12-09-2012, 11:42 PM
(12-09-2012, 12:32 AM)Logawa_ATB Wrote: Hmmmm..., diskusi yang menarik...
Cuma yg saya masih ragu, kalo nanti terjadi pemisahan dimana status perusahaan operator sarana berbentuk PT dan operator prasarana berbentuk BLU, kira2 BLU ini akan menjadi membebani APBN apa nggak ya...?
Misal saja, dlm APBN 2013 yang akan datang pos pendapatan lebih besar ketimbang belanja, trus ditambahi adanya BLU prasarana kereta api mungkin nggak jadi masalah. Lha kalo yg terjadi itu impas atau malah masih terjadi defisit kalo ditambahi adanya BLU apa nggak tambah minus ya....?
tergantung mas logawa. apakah besarnya tac yang disetor para operator itu lebih besar atau lebih kecil dari imo yang dikeluarkan blu jalan rel ini. jika tac>imo, maka sudah dipastikan blu akan untung.
masalahnya, menurut beberapa pakar kereta api, besarnya imo ini semakin lama semakin besar seiring dengan usia dan faktor penyusutan dari prasarana jalan rel. jadi kalau infrastruktur banyak yang sudah tua, dijamin imo akan membesar. kalau tidak mau rugi, pasti blu akan menaikan biaya tac. tapi sebenarnya blu juga bisa mencari pemasukan dari sektor2 lain untuk menutupi biaya infrastruktur. sektor properti misalnya.
(12-09-2012, 10:24 PM)kuli bangunan Wrote: Jaman dulu aja bisa ada banyak operator seperti SS, NIS, KSM, BDSM, SJS, SCS, SDS, MSM, PBSM, dll yg masing2 punya jalur n stasiun sendiri2 walaupun kadang kala ada stasiun yg dipakai bersama n juga ada persilangan antar jalur rel antara 2 operator yg berbeda...! Masak sekarang malah ga bisa...!
iya, tapi mereka itu semua tidak ada pemisahan infrastruktur dan rolling stock. bahkan maskapai kecil macam maskapai trem punya jalur sendiri2. sehingga mereka bisa melarang atau menarik tac bagi maskapai lain / kompetitor yang ingin lewat dia punya jalur.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"


