Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Calo tiket - bagaimana cara terbaik membasmi mereka?
#41
(19-08-2010, 04:53 AM)denita Wrote: ......maka sebelum puasa saya beli di loket untuk 2 orang menggunakan argobromo tujuan surabaya. saya menyaksikan sendiri bagaimana oknum loket mencetak tiket sebanyak 3 tiket. dimana tiap tiket untuk 2 orang dengan nama yang sama. yang selembar diberikan ke saya dan saya bayar dengan harga Normal seingat saya sekitar 280ribu seorang kala itu. sedangkan 2 tiket yang lainnya disimpan oleh oknum loket tersebut....

maksudnya beli sendiri 2 TD kan? trus yang sisanya 2tiket itu masing2 1TD ato 2TD juga? nanya ke yg depannya itu semuanya sama persis?
btw praktek calo ini kan udah jadi rahasia umum...ga mungkin mereka calo itu ikut ngantri...
Reply
#42
Question 
Izin buat thread baru ya...

Akhir-akhir ini para calon penumpang sering terganggu oleh kehadiran "penjual hitam" tiket a.k.a. para calo tiket. Kalo boleh tau, di stasiun mana saja banyak terdapat calo tiket, bahkan kalo bisa dibilang sangat mengganggu?

Kalo saya sih selama ini baru nemu di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Di Bandung, yg konon ada calo juga, saya belum pernah nemu...

Ceritanya begini. Tanggal 04 Mei silam, saya dan ayah saya berencana pulang ke Bandung menggunakan KA Argo Parahyangan 028, jam 19:00 dari Gambir. Setiba kami di loket, si petugas cewek di loket tidak langsung melayani kami.

Kontan datang seorang pria yg tak diundang, lalu menawarkan tiket travel sebesar Rp. 60 ribu. Dengan mentah-mentah langsung kami tolak tawaran tersebut.

Tapi, ulah pria tak diundang (dan tak diharapkan) ini tak kunjung usai. Diapun bertanya "mau naik kereta atau travel". Beruntung si mbak penjual karcis langsung melayani kami. Kami pun langsung membeli tiket pada petugas resmi itu dan "menjadikan" calo tadi bak tiang listrik yang bisa berbicara.

Lalu, bagaimana cara membasmi hama-hama ini yg sudah sangat mengganggu, baik pihak penumpang maupun PT KA sendiri? Sampai kapan para calo tetap "merajalela" di stasiun-stasiun besar di Indonesia?
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#43
tangkap, beri pekerjaan (apapun, suruh ngitung bantalan rel keq dari GMR - BW Ngakak) dan beri gaji yg selayaknya , tapi kalau nggak mau atau masih nggak kapok, tangkap, sidang, denda, hukum dan jeblosin penjara (ini ada UU nya nggak ya ?)Bingung
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#44
(07-05-2011, 07:43 PM)bonbon Wrote: tangkap, beri pekerjaan (apapun, suruh ngitung bantalan rel keq dari GMR - BW Ngakak) dan beri gaji yg selayaknya , tapi kalau nggak mau atau masih nggak kapok, tangkap, sidang, denda, hukum dan jeblosin penjara (ini ada UU nya nggak ya ?)Bingung

Yang di-bold:

Kalo ga salah inget, orang itu tampangnya seperti pekerja di stasiun koq, bukan orang luar...

Makanya saya juga ragu dengan anggapan selama ini kalo calo tiket kereta itu orang luar semua...

Dan coba travel apa yg 60 ribu? Setahu saya yg paling murah 50-55 dan yg termahal 70, tapi ga ada yg pas 60. Apa maksudnya pake mobil mereka?

Ketahuan mereka itu orang dalem, bukan dari luar... Kalo emang mereka orang travel (maaf, bukan menuduh), harusnya angkanya tepat sama...

Tapi kenapa ya mereka (teganya) membelot?
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#45
terlalu banget sih kalo pegawai jg yg jadi calo, biasanya sih dulu2 pegawai outsourcing/lepas (tanpa ikatan tetap ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)), ini nih yag paling bandel, mungkin karena mereka di lindungi orang dalam juga kali ya ...

