Semboyan35 Indonesian Railfans
Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - Printable Version

+- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com)
+-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=4)
+--- Forum: Kegiatan (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=10)
+---- Forum: Laporan Perjalanan (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=42)
+---- Thread: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. (/showthread.php?tid=3890)

Pages: 1 2


Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 06-04-2010

Ini trip report terjadi pada tahun 2006 silam. Waktu itu saya melakukan perjalanan ini dalam melaksanakan penelitian untuk tugas akhir di Akpar NHI dulu.
Karena tiba-tiba saya mendapat kabar nenek saya di Surabaya meninggal, maka dlaam 2 hari saya mengalami 3 kali perjalanan KA jarak jauh.
Untuk foto-foto saya pinjam punya kawan-kawan karena waktu itu saya tak bawa kamera, dan tak punya kamdig kecil saya yang sekarang.
Mohon maaf kalau tulisannya lebih dominan.

Trip Report Skripsi dan Berita Duka (21-24 September 2006)

PERJALANAN 1.
Setelah mencari-cari waktu untuk penelitian lapangan, akhirnya saya memeutuskan untuk pergi hari kamis. Tepatnya tanggal 21 September. Saya memilih tanggal tersebut karena tidak jauh dari akhir minggu, namun masih relatif agak ketengah minggu juga.
Setelah mempersiapkan segala macam peralatan, saya langsung pergi ke stasiun Bandung menggunakan angkot. Dan sesampainya di sana saya langsung melapor ke kantor perusahaan catering penyuplai kereta api Lodaya.


[Image: er0vi0.jpg]

Setelah melapor, saya langsung disruruh naik ke atas kereta.api, ke kereta makan tepatnya (KM1-84501, salah satu dari sedikit K1-84xxx yang jendelanya masih “sipit”). Disana saya sempat berkenalan dengan beberapa personil restorasi diatas kereta api Lodaya. Mayoritas diantara mereka memang sangat ramah. Namun ada juga yang mbawel.
Tepat pukul 7:30 kereta berangkat menuju Solo. Pada awal-awal perjalanan saya menggunakan kesempatan untuk menata kuisioner-kuisioner yang telah saya siapkan, serta melihat-lihat suasana di dalam kereta.


[Image: vxcfvs.jpg]

Rupanya hari itu saya bakalan dapat tangkapan bagus: orang bulenya banyak! Berarti tidak sia-sia kalau saya menyiapkan kuisioner dengan tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Belanda (terjemahan Belanda oleh mas Wid). Cuman karena belum semua pelayanan tuslah disediakan, maka saya memutuskan untuk membagikan kuisioner menjelang Yogya saja, mengingat mayoritas penupang turun di sana.
Jadi otomatis, selama mayoritas perjalanan saya relatif menganggur saja. Hanya rupanya saya agak kecolongan: sebagian “ikan”nya rupanya turun di stasiun Banjar, sehingga sampel untuk penelitian saya sepertinya berkurang.
Makanan tuslah mulai dibagikan setelah kereta berangkat dari Banjar. Pembagian makanannya bisa dibilang cukup lama sehingga otomatis baru setelah kereta melewati terowongan Ijo saya baru bisa membagi kuisioner.
Pembagian kuisioner merupakan suatu momen yang menarik dimana saya harus bertindak seperti seorang sales diatas kereta! Apalagi saya waktu itu menggunakan baju lengkap dengan dasi. Sebagian penumpang mau berpartisipasi, sebagian tidak, sehingga walaupun saya cuman membawa 40 lembar unutk 2 gerbong eksekutif, itupun masih lebih!
Acara pembagian kuisioner ini secara tidak langsung juga dibantu oleh bapak kondektur, dimana beliau meminjamkan banyak pulpen, serta menjelaskan stasiun yang ideal untuk menarik kembali kuisioner (di daerah Rewulu). Saya cukup berterima kasih dengan bantuan beliau. Dan inilah uniknya: saya cenderung melihat petugas PT KA cenderung lebih bersahabat ketimbang petugas restorasinya.

