10-04-2010, 10:18 AM
SUARA MERDEKA, 16 April 2006
Diduga akibat Kelalaian Masinis
Kertajaya Vs Sembrani di Gubug
14 Tewas, Puluhan Luka-luka
GROBOGAN - Tabrakan maut KA Kertajaya dengan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan (30 km arah timur Semarang), Sabtu dini hari kemarin, untuk sementara disimpulkan akibat kesalahan manusia. Kesimpulan itu adalah hasil penyelidikan awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Namun, hingga kemarin belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kecelakaan yang mengakibatkan 14 orang tewas dan puluhan luka-luka tersebut.
Berdasar keterangan di lokasi kejadian, kecelakaan itu bermula ketika KA Kertajaya jurusan Jakarta-Surabaya tanpa memperhatikan aba-aba dari Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) meninggalkan Stasiun Gubug sekitar pukul 02.00 untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
"Ketika KA Kertajaya mulai berjalan, dua kondekturnya masih berbicara dengan petugas stasiun karena memang mereka belum saatnya berangkat," ujar Kepala Stasiun Gubug Sarnoto.
Hingga kini polisi masih memeriksa empat orang yang diduga mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan. Mereka adalah Kepala PPKA Bugiyanto, asisten masinis KA Kertajaya Sudikwan, kondektur KA Kertajaya Samadi dan Sugito.
"Keempat orang itu masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Hingga kini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka," ungkap Kapolwil Pati Kombes Drs Didik S Tri Widodo MM.
Menurut keterangan Didik, empat saksi tersebut menyangkal telah memberikan isyarat pemberangkatan untuk KA Kertajaya.
KA yang menarik 12 gerbong itu seharusnya tetap berhenti di rel I sampai KA Sembrani yang juga jurusan Jakarta-Surabaya lewat di rel II tanpa transit.
Di tempat yang sama Direktur Reskrim Polda Jateng Kombes Drs Zulkarnain mengatakan dari hasil pemeriksaan diduga kecelakaan terjadi akibat kelalaian masinis KA Kertajaya. Tetapi karena masinis itu telah meninggal, secara hukum kasusnya gugur.
Lokomotif Terlempar
Tidak jelas, entah kenapa KA Kertajaya keluar dari stasiun sebelum mendapatkan aba-aba untuk berangkat. Dari arah yang sama, KA Sembrani dengan sembilan gerbong melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Ketika kereta dari rel I itu memasuki jalur rel II, pada saat yang sama KA Sembrani sampai pada titik penggabungan jalur. Dan, tabrakan pun tak terhindarkan. Lokasi tabrakan sekitar 300 meter dari Stasiun Gubug.
Lokomotif KA Kertajaya terlepas dari rangkaian dan terlempar dengan kondisi hancur ke sawah di sisi utara. Bagian lantai serta roda tertancap di pematang sedalam lebih dari satu meter. Sementara itu, lokomotif KA Sembrani juga terlepas dari rangkaian dan terlempar ke sawah di sisi selatan. Kondisinya relatif masih utuh.
Tim KNKT akan meneliti lokasi kejadian dan mewawancarai sejumlah saksi termasuk asisten masinis KA Kertajaya. "Asisten masinis merupakan saksi kunci, mengapa kereta itu meninggalkan stasiun Gubug? Padahal, tanda aman diberikan petugas stasiun untuk KA Sembrani dan Gumarang," ujar Ketua KNKT Setio Rahardjo.
Menteri Perhubungan Hatta Radjasa juga meninjau lokasi kecelakaan. Dia mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Presiden memerintahkan untuk segera menginvestigasi kecelakaan itu.
"Hasil sementara penyelidikan KNKT menyimpulkan, kecelakaan itu akibat human error dan tidak ada kesalahan teknis," tandasnya.
Penumpang di Lokomotif
Suara benturan keras yang dibarengi dengan pijaran api akibat tabrakan dua kereta besi itu mengagetkan warga di sekitar stasiun. Mereka secara spontan keluar rumah mencari sumber suara. Di tengah kegelapan, warga bahu-membahu dengan petugas stasiun dan Tim SAR Departemen Perhubungan untuk menyelamatkan para penumpang.
Salah seorang warga Kampung Mangunsari Kwaron, Gubug, Eko Adi Wibowo (25), menuturkan, saat kecelakaan dirinya sedang tidur.
"Tiba-tiba ibu saya membangukan setelah mendengar suara benturan keras sekali. Kami mengira, itu suara pesawat terbang yang jatuh."
Bersama beberapa warga lain, dia segera menuju ke sumber suara. Dia menolong tiga penumpang yang selamat. Tanpa bantuan penerang, dia membantu seorang penumpang selamat yang patah kaki dan lengan.
"Saya juga melihat beberapa potongan tangan, kaki, dan bagian tubuh lain. Saya prioritaskan yang masih hidup dahulu untuk saya bawa ke Stasiun Gubug," ungkap dia.
