SENIN, 07 MEI 2012 | 18:56 WIB
Ribut Suporter, PT Kereta Api Menghitung Kerugian
TEMPO.CO, Malang - PT Kereta Api Indonesia saat ini sedang menghitung nilai kerugian akibat pelemparan terhadap Kereta Api Matarmaja di daerah Kediri. “Jumlah kerugian bisa dipastikan karena kami masih menghitungnya,â€kata Kepala Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang Lutfi Wijaya Senin, 7 Mei 2012. Lutfi menjelaskan, akibat pelemparan terjadi sejumlah kerusakan. Di antaranya 65 buah kaca pecah meliputi 50 buah kaca jendela berukuran 35 kali 80 centimeter dan 15 kaca pintu ukuran 15 kali 80 centimeter. Pelemparan terjadi karena warga menduga Kereta Api Matarmaja mengangkut suporter Arema Indonesia Aremania yang berlaga di kompetisi Liga Super Indonesia Kamis 4 Mei lalu di Solo. Saat itu Arema berhadapan dengan Persija.
Menurut Lutfi, sambil menghitung jumlah kerugian, pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetap melakukan perbaikan demi kenyamanan penumpang. Seluruh kaca yang pecah akan diganti. Pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) kata Lutfi juga berupaya melakukan pendekatan dengan warga di sepanjang jalur - jalur kereta api agar tidak mudah terpancing emosi atau provokasi sehingga menjadikan kereta api sebagai sasaran. "Selama ini pelemparan batu ke kereta sering terjadi di Pakisaji, Malang,"ujar Lutfi.
Selain itu, pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memutuskan untuk tidak lagi mengangkut para suporter sepak bola. Sebab, ketika terjadi kerusakan akibat ulah suporter atau aksi pelemparan oleh warga yang dipicu kemarahan terhadap suporter, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak bisa meminta ganti rugi dari para siporter maupun pemerintah daerah asal suporter maupun pemerintah daerah tempat pelemparan terjadi. â€Bukan hanya Aremania, tapi semua suporter sepak bola tidak lagi boleh naik kereta api,â€ucap Lutfi. Selama ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih mengizinkan suporter menggunakan jasa kereta api. Untuk menghindari timbulnya keributan atau kemarahan warga yang dilewati kereta api, petugas keamanan kereta api melakukan razia. Selama perjalanan para suporter dilarang menggunakan atribut suporter.
Sebelum terjadi aksi pelemparan hingga mencapai Blitar para suporter tidak ada yang menggunakan atribut. Saat razia petugas menemukan 20 penumpang yang menggunakan konstum dan atribut suporter. Diakui Lutfi, pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dihadapkan pada dilema yang sulit. Sebab para suporter tersebut menumpang kereta api dengan membeli tiket sesuai harga normal. Karena itu, solusi yang terbaik adalah tidak mengangkut suporter atau suporter tetap boleh menggunakan jasa kereta api namun harus menjaga ketertiban dan tidak menggunakan seluruh atribut suporter.
EKO WIDIANTO
[i]Sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/07...g-Kerugian[/i]
SELASA, 08 MEI 2012 | 15:03 WIB
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Yogya Habis Rp 1 Miliar Ganti Jendela Pecah
TEMPO.CO, Surakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VI Yogyakarta pada 2011 menghabiskan biaya setidaknya Rp 1miliar untuk mengganti kaca jendela kereta api yang pecah. Menurut juru bicara PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VI Yogyakarta Eko Budiyanto uang tersebut untuk mengganti 2.329 kaca jendela yang pecah. “Sebagian besar kaca jendela tersebut pecah karena aksi vandalisme,â€kata Eko ketika dihubungi wartawan, Selasa, 8 Mei 2012. Kaca jendela itu pecah dilempari warga ketika kereta melintas. Eko mengatakan aksi pelemparan itu sangat membahayakan penumpang yang ada di dalam kereta. “Sangat berbahaya jika pecahan kaca mengenai penum-pang,â€ujarnya. Selain itu, jika batu tersebut terpental, bisa mengenai orang lain, termasuk si pelempar. Sementara kerugian harus ditanggung PT Kereta Api. Dia mengatakan satu buah kaca harganya antara Rp 320ribu hingga Rp 1,1juta untuk kereta eksekutif.
Dia mengancam, bagi mereka yang tertangkap melakukan pelemparan akan diserahkan ke petugas kepolisian. Pihaknya bekerja sama dengan polisi menjaga wilayah rawan pelemparan batu. “Misalnya di Ceper, Delanggu dan Jebres,â€katanya. Apabila pelakunya anak - anak, maka orang tuanya akan diminta untuk mengganti kaca jendela kereta yang sudah dipecahkan. “Kami tidak main - main dengan ancaman tadi,â€dia menegaskan. Sementara itu, Kepala Stasiun Jebres Heru Hartanto membantah wilayah Jebres rawan pelemparan batu oleh warga sekitar. “Itu dulu, saat ada keributan suporter sepak bola. Sekarang sudah aman,â€ujarnya. Dia mengatakan pengamanan di sekitar Stasiun Jebres terus ditingkatkan dengan menggandeng petugas kepolisian. Selain itu, pihaknya aktif melakukan pendekatan kepada masyarakat. Ada sosialisasi tentang bahaya melempar batu ke kereta yang melintas dan ancaman hukuman yang bisa dikenakan. Dia berharap masyarakat ikut menjaga asset - aset kereta api.
UKKY PRIMARTANTYO
Sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/08...dela-Pecah