Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(06-12-2010, 11:36 PM)Adi Sutjipto Wrote: (06-12-2010, 10:16 PM)samnawi Wrote: agak OOT dikit..... mungkin jangan pake kata budaya, karena menurut saya Budaya itu sesuatu yang bernilai luhur....
lha kalo berebutan masuk,....?????
mungkin pake kata kebiasaan aja....
kebiasaan masyarakat berebut bisa disebabkan karena mental dari masyarakat kita sendiri yang terbentuk karena lingkungan....
Coba lihat kayak di JAKK, belum juga yang di dalem menginjakkan kaki di peron, patra calon penumpang di luar sudah berusaha untuk masuk ke dalam kereta, orang yang terbiasa dengan hal itu, mungkin ketika 1-2 kali masih bisa bersabart, tapi kalo setiap hari..... hal2 untuk menghormati orang lain pun seakan terabaikan. Mereka seperti ga mempedulikan hak orang lain yang ada di dalam untuk keluar.
  
Betul Mas,
makanya, kita prihatin dengan kejadian rutin setiap hari ini.
Yang namanya PKD, kasihan, sampai teriak-teriak terus.....
Begitu susahnya menyadarkan calon penumpang,
kadang sampai membawa megaphone, atau pinjam mic dari ruang PPKA.
Jadi,
dimulailah dari diri sendiri, minim, sedikit bersabar.....

Mungkin PKD nya perlu dilengkapi juga dengan alumni K9 Saya rasa, alumni K9 alias Argo Guk Guk cukup disegani hehehehe
Salam Spoor,
Posts: 535
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
2
Tapi yang saya perhatikan kalau di Sta. tujuan akhir seperti BOO. Biasanya penumpang yang duduk setelah KRL berhenti tidak langsung turun. Membiarkan yang naik dulu,setelah keadaan kondusif baru turun dari KRL.
Saya pernah menyaksikan dua orang ibu-ibu, satu mau naik satu mau turun berkelahi, karena mereka saling ngotot tidak ada yang mau mengalah akhirnya salah satu dari mereka langsung memukul si ibu yang menghalanginya. Si Ibu yang dipukul pun tidak mau kalah dan membalas pukulannya.  Berkelahi cuma gara-gara berebut keluar & masuk KRL. PKD cuma bisa tiup peluit saja,entah mau melerai atau jadi wasit,,  Waktu itu KRL sedang langka, 2 KRL batal berturut-turut karena mogok, dan KRL berikutnya hanya 1 set.
Kejadian tadi tidak akan terjadi kalau kita tertib.
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
07-12-2010, 09:39 AM
(This post was last modified: 07-12-2010, 09:43 AM by Dana Komuter.)
@ Joe_cn > hehehhe... Jadi bayangin anak TK ama anak2 kelas 1 - 2 SD kalau mau masuk kelas mesti baris berbaris sambil lencang depan dan jalan di tempat sgala...
@ ady_mcady > Mungkin kalau di Jabodetabek banyak lahan yg sempit.
- Palmerah : Kiri kanan dah jalan raya.
- Ps. Minggu : Dah lahan rumah orang dan jalan raya.
- Kebayoran : Kiri perumahan Polri dan kanan pun pasar dg bangunan2 permanen.
- Dll...
@ samnawi dan Joe_cn > Justru itu waktu akan terus berjalan. Budaya pun bisa saja berubah seiring perkembangan situasi. Masing2 punya budaya masa lalu yang membekas di pikiran kita. Bisa saja sudah tidak dijalaninya lagi karena merasa dinilai negatif. Tentu yang negatif macam hal 'sepele' oleh sebagian orang ini aja bisa koq diubah.
@ Adi Sutjipto > Kalau bisa kita jadi garda terdepan dg didampingin staf2 PT. KA. Kita memberi penyuluhan selama yah... -+ 1 minggu penuh meski itu hari kerja juga. Sebab kalau cuma kita yg berpenampilan suatu komunitas tertentu nampaknya gak ditanggep. Kita cuma seperti even2 tertentu aja yg maungadain acara sekian lama 1x aja. Tapi kalau ada para stasf PT. KA khan... masyarakat juga tau kalau pegawai PT. KA ingin ngasih gebrakan baru apalagi ini...