Walaupun petugas restorasinya rata-rata baik, ada satu pelayan yang membuat saya sampai 2000psi (ngamuk). Bagaimana tidak, pada saat awal perjalanan, begitu tahu asal-usul saya dia langsung nyeloteh “Ooh orang Jawi! Sialan, rupanya dia orang Jawa!”. Saya cukup tersentak juga dengan komentarnya. Tadinya saya pikir dia cuman bercanda, tapi kalau saya lihat dia memang seorang pesakitan. Waktu saya tanya darimana dia, dia menjawab “Dari Ibu saya!” Dan setelah saya tanya lagi, rupanya dia adalah tetangga kawan di kampus saya. Saya pikir aneh juga, mengingat wajah, postur fisik dan sorot matanya memang mirip kawan saya itu juga! Hanya kawan saya orangnya baik dan terpelajar, sedangkan dia nampaknya tidak!
Saya jadi teringat dengan cerita saudara ipar saya kalau orang dari daerahnya memang suka menjatuhkan orang lain. Dan kalau saya lihat memang dia begitu. Masa, pada saat saya mau membagikan kuisioner, dia berkata kalau seharusnya semua kertas juga ada pulpennya, kalau nggak nanti nggak bakalan ada yang ngisi. Walaupun pada akhirnya memang ada penumpang yang meminta pulpen, itu cuman 1-2 orang saja, bukan semuanya! Dan lagipula, yang berhak memberikan saran semacam begitu adalah kepala restorasi, bukan jongos kelas rendah seperti dia.
Dan perilaku kurang ajarnya juga berlanjut pada saat saya kembali ke Bandung malam harinya, dimana dia sering mengganggu tidur saya, apakah secara kasar mengatakan itu tempatnya atau menimbun selimut di tempat saya.
Saya heran, sudah banyak orang yang mengkritik pelayanana diatas kereta, eeh...kok orang rasis dan punya masalah perilaku seperti ini bisa dapat kerja diatas kereta api! Bahkan ada beberapa penumpang yang mengeluhkan perilaku dia juga. Wah..wah..wah..gimana nih bapak-bapak di PT KA? Untuk meningkatkan pelayanan dia atas kereta, orang seperti ini sudah sepatutnya diusir dari atas kereta api.

Namun sifat yang kontras saya temui di seorang petugas lainnya. Beliau sangat ramah dan banyak bercanda dengan saya. Dan caranya melayani penumpangpun benar-benar patut diacungi jempol. Karena beliau seperti fasih benar dalam melihat bahasa tubuh penumpang yang akan memesan makanan, sebelum penumpang tersebut benar-benar memesan! Beliau juga sering menawarkan makanan dan minuman kepada saya. Sepanjang perjalanan pun saya sering bercanda dengan beliau. Lebih lagi, beliau juga berkata kalau saya memakai seragam kampus (saya waktu itu memang memakai seragam kampus), saya malah kelihatan seperti seorang boss. Aah...ada saja pak ini.

Selain itu, keunggulan restorasi KA Lodaya dengan KA lain di rute Bandung timur adalah mereka menyajikan makanan ke tamu menggunakan piring. Bahkan tamu bisa memilih menu makanan, biarpun itu tuslah! Minuman hangatnyapun ada 2 jenis: teh atau kopi-susu. Dan disajikan di cangkir kaca, bukan plastik! Dan makanannya memang cenderung lebih enak daripada makanan di kereta lain.

Kembali ke perjalanan, setelah selesai menarik kuisioner, saya langsung memberesken segala tetek bengek saya. Dan tidak lama kemudian kereta akhirnya sampai ke kota Yogya, dimana di sini saya turun.

Tadinya, menurut rencana Fajar dan Laksana akan bertemu. Tapi setelah saya tunggu-tunggu mereka kok tidak terlihat sama sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli es krim yang ada di dekat situ. Sambil memakan es krim, saya meng SMS mereka untuk mencari tahu keberadaan mereka. Selesai menghabiskan es saya, saya mendapat kabar kalau mereka ada di depan kantor PPKA. Sebentar, bukankah tadi saya tidak menemui mereka disana. Dan setelah kesana, wah, rupanya mereka ada di sana! Ha..ha..ha..rupanya mereka masuk stasiun pas saya membeli es krim. Padahal kounternya terletak di depan pintu masuk stasiun.

Kamipun sempat ngobrol-ngobrol banyak mengenai apa saja yang terjadi belakangan di Yogyakarta. Termasuk robohnya tembok Balai Yasa Pengok. Pada saat asyik ngobrol, datang KRD Pramex. Fajar langsung mengatakan kalau belakangan ini KRDE tidak pernah kelihatan di Yogya atau Solo. Karena memang KRDE sementara dikembalikan untuk diperbaiki di INKA di Madiun, karena memang sering mengalami masalah teknis. Tadinya Fajar juga menawarkan bagaimana kalau kita jalan-jalan naik Pramex. Saya dengan halus menolaknya, karena memang saya capek. Dan untung pilihan itu saya ambil, karena ternyata KA tersebut akhirnya kembali ke Yogya terlambat!! Hampir mendekati waktu datangnya KA Lodaya.
Setelah menitipkan barang-barang saya, akhirnya kita berjalan-jalan memutari kota Yogya. Kami menyempatkan diri melihat-lihat sekitar, termasuk sekitar stasiun Lempuyangan. Kami juga sempat minum-minum dawet di depan Balai Yasa Pengok. Kelihatan juga beberapa kerusakan pada bangunan di situ. Selain itu, beberapa “koleksi” Balai Yasa Pengok bisa dilihat dengan jelas dari jalan raya, akibat ambruknya tembok di sana.
Laksana bilang kalau sore hari biasanya ada loko yang sedang dites jalan di situ. Namun rupanya kami kurang beruntung pada hari itu. Karena tidak ada lok yang dites. Malahan, kami juga kelewatan momen lokomotif yang dimasukkan ke balai yasa. Cuman saya sempat melihat pintu gerbang balai yasa yang sekarang dicat strip kuning-hitam, sehingga terlihat cukup sangar.

