Semboyan35 Indonesian Railfans
jalur mati Pangandaran - Printable Version

+- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com)
+-- Forum: Hobby (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=6)
+--- Forum: Mblusukan (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=24)
+--- Thread: jalur mati Pangandaran (/showthread.php?tid=1064)

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37


Re: jalur mati Pangandaran - dedy vh - 04-11-2008

Quote:ayo kita bareng2 ngomporin supaya jalur ini hidup lagi.
jangan hanya cuma ngomporin doang ayo kalau perlu kita saweran
Grin Grin


Re: jalur mati Pangandaran - artja - 04-11-2008

dedy vh Wrote:jangan hanya cuma ngomporin doang ayo kalau perlu kita saweran
wah, harus saweran berapa rupiah neh...?


Re: jalur mati Pangandaran - hedwigus - 04-11-2008

artja Wrote:
dedy vh Wrote:jangan hanya cuma ngomporin doang ayo kalau perlu kita saweran
wah, harus saweran berapa rupiah neh...?

Wah.. kalo saweran harus kumpul berapa miliar tuh...
mudah-mudahan pemerintah mendengarkan keinginan railfans... sehingga jalur ini bisa segera didaftarkan sebagai jalur mati yang dibuka kembali
Malaikat


Re: jalur mati Pangandaran - denzuko - 05-11-2008

btw ada yg punya dokumentasi waktu jalur ini masih aktif g? spt jalur Cibatu-cikajang kan ada tuh foto masih aktifnya, klo untuk jalur BJR-CJL mesti cari dimana?
btw ada info dr Antaranews.co.id
Quote:31/10/08 23:53
Menhub Dukung Revitalisasi Jalur Kereta Api di Jabar


Bandung (ANTARA News) - Menteri Perhubungan, Jusman Syafei Djamal mendukung penuh rencana Gubernur Jawa Barat untuk merevitalisasi kembali jalur kereta api yang tidak aktif namun jalurnya masih bagus yang ada di Jawa Barat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka akan dibentuk tim khusus guna menindaklanjuti hasil pertemuan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dengan Menteri Perhubungan beberapa waktu lalu di Jakarta.

"Sebagai tindak lanjut mengenai revitalisasi kembali jalur tersebut, kami akan segera membentuk tim teknis untuk bekerjasama dengan tim dari Dephub," kata Ahmad Heryawan, di Bandung, Jum`at.

Menurut dia, untuk mewujudkan hal tersebut, ia membutuhkan percepatan dana yang disesuaikan dengan anggaran yang tersedia di APBD Jabar saat ini.

"Jika hal itu telah dilakukan maka tim khusus tadi akan segera dibentuk" ujarnya.

Ia menjelaskan jalur-jalur kereta api yang akan direvitalisasi kembali ialah jalur kereta api jurusan Tanjungsari-Rancaekek, Banjar-Cijulang, dan Bandung- Ciwidey.

Dikatakannya, pihak Departeman Perhubungan juga mengusulkan agar dilakukan penambahan rangkaian kereta api yang melayani rute Cicalengka-Bandung-Padalarang dan Jalur Sukabumi-Bogor.(*)

COPYRIGHT © 2008

mudah2an gubernur jabar Bpk Heryawan, bisa mengajak investor khususnya yg ditimur tengah untuk bisa bergabung. secara menurut berita yg beredar temen2nya Bpk gubernur jabar itu bnyk yg raja minyak. Nyengir


Re: jalur mati Pangandaran - denzuko - 05-11-2008

kutipan dari Pangandran.com

Quote:Belanda Bangun Jalur Kereta Api, Kita yang Menghancurkan

Ketika kemajuan tidak kunjung diraih bangsa Indonesia, infrastruktur dituding menjadi salah satu penyebabnya. Kemajuan China-salah satu barometer pembangunan pada dekade ini ditengarai disumbang oleh kelancaran transportasi sebagai imbas positif dibangunnya puluhan ribu kilometer jaringan jalan tol.

Sesungguhnya Indonesia mewarisi beberapa infrastruktur mumpuni, seperti ruas jalan sepanjang pantai utara Jawa maupun ribuan kilometer jaringan kereta api (KA) dari zaman Belanda. Tapi begitu banyak yang tersia-siakan, merana, bahkan kita hancurkan.

