Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Aset ex Malang Stoomtram Maatschappij
#61
(26-05-2009, 08:51 AM)septian triantomy Wrote: Emang betul tuh.... Rasanya sebagai arek Malang aku pengen banget jalur kereta MLK-Dampit ato BlimbingG-Tumpang bisa aktif lagi. Tapi kalo misalnya bener2 diaktifin lagi, sepertinya nanti para sopir angkot yang pada protes. Soalnya 1 kereta aja bisa diisi sampai 120 orang. Sedangkan kapasitasnya mikrolet itu 12 orang. Jadi kalo misalnya jalur itu dihidupin ato dibikin jalur baru, bisa-bisa kereta kita itu malah memakan rejekinya para sopir. Satu lokomotif plus satu kereta aja udah bisa membunuh 10 angkot.

Peduli amat trayek angkot Kan bisa dipindahinNgeledek,Yang penting Semua Jalur KA Mati hidup lagi
BOBOTOH PERSIB
Reply
#62
Mau ga mau harus peduli, karena itu akan jadi masalah besar, karena kalau gak di urus, tuh supir angkot akan menghambat pengaktifan jalur itu dengan semua protes dan tuntutan mereka..
Aku ingin striping dan livery kereta dan loko matching dan nyambung, kaya jaman K3 merah biru + loko merah biru pada era perumka...Ngiler
Reply
#63
(23-08-2009, 02:49 PM)sonyazis Wrote: Mau ga mau harus peduli, karena itu akan jadi masalah besar, karena kalau gak di urus, tuh supir angkot akan menghambat pengaktifan jalur itu dengan semua protes dan tuntutan mereka..



saya setuju, karena jaman sekarang banyak angkot yang mulai sepi. Karena itu kita juga tidak bisa tutup mata dengan keberadaan mereka. Karena mereka para sopir yang merasa calon penumpangnya "diambil" oleh kereta api itu bisa saja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap sarana dan prasarana kereta api kita. Padahal menghidupkan jalur KA yang mati tuh sulit bngt. Dan pas Aktif kembali, eh..tahu-tahu ada yang gak terima dan "melakukan protes berlebihan". Kan repot juga nantinya


Back on Topic

mau nanya juga nih.....
di dekat PG Kebonagung tuh kayaknya juga ada rel yang lebarnya 1067 mm, dan sepertinya itu bukan ukuran rel lori. Apa jalur itu dulunya juga termasuk aset Malang Stoomtram Maatschapij??????
Reply
#64
(29-08-2009, 10:10 AM)adif septian Wrote:
(23-08-2009, 02:49 PM)sonyazis Wrote: Mau ga mau harus peduli, karena itu akan jadi masalah besar, karena kalau gak di urus, tuh supir angkot akan menghambat pengaktifan jalur itu dengan semua protes dan tuntutan mereka..



saya setuju, karena jaman sekarang banyak angkot yang mulai sepi. Karena itu kita juga tidak bisa tutup mata dengan keberadaan mereka. Karena mereka para sopir yang merasa calon penumpangnya "diambil" oleh kereta api itu bisa saja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap sarana dan prasarana kereta api kita. Padahal menghidupkan jalur KA yang mati tuh sulit bngt. Dan pas Aktif kembali, eh..tahu-tahu ada yang gak terima dan "melakukan protes berlebihan". Kan repot juga nantinya


Back on Topic

mau nanya juga nih.....
di dekat PG Kebonagung tuh kayaknya juga ada rel yang lebarnya 1067 mm, dan sepertinya itu bukan ukuran rel lori. Apa jalur itu dulunya juga termasuk aset Malang Stoomtram Maatschapij??????

Yang di sebelah selatan PG kebonagung bukan bekas Malang Stoomtram Mij. Seingat saya, itu bekas rel ke gudang milik Pupuk Sriwijaya. Relnya juga lebih besar dari ukuran peningalan Malang Tram yang umumnya R 25.

Salam 35
Reply
#65
meskipun jauh dari kenyataan, kira-kira lokomotif tipe apa ya yang kira2 cocok dipakai di jalur eks MSM ini bila diaktifin kembali?
Reply
#66
wah... makasi banyak ya mas....... jadi nambah pengetahuan nih... saya juga orang malang lho... haha....
Reply
#67
Berikut satu foto masa-masa jaya Trem Malang alias Malang Stoomtram Maatschappij. (Copyright Prentenkabinet Leiden/ Anonymous. Downloaded from www.geheugenvannederland.nl, on 13 September 2009).
Sekedar berandai-andai, jika jalur trem Malang dijadikan jalur KA wisata loko yang cocok adalah dari jenis loko seperti dalam foto. Apakah loko uap tersebut termasuk seri 1700?


[Image: 20091002231020_9322_129821993260_6895282...89d9-t.jpg]


Salam,
TOTO
Reply
#68
Mas Toto, jalur Jagalan-Tumpang itu menyimpang dari sekitar depan Masjid Sabilillah, jadi lebih ke utara sedikit dari Carrefour. Sedangkan yang terus ke utara itu berujung di Karanglo (buntu). Sayangnya sumber tentang jalur utara ini kurang jelas. Jadi tremnya pun prinsipnya sama dengan KA Pertamina Jagalan. Stasiun Blimbing sebagai tempat bertukar posisi lok. Saya asli Blimbing, rumah saya dulu sekarang sudah jadi warung Padang di timur sinyal masuk dari Tumpang. Saya bisa menyaksikan lok D11 menyuplai avtur untuk Lanud hingga saya pindah rumah, dan saat itu juga Blimbing-Lanud nonaktif tahun 1989. Nostalgia manis sekaligus tahun yang menyedihkan (tahun yang sama jalur Babat-Tuban dan beberapa jalur cabang lain juga mati). Mengikuti jejak rekan² disini, saya juga meneliti Stasiun Tumpang dan sekitarnya (foto menyusul). Beberapa rel yang saya amati tertera BOCHUM 1900 dan 1898. Tepat di depan Stasiun Tumpang masih ada bekas rumah dinas yang lumayan utuh.

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply
#69
(03-10-2009, 07:55 AM)Penjelajah Wrote: Mas Toto, jalur Jagalan-Tumpang itu menyimpang dari sekitar depan Masjid Sabilillah, jadi lebih ke utara sedikit dari Carrefour. Sedangkan yang terus ke utara itu berujung di Karanglo (buntu). Sayangnya sumber tentang jalur utara ini kurang jelas. Jadi tremnya pun prinsipnya sama dengan KA Pertamina Jagalan. Stasiun Blimbing sebagai tempat bertukar posisi lok. Saya asli Blimbing, rumah saya dulu sekarang sudah jadi warung Padang di timur sinyal masuk dari Tumpang. Saya bisa menyaksikan lok D11 menyuplai avtur untuk Lanud hingga saya pindah rumah, dan saat itu juga Blimbing-Lanud nonaktif tahun 1989. Nostalgia manis sekaligus tahun yang menyedihkan (tahun yang sama jalur Babat-Tuban dan beberapa jalur cabang lain juga mati). Mengikuti jejak rekan² disini, saya juga meneliti Stasiun Tumpang dan sekitarnya (foto menyusul). Beberapa rel yang saya amati tertera BOCHUM 1900 dan 1898. Tepat di depan Stasiun Tumpang masih ada bekas rumah dinas yang lumayan utuh.

Mas Penjelajah, di jalur MSM arah ke Tumpang itu kan dulunya di daerah Bunut ada percabangan, yang ke arah timur terus ke Tumpang sedangkan yang ke arah utara itu menuju Lanud. Yang pengen saya tanyain itu yang ke arah Lanud itu lengsung mentok di Lanud apa ada terusannya sampai Singosari????soalnya dulu samar-samar ada yang pernah cerita kalo itu jalurnya terus sampai Singosari. thx infonya
Reply
#70
Hemat saya sih, mematikan jalur trem merupakan salah satu kesalahan besar yang dilakukan pemerintah. Jakarta sudah macet tidak karuan gara-gara kurangnya transportasi masal yang nyaman dan aman sehingga masyarakat lebih memilih berkendara dengan kendaraan pribadi. Akankah Malang semakin semrawut seperti Jakarta? Kita lihat saja nanti. Yang jelas sebagai warga asli Malang kelahiran 1970 an, saya merasakan betapa makin padatnya jalan raya di Malang sekarang.

Seandainya ada jalur trem dan dikembangkan seperti trem di Melbourne ini, mungkin kemacetan di kota-kota besar tak perlu terjadi.

Foto trem Melbourne:


[Image: 20091003140805_9322_140828908260_6895282...2a4e-t.jpg]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)