Setelah dari Pengok, Laksana berpisah dengan saya dan Fajar, sehingga kami berdua naik motor mengelilingi areal Pengok dan Lempuyangan. Di Lempuyangan saya agak heran melihat kegiatan langsir di utara pelataran stasiun (di areal bekas stasiun Lempuyangan JSS). Memang di situ ada beberapa rel. Tadinya saya pikir yang melangsir di situ adalah lok sekelas D301 atau BB300. Tapi saya terkejut melihat lok CC201 melintas di perlintasan tak berpalang di situ! Ha..ha..ha...luar biasa!
Kami juga menyempatkan menyusuri awal jalur cabang menuju Bantul. Saya juga terkejut melihat bekas sinyal yang masih utuh di pinggir jalan! Dan walaupun berkarat, kondisinya relatif masih baik! Kami juga sempat mampir ke stasiun Ngabean yang kini telah menjadi terminal bis. Kondisi bangunan stasiunnya terlihat cukup terawat. Setelah ke stasiun Ngabean, kami langsung pergi untuk membeli oleh-oleh saya.

Kemudian kami kembali lagi ke stasiun Tugu, dimana saya langsung mengganti pakaian saya. Sorenya, mas Bagas juga datang menjumpai kami, seperti lokomotif uap (dengan “tender”nya maksudnya). Kami sempat ngobrol panjang lebar di sana. Mas Bagas juga bertanya, mengapa saya tidak memberi tahu perihal kedatangan saya. Saya langsung menjawab bahwa saya sedang paceklik pulsa. Kami sempat melihat-lihat sekitaran di situ. Dan mas Bagas tidak bisa lama-lama juga di situ, karena harus plang membawa “tender”nya.
Setelah mas Bagas pulang, kami langsung makan di warung Gudeg di dekat situ. Wah, sudah enak, banyak lagi! Selain itu harganya murah juga!!! Wah..wah..wah..benar-benar nikmat makan di situ.
Selesai makan, kami langsung duduk-duduk sambil menikmati pergerakan kereta api di stasiun. Kami sempat melihat KA Jayabaya berangkat, ditarik lok CC20147. Lalu juga KA Sancaka dari Surabaya yang ditarik lok CC20407. Unik juga bahwa hari itu rangkaian Sancaka milik Surabaya ditarik lok CC20406 yang milik Yogya. Sedang Sancaka milik Yogya malah ditarik oleh loknya Surabaya.

Lagi asyik-asyik menonton kereta yang lewat saya menerima telpon dari Ibu saya di Surabaya. Ibu saya mengabarkan bahwa Nenek saya sudah tidak ada!!! Mendengar kabar itu saya langsung seperti disambar petir. Hati saya tiba-tiba galau. Saya tiba-tiba merasa tidak mood untuk menonton KA yang lewat. Pikiran saya kacau balau: mau kemana sehabis ini? Mau ke Surabaya, tapi kuisioner-kuisioner harus secepatnya dikembalikan ke Bandung. Namun jika saya ke Bandung, saya kuatir malah tidak sempat ikut pemakaman nenek saya.
Fajar yang waktu itu bersama saya berusaha menenangkan saya. Dia juga ikut mengucapkan belasungkawa. Dan juga berusaha membantu saya mencarikan tiket KA menuju ke Surabaya. Namun karena saya sudah tidak punya uang, dan karena waktu kedatangan KA Lodaya makin dekat, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Bandung saja.