@ ahmadi > hmm... apa aku bilang... Aku sih percaya aja dg kejadian ini. Sebab yg aku alamin baru2 ini persis sama wkt baru keluar dari KRL. Dia lebih galak tapi aku bentak lagi. Trus aku mending pergi gitu aja. Kalau dah main fisik, urusan malah panjang. INI JAKARTA!!!!!!!!!!!!!!! JA...BO...DE....TA...BEKKK...(sori rada emosi) Polisi aja diberhangus ama massa... apalagi kita yg cuma komuter yg kerjaannya cuma pp kerja, kuliah, sekolah dan aktifitas lainnya...
Tapi persoalan knapa di Bogor malah lebih tertib begitu?? Karena sedari stasiun Bj. Gede dan Cilebut aja dah banyak yg mau tujuan Jakarta naik si KRL yg sepi itu. Coba deh perhatiin kalo pagi hari sd agak siang. Khan semua KRL dari Jakarta sepi / gak gitu penuh. Makanya yg hendak ke Jkt terutama dari ke2 stasiun tsb bisa duduk lowong. Mrk tau kalau gitu sampe st. Bogor akan diberangkatin lagi ke Jakarta. Koq mrk bisa tau? Apa gak bakal masuk dipo Bogor? Krn mrk dah pengalaman sehari2 mana aja KRL yg pulang dipo dan mana yg kembali ke kota asal berangkat awalnya tadi.
Posts: 33
Threads: 0
Joined: Nov 2010
Reputation:
0
setiap gerbong satu sisinya punya 2 pintu, kenapa ga dibuat satu untuk masuk dan satu untuk keluar jadi bisa lebih terarah. byk orang berdiri dekat pintu katanya biar mudah/cepat turun, tp klo masih jauh bukan siap2 namanya tapi pasang badan menghalangi naik turun penumpang (kyk mo ajak berantem jadinya).
RF naufalannabil, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Nov 2010.
Posts: 619
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
10
wah emg soal rebutan ini saya sering melihat dan pernah merasakan soale kalo naek pasti ekonomi sih 
dlo paling parah pas naek kutojaya ke KTA pas H+3 kalo gak salah, dari JNG dapet duduk tapi pas di daerah seabis haurgeulis ada ibu2 ma bayinya gak dpt t4 duduk akhire tak kasihkan trus milih gelantungan di pintu.
Nah pas dari kebumen banyak banget penumpang arus balik ke jkt dah naek en ikut ke KTA ngga tua muda bayi diajak rebutan. Akhire karena saya menguasai 1 pintu, saya kerjasama ma seorang anak muda yg juga gelantungan bwad bantu org2 yg naik sambil sedikit mengatur kluar masuk penumpang, dng mendahulukan yg mo kluar baru yg masuk dibantu. Caranya ya sambil cerewet dikit mengatur dan juga menenangkan. Untungnya rata2 mau diarahkan dng cara begitu dan alhamdulillah tdk sampe terjadi insiden rebutan.
- Perlu petugas yg standby di tiap pintu KA mengatur+membantu arus keluar masuk
- Petugas di stasiun mengumumkan dan mengarahkan untuk arus naik dari 1 arah, jng dua arah sehingga mempermudah penumpang yg akan keluar dari sisi yg lain
- Perlunya penumpang dididik untuk disiplin dan suka menolong serta mendahulukan manula, ibu2 hamil, serta anak kecil
Demikian
Posts: 2,564
Threads: 0
Joined: Feb 2008
Oalah.... 
Daripada cuman meributkan satu baris kalimat, kan lebih baik kalau mengusahakan keadaan lebih baik. Sayang kan kalau energi dihabiskan cuman untuk meributkan satu atau dua hal.....