Jalur KA Banjar-Pangandaran-Cijulang sepanjang 80 kilometer adalah salah satu infrastruktur yang ditinggalkan. Padahal, dulunya menghubungkan kawasan pesisir Jawa Barat (Jabar) dengan jalur utama selatan Jawa. Ketika itu stasiun pemberhentian berada di Banjarsari, Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Sukaresik, Cibenda, Parigi, dan Cijulang.

Mulai rusaknya infrastruktur rel KA pada akhir dekade 1970-an ditengarai menjadi penyebab dihentikannya rangkaian KA ini pada 3 Februari 1981. Sementara PT KA (dulu PJKA) tampaknya tidak mampu berbuat apa-apa sehingga tidak berhasil mempertahankan jalur KA ini.

Secara kasatmata sulit dibayangkan besarnya investasi Belanda untuk membangun ruas KA ini. Betapa tidak, di ruas Banjar-Pangandaran-Cijulang sepanjang 80 km, yang terbagi antara Banjar-Pangandaran 60 km dan Pangandaran-Cijulang 20 km, masih terlihat megahnya tapak-tapak moda transportasi darat ini.

Pada ruas ini misalnya, terdapat belasan jembatan besi yang masih ada hingga detik ini, misalnya jembatan KA Ciseel dan jembatan KA Cikacepit sepanjang sekitar 1.000 meter, di mana dari situ dapat dilihat panorama Segara Anakan di Muara Sungai Citanduy serta siluet Pulau Nusakambangan.

Bahkan ada jembatan KA yang melintasi jalan raya Banjarsari-Padaherang. Belum lagi terdapat tiga terowongan KA yang dibangun tahun 1918, yakni terowongan Prins Hendrik Tunnel (suami Ratu Wihelmina) sepanjang 100 meter, terowongan Prins Juliana Tunnel (250 meter), dan terowongan Koningin Wihelmina

Terowongan Wihelmina, yang dinamai sesuai dengan nama Ratu Belanda, panjangnya sekitar 1.200 meter dan konon merupakan terowongan KA terpanjang di Pulau Jawa.

Sementara kerusakan terparah terjadi pada kelengkapan bantaran rel karena raib digondol pencuri.

Ada yang dicuri, tapi ada pula yang digunakan untuk hal lain yang lebih berguna. Contohnya sebagai konstruksi jembatan desa, tutur seorang penambang pasir di Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Ciamis.

Awalnya, ketika memasuki ruas jalan Banjar-Pangandaran, kemudian melintasi rel, otomatis terlintas di benak adanya jaringan rel lori kebun tebu. Penduduk setempatlah yang menginformasikan pernah hidupnya KA ini.

Menjadi pertanyaan pula maksud Pemerintah Hindia Belanda merintis jalur ini. Adakah mereka memiliki blue print moda transportasi darat di pesisir Jabar selatan, yang dari dulu hingga sekarang masih membutuhkan perjuangan untuk menjangkaunya.

Di tengah mengemukanya wacana pembangunan ruas jalan di sepanjang Jabar selatan, tentunya patut direnungkan pula visi Pemerintah Hindia Belanda dalam membangun jaringan infrastrukturnya.

Keseriusan untuk membangun Jabar selatan, yang dikenal sebagai daerah minus di Jabar, harus dikedepankan. Potensi kelapa yang belum tergarap, potensi wisata pantai di sepanjang Jabar selatan yang kini redup, serta mimpi petani Jabar selatan (di Cikelet, Garut selatan) membuka sekitar 18.000 hektar kebun tebu, patut dipertimbangkan.

Infrastruktur jalan memang harga mati yang tidak dapat ditawar karena kita dapat membangun beberapa jenis pertanian yang saling berintegrasi. Bukan saja pertanian dengan pertanian, tapi juga pertanian dengan peternakan, ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat Mulyadi Sukandar.

Dia bermimpi besar terbangunnya perkebunan modern dari Tasikmalaya selatan hingga Cianjur selatan, lengkap dengan sarana pabrik, seperti pabrik gula. Apalagi pembangunan moda transportasi darat yang saling bersinggungan, saling melengkapi.

Katakanlah pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jabar serius dalam membangun ruas Jabar selatan, bagaimana dengan KA Banjar-Pangandaran-Cijulang?

Saya pikir membutuhkan dana amat besar, dan apakah pengoperasiannya dapat tertutupi dari harga tiket, ujar Camat Parigi, Toni S.