Begitu KA Lodaya datang (yang anehnya sebelum KA Argo Dwiapngga/biasanya Lodaya dibelakang Dwipangga) kamipun langsung berpisah.
Perjalanan balik menuju ke Bandung terasa sepah buat saya. Saya benar-benar tidak bisa menikmatinya. Belum karena kondisi gerbongnya yang sudah tidak ada kordennya semua, dan ulah si bawel itu, dan juga karena berita yang saya terima dari Surabaya tersebut, saya benar-benar tidak bisa menikmati perjalanan tersebut dan merasa sangat suram.
Saya menghubungi orangtua saya, untuk meminta saran apakah saya harus ke Surabaya atau mungkin bisa ke Solo saja. Dan apakah saya bisa pulang pakai Turangga saja. Bapak saya menjawab bahwa sebaiknya pergi pagi saja. Kalau pergi malam, tidak ada gunanya. Lalu saya memutuskan untuk berusaha sebisa mungkin mendapatkan tiket KA Argo Wilis, yang biasanya datang paling dulu dari Bandung di Solo.
Untungnya KA Lodaya datang tidak terlalu terlambat, sekitar jam 5.30 pagi, sehingga saya punya waktu untuk pulang ke kos-kosan untuk menaruh barang-barang. Sebelum ke kos-kosan, saya menyempatkan diri untuk membeli tiket KA Argo Wilis. Wah! Rupanya saya cukup beruntung karena masih ada tempat. Biasanya KA Argo Wilis itu termasuk paling laku, khususnya pada akhir minggu.

Setelah membeli tiket, saya langsung cepat-cepat menuju ke kos-kosan. Dan seperti biasa, angkot Bandung punya sejuta cara untuk mengecewakan penumpangnya. Sudah ngetemnya banyak, sewaktu saya memohon agar tidak lama berhenti, sopirnya malah bergumam dan mengatakan agar saya naik taxi saja. Saya cuman punya 7000 rupiah di kantong, dan itu jelas tidak cukup. Jadi saya terpaksa puas dengan keadaan saya. Dan sebagai penghinaan terakhir, waktu saya bayar, dia tidak mau mengasih kembalian!!
Saya langsung bergegas ke kos-kosan, dan setelah menaruh barang sebentar, saya langsung pergi ke stasiun memakai motor Blue Tiger saya. Saya begitu tergesa-gesa, sampai tidak sempat mandi, atau ganti baju, atau bahkan melepas sepatu sekalipun!
Begitu siap, saya langsung tancap gas menuju ke stasiun. Waktu itu sudah pukul 6.30 pagi, dan syukurnya, dalam 5 menit saya sudah di stasiun.

PERJALANAN 2.


[Image: oqis5u.jpg]

Setelah masuk ke stasiun (stasiun Selatan), saya sarapan dulu di warung nasi Rawon yang ada di situ. Namun saya juga agak takjub juga dengan formasi KA Argo Wilis hari itu: gerbong terkahir adalah gerbong K1-95509 (yang dicat dengan warna Sepur Ombak yang salah, dan ditiadakan karpetnya!!), dan gerbong K1-02526!! Wah, tumben ada gerbong K1-02 di KA Argo Wilis, karena hal tersebut merupakan hal yang langka. Gerbong EXA 1 nya sendiri adalah gerong K1-988xx, satu diantara sedikit gerbong Argo Wilis yang masih menggunakan bogi K8/NT60. Saya dapat tempat duduk di gerbong K1-98503 di EXA 2.
Tapi yang membuat saya agak heran adalah, tumben kali ini ada kereta di Bandung yang ditarik CC203 milik Yogya. Biasanya lok CC203 milik Yogyakarta sangat jarang di Bandung. Kali ini KA saya ditarik lokomotif CC20303.
Biasanya KA Argo Wilis kelihatan agak dekil. Namun entah kenapa, hari itu KA Argo Wilis kelihatan sangat bagus sekali....Seakan-akan seperti masih baru saja.
Tempat duduk sayapun juga cukup strategis: menghadap ke utara dan posisinya dibelakang jendela, bukan di depan jendela, sehingga pandangannya cukup luas. Saya pikir itu cukup untuk menghibur hati saya yang cukup galau hari itu.

Kereta berangkat tepat pada pukul 7 pagi, dan perjalanan berlangsung cukup mulus. Antara Bandung hingga Haurpugur kereta berjalan cepat, tidak ubahnya seperti KA Argo Bromo Anggrek. Namun selepas Haurpugur, kereta mulai mengurangi kecepatan, karena setelah Cicalengka jalan mulai menanjak dan melewati pegunungan.
Saya cukup puas karena hari itu bisa melihat pemandangan dengan bebas. Namun tidak lama kemudian saya mulai tertidur. Saya cukup lelah karena kurang tidur. Dan baru terbangun begitu kereta mulai memasuki stasiun Tasikmalaya.
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan antara Tasikmalaya hingga Yogyakarta. Namun di sebuah stasiun selepas Maguwo, saya sempat berpapasan dengan sebuah lokomotif seperti BB201 yang menarik satu gerbong barang.
Kalaupun yang unik adalah pada saat kereta berhenti di stasiun Ijo untuk memberi jalan bagi KA Taksaka dari Yogyakarta. Sewaktu kereta masuk ke stasiun Ijo, di ujung seberang terowongan tampak bayangan putih lok CC203. Berarti KA Taksaka sempat ditahan dulu di muka terowongan. Dan sewaktu masuk terowongan, lampu-lampunya juga tampak spektakular.

