Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Soalan Kereta Khusus Wanita (di Jabodetabek)
#31
(17-09-2010, 06:27 AM)katyusha Wrote: saya setuju kalo 2 KKW ini dipindah jadi di tengah rangkaian,bukan di tiap ujung...
dengan kondisi di tiap ujung,hanya memberi beban bagi kereta 2 dan 7...

ide bagus nihh..
saya setuju
SRP - UI : transit THB / MRI
Reply
#32
Tapi..... Kenapa lagi banyak wanita di gerbong yg bukan khusus u wanita? Bingung

Sy fikir karena bukan-nya mereka tdk tau.... bahkan sempat petugas di kereta (apa sebutannya yg tugas-nya memeriksa tiket penumpang...?) memberi tau ke salah seorang wanita yg lg sendirian, bahwa gerbong-1 masih lowong.
Reply
#33
@roker serpong... kalo posisi di tiap ujung kereta,pintu pelimpahan para penumpang pria hanya ada 2,yaitu yang menuju kereta 2 dan 7, sedangkan bila KKW ditaruh ditengah,pintu pelimpahannya ada 4,yaitu kearah kiri dan kanan rangkaian... setidaknya minimal yang jadi KKW tuh kereta 2 dan 7,jangan 1 dan 8...

@iwan... banyaknya wanita yang digerbong campuran,salah satu alasannya adalah,wanita yang duduk di KKW kadang tidak mau mengalah,meski ada lansia,ibu hamil dan menyusui,makanya mereka pada ngacir di kereta campuran dengan harapan dapat duduk...tapi eksesnya,beban di kereta campuran jadi berlebih,umpel-umpelan,,sedangkan di KKW cukup lengang sampai bisa lesehan...
~Because Your Smilling Is Our Happiness~
My Railway Photos
My Video Collection

YAHOO!

petr_cech_indo
Reply
#34
(18-09-2010, 01:43 PM)rianrokerserpong Wrote:
(17-09-2010, 06:27 AM)katyusha Wrote: saya setuju kalo 2 KKW ini dipindah jadi di tengah rangkaian,bukan di tiap ujung...
dengan kondisi di tiap ujung,hanya memberi beban bagi kereta 2 dan 7...

ide bagus nihh..
saya setuju

Namun..Disuatu kesempatan menggunakan KRL Ciujung atau Sudirman "Express" (lupa), petugas KRL memberitahukan bhw gerbong 1 n 8 u wanita, sedangkan gerbong 2 n 7 dipersilahkan u wanita yg berpasangan (suami/pacar).Heran

Mungkin ditambah saja gerbong khusus wanita menjadi 1, 2, 7 n 8 dan diperon juga diberi tanda khusus tempat tunggu u calon penumpang wanita, seperti di Stasiun UI.
Reply
#35
Syaratnya pintu harus digembok di tiap sudut kereta 1 dan 8. Khan PT. INKA jagonya renovasi....
Kecuali kalau dalam keadaan darurat semisal KRL anjlok, terbakar, penyanderaan oleh teroris, dll. Baru deh dipecahin kaca pintu atau pun didobrak.

Reply
#36
(19-09-2010, 07:00 PM)Dana Komuter Wrote: Syaratnya pintu harus digembok di tiap sudut kereta 1 dan 8. Khan PT. INKA jagonya renovasi....
Kecuali kalau dalam keadaan darurat semisal KRL anjlok, terbakar, penyanderaan oleh teroris, dll. Baru deh dipecahin kaca pintu atau pun didobrak.

Klu digembok, bagaimana dng penumpang wanita yg masuk melalui selain gerbong 1 n 8?..... tidak digembok saja mereka "enggan" pergi ke gerbong 1 atau 8, yg penting mereka terbawa KRL n sepertinya memperoleh tempat duduk soalan ke-2 (contoh kasus KRL Serpong-Tnh. Abang-Sudirman-MRI ketika pagi/sore hari n jam kerja, ... mungkin sama situasinya u jalur lain ketika pagi/sore hari n jam kerja).

Dari kasus yg Sy sebutkan di atas, juga spt yg Sy informasikan melalui posting #32 dan posting Mas Katyusha di posting #33, Sy jadi berfikir gerbong khusus wanita belum efektif, bukan hanya karena msh ada penumpang pria yg msh masuk ke gerbong 1 n 8 (spt diinformasikan oleh kawan2 di posting sebelum-nya).