Tetangga ane dulu jadi kuli koper(entah skrg ke mana) gambir, ane biasa dibantu sama dia, terus dianya masuk kedalem ruang tiket lagi, tapi ane cuman ucapain makasih aja atas bantuannya Big Grin...
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#46
Caranya mending pake nomor kupon panggilan aja. Misal dateng ke stasiun Gambir mau pesan karcis KA apa. Misal KA Argo Muria ke Semarang. Tarik kuponnya dari mesin pencetak otomatis (entah wujudnya gimana, pikir sendiri dalam khayalan kita masing2). Trus kreeekkk... kertas kupon keambil semisal tercatet no. 22. Kita pun pulang dengan meninggalkan no. handphone atau rumah atau kantor kita ke penjaga loket. Semisal 3 hari kemudian org Gambir nelpon kita "Bapak mendapatkan karcis Argo Muria berangkat pukul. 06.30 WIB pada tanggal bulan dan tahun sekian... Bagaimana pak?"tawarnya sekaligus info dari si petugas online reservasi. Dari sini kita jangan berharap adanya permainan kenaikan harga dg berbagai alasan yg ujung2nya dituduh sekongkol sama orang dalem.

Hari H semisal sudah sepakat dengan waktu keberangkatan yg diberitahu sang penelepon itu langsung bayar tunai di loket. Perihal semisal ada peristiwa yang gak memungkinkan si AM berangkat hari itu juga yah mau gak mau ditelpon soal pembatalan naik KA. Syukur2 ada alternatif rangkaian KA lainnya seperti semisal naik KA Cireks yg ke Tegal. Trus secara estafet diangkut pake Kaligung AC tanpa dipungut biaya Rp 1 pun atau sedikitnya bbrp ribu Rupiah saja.

Gimana? Bingung

Reply
#47
Hajar aja gan... hahaha
gmanapun susah pastinya bwt ngeberantasnya

[Image: photo.php?fbid=513455895358079&set=pb.10...=3&theater]
Reply
#48
Kecuali kalau kita berangkatnya hari itu juga. Semisal mau naik KA Sembrani turun di stasiun Semarang Tawang. Kebetulan karcis habis karena pengambilan kupon sudah menjadi antrian yang ke sekian. Pihak PT. KA pun coba nawarin aliternatif lain naik KA lain dg rute yang sama2 yang singgah di Tawang. Secara logika, misal kita gak bisa naik KA lainnya cuma utk ke Semarang Tawang saja karena semua karcis di hari H habis terjual, jadi pastinya PT. KA harusnya meluncurkan rangkaian KA tambahan semisal Sembrani Weekend, Sembrani Lebaran atau apapun itu namanya. Kalau saja pas hari H tersebut ternyata cuma bbrp orang saja yang gak kebagian karcis Sembrani utk tujuan manapun dari Jakarta dan kemungkinan PT. KA segan meluncurkan rangkaian KA tambahan utk Sembrani, itu sudah pasti bukan waktu yang sibuk karena peristiwa tertentu semisal long weekend dan lain2. Yah... oper saja ke KA Eksekutif lainnya semisal Argo Bromo Anggrek atau kalau memang terpaksa naik Gajayana yah dibawa ke Malang. Tapi dari Malang harus difasilitasin semisal bus reguler ber-AC juga.

Ayoooo.... gimana?

Reply
#49
aku sich berpikir pekerjakan itu calo jadi penjaga loket karcis aja... kalo udah begitu masih nyalo juga... memang harus di buang kelaut orangnya hahahahahaha

[Image: kaatapcopy.jpg]

( Shizier...089671371636 )
Jurig Argo Wilis

Reply
#50
yup kalo bukan dari pegawai, pekerjakan saja mereka, jadi cleaning service atau apalah yang menghasilkan duit halal

tapi sebenarnya yg harus di berantas dan layak diberi hukuman tuh yang MEMODALI dan MELINDUNGI mereka, keberadaan calo layaknya seperti boneka atau robot, tanpa baterai dan yang mengontrol mereka, mereka tidak akan berani melakukannya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)