Sepanjang perjalanan orang tua saya sering mengontak saya untuk menanyakan posisi saya. Rupanya posisis saya cenderung lebih awal daripada mereka. Karena orangtua dan saudara-saudara saya waktu itu pergi mengantar jenazah dari Surabaya ke Solo menggunakan konvoi bis.

Dan mengenai pelayanan restorasinya, entah bagaimana anda mau membandingkannya, makanannya memang kalah unggul ketimbang yang di KA Lodaya. Namun perilaku karyawannya masih sedikit lebih unggul.

Akhirnya sekitar pukul 14.30 siang kereta saya sampai di stasiun Solo Balapan. Wah, sudah lama sekali saya tidak mampir di stasiun ini. Terakhir saya naik kereta dan turun di sini adalah pada tahun 1987 silam!!! Waktu itu saya naik KA Express Siang dari Surabaya menuju ke Solo Balapan.
Di Solo rangkaian KA Argo Wilis sempat berhenti agak lama. Dan sewaktu semboyan 41 dibunyikan, saya sempat tertawa melihat masinis lari terbirit-birit keluar dari toilet di dekat lokomotif sambil membetulkan celananya.


[Image: 14wzlt0.jpg]

Setelah kereta berangkat, saya menyempatkan diri sebentar untuk melihat-lihat suasana di stasiun Solo Balapan. Sudah lama saya tidak mampir ke sini. Yang pasti, jaman dulu peron tinggi tidak ada. Dan mungkin juga atapnya agak lain. Saya tidak tahu, apakah dulu memang stasiun Solo Balapan memang tindak punya atap diatas peron? Karena kalau saya lihat, atap peronnya memang agak baru.
Selain itu saya juga menyempatkan untuk melihat hall di bagian selatan stasiun tersebut. Kalau saya lihat, unik juga bahwa hall di stasiun tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan yang ada di stasiun Bandung atau Gubeng. Walaupun begitu, stasiun Solo Balapan jelas jauh lebih besar ketimbang kedua stasiun tersebut. Dan juga desain atap stasiunnya memang cukup unik.

Tadinya, rencananya saya akan dijemput orang tua saya di stasiun Solo Balapan. Namun, tiba-tiba saya menerima kabar dari Bapak saya yang menyuruh saya untuk pergi ke pemakaman nenek saya naik taxi saja, karena konvoi dari Surabaya cuman baru sampai Sragen. Akhirnya saya mencari taxi di situ. Setelah bertanya-tanya apakah dia mengetahui lokasi pemakaman Windan, beliau berkata ya, dan saya langsung naik.

Saya sudah beberapa tahun tidak pergi ke Solo. Kota Solo belakangan ini memang terlihat lebih kosmopolitan daripada dulu. Beberapa plaza dan pusat perbelanjaan telah muncul di jalan Slamet Riyadi. Dan unik juga bahwa di depannya masih ada jalur trem ke Wonogiri....(Ya Allah, semoga jalur ini sampai kapanpun tidak akan pernah ditutup!).
Hanya falsafah “Alon-alan asal kelakon” (lambat asal sampai) yang umumnya identik dengan kota ini, tampaknya telah diganti dengan “Sikat wae mas!!!” (hajar saja bung!!). Karena kalau saya lihat, sopir-sopir di Solo cenderung agak ugal-ugalan kalau dibandingkan dengan yang di Surabaya atau Bandung. Mungkin karena jalannya yang sepi dan tidak banyak halangan, maka mereka cenderung bisa begitu. Sampai-sampai ada jalan utama di pinggir rel yang terpaksa diberi polisi tidur, karena seringnya angkot dan mobil yang ngebut di situ.

Saat taxi tiba di dekat daerah Pracimaloyo, sopir bertanya, apakah makamnya di sini (sambil menunjuk ke sebuah pemakaman umum di dekat situ). Saya menjawab bahwa memang di dekat sini, tapi bukan yang itu. Saya cuman menjawab bahwa dulu di depan makamnya ada rel KA tebu, namun kini sudah tidak ada. Wah, hal ini jelas membingungkan sopir taxi. Untungnya sang sopir memang sudah senior, jadi beliau tahu kalau daerah ini dulu hanya persawahan, dan ada rel KA tebunya.