Dia lebih mengedepankan pembangunan jalan raya daripada KA. Bahkan dia sedang membangun terminal truk sub-agribisnis untuk kelapa. Produksi kelapa Parigi termasuk produk unggulan Ciamis.

Jauh berbeda ketika dibangun tahun 1918, kini ruas Banjar-Pangandaran-Cijulang sepanjang 80 km telah nyaman dilalui, dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Tingkat kerusakan bahkan hanya sekitar 20 persen. Secara umum, kecepatan jelajah kendaraan roda empat di ruas ini 60-70 km/jam.

Bila dibangun kembali, KA Banjar-Pangandaran-Cijulang juga harus bersaing secara ekonomi dengan kendaraan bermotor ini. Taruhlah jarak 80 km dapat dijangkau motor dengan hanya menghabiskan 4 liter bensin seharga Rp 9.600, maka tiket KA harus di bawah angka itu.

Kini ongkos bus ekonomi Cijulang-Tasikmalaya (120 km) sebesar Rp 15.000.

Ataukah kebiasaan kita yang cenderung berpikir parsial, menghancurkan (baca: infastruktur) kita sendiri. Kembali dipertanyakan maksud Pemerintah Hindia Belanda membangun jaringan Banjar-Cijulang.

Mungkinkah ada cetak biru rencana memperpanjang jaringan kereta api menyusuri pesisir selatan hingga Pelabuhanratu untuk disambung dengan jaringan rel Sukabumi-Jakarta? Untuk mengangkut bukan hanya kelapa, tetapi juga tebu, padi, bahkan mungkin teh Priangan.

Tampaknya ilmu Weruh Sak Durunge Winarah (melihat jauh ke depan, visioner), yang dikondangkan empu di tanah Jawa ini, dalam bidang infrastruktur lebih dimiliki Pemerintah Hindia Belanda. Kita sebagai pewaris sah negeri ini bahkan hanya bisa menghancurkannya.

Sumber : Haryo Damardono
dari kompas online
Quote:Kompas Online

?

Jalur KA Banjar-Cijulang Diusulkan Beroperasi Lagi

Bandung, Kompas

?

Jalur kereta api (KA) Banjar-Cijulang sepanjang 82 kilometer akan diaktifkan kembali untuk keperluan wisata di wilayah selatan Jawa Barat. Investasi pembukaan jalur itu ditawarkan kepada swasta dengan kompensasi penggarapan potensi-potensi ekonomi di sepanjang Banjar-Cijulang.

?

Ir Ismail Hasjim, Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Jumat (13/9) sore menjelaskan, pembukaan kembali jalur tersebut untuk memperlancar arus wisatawan dari Banjar - selaku pusat persinggahan transportasi darat jalur selatan - ke obyek-obyek wisata di Ciamis bagian selatan. Seperti, Pantai Pangandaran, Pantai Karang Nini, Pantai Batu Hiu, Pantai Batu Karas, dan hutan wisata.

?

"Pada tahun 1995/1996, wisatawan nusantara yang berkunjung ke sana 817.097 orang, atau naik rata-rata 5,44 persen pertahun. Sedangkan wisatawan mancanagera sebanyak 25.763 orang, naik rata-rata 20,59 persen. Kunjungan itu memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Jabar sebesar 29,11 persen, atau sekitar Rp 1,3 milyar," kata Ismail.

?

Menurut dia, hasil survai Bappeda dalam tiga bulan terakhir menunjukkan, sekitar 90 persen wisatawan ke kawasan itu mengharapkan dibukanya kembali jalur KA tadi. Sepanjang Banjar-Cijulang, terdapat obyek wisata nostalgia yang khas. Di antaranya, terowongan KA Wilhelmina sepanjang 1,3 kilometer dan jembatan KA sepanjang 400 meter.

?

"Selain keperluan pariwisata, keterlibatan swasta dalam pembukaan kembali jalur itu diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi daerah sekitarnya, terutama di sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan. Pada tahun 1994, komoditi dari tiga sektor tersebut mencapai 337.405 ton," paparnya. Namun, sejauh itu, Pemda Jabar dan Perumka belum menargetkan waktu dimulainya penggarapan proyek itu.

?

Prakiraan investasi

?

