26-07-2013, 12:10 AM
Mencoba berbagi opini & menjawab ya...
Kalo mempelajari dari Laporan Tahunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu nggak ada pos pengeluaran yg tulisannya bagi hasil ke Pemerintah tuch, Kang... Yg ada selain biaya operasional juga pajak. Pajak ini yg disetorkan ke Pemerintah, yg meliputi di antaranya PPH 21 (gaji karyawannya), PPN (dari penjualan & pembelian spare part) & pajak2 yg lain. Selain itu jg ada yg namanya deviden, keuntungan (laba) yg disetorkan ke Pemerintah yg masuknya ke PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), cuma sampai saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) msh dikasih kelonggaran nggak setor deviden ke Pemerintah. Mungkin buat modal di kas perusahaannya agar semakin kuat karena kerugian2 masa lalu. CMIIW.
Jd gampangannya itu Kementrian Perhubungan itu tukang belanja, sementara Kementrian BUMN itu tukang nyari duit. Di APBN ada pos Pendapatan & pos Belanja. Ada duit trus dibelanjain jd kereta K3AC, trus diserahkan ke operator (bagian dr BUMN) agar dikelola. Jualan laku dlm setahun bs untung & bs setor pajak. Pajak dikumpulin trus bikin kereta lg di tahun berikutnya. Cuma kyk gitu ajah iterasinya.
Soal PSO dari pemerintah yg hanya memberikan 30% dari harga tiket itu nggak banyak memberikan kontribusi utk laba bersih yg diperoleh. Bs dicek, tahun 2011 PSO sekitar 623M tp laba bersih (dari total pendapatan, KA Barang & penumpang) hanya 201M. Jd nilai 623M itu habis utk biaya operasional sj.
Nggak ada yg aneh lah, Kang... Itu tergantung kesepakatan & kontrak kerja antara Kementrian Perhubungan cq. Ditjen KA & PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sj. Kalo ternyata dlm kontrak tsb K3AC yg isi 80 seat dpt subsidi, otomatis operator nggak bs menjalankan KA tsb dgn harga komersial. Lha kalo kereta ekonomi tsb tdk disubsidi & tdk dijual dgn harga komersial nanti kalo ada kerusakan & mesti beli spare part yg nanggung siapa...?
Poin 1, 2 & 3 bs terwujud kalo mata uang di negeri ini pake YEN. Yen ono duite...
(22-07-2013, 10:37 AM)spoor_hunter Wrote: mau tanya, siapa tahu ada pihak operator PT.KAI yang ikut membahasa TS ini.
berapa persen sih hasil pendapatan dari operator PT.KAI (tanpa PSO) yang harus di berikan ke Pemerintah ?
Jika PSO dari pemerintah hanya memberikan 30% dari harga tiket, berapa persen kah pendapatan dari operator yang harus diberikan ke pemerintah ?
mengenai K3AC Dephub yang sedang melintas, apakah pendapatan operasional (tanpa perawatan) yang dikelola oleh operator harus diserahkan ke pemerintah sebesar 100% atau bagi hasil ?
mohon dijawab bagi yang tahu, kalau tidak ada yg menjawab, anggap saja pertanyaan saya ini cuman lolucon.
(25-07-2013, 09:57 AM)warsito Wrote: kita cuma bisa berandai2 disini - pandangan saya macam konsinyasi gitu, ada bagi hasil tp tidak seberapa kayaknya yang masuk ke pt spoor - yah namanya cuma pandangan imajiner bisa bener bisa salah
Kalo mempelajari dari Laporan Tahunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu nggak ada pos pengeluaran yg tulisannya bagi hasil ke Pemerintah tuch, Kang... Yg ada selain biaya operasional juga pajak. Pajak ini yg disetorkan ke Pemerintah, yg meliputi di antaranya PPH 21 (gaji karyawannya), PPN (dari penjualan & pembelian spare part) & pajak2 yg lain. Selain itu jg ada yg namanya deviden, keuntungan (laba) yg disetorkan ke Pemerintah yg masuknya ke PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), cuma sampai saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) msh dikasih kelonggaran nggak setor deviden ke Pemerintah. Mungkin buat modal di kas perusahaannya agar semakin kuat karena kerugian2 masa lalu. CMIIW.
Jd gampangannya itu Kementrian Perhubungan itu tukang belanja, sementara Kementrian BUMN itu tukang nyari duit. Di APBN ada pos Pendapatan & pos Belanja. Ada duit trus dibelanjain jd kereta K3AC, trus diserahkan ke operator (bagian dr BUMN) agar dikelola. Jualan laku dlm setahun bs untung & bs setor pajak. Pajak dikumpulin trus bikin kereta lg di tahun berikutnya. Cuma kyk gitu ajah iterasinya.
Soal PSO dari pemerintah yg hanya memberikan 30% dari harga tiket itu nggak banyak memberikan kontribusi utk laba bersih yg diperoleh. Bs dicek, tahun 2011 PSO sekitar 623M tp laba bersih (dari total pendapatan, KA Barang & penumpang) hanya 201M. Jd nilai 623M itu habis utk biaya operasional sj.
(24-07-2013, 03:23 PM)yusirwan Wrote: Kok Aneh yaa....?
K3AC Baru itu masih milik Kemenhub...tapi di pake oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk kereta ekonomi komersil (non PSO)...aneh gak yaa..?
Nggak ada yg aneh lah, Kang... Itu tergantung kesepakatan & kontrak kerja antara Kementrian Perhubungan cq. Ditjen KA & PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sj. Kalo ternyata dlm kontrak tsb K3AC yg isi 80 seat dpt subsidi, otomatis operator nggak bs menjalankan KA tsb dgn harga komersial. Lha kalo kereta ekonomi tsb tdk disubsidi & tdk dijual dgn harga komersial nanti kalo ada kerusakan & mesti beli spare part yg nanggung siapa...?
(25-07-2013, 08:03 PM)yusirwan Wrote: Kalo menurut saya....emang skrng baru ada 2 operator KA yaitu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT KA Comutter Line (anak perusahaan PT. Kereta Api Indonesia (Persero))...tetapi kedua operator ini mempunyai pngsa pasar yg berbeda..utk PT CL lebih fokus pada para penumpang commuter di perkotaan...sebaiknya di kembangkan lg opeator yg lain, biar PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mempunyai pesaing (walaupun benarnya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri sudah punya pesaing yaitu moda angkutan yg lain)....
Kalo pemerintah mau mengembangkan dunia perkeretaapiaan, kalo menurut saya yg mendesak di lakukan adalah pembenahan dan peningkatan prasarana perkeretaapian (jalan, stasiun dll) seperti:
1. percepatan pembanggunan Double2 track Manggarai-cikarang.
Saya melihat jalur antara jatinegara-bekasi sudah sangat padat, sering ka yg dari timur udah datang cepat....tapi pas mau melewati jalur bekasi-jatinegara ketahan. akhirnya sampe ke stasiun Gambir/ps senen tetap terlambat.
2. Percepatan pembangunan Double track di lintasan yg lain, sehingga waktu tempuh KA lebih cepat.
3. Peningkatan dan pengembangan Stasiun, masih banyak Stasiun yg mempunyai potensi besar tapi sarana dan fasilitasnya masih minim, Contoh St Bekasi, ribuan org berangkat dan datang di stasiun bekasi baik yg dari KRL atau KA jarak jauh (yg berhenti di bekasi) tetapi sarana dan fasilitasnya masih minim (masih banyak jalan tikus, ruang tunggu tdk memadai). St Jatinegara, St Tanah Abang, dlll.......
Poin 1, 2 & 3 bs terwujud kalo mata uang di negeri ini pake YEN. Yen ono duite...