Lalu di kanan jalan saya melihat ada bunga-bunga yang ada tulisan “Turut berduka cita”. Tadinya saya agak ragu, apakah itu makam yang dimaksud? Dan setelah melihat ada bekas depo PU (sekarang kantor Jasa Tirta) di sebelahnya, lengkap dengan traktor yang sudah berkarat, jelas itu makamnya.
Saya langsung menyuruh sopir taxi memutar, dan kemudian saya bertanya kepada seseorang di situ, apakah benar ini pemakamannya. Belua berkata ya. Akhirnya saya langsung membayar ongkos dan turun.
Namun sebelum turun, pak sopir berkata kalau pemakaman ini adalah makam bangsawan. Saya sendiri agak terkejut dengan itu. Apa benar saya masih keluarga bangsawan?

Setelah turun, saya langsung sowan dengan paman dan saudara-saudara saya. Dan yang membuat saya terkejut, orang yang saya tanyai tadi ternyata kalau dirunut masih saudara saya! Bahkan mayoritas pengunjung (yang tidak saya kenal sebelumnya) ternyata juga masih saudara juga!!! Memang, karena keluarga besar nenek saya memang berasal dari kota Solo. Saya juga melihat di batu-batu nisan di situ. Umumnya, di depan nama-namanya ada huruf “R” dan “RA”. Wah, jelas itu berarti gelar Raden dan Raden Ayu.

Dulu-dulu saya suka menempelkan titel “Raden Mas” di depan nama untuk bercanda. Dan suka diplesetkan beberapa kawan railfans menjadi “Den Bagus”, seperti karakter ala Charlie Chaplin di sebuah acara komedi di sebuah stasiun TV. Namun setelah datang ke sana, nampaknya titel itu ada benarnya...Hanya seperti kata kawan-kawan saya yang dari Solo atau Yogya, berhubung gelar itu dari Ibu, maka gelar itu tidak terpakai sama sekali.

Selang satu jam setelah saya tiba, rombongan pembawa jenazah akhirnya sampai di pemakaman. Saya bertemu dengan orang tua dan semua keluarga saya (dari Ibu). Semuanya berduka, termasuk ibu saya dan saya juga. Secara pribadi, hal ini cukup pahit sekali karena ini adalah nenek terakhir saya. Kakek-Nenek dari Bapak sudah lama meninggal. Kakek dari Ibu wafat tahun 1984 silam, dan sekarang Nenek dari Ibu juga menyusul....

Tadinya, sewaktu datang, jenazah Nenek saya mau langsung dimakamkan. Tapi karena adik Ibu yang dari Jakarta masih dalam perjalanan, maka kamipun akhirnya menunggu, karena Bulek dan Om saya masih berada di Boyolali. Lagipula mereka sudah jauh-jauh datang naik mobil dari Jakarta.
Akhirnya setelah mereka datang, jenazah langsung dimakamkan. Bahkan sayapun juga ikut membantu menurunkan jenazah Nenek saya ke liang lahatnya.

Orangtua saya cukup bersyukur bahwa saya bisa hadir ke pamakaman tersebut. Karenanya tadinya saya pikir saya tidak akan bisa mencapai acara itu tepat waktu. Namun yang terjadi, saya malah datang lebih awal, dan sempat juga untuk melihat wajah Nenek saya sebelum dimakamkan.

Selesai berdoa, kamipun langsung pulang. Tadinya saya mau kembali ke Bandung, untuk menyelesaikan skripsi saya. Namun keluarga saya mengajurkan saya agar pulang ke Surabaya terlebih dahulu untuk menenangkan pikiran.
Akhirnya saya ikut naik bus yang dicharter untuk perjalanan ke Surabaya, dengan seluruh keluarga saya.

Kalau dipikir-pikir, berarti tidak sia-sia juga saya pulang ke Surabaya, awal bulan ini (Baca “Trip Report QRA”), karena itu berarti bisa sowan dengan Nenek saya untuk terakhir kalinya...

Sebelum bertolak ke Surabaya, kami sempat mampir ke toko roti “Orion” yang terkenal di Solo. Kami juga sempat makan di warung Gudeg yang enak di dekat situ. Wah, menurut saya gudegnya memang sedap. Namun makan di situ merupakan suatu olah raga untuk gigi saya, karena dagingnya yang alot!

Selesai makan, kami semua langsung bertolak menuju ke Surabaya. Saya ikut dengan rombongan yang naik bis. Wah, jarang-jarang saya bisa naik bis ber-AC dengan semua keluarga saya. Tadinya saya memilih tempat duduk yang strategis untuk bisa melihat KA Bima dan Turangga yang lewat. Namun apa daya, antara Caruban hingga Surabaya saya tertidur lelap! Baru bangun setelah bis memasuki jalan Ahmad Yani di Surabaya.

Sesampainya di rumah nenek saya di daerah Kedung Tarukan, perjalanan berakhir.