Padahal sekarang kita harusnya membahas bagaimana mengikis budaya buruk berebut keluar masuk KA.
Oya, jaman dulu waktu saya masih kecil saya sering melihat pintu masuk ke peron ditutup kalau ada KA masuk. Begitu juga di stasiun Bandung lama prosedur itu dilakukan.
Apa ini prosedur jaman Belanda untuk mencegah orang berebut keluar masuk KA?
(06-12-2010, 08:19 PM)Adi Sutjipto Wrote: [spoiler]
Sebenarnya mudah, tetapi..... ?
Artinya mudah diatur atau susah diatur ?
Dan yang saat ini sedang berlangsung, yang mana ?
Sebenarnya ya, atau sebenarnya, tidak ?
Pemerintah susah mengatur, mengapa susah ?
Kalau sudah tertib, susah untuk apa ?
Untuk ketertiban. tidak perlu harus pemerintah turun tangan,
jangan menyalahkan orang lain,
dimulai dari diri sendiri dulu kan ?
Jadi, sebenarnya, kita ini prihatin !
Minim, tidak ikut menyerobot lampu merah,
tidak membuang sampah sembarangan, atau dengan
sabar mengantre sesuai urutan, dll.
Paling tidak, dengan tidak ikut melanggar, yang melakukan pelanggaran, berkurang satu,
jika kita tidak ikut-ikutan !
[spoiler] Catatan buat anda ;
Siapa yang memandang rendah bangsa sendiri ?
Saya orang Indonesia dan saya bangga itu !
Tapi, jika memang ada kekurangan, ya harus kita akui,
dan tentunya berusaha segera diperbaiki bukan ?
Dan tidak menyalahkan orang/ pihak lain.
Jangan seperti anak kecil, yang karena kurang hati-hati,
kepalanya terbentur tembok,
lalu temboknya yang disalahkan !
Asal anda tahu saja, sebenarnya [dan ini memang benar],
nama saya juga sudah tercatat di Pusat Cadangan Nasional
sejak tahun 1984,
dan itu, saya yang mendaftar atas keinginan sendiri !
Apa nama anda juga sudah terdaftar disana, [dalam bela negara],
atas kesadaran anda sendiri ?
Sehingga anda punya pemikiran, saya merendahkan,
yang dapat diartikan, bila kita tidak berpikir jauh,
tidak mencintai negara ini,
hanya dari postingan saya sebelumnya ?
Sederhana sekali ya, pemikiran anda, kalau memang demikian.
Lain kali, ada baiknya dipikir dulu,
sebelum menulis dan mempostingnya,
sehinga tidak menyinggung orang lain.
Makanya, anda sering berpolemik dimana-mana bukan ?
* kalimat anda yang terakhir itu, saya tidak suka ![/spoiler]
[/spoiler]
Posts: 3,141
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
106
07-12-2010, 10:33 PM
(This post was last modified: 07-12-2010, 11:00 PM by Adi Sutjipto.)
(07-12-2010, 07:15 PM)bagus70 Wrote: Oalah.... 
Daripada cuman meributkan satu baris kalimat, kan lebih baik kalau mengusahakan keadaan lebih baik. Sayang kan kalau energi dihabiskan cuman untuk meributkan satu atau dua hal.....
Padahal sekarang kita harusnya membahas bagaimana mengikis budaya buruk berebut keluar masuk KA.
Oya, jaman dulu waktu saya masih kecil saya sering melihat pintu masuk ke peron ditutup kalau ada KA masuk. Begitu juga di stasiun Bandung lama prosedur itu dilakukan.
Apa ini prosedur jaman Belanda untuk mencegah orang berebut keluar masuk KA?
(06-12-2010, 08:19 PM)Adi Sutjipto Wrote: [spoiler]
Sebenarnya mudah, tetapi..... ?
Artinya mudah diatur atau susah diatur ?
Dan yang saat ini sedang berlangsung, yang mana ?
Sebenarnya ya, atau sebenarnya, tidak ?
Pemerintah susah mengatur, mengapa susah ?