Hal yang sama juga dilakukan Arif Budianto (24). Dia mendengar jeritan orang minta tolong di tengah malam. Arif dapat menyelamatkan lima penumpang yang masih hidup, salah satunya Ahmad Taufik (25), warga Balenrejo, Bojonegoro yang patah tulang kaki dan tangan. Taufik kini menjalani rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Purwodadi.
"Penumpang itu saya gendong menuju ke stasiun. Faktor kesulitan utama saat itu adalah tidak adanya alat untuk mencungkil besi-besi yang menindih tubuh korban. Selain itu, suasana saat itu sangat gelap dan lokasi kecelakaan di sawah yang penuh lumpur," papar Arif.
KA Sembrani yang merupakan kereta eksekutif mengangkut 146 penumpang. Sementara itu, jumlah penumpang KA Kertajaya yang merupakan kelas ekonomi belum diketahui. Namun, diperkirakan lebih banyak dari yang tercatat. Dari 14 penumpang yang tewas termasuk masinis Nurhadi, 10 di antaranya diketahui menumpang di lokomotif KA Kertajaya. Beberapa jenazah korban meninggal, termasuk Nurhadi, dalam keadaan tidak utuh.
Masinis KA Sembrani Muhadi (51), warga RT 15 RW 4, Depo Loc Sidotopo, Surabaya mengalami luka berat dan kini dirawat di ruang ICU RS Panti Wilasa Jalan Citarum, Kota Semarang.
Dia mengungkapkan, saat keretanya melaju dari barat hendak memasuki stasiun, sinyal sudah menyala hijau. Itu artinya aman dan situasi jalur kereta bebas hambatan.
"Akan tetapi, mengapa tiba-tiba KA Kertajaya memasuki jalan kereta saya. Dalam laju kereta yang amat cepat, tabrakan tak bisa kami hindari," tutur Muhadi.
Teman sekerjanya, asisten masinis Junaidi, hanya mengalami luka ringan. Dia dijahit di bagian kepala lantaran terbentur besi. Dia hanya menjalani rawat jalan. Sementara itu masinis KA Kertajaya Nurhadi meninggal di lokasi kejadian dan asistennya, Sudikwan, selamat.
Gubernur Mardiyanto saat meninjau lokasi kecelakaan meminta Bupati Grobogan Bambang Pudjiono untuk membantu para korban. "Saya tidak mau bicara soal siapa yang salah dalam musibah ini. Yang penting adalah memberikan pertolongan pertama dan membantu fasilitas kendaraan untuk mengantar jenazah korban meninggal."
Mengenai adanya dugaan penumpang gelap yang membayar sejumlah uang kepada masinis untuk bisa naik di lokomotif, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa belum dapat memastikan.
Diduga akibat Kelalaian Masinis
Kertajaya Vs Sembrani di Gubug
14 Tewas, Puluhan Luka-luka
GROBOGAN - Tabrakan maut KA Kertajaya dengan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan (30 km arah timur Semarang), Sabtu dini hari kemarin, untuk sementara disimpulkan akibat kesalahan manusia. Kesimpulan itu adalah hasil penyelidikan awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Namun, hingga kemarin belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kecelakaan yang mengakibatkan 14 orang tewas dan puluhan luka-luka tersebut.
Berdasar keterangan di lokasi kejadian, kecelakaan itu bermula ketika KA Kertajaya jurusan Jakarta-Surabaya tanpa memperhatikan aba-aba dari Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) meninggalkan Stasiun Gubug sekitar pukul 02.00 untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
"Ketika KA Kertajaya mulai berjalan, dua kondekturnya masih berbicara dengan petugas stasiun karena memang mereka belum saatnya berangkat," ujar Kepala Stasiun Gubug Sarnoto.
Hingga kini polisi masih memeriksa empat orang yang diduga mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan. Mereka adalah Kepala PPKA Bugiyanto, asisten masinis KA Kertajaya Sudikwan, kondektur KA Kertajaya Samadi dan Sugito.
"Keempat orang itu masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Hingga kini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka," ungkap Kapolwil Pati Kombes Drs Didik S Tri Widodo MM.
Menurut keterangan Didik, empat saksi tersebut menyangkal telah memberikan isyarat pemberangkatan untuk KA Kertajaya.
KA yang menarik 12 gerbong itu seharusnya tetap berhenti di rel I sampai KA Sembrani yang juga jurusan Jakarta-Surabaya lewat di rel II tanpa transit.
Di tempat yang sama Direktur Reskrim Polda Jateng Kombes Drs Zulkarnain mengatakan dari hasil pemeriksaan diduga kecelakaan terjadi akibat kelalaian masinis KA Kertajaya. Tetapi karena masinis itu telah meninggal, secara hukum kasusnya gugur.
Lokomotif Terlempar
Tidak jelas, entah kenapa KA Kertajaya keluar dari stasiun sebelum mendapatkan aba-aba untuk berangkat. Dari arah yang sama, KA Sembrani dengan sembilan gerbong melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Ketika kereta dari rel I itu memasuki jalur rel II, pada saat yang sama KA Sembrani sampai pada titik penggabungan jalur. Dan, tabrakan pun tak terhindarkan. Lokasi tabrakan sekitar 300 meter dari Stasiun Gubug.
Lokomotif KA Kertajaya terlepas dari rangkaian dan terlempar dengan kondisi hancur ke sawah di sisi utara. Bagian lantai serta roda tertancap di pematang sedalam lebih dari satu meter. Sementara itu, lokomotif KA Sembrani juga terlepas dari rangkaian dan terlempar ke sawah di sisi selatan. Kondisinya relatif masih utuh.
Tim KNKT akan meneliti lokasi kejadian dan mewawancarai sejumlah saksi termasuk asisten masinis KA Kertajaya. "Asisten masinis merupakan saksi kunci, mengapa kereta itu meninggalkan stasiun Gubug? Padahal, tanda aman diberikan petugas stasiun untuk KA Sembrani dan Gumarang," ujar Ketua KNKT Setio Rahardjo.
Menteri Perhubungan Hatta Radjasa juga meninjau lokasi kecelakaan. Dia mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Presiden memerintahkan untuk segera menginvestigasi kecelakaan itu.
"Hasil sementara penyelidikan KNKT menyimpulkan, kecelakaan itu akibat human error dan tidak ada kesalahan teknis," tandasnya.
Penumpang di Lokomotif
Suara benturan keras yang dibarengi dengan pijaran api akibat tabrakan dua kereta besi itu mengagetkan warga di sekitar stasiun. Mereka secara spontan keluar rumah mencari sumber suara. Di tengah kegelapan, warga bahu-membahu dengan petugas stasiun dan Tim SAR Departemen Perhubungan untuk menyelamatkan para penumpang.
Salah seorang warga Kampung Mangunsari Kwaron, Gubug, Eko Adi Wibowo (25), menuturkan, saat kecelakaan dirinya sedang tidur.
"Tiba-tiba ibu saya membangukan setelah mendengar suara benturan keras sekali. Kami mengira, itu suara pesawat terbang yang jatuh."
Bersama beberapa warga lain, dia segera menuju ke sumber suara. Dia menolong tiga penumpang yang selamat. Tanpa bantuan penerang, dia membantu seorang penumpang selamat yang patah kaki dan lengan.
"Saya juga melihat beberapa potongan tangan, kaki, dan bagian tubuh lain. Saya prioritaskan yang masih hidup dahulu untuk saya bawa ke Stasiun Gubug," ungkap dia.
Hal yang sama juga dilakukan Arif Budianto (24). Dia mendengar jeritan orang minta tolong di tengah malam. Arif dapat menyelamatkan lima penumpang yang masih hidup, salah satunya Ahmad Taufik (25), warga Balenrejo, Bojonegoro yang patah tulang kaki dan tangan. Taufik kini menjalani rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Purwodadi.
"Penumpang itu saya gendong menuju ke stasiun. Faktor kesulitan utama saat itu adalah tidak adanya alat untuk mencungkil besi-besi yang menindih tubuh korban. Selain itu, suasana saat itu sangat gelap dan lokasi kecelakaan di sawah yang penuh lumpur," papar Arif.
KA Sembrani yang merupakan kereta eksekutif mengangkut 146 penumpang. Sementara itu, jumlah penumpang KA Kertajaya yang merupakan kelas ekonomi belum diketahui. Namun, diperkirakan lebih banyak dari yang tercatat. Dari 14 penumpang yang tewas termasuk masinis Nurhadi, 10 di antaranya diketahui menumpang di lokomotif KA Kertajaya. Beberapa jenazah korban meninggal, termasuk Nurhadi, dalam keadaan tidak utuh.
Masinis KA Sembrani Muhadi (51), warga RT 15 RW 4, Depo Loc Sidotopo, Surabaya mengalami luka berat dan kini dirawat di ruang ICU RS Panti Wilasa Jalan Citarum, Kota Semarang.
Dia mengungkapkan, saat keretanya melaju dari barat hendak memasuki stasiun, sinyal sudah menyala hijau. Itu artinya aman dan situasi jalur kereta bebas hambatan.
"Akan tetapi, mengapa tiba-tiba KA Kertajaya memasuki jalan kereta saya. Dalam laju kereta yang amat cepat, tabrakan tak bisa kami hindari," tutur Muhadi.
Teman sekerjanya, asisten masinis Junaidi, hanya mengalami luka ringan. Dia dijahit di bagian kepala lantaran terbentur besi. Dia hanya menjalani rawat jalan. Sementara itu masinis KA Kertajaya Nurhadi meninggal di lokasi kejadian dan asistennya, Sudikwan, selamat.
Gubernur Mardiyanto saat meninjau lokasi kecelakaan meminta Bupati Grobogan Bambang Pudjiono untuk membantu para korban. "Saya tidak mau bicara soal siapa yang salah dalam musibah ini. Yang penting adalah memberikan pertolongan pertama dan membantu fasilitas kendaraan untuk mengantar jenazah korban meninggal."
Mengenai adanya dugaan penumpang gelap yang membayar sejumlah uang kepada masinis untuk bisa naik di lokomotif, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa belum dapat memastikan.