Saya beristirahat di Surabaya selama sekitar 2 hari. Tadinya saya juga ingin ketemu dengan Addin dan mas Lutfi. Namun Addin sedang ada di Jakarta. Sedangkan mas Lutfi rupanya pada malam saat saya naik bis dari Solo ke Surabaya sedang main-main bareng mas Hedwigus (di mana?). Sedangkan besoknya mas Lutfi sedang ada kesibukan, sehingga tidak bisa ketemu.
Jadi sayapun menghabiskan waktu saya di Surabaya dengan keluarga, dan kawan yang non-railfans.

PERJALANAN 3.
Hari minggu paginya saya kembali ke Bandung naik KA Argo Wilis. Seperti biasa, kami datang jauh lebih awal di stasiun. Namun yang membuat perjalanan hari itu benar-benar istimewa, karena dilakukan pada hari pertama puasa.

Oh, sebagai tambahan, di perjalanan dari rumah menuju stasiun, saya sempat membeli koran Kompas seharga Rp 1.000,-!! Wah unik juga bisa membeli koran Kompas baru dengan harga 1/3 dari aslinya. Saya tidak tahu kenapa, tapi itulah kenyataannya.

Dan yang unik, hari itu kereta api Argo Wilis datang jauh lebih awal dari biasanya. Umumnya KA Argo Wilis datang di stasiun Gubeng jam 6.45 pagi. Namun hari itu kereta datang pukul 6.25 pagi!
KA Argo Wilis hari itu ditarik oleh lok CC20304 yang masih bersih karena habis di PA. Namun yang unik, kereta makannya menggunakan kereta makan kelas 2. Jadi keempat gerbong eksekutifnya diapit oleh gerbong makan dan gerbong pembangkit.

[Image: rkdnpk.jpg]
Setelah menunggu agak lama, akhirnya kereta berangkat menuju ke Bandung. Perjalanan berlangsung normal-normal saja. Dan seperti halnya perjalanan ke Solo, kali ini saya juga mendapat tempat duduk yang lumayan enak dan strategis posisinya.
Walaupun saya berusaha untuk tetap terjaga, namun pada saat mau masuk Madiun saya sempat tertidur ketika keretanya menunggu sinyal masuk, dan baru terbangun setelah kereta sudah berada di dalam stasiun.
Di pelataran stasiun Madiun, banyak tiang sinyal elektrik yang sudah terpasang, walaupun sinyalnya sendiri belum terpasang. Namun saya tidak sempat untuk melihat ke arah INKA.
Selepas Madiun, perjalanan berlangsung dengan mulus-mulus saja tanpa hambatan.

Namun sewaktu di daerah Yogya, mas Asep dan Rizky, serta mas Surayadi sempat menelepon saya dan mengundang untuk datang ke acara ngabuburit di depo lokomotif Bandung. Wah itu jelas tidak mungkin, karena waktu itu posisi saya ada di Kebumen.

Di Tasikmalaya, kereta berhenti cukup lama sekali. Nampaknya belakangan ini ada kecenderungan bahwa kereta Argo Wilis dari Surabaya suka berhenti cukup lama di stasiun Tasikmalaya.

Selepas Tasik, hari mulai agak gelap. Namun seperti biasa, ulah pengemis cilik di stasiun Cipendeuy makin menjengkelkan. Ada yang memukul-mukul badan gerbong sambil berteriak untuk meminta diberi. Ada yang meminta box makanan saya. Karena kesal, sayapun langsung menutup gorden di sebelah saya.
Saya tidak tahu, apakah PT KA maupun pihak Polri dan Dinas Sosial tidak pernah berusaha untuk menertibkan perilaku anak-anak kecil yang memalukan tersebut?
Memang di bulan puasa ini kita harus meperbanyak amal dan kebajikan kita. Tapi dengan memberi uang kepada pengemis cilik di Cipendeuy (yang saya lihat masih rapi seperti baru mandi), itu sama saja dengan membina sifat mengemis. Suatu sifat yang sama tidak terpujinya dengan maling atau pencopet.

Selepas Cipendeuy, kereta berjalan dengan lancar. Dan selepas Leles, akhirnya Adzan Maghrib dikumandangkan.
Sayapun langsung melahap makanan kotak yang diberikan, walaupun tidak semuanya, karena di Surabaya saya sudah dibekali banyak roti.

Berhubung itu adalah bulan puasa, para penumpang umumnya mendapat makanan kotak saja. Menu makanan di kereta adalah 1 kotak teh Sosro, 1 paket kurma, 1 potong kueh dan 1 biji apel. Waktu saya makan apelnya, rupanya tengahnya sudah busuk, jadi langsung saya buang saja. Kurmanya benar-benar terasa nikmat sekali, apalagi minumnya teh kotak. Benar-benar nikmat.
Tapi saya rupanya agak murka sehingga roti-roti bekal dari Surabaya juga saya makan, sehingga perut saya langsung kembung!