Kalau sudah tertib, susah untuk apa ?
Untuk ketertiban. tidak perlu harus pemerintah turun tangan,
jangan menyalahkan orang lain,
dimulai dari diri sendiri dulu kan ?
Jadi, sebenarnya, kita ini prihatin !
Minim, tidak ikut menyerobot lampu merah,
tidak membuang sampah sembarangan, atau dengan
sabar mengantre sesuai urutan, dll.
Paling tidak, dengan tidak ikut melanggar, yang melakukan pelanggaran, berkurang satu,
jika kita tidak ikut-ikutan !
[spoiler] Catatan buat anda ;
Siapa yang memandang rendah bangsa sendiri ?
Saya orang Indonesia dan saya bangga itu !
Tapi, jika memang ada kekurangan, ya harus kita akui,
dan tentunya berusaha segera diperbaiki bukan ?
Dan tidak menyalahkan orang/ pihak lain.
Jangan seperti anak kecil, yang karena kurang hati-hati,
kepalanya terbentur tembok,
lalu temboknya yang disalahkan !
Asal anda tahu saja, sebenarnya [dan ini memang benar],
nama saya juga sudah tercatat di Pusat Cadangan Nasional
sejak tahun 1984,
dan itu, saya yang mendaftar atas keinginan sendiri !
Apa nama anda juga sudah terdaftar disana, [dalam bela negara],
atas kesadaran anda sendiri ?
Sehingga anda punya pemikiran, saya merendahkan,
yang dapat diartikan, bila kita tidak berpikir jauh,
tidak mencintai negara ini,
hanya dari postingan saya sebelumnya ?
Sederhana sekali ya, pemikiran anda, kalau memang demikian.
Lain kali, ada baiknya dipikir dulu,
sebelum menulis dan mempostingnya,
sehinga tidak menyinggung orang lain.
Makanya, anda sering berpolemik dimana-mana bukan ?
* kalimat anda yang terakhir itu, saya tidak suka ![/spoiler]
[/spoiler]
Oalah Gus, Bagus,
Memang anda ini pikun rupanya,
sudah isi postingan anda isinya saling bertolak belakang
[lihat saja yang saya beri huruf tebal pada tulisan anda],
coba baca ulang isinya [postingan no 6],
mana solusi dari anda ?
Isinya cuma pamer [lagi-lagi], pernah keluar negeri
dan kadang merasa yang paling tahu dan banyak kenalan dengan R/f luar.
Kalau saya, menurut anda, dianggap cuma meributkan satu kalimat,
selama ini,
anda sudah ribut dengan berapa orang dan berapa kalimat tuh banyaknya ?
Sebutkan saja disini sekalian !
Dulu, soal Reputation saja, anda ributkan !
Bilang tidak perlu, tidak ada gunanya, minta dihilangkan segala !
Sekarang, saya lihat sudah 22,
kenapa anda tidak ribut lagi, minta ditarik secepatnya saja
oleh yang memberi,
dan anda konsekwen,
tulis, jangan kirim Reputation ke anda,
tidak ada nilainya, tidak ada gunanya, buat orang selevel anda.....
Lupa ya ?
Atau justru keasyikan ?
Jangan-jangan, anda dulu ini hanya iri dan minta dihargai ?
Kalau ya, kasihan !
Makanya Gus, saya kan pernah bilang, introspeksi,
lihat dan mikir, kenapa anda selalu ribut dimana-mana.
Tidak hanya dengan saya [kali ini dan pertama buat saya],
Tapi sudah banyak yang ngomong.
Mengatakan orang lain bodoh segala,
masih kurang jelas atau lupa lagi ?
Kalau masih belum merasa, apa perlu saya belikan kaca rias yang besar ?
Sepertinya, saya juga belum pernah berbalas seperti ini
di S-35, kecuali dengan anda.
Tetapi, bagi anda, saya sudah orang yang keberapa nih ?
Atau, anda justru bangga, biang ribut dimana-mana ?
