Lokomotif Kereta Api Bangunkarta yang terguling setelah tergelincir dan menabrak kereta barang di Stasiun Waruduwur, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sudah diangkat ke posisi normal
Flashback Kronologi KejadianÂ
PLH KA Bangunkarta - KA Barang Logistik di Waruduwur CN
25 Mei 2015 15:57 WIB
CIREBON, Kompas.com — Tiga hari setelah kecelakaan yang melibatkan Kereta Api Bangunkarta dengan kereta barang pada Sabtu lalu, lokomotif KA Bangunkarta yang terguling dan menghalangi jalur dua dan tiga di Stasiun Waruduwur, Kabupaten Cirebon, berhasil diangkat dari jalur, Minggu sekitar pukul 22.30. Pada Senin (25/5) pagi, petugas berupaya fokus memperbaiki jalur dua dan tiga yang telah terbebas dari kereta yang terguling.
Perjalanan KA yang melalui lintas utara via Cirebon-Brebes-Tegal secara bertahap mulai lancar. Jika pada Sabtu dan Minggu keterlambatan kereta mencapai lima jam, kini berkurang menjadi satu hingga dua jam.
Kereta yang melalui jalur utara kini bisa melintasi Stasiun Waruduwur dengan kecepatan maksimal 5 kilometer per jam. "Kereta harus tetap mengantre sebab jalur yang bisa digunakan hanya satu. Namun, antrean itu tidak selama kemarin atau Sabtu sebab jalur sudah relatif lebih bersih dari hambatan," kata Supriyanto, Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional III Cirebon, Senin, di lokasi kejadian.
Kepala Humas PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Pusat Agus Komarudin menambahkan, pengalihan jalur melalui Prupuk-Slawi-Tegal kini tak lagi dilakukan sebab Waruduwur sudah bisa dilintasi kereta.
Pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Persero menargetkan penyelesaian perbaikan rel itu pada Senin ini sehingga pada Selasa seluruh jalur di Waruduwur bisa dipakai oleh kereta api.
"Kami menargetkan hari ini (Senin) seluruh perbaikan rel tuntas sehingga jalur satu, dua, tiga, dan empat optimal dipergunakan. Saat ini, jalur dua dan tiga yang dalam fokus pengerjaan sebab jalur satu dan empat relatif tidak terkendala. Baru dua jalur yang ada itu kini yang bisa dipakai untuk lalu lintas kereta api ke arah utara," papar Supriyanto.
Menyambung rel
Sedikitnya 200 petugas dari Cirebon dan Tegal bekerja keras menyambung kembali rel yang sempat putus, bengkok, dan tergerus akibat tabrakan antara KA Bangunkarta dan kereta barang, Sabtu akhir pekan lalu.
Sebelumnya, perbaikan rel pada jalur dua dan tiga di Stasiun Waruduwur tersebut tidak bisa optimal lantaran terhalang badan lokomotif dan kereta pembangkit KA Bangunkarta.
Upaya evakuasi lokomotif dan satu kereta pembangkit KA Bangunkarta itu pun memakan waktu dua hari. Dua alat berat berupa crane yang didatangkan dari Bandung dan Cirebon dikerahkan untuk mengangkat dan menegakkan kembali dua bagian kereta yang terguling, Minggu malam hingga Senin dini hari.
Badan kereta dan lokomotif yang sudah tegak itu ditempatkan di area kosong antara jalur dua dan jalur tiga Stasiun Waruduwur. Pekerja kemudian beralih kepada perbaikan rel yang diperkirakan memerlukan waktu satu hari penuh.
Sementara itu kereta barang yang ditabrak KA Bangunkarta juga sudah dievakuasi. Empat gerbong KA barang itu sudah ditarik ke Stasiun Cirebon Prujakan, sedangkan empat gerbong lainnya diletakkan di tepian jalur rel sehingga tidak mengganggu perjalanan kereta. Total, jumlah rangkaian gerbong KA barang itu ada 20 unit. Sebanyak 12 gerbong lainnya meneruskan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah, mengangkut pipa gas dan material untuk pembangunan jaringan gas di Semarang dan Jawa Timur.
Di lapangan, tim inspektorat dari PT Pertamina Gas turun untuk memeriksa kondisi kereta barang beserta muatannya. Muatan berupa pipa dan material jaringan gas itu adalah milik PT Pertamina Gas. Delapan pipa gas terguling dari KA barang dan masuk ke areal persawahan milik warga yang berbatasan langsung dengan jalur empat. Kondisi pipa yang terguling itu relatif masih baik kendati inspektur pemeriksa di lapangan menemukan goresan dan bekas tumburan pada badan pipa.
"Kerusakan pipa ini akan kami laporkan kepada PT Pertamina Gas selaku pemilik barang. Namun, sepanjang pengetahuan kami, barang-barang ini masih diasuransikan sehingga segala kerugian yang timbul masih bisa diklaim kepada pihak asuransi," tutur Dedi Mirwansyah, anggota inspektorat dari Pertamina Gas.
Sumber berita pada 25 Mei 2015 | 15:57 WIB