05-04-2013, 04:00 PM
(05-04-2013, 01:38 PM)Lin Ming Wrote: Sayang promonya minim.....
Beginilah cermin marketing KAI, kereta diluncurkan harganya selangit padal kemampuan pasarnya belum teruji. Coba dari dulu Moleks diluncurkan dengan harga yang pas terlebih dahulu, untuk pengenalan pasar (bukan tarif promo ya), bentuk dulu ekspectasi pasarnya, kalo terbukti naikan secara perlahan tapi pasti. Sudah banyak kasus KA yang akhirnya jadi korban model kebijakan penarifan seperti ini.
Penumpang dengan jarak tempuh medium juga diabaikan oleh PTKAI, padahal mereka mempunyai potensi besar, harusnya dengan dukungan IT yang sudah mumpuni, harga karcis buat mereka tidak perlu mendekati plafon atas, tapi dengan tarif yang sesuai jaraknya. Misalkan Malang - Kediri, Madiun-Solo, bisa dilayani dengan tarif "ringan" namun tidak "mengganggu okupansi" - misalkan tiket dijual pada hari H, untuk menghindari bangku kosong misalkan.
Saya juga bingung, knapa PT spoor sepertinya emoh untuk mempromokan tiket murahnya di iklan2 tipi, padahal media iklan tivilah yang banyak menjemput pangsa pasar untuk kereta api.
Tapi entah kenapa saya belum pernah melihat iklan2 dari PT spoor, ga seperti armada pesawat terbang yg banyak sekali iklannya, seperti GAR*DA yang mempromokan fasilitasnya selama perjalanan, A*R A*IA, yang mempromokan seat2nya yang sangat murah itu, belum yang laennya juga berlomba lomba.
sayang sih kereta api hanya mempunyai operator tunggal jadi dalam hal ini gada persaingan untuk menjadi yg lebih baik....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