Kalau teman-teman mungkin sudah malas mengingatkan anda,
semoga balasan saya kali ini dapat mengingatkan anda ya.
Berubah Gus, biar hidup lebih bermakna dan lebih enak lagi.
Anda kelahiran 1970 ? [ Bagus 70]
Artinya, sudah tidak muda lagi lho,
dan sudah berumah tangga kan ?
Kalau sudah dan mempunyai anak,
apa tidak malu dengan anaknya,
ayahnya sering ribut dimana-mana ?
Pun, kalau kemana-mana, lebih bisa dihargai dan diterima dengan tulus oleh teman-teman.
Betul kan Gus ?
Coba dulu berubah, gampang kok,
yang penting, jangan gengsian !
Better Late than Never !
Good - better - best
Let us never rest
Let the good be better
And the better best
 
[/b][/color]
Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
07-12-2010, 11:22 PM
(This post was last modified: 07-12-2010, 11:25 PM by stasiunkastephanie.)
(07-12-2010, 10:33 PM)Adi Sutjipto Wrote: [spoiler] (07-12-2010, 07:15 PM)bagus70 Wrote: Oalah.... 
Daripada cuman meributkan satu baris kalimat, kan lebih baik kalau mengusahakan keadaan lebih baik. Sayang kan kalau energi dihabiskan cuman untuk meributkan satu atau dua hal.....
Padahal sekarang kita harusnya membahas bagaimana mengikis budaya buruk berebut keluar masuk KA.
Oya, jaman dulu waktu saya masih kecil saya sering melihat pintu masuk ke peron ditutup kalau ada KA masuk. Begitu juga di stasiun Bandung lama prosedur itu dilakukan.
Apa ini prosedur jaman Belanda untuk mencegah orang berebut keluar masuk KA?
(06-12-2010, 08:19 PM)Adi Sutjipto Wrote: [spoiler]
Sebenarnya mudah, tetapi..... ?
Artinya mudah diatur atau susah diatur ?
Dan yang saat ini sedang berlangsung, yang mana ?
Sebenarnya ya, atau sebenarnya, tidak ?
Pemerintah susah mengatur, mengapa susah ?
Kalau sudah tertib, susah untuk apa ?
Untuk ketertiban. tidak perlu harus pemerintah turun tangan,
jangan menyalahkan orang lain,
dimulai dari diri sendiri dulu kan ?
Jadi, sebenarnya, kita ini prihatin !
Minim, tidak ikut menyerobot lampu merah,
tidak membuang sampah sembarangan, atau dengan
sabar mengantre sesuai urutan, dll.
Paling tidak, dengan tidak ikut melanggar, yang melakukan pelanggaran, berkurang satu,
jika kita tidak ikut-ikutan !
[spoiler] Catatan buat anda ;
Siapa yang memandang rendah bangsa sendiri ?
Saya orang Indonesia dan saya bangga itu !
Tapi, jika memang ada kekurangan, ya harus kita akui,
dan tentunya berusaha segera diperbaiki bukan ?
Dan tidak menyalahkan orang/ pihak lain.
Jangan seperti anak kecil, yang karena kurang hati-hati,
kepalanya terbentur tembok,
lalu temboknya yang disalahkan !
Asal anda tahu saja, sebenarnya [dan ini memang benar],
nama saya juga sudah tercatat di Pusat Cadangan Nasional
sejak tahun 1984,
dan itu, saya yang mendaftar atas keinginan sendiri !
Apa nama anda juga sudah terdaftar disana, [dalam bela negara],
atas kesadaran anda sendiri ?
Sehingga anda punya pemikiran, saya merendahkan,
yang dapat diartikan, bila kita tidak berpikir jauh,
tidak mencintai negara ini,
hanya dari postingan saya sebelumnya ?
Sederhana sekali ya, pemikiran anda, kalau memang demikian.
Lain kali, ada baiknya dipikir dulu,
sebelum menulis dan mempostingnya,
sehinga tidak menyinggung orang lain.