Hasil survai Perumka dan konsultan tahun 1990 menunjukkan, perbaikan sarana dan prasarana pengoperasian rel KA itu memerlukan dana Rp 20,2 milyar. Sedangkan biaya operasionalnya sendiri sebesar Rp 1,4 milyar. Namun bila diperhitungkan dengan inflasi sebesar 10 persen pertahun serta kebijakan moneter, maka biaya tersebut membengkak dua kali lipat. "Jumlah ini terlalu besar jika harus ditanggung sendiri oleh Perumka," kata Ismail mengutip survai Perumka.

?

Untuk investasi pembukaan jalur itu, Pemda Jabar menawarkan tiga alternatif. Pertama, pendanaan sepenuhnya oleh Perumka. Kedua, sepenuhnya oleh swasta. Dan, pendanaan gabungan antara Perumka, swasta, dan Pemda Ciamis. Khusus kepada swasta, selain diberikan kesempatan meraup reinvestasi dari operasional jalur tersebut, juga diberi kesempatan menggarap obyek-obyek wisata di sekitarnya yang belum tersentuh selama ini.

?

"Misalnya, Pantai Lembah Putri, Pantai Karapyak, wisata sungai di Cijulang, keidahan panorama alam sepanjang Banjar-Cijulang, Karangtirta," papar Ismail.

?

Dijelaskan, jalur tersebut mulai ditutup tahun 1987, akibat menurunnya minat masyarakat naik KA. Karena sarana transportasi jalan raya makin lancar, dalam kurun 1974-1980, jumlah penumpang KA jalur itu turun drastis 73 persen. Antara tahun 1974-1986, sebanyak 95 persen penumpang yang biasanya menggunakan jasa KA jalur itu, beralih ke angkutan jalan raya, seiring makin mulusnya jalan-jalan raya di kawasan setempat.

?

Menurut survai, porsi investasi awal pembukaan jalur itu, lebih dari separuh tersedot untuk perbaikan rel dan bantalannya. Dalam poros itu, selain terdapat tanah labil antara km 1+850 - km 2+731, sepanjang 881 meter, juga bantalannya sudah lapuk. Rencananya, gandaran rel itu kelak mampu menahan sembilan ton dengan kecepatan kereta 30-40 km per jam.

?



Re: jalur mati Pangandaran - asep_0907 - 12-11-2008

denzuko Wrote:kondisi terakhir 01 nov 2008
St Cijulang..

[Image: 20081103085804_cijulangstation_490e5aac9a851-t.jpg]

[Image: 20081103085822_menujupangandarandrcijula...099d-t.jpg]

[Image: 20081103085802_cijulangstation1_490e5aaa256ef-t.jpg]

Klik unutk perbesar

jadi juga ke situ???


Re: jalur mati Pangandaran - g10d - 13-12-2008

Memang pada jalur ini bisa mati karena sarana bantalan dan rel yang sudah rusak sehingga taspat KA hanya 20Km/jam sedangkan moda transfortasi jalan raya pada waktu itu bisa mencapai 60 Km/jam. Waktu itu saya sendiri mengalaminya. kalo naik KA sampenya lama sehingga beralih naik kend umum walaupun waktu itu aku sempet mabok kendaraan karena baru pertama naik mobil (keseringan naik KA sehingga gila spoor) hehe.. Grin Grin Padahal pada era 70 han KA Banjar Cijulang sangat jadi primadona. apalagi kalo yang narik Loko BB300, wah jadi teringat masa lalu Huaaaa.....hik..hik Sayang dokumentasinya udah hanyut kena tsunami engga tersisa satupun, soale engga sempet ku bawa ke Tangerang, maklum dokumen sama ortu jadi disimpan di rumah ortu di Pangandaran.


Re: jalur mati Pangandaran - Michael Arka - 14-12-2008

Aq kagum sama jembatannya, gileee panjang and tinggi banet tuh jembatan!! Top Banget


Re: jalur mati Pangandaran - elist - 15-12-2008

Seandainya jalur ini dibuka kembali, pasti asyik bisa jalan-jalan ke Pangandaran naik kereta. Pemandangan yang indah dari kereta api pasti berbeda dengan naik mobil/motor.


Re: jalur mati Pangandaran - Michael Arka - 16-12-2008

Btw,jalur Pangandaran tuh tepatnya di daerah mana ya??? Bingung