Mungkin sejak di Peron baiknya sdh diatur (dng tegas), di mana posisi-nya tempat wanita menunggu, Spt di Peron Stasiun UI (Sy blm memperhatikan bagaimana pelaksanaan-nya di peron St. UI).
Reply
#37
(19-09-2010, 06:42 AM)katyusha Wrote: @iwan... banyaknya wanita yang digerbong campuran,salah satu alasannya adalah,wanita yang duduk di KKW kadang tidak mau mengalah,meski ada lansia,ibu hamil dan menyusui,makanya mereka pada ngacir di kereta campuran dengan harapan dapat duduk...tapi eksesnya,beban di kereta campuran jadi berlebih,umpel-umpelan,,sedangkan di KKW cukup lengang sampai bisa lesehan...

Betul sekali. Itu juga yang jadi komplain orang2 di web KRL mania. Mau dikasih KKW pun, ibu2 duduknya tetep aja nyebar ke semua gerbong. Masalahnya kalo di KKW meskipun lowong mereka harus lesehan, sementara kalo di gerbong lain bisa duduk dengan empuk, gak peduli dengan kondisi yang udah penuh sesak. Jadi yang egois selama ini siapa ya?
Trus lagi, saya pernah diceritain ama sepupu (cewe) yang naik di KKW, katanya berebutan tempat duduknya malah lebih heboh daripada di gerbong biasa. Trus ada ibu2 yang ampe melotot ke dia gara2 kalah "rebutan". Dasar... Bethe

Mengutip tulisan di web sebelah:
on 117.102.86.6 - *.102.86.6

ui-sud
Disediakan gerbong khusus wanita, akan membuat wanita tahu diri (harusnya) selama ini mereka justru menginjak hak orang lain dengan tetap memaksakan duduk walaupun sudah pas 7 orang, menempel nempelkan lutut dengan harapan yang sedang duduk risih dan dia berdiri, banyak praktek seperti itu yang lazim terjadi.. coba aja kalo sesama wanita hehehe

on 110.138.152.114 - *.subnet110-138-152.speedy.telkom.net.id

roker bogor
Yang suka minta atau ngerebut tempat duduk itu biasanya kelompok ibu2 dari bojong atau citayam. Mereka ini kelompok orang susah yang karena tinggalnya di daerah bukan kota dan bukan desa. Sehingga secara sifat nggak bisa menghargai hak orang lain

NAIK Depok Express EMANG PALING OKE
Reply
#38
Kapan ya KKW di sini bisa kayak di Jepang sono? Kapan ya...

Melihat postingan di trit sebelah:

(05-11-2010, 10:50 PM)chikatetsu Wrote: nambahin gan, gerbong khusus wanita sekarang terletak di bagian paling belakang (khusus metro) dan hanya pagi hari saja pas sebelum jam 9. jalur yang ada fasilitas ini biasanya memang jalur yang padat seperti hibiya line(saking padatnya sampai ga perlu usaha banyak buat masuk gerbong, karena didorong dari antrian dibelakang kita, hehe). kereta ini untuk melindungi wanita dari pelecehan. kalau ada co yg melanggar aturan sanksinya di turunkan oleh petugas, hal ini dialami temen ane 2 hari yg lalu, karena buru2 dia masuk gerbong ce, ce didalem pada bisik2 emen ane cuek aja, ga lama dateng petugas dan nyuruh temen ane keluar, ga diapa-apain sih, cuma malunya itu, Ngakak
Kl masalah pelecehan, di jepang berat sanksinya, kalau terbukti dendanya 300.000yen (30jt) dan kalau gaijin (orang asing) pasti di deportasi dan black list di imigrasi jepang.

Sebenarnya, kalo diadakan di Indonesia, saya se7 sekali, cuman tergantung bagaimana membina moral SDM kita sekarang. Kalo pembinaan moral SDM negeri kita berhasil, mungkin ke depannya KKW (a.k.a. Kereta Khusus Wanita) ini akan efektif, & mungkin dapat berlaku di seluruh RI. CMIIW.Xie Xie
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
#39
(09-11-2010, 08:19 AM)stasiunkastephanie Wrote: Kapan ya KKW di sini bisa kayak di Jepang sono? Kapan ya...

Melihat postingan di trit sebelah:

(05-11-2010, 10:50 PM)chikatetsu Wrote: nambahin gan, gerbong khusus wanita sekarang terletak di bagian paling belakang (khusus metro) dan hanya pagi hari saja pas sebelum jam 9. jalur yang ada fasilitas ini biasanya memang jalur yang padat seperti hibiya line(saking padatnya sampai ga perlu usaha banyak buat masuk gerbong, karena didorong dari antrian dibelakang kita, hehe). kereta ini untuk melindungi wanita dari pelecehan. kalau ada co yg melanggar aturan sanksinya di turunkan oleh petugas, hal ini dialami temen ane 2 hari yg lalu, karena buru2 dia masuk gerbong ce, ce didalem pada bisik2 emen ane cuek aja, ga lama dateng petugas dan nyuruh temen ane keluar, ga diapa-apain sih, cuma malunya itu, Ngakak
Kl masalah pelecehan, di jepang berat sanksinya, kalau terbukti dendanya 300.000yen (30jt) dan kalau gaijin (orang asing) pasti di deportasi dan black list di imigrasi jepang.

Sebenarnya, kalo diadakan di Indonesia, saya se7 sekali, cuman tergantung bagaimana membina moral SDM kita sekarang. Kalo pembinaan moral SDM negeri kita berhasil, mungkin ke depannya KKW (a.k.a. Kereta Khusus Wanita) ini akan efektif, & mungkin dapat berlaku di seluruh RI. CMIIW.Xie Xie

Saya sendiri setuju dengan pernyataan ini, di mana SDM pengguna (saya kurang suka menyebut penumpang) jasa kereta api itu sendiri perlu diarahkan agar tertib selama menggunakan jasa kereta api.

Mengenai penempatan KKW di Jabodetabek yang seperti jalur Tokyu Den-en-toshi dan Hanzomon di mana terdapat 2 kereta KKW pada 1 rangkaian, saya rasa pemberlakuannya agak berlebihan, di mana sebaiknya KKW tidak diberlakukan secara permanen seperti sekarang namun hanya pada jam-jam tertentu yang potensial menimbulkan peluang kejadian pelecehan seksual seperti jam sibuk (06.00 - 09.00 dan 16.00 - 19.00), dan di setiap jam hanya diberlakukan 1 KKW saja (di kereta paling depan atau kereta terakhir) agar tidak terjadi peristiwa pengganjalan pintu di kereta tengah karena penumpukan penumpang di bagian tengah rangkaian.

Sayangnya pengguna jasa KKW yang wanita dari pengamatan saya sebagian besar malah lebih menyukai naik di kereta non KKW karena pengguna KKW itu sendiri juga banyak yang masih melanggar aturan di dalam kereta KKW (duduk lesehan dan menggunakan kursi lipat, padahal sudah ada larangannya).

CMIIW.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#40
(09-11-2010, 08:36 AM)Charles Wrote: Saya sendiri setuju dengan pernyataan ini, di mana SDM pengguna (saya kurang suka menyebut penumpang) jasa kereta api itu sendiri perlu diarahkan agar tertib selama menggunakan jasa kereta api.
Sebenarnya solusinya cukup simpel kok, ketegasan petugas masih diperlukan sampai beberapa lama untuk membiasakan kondisi ini. Nah, kl petugasnya aja cuek2an, ya pengguna (ane suka juga kata2 ini daripada penumpang) pada asal2an... soalnya sudah sekian lama pengguna krl kita dibiarkan begitu saja, tanpa ada pengaturan yang jelas.... perlahan2 di atur, ya satu dua tahun pasti terlihat....

Quote:Sayangnya pengguna jasa KKW yang wanita dari pengamatan saya sebagian besar malah lebih menyukai naik di kereta non KKW karena pengguna KKW itu sendiri juga banyak yang masih melanggar aturan di dalam kereta KKW (duduk lesehan dan menggunakan kursi lipat, padahal sudah ada larangannya).
Salah satu hal lainnya yang menandakan kekurangtegasan petugas. masih banyak yg harus diperbaiki, kl memang mau sih... KCJ dengan mudah kok mengatur hal ini, yang penting tegas.... Karena ternyata toleransi kaum hawa terhadap kaumnya sendiri kurang banget. akhirnya banyak pengguna wanita yg 'terpaksa' masuk ke gerbong campuran padahal mereka ingin naek KKW.....

Ya semoga saja, setahap demi setahap.... apalagi kl dibantu sama pasukan Semboyan 35 neh, kayaknya tambah cepet sosialisasinya.....

Lok Merah Biru
naek... naek... ke puncak gunung... tut... tut... tut.....
http://transportationindonesia.wordpress.com/
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)