Makanya, anda sering berpolemik dimana-mana bukan ?
* kalimat anda yang terakhir itu, saya tidak suka ![/spoiler]
[/spoiler]
Oalah Gus, Bagus,
Memang anda ini pikun rupanya,
sudah isi postingan anda isinya saling bertolak belakang
[lihat saja yang saya beri huruf tebal pada tulisan anda],
coba baca ulang isinya [postingan no 6],
mana solusi dari anda ?
Isinya cuma pamer [lagi-lagi], pernah keluar negeri
dan kadang merasa yang paling tahu dan banyak kenalan dengan R/f luar.
Kalau saya, menurut anda, dianggap cuma meributkan satu kalimat,
selama ini,
anda sudah ribut dengan berapa orang dan berapa kalimat tuh banyaknya ?
Sebutkan saja disini sekalian !
Dulu, soal Reputation saja, anda ributkan !
Bilang tidak perlu, tidak ada gunanya, minta dihilangkan segala !
Sekarang, saya lihat sudah 22,
kenapa anda tidak ribut lagi, minta ditarik secepatnya saja
oleh yang memberi,
dan anda konsekwen,
tulis, jangan kirim Reputation ke anda,
tidak ada nilainya, tidak ada gunanya, buat orang selevel anda.....
Lupa ya ?
Atau justru keasyikan ?
Jangan-jangan, anda dulu ini hanya iri dan minta dihargai ?
Kalau ya, kasihan !
Makanya Gus, saya kan pernah bilang, introspeksi,
lihat dan mikir, kenapa anda selalu ribut dimana-mana.
Tidak hanya dengan saya [kali ini dan pertama buat saya],
Tapi sudah banyak yang ngomong.
Mengatakan orang lain bodoh segala,
masih kurang jelas atau lupa lagi ?
Kalau masih belum merasa, apa perlu saya belikan kaca rias yang besar ?
Sepertinya, saya juga belum pernah berbalas seperti ini
di S-35, kecuali dengan anda.
Tetapi, bagi anda, saya sudah orang yang keberapa nih ?
Atau, anda justru bangga, biang ribut dimana-mana ?
Kalau teman-teman mungkin sudah malas mengingatkan anda,
semoga balasan saya kali ini dapat mengingatkan anda ya.
Berubah Gus, biar hidup lebih bermakna dan lebih enak lagi.
Anda kelahiran 1970 ? [ Bagus 70]
Artinya, sudah tidak muda lagi lho,
dan sudah berumah tangga kan ?
Kalau sudah dan mempunyai anak,
apa tidak malu dengan anaknya,
ayahnya sering ribut dimana-mana ?
Pun, kalau kemana-mana, lebih bisa dihargai dan diterima dengan tulus oleh teman-teman.
Betul kan Gus ?
Coba dulu berubah, gampang kok,
yang penting, jangan gengsian !
Better Late than Never !
Good - better - best
Let us never rest
Let the good be better
And the better best

[/b][/color]
[/spoiler]
@bagus & adi: sebaiknya permasalahan ini jangan sampai makin memanas, marilah kita redam emosi kita masing2 & gunakan akal pikiran kita untuk menyelesaikan masalah ini.
 yukz.
Apa yg dikatakan mas Bagus ini benar, bahwa orang2 Indonesia itu sebenarnya termasuk orang yg paling baik dalam pekerjaannya dibandingkan negara2 lain (d/h berkembang), tapi yg perlu digarisbawahi, pemerintah bukannya tidak bisa mengatur kedisiplinan masyarakatnya, tapi lebih pada kesadaran masyarakat yg begitu rendah dalam menaati peraturan. Dan kenapa mereka bisa berbuat begitu? Jawabannya sangat simpel, yaitu:
[spoiler] KARENA KEPERCAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PEMERINTAH SANGAT TIPIS, HAL INI TIDAK LAIN KARENA SEJAK INDONESIA MERDEKA SAMPAI SEKARANG, KEBIJAKAN PEMERINTAH SANGAT SEDIKