekas landasar sepur ukuran 750 mm, dan 3 gudang penyimpanan. Selain itu terdapat 2 sepur ukuran 1.067 mm diluar depo. Sayang kondisi depo sangan parah. Pengeroposan tembok dimana-mana dan beberapa bagian atap telah hilang. Tak dijumpai secuil relpun disini. Apalagi loko!.
Layaknya depo KA era kolonial, tepat di samping depo sekitar 10 meter terdapat tower air. Tak jauh dari sini dan masih satu komplek ada kantor PUK yang masih utuh dan telah beralih fungsi sebagai mushola dan tempat tinggal pegawai PT. KA. Sedang depo menjadi area bermain bola anak-anak sekitar. Menurut Bagus (10), salah satu anak-anak yang sedang bermain, dirinya melihat ada loko hitam dua-tiga tahun lalu. Ia dan teman-temanya juga melihat loko hitam tersebut dipotong-potong. Orang-orang saling berebut teh, terus di jual ke tukang besi, katanya ringan.
Loko Presiden Soekarno
Pak Hari, salah satu warga menyatakan saat terjadi pemotongan (perucatan) seluruh lok, ada orang luar negeri yang turut menyaksikan. Dulu ada 5 lokomotif yang biasa berbaris di depo ini. Tiga lok kecil di dalam dan 2 lok besar di luar. Saat motong-motong juga ada orang Perancis selain orang-orang dari PJKA (PT. KA).
Hari juga melihat, orang-orang bule tersebut mengabadikan dalam sebuah kamera. Pria yang pamannya adalah masinis lok uap depo Kerawang ini, menyebutkan jenis-jenis lok uap yang di rucat yaitu TC, TD, D2, D3, dan C. Uniknya khusus lokomotif uap seri TC, masyarakat biasa menyebutnya si Cemet yang berarti loko kecil ukuran menengah.
Si Cemet ternyata tidak sendiri. Ada loko besar yang diduga loko penarik KLB Presiden Soekarno C 2849, juga dirucat di depo ini. “Lok besar, peninggalan Bung Karno juga dipotong disini. Rencananya mau dipindah ke Taman Mini tapi karena rodanya sudah hancur jadi dipotong juga, jelas Ndung, warga lainnya.
Hingga MKA meninggalkan tawa ceria anak-anak masih menghias di bekas depo tua lok uap itu. Meski bangkai lok-lok uap tak berhasil ditemukan setidaknya sepenggal sejarah raibnya loko uap KLB Presiden Soekarno, sedikit terkuak. Penelusuran MKA belum berakhir, kami segera bertandang ke salah satu masinis loko uap yang berumur 80 tahun dengan 9 anak, 24 cucu da 5 cicit."
Bagus nggak toeh cerita?? :gembira:
kasian gan...
mendingan ane ambil gan ... buat pajangan di rumah...
29-Jul-2011, 18:05 PM
jujur saja melihat hal ini ane kok ingin bila C28 yang di Ambarawa itu bisa dihidupkan lagi....
sayangnya hal itu nampak mustahil......
sayangnya hal itu nampak mustahil......
Pages: 1 2