08-02-2011, 02:25 PM
(08-02-2011, 08:33 AM)bonbon Wrote:(08-02-2011, 08:12 AM)barkhah Wrote:(07-02-2011, 02:44 PM)pardjono Wrote:(07-02-2011, 02:06 PM)bonbon Wrote: ada garansi gak dari pemerintah dengan mengorbankan satu kereta bisa 0 (NOL/ZERO) nyawa kembali ke maha pencipta ?Tanggapan super duper amat sangat menggeledek sekali. Mirip tendangan penalti Mas Bambang Pamungkas.
Kagak ada yang bisa ngasih garansi kayak gtu. Pemerintah bukan TUHAN Bro. . . Paling tidak kita lihat dulu laah apa maksud tujuan Pihak Manajemen mengeluarkan kebijakan kayak gtu. Trus diukur perolehan angka nyawa hilang akibat PLH turun atau tidak. Jika tetep tinggi bru dievaluasi lagi. Itu yang namanya pembelajaran.
Klo setiap kebijakan dikritisi secara negatif, gimana kita bisa maju. Semua perlu waktu untuk evaluasi. OKE PREND !!!!
Pembelajaran apa untuk coba-coba saja mas ?
trus nanti kalo PLH (insya Alloh jgn ada lg) dan mengakibatkan korban jiwa juga walau udah ada Kereta Aling-aling gimana ?
bagaimana penanggung jawab yg buat kebijakan ini ?
kereta aling2 kan di belakang loko, nah itu yg nyetir loko di itung nyawanya nggak ?
Bila hanya untuk coba-coba, apa pernah di Test Crash dan dampak Test Crash tersebut ? (untuk yg ini ada RF yg mau jd sukarelawan ?)
Ya inilah mental bangsa kita. Membenturkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada kaitannya. Fokus kebijakan ini adalah untuk pengamankan penumpang dari PLH dan bukan crew KA. Bagaimana dengan Masinis dan crew lain yang ada di lokomotif ?. Nah itu pihak manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan Dirjen KA lah yang lebih tau. Mungkin dengan menerbitkan kebijakan lain misalnya.
Kebijakan seperti ini bukan diselesaikan dengan test crash, tapi dengan regulasi dan perbaharuan infrastruktur. Kecuali jika PT. INKA sudah mampu memproduksi loko sendiri. La wong loko saja masih membeli dari GE . . .

Meskipun nubi, ane juga Railfan




)