Selepas Cicalengka kereta langsung ngebut habis-habisan. Bahkan perjalanan hari itu tidak ubahnya seperti perjalanan naik KA Argo Bromo! Seumur-umur kayaknya baru kali ini saya naik kereta secepat ini di daerah Bandung.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya KA Argo Wilis sampai di Bandung pukul 18.45 sore. Dan akhirnya berakhirlah perjalanan panjang saya pada akhir minggu itu.

Wassallam.


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - Joe_cn - 07-04-2010

Sungguh laporan yang sangat mengharukan..
Dan salut atas segala teknis yang diceritakan seperti no KA no lok KA, semuanya dijelaskan secara detail dan tidak ada yang kurang...

Sebagai tambahan, kalo saya berada di posisi mas bagus, mungkin saya juga akan mengalami hal yang serupa, karena saya harus serba cepat dan tidak ada yang boleh menghalangi saya.

Cerita yang sangat luar biasa mas, karena untuk membuat cerita yang urut dan runtut seperti ini bukanlah pekejaan yang mudah apalagi untuk menghafal no KA yang sudah 4 tahun lalu.


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 07-04-2010

Lho? Saya menjelaskan nomor KA??


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - tjcdes2009 - 07-04-2010

Ceritanya sungguh menyentuh. Tapi menyebalkan tuh pegawai restorasi lodaya jd pengen Dziiigg. mank asli mana tuh orang hrs dididik perilakunya.


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 07-04-2010

Saya ada satu lagi trip report yang terjadi sekitar sebulan sebelum ini. Ini adalah terakhir kali saya bertemu dengan nenek saya. Mau saya posting sekalian?


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 05-05-2010

Rupanya gerbong KM1-84501 sudah berubah menjadi gerbong M1-84501 yang jendelanya ala pesawat. Berarti habis sudah KM generasi tahun 1984 yang berjendela sipit, karena yang satunya sudah menjadi MP2-84501.


[Image: nfp5hg.jpg]


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - Dana Komuter - 05-05-2010

Di antara 2 pilihan, antara keluarga atau tugas kuliah. Memang benar, kumpul keluarga besar itu memang terasa lebih mengharukan dan menjadi kenangan yang amat sangat terindah. Makanya patut kita syukuri masih punya keluarga yang berasal dari latar belakang perilaku yang baik bahkan sangat baik ketimbang mereka yang tergolong negatif seperti koruptor, tukang tipu, penjahat, teroris, dll. Semuanya bahkan saling memiliki yah mas? Memiliki jalinan kebersamaan yang utuh. Aku pribadi ada rencana sih tahun depan bakal nyewa 1 kereta entah Nusantara, Toraja atau Bali utk perjalanan ke Yogyakarta pp dari Jakarta.

Tapi emang sungguh amat disayangkan dengan perilaku orang2 restorasi yah??!! Kalau boleh tahu yg reseh serasa pengen diapain gitu cewek apa cowok tuh? Jadi rindu sama KA Klas Satwa yg coraknya abu2 gitu... Skarang tinggal lambaian ombak. Padahal aku pribadi lebih terkesan yg abu2 karena terkesan bersih, elegan dan formal.


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 06-05-2010

(05-05-2010, 10:01 PM)Dana Komuter Wrote: Makanya patut kita syukuri masih punya keluarga yang berasal dari latar belakang perilaku yang baik bahkan sangat baik ketimbang mereka yang tergolong negatif seperti koruptor, tukang tipu, penjahat, teroris, dll. Semuanya bahkan saling memiliki yah mas?

Saya nggak ngerti apa maksud anda memasukkan mahluk-mahluk terkutuk ini? Bethe

Masak keluarga saya disamakan dengan mereka? Bethe


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - Eko Budy Santoso - 06-05-2010

(05-05-2010, 06:36 PM)bagus70 Wrote: Rupanya gerbong KM1-84501 sudah berubah menjadi gerbong M1-84501 yang jendelanya ala pesawat. Berarti habis sudah KM generasi tahun 1984 yang berjendela sipit, karena yang satunya sudah menjadi MP2-84501.


[Image: nfp5hg.jpg]
Suwon mas Bagus sharingnya ... Turut berduka atas meninggalnya Nenek tercinta ...
Terkadang memang inilah hidup ... di balik semua peristiwa selalu banyak hikmah dari Alloh SWT ... mudah- mudahan kita bisa menyikapinya dengan bijak ...

OOT : gebong M1-84501 saat ini dinas Harina/Rajawalikah ? ... (komen dari pict nya) ?


RE: Trip Report Yang Mengharukan di tahun 2006. - bagus70 - 06-05-2010

Harina mas. Itu foto diambil di Bandung.