RE: jalur mati Pangandaran - asep_0907 - 27-01-2010
(27-01-2010, 05:14 AM)debi4n_us3r Wrote: mantep fotonya. apa ada foto - foto djadul lagi jalur banjar - cijulang ini ?
pernah ngubek - ngubek di http://kitlv.nl tapi gak ketemu.
publik kasih jalur-jalur cabang biasanya sangat minim sekali....
RE: jalur mati Pangandaran - hasan - 27-01-2010
kalo ada yang ngasih foto titik jalur percabangannya manteb ini...
RE: jalur mati Pangandaran - asep_0907 - 27-01-2010
(27-01-2010, 07:02 AM)hasan Wrote: kalo ada yang ngasih foto titik jalur percabangannya manteb ini...
yang masih idup atau mati san????
RE: jalur mati Pangandaran - Penjelajah - 28-01-2010
(27-01-2010, 05:14 AM)debi4n_us3r Wrote: mantep fotonya. apa ada foto - foto djadul lagi jalur banjar - cijulang ini ?
pernah ngubek - ngubek di http://kitlv.nl tapi gak ketemu.
Kurang telaten. Silahkan cari dengan berbagai kata kunci. Kebiasaan saya, menyiapkan sekitar 25-30 keyword untuk suatu search engine.
Dulu, saya menemukan semboyan35.com ini saat mencari foto² Om Stefan di google halaman 23!
Back to topic
RE: jalur mati Pangandaran - g10d - 09-02-2010
Saya nemu artikel dari Harian Kompas tentang jalur kereta api Banjar - Cijulang.
Quote:Misteri Si Kuik Banjar-Cijulang
Rabu, 27 Januari 2010 | 15:19 WIB
Oleh HIDAYAT SOESANTO
Orang-orang (kelahiran) pakidulan Ciamis berusia 50 tahun plus tentu mengenal betul sosok Si Kuik, sebutan bagi lokomotif berbahan bakar arang/kayu bakar yang pernah dengan setia bolak-balik lebih dari 70 kilometer. Ia menghela rangkaian kereta dalam rangka menjalani fungsi layaknya sarana patali marga. Jangan tanya seberapa besar jasa Si Kuik pada zaman serba werit seperti itu. Sungguh luar biasa.
Hingga akhir 1960-an, sebelum diganti lokomotif bermesin diesel, Si Kuik, sebuah personifikasi yang diambil dari bunyi hatong-nya, benar-benar telah menyelamatkan urang pakidulan Ciamis dari stigma makhluk dusun meledug atau kurung batok. Maklum, kondisi jalan raya waktu itu lebih mirip kubangan kerbau daripada jalur lalu lintas kendaraan darat lain. Mobil juga masih amat langka.
Bagi yang biasa memanfaatkan jasa Si Kuik ataupun penggantinya, tentu banyak pula tersisa kenangan menarik di sana, misalnya menikmati indahnya pemandangan alam saat melintasi jembatan besi nan panjang dan lungkawing bernama Cikacepit. Apakah gerangan yang akan terjadi andai jembatan produk Belanda itu tak mampu lagi menahan beban?
Atau, ketika kereta memasuki terowongan, terutama Terowongan Sumber, yang konon terpanjang di Indonesia itu. Suasana pengap, gelap, dan hirupan asap bercampur abu arang/kayu bakar sering membuat napas kita agak terengah-engah. Beberapa stasiun yang kita lewati ternyata memiliki ciri khas masing-masing, terutama dari jenis jajanannya. Putrapinggan terkenal dengan seupan cau lampenengna; Kalipucang dengan pecel tinyuh dan rempeyek udangnya; sementara Padaherang dengan nasi bungkus, sambal tempe, plus ikan rawa goreng (gabus, betok, dan sebangsanya).
Sejak pertengahan 1970-an aktivitas jalur kereta api Banjar-Cijulang mulai berkurang sebelum kemudian pada akhir 1970-an dihentikan sama sekali. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang. Berbarengan dengan itu, sisa-sisa kejayaan moda transportasi rakyat itu semakin hilang ditelan waktu, termasuk besi-besi bekas jembatan atau rel sepanjang puluhan kilometer itu. Sempat beberapa kali diwacanakan jalur itu hendak dihidupkan lagi, tetapi tidak sampai diwujudkan. Apa tujuannya?
Yang menarik dan masih sering menjadi bahan diskusi warga pakidulan adalah apa maksud sesungguhnya sehingga Belanda, sakadang penjajah itu, berkenan membangun jalur kereta api dari Banjar ke Cijulang. Padahal, selain panjang, jalur itu harus menerobos perbukitan cadas serta melintasi jurang-jurang yang sangat dalam.
Bila coba disesuaikan dengan nilai uang sekarang, biayanya pasti mencapai triliunan rupiah.
Membuka isolasi sekaligus menghidupkan ekonomi rakyat? Jika benar, alangkah mulia Pemerintah Belanda, dan rasanya tidak masuk akal. Untuk keperluan keamanan/pertahanan manakala muncul serangan musuh dari selatan? Rasanya juga bukan. Sejarah telah mencatat, sejak zaman Majapahit, ancaman musuh selalu muncul dari utara. Mahaluas-ganasnya ombak samudra selatan tentu bukan perkara mudah bagi pihak musuh untuk mendaratkan prajurit-prajuritnya. Lebih tidak masuk akal lagi jika dikaitkan dengan kepentingan pariwisata. Kala itu belum zamannya orang bicara perkara pariwisata. Lalu apa?
Bagi sebagian orang, terutama tokoh masyarakat pakidulan, jawaban atas pertanyaan tersebut tetap merupakan sebuah misteri. Dan yakinlah, sangat mustahil Pemerintah Belanda mau mengeluarkan jutaan gulden (pada waktu itu) jika tidak ada kepentingan yang jauh lebih besar.
Berbagai analisis, dari kelas ngadu bako sampai (sok) serius, kerap terlontar. Salah satunya berangkat dari kelaziman pola pembangunan moda angkutan kereta api. Lumrahnya, kalau bukan untuk keperluan angkutan massal, jalur kereta api selalu dibangun untuk kepentingan angkutan barang. Akan tetapi, karena jalur kereta api Banjar-Cijulang hanya sebatas menghubungkan kota-kota kecil tingkat kecamatan, pertimbangan yang pertama otomatis gugur. Apalagi, kala itu jumlah penduduk dan mobilitas manusia belum terlalu membutuhkan moda angkutan massal.
Tinggal kemungkinan kedua, yaitu guna kepentingan angkutan barang. Masalahnya, barang apa, dari mana, dan mau dikirim ke mana? Kecuali kelapa dan satu-dua jenis komoditas lain, sejak kapan daerah Ciamis selatan dikenal sebagai gudang hasil bumi atau hutan? Jelas sekali, kalau targetnya sebagai sarana angkutan hasil bumi/hutan, secara ekonomis itu jauh dari menguntungkan. Mengapa pula harus dari Ciamis selatan? Bukankah masih banyak daerah lain yang dari segi transportasi (jalan raya) jauh lebih siap?
Perut bumi
Kemungkinan terakhir, Belanda sudah lama "mencium" adanya harta karun di perut bumi wewengkon Ciamis kidul. Pada pertengahan 1970-an penulis pernah membaca artikel di sebuah media bisnis Indonesia berupa kutipan dari majalah geologi terbitan Australia. Di sana disebutkan, berdasar kajian ahli-ahli pertambangan, ternyata bumi Ciamis selatan, khususnya dari Cijulang terus ke batas pantai selatan, mengandung berbagai macam bahan tambang. Bila dieksplorasi, hanya dari satu jenis saja (fosfat) potensinya lebih dari cukup untuk menjelmakan wewengkon Ciamis kidul menjadi Freeport kecil-kecilan.
Seolah membenarkan artikel tersebut, pada awal 1980-an sebuah perusahaan pertambangan, dikenal dengan nama PT Elang, sempat berdiri dan melakukan eksplorasi awal. Kebetulan penulis pernah mewawancarai salah seorang petingginya. Sambil mempertontonkan beragam contoh hasil temuannya, dengan antusias dia membeberkan betapa dahsyat harta karun karuhun urang Ciamis kidul itu.
Sayang, setelah beraktivitas selama lebih kurang lima tahun, dengan alasan merusak obyek wisata, PT Elang tidak diperbolehkan lagi melanjutkan kegiatannya. Namun, itu versi resmi yang beredar di masyarakat. Sebab, ada lagi versi lain yang justru lebih diyakini khalayak, yaitu pemerintah terpaksa mencabut izin usaha PT Elang atas "petunjuk" orang kuat negeri ini. Adapun sebab musababnya adalah idealisme sang pemilik yang tidak mau diajak "bekerja sama", tepatnya diakuisisi oleh ingkang putra terkasih beliau. Wallahualam.
Kabar mana pun yang benar, seyogianya pihak pemerintah, entah Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau Pemerintah Kabupaten Ciamis, mencari tahu ihwal misteri di balik kehadiran Si Kuik Banjar-Cijulang tempo lalu itu. Mumpung masih aya keneh laratanana, antara lain dengan menemui pemilik perusahaan tersebut. Siapa tahu harta karun itu benar adanya. HIDAYAT SOESANTO Sastrawan Sunda; Urang Cijulang/Batukaras
Sumber:Harian Kompas
RE: jalur mati Pangandaran - inoska - 09-02-2010
@ Kang g10d.. : Nuhun pisan.. Jadi maikn pengen bersedih... setelah membaca cerita di atas... andai saja Andai saja.. terus saja setiap hari saya berandai- andai............tapi sayang pengandaaian saya sampai kini belum terwujud juga.. Pengen melihat jalur itu hidup lagi.. tapi Entah dan Entah kapan....?? pengandaian saya bukan cuma di simpan di hati dan pikiran.. tapi saya jikalau ada waktu luang saya selalu jalan2 dari bandung ke cijulang sendirian .. cuman untuk merasakan betapa indahnya alam Banjar Cijulang.. apalagi kalau jalur KA nya hidup lagi  
membaca isi tulisan di atas memang masuk akal juga.. jalur Banjar Cijulang memang menyimpan Misteri Apa tujuan Pemerintah Belanda Membangun Jalur KA dari banjar sampai Cijulang dengan susah payah menembus Perbukitan.. rawa-rawa sampai Muara dan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.. saya yakin belanda ada tujuan tertentu.. apakah semua itu Hanya pengungkapan Rasa Cinta dari Petinggi - petinggi militer Pemerintah belanda terhadap pasangan nya?? dengan memberi nama masing terowongan..?? saya rasa gak juga
Atau Apa betul daerah Cijulang menyimpan Harta karun yang mengandung Emas yang siap di tambang ?? (walahualam)
RE: jalur mati Pangandaran - g10d - 09-02-2010
iya kang Sony! sampe semua terowongan yang ada di pangandaran dinamai dengan nama keluarga kerajaan belanda. Ini memang merupakan sebuah misteri yang belum terungkap.
Tapi kenapa ya Pemerintah Indonesia malah mengabaikannya?
RE: jalur mati Pangandaran - Dirgah de zimwess - 10-02-2010
jadi pengen ke sono lagi, mau orek2 tanah... mungkin aja nemu emas hehehe.....
benar2 misteri pembangunan jalur ini..... memang selatan jawa banyak yg belon terjamah, tidak maju2 padahal potensinya besar... kayu, tambang, air melimpah.... hanya memang selatan jawa banyak pegunungan sehingga sulit dicapai, benar yang dikatakan diatas untuk apa belanda mau naik turun gunung buat jalan KA (wuiihh) pasti ada maksud tertentu tuwh.....
btw, si kuik kemana??
RE: jalur mati Pangandaran - ebret_cc20191 - 10-02-2010
masinis yang pernah dinas di jalur ini ada yang masih hidup...!
RE: jalur mati Pangandaran - g10d - 10-02-2010
(10-02-2010, 01:43 PM)ebret_cc20191 Wrote: masinis yang pernah dinas di jalur ini ada yang masih hidup...!
siapa kang? salam ya kalo ketemu sama beliau.
Kalo bisa boleh tuh untuk sharing pengalaman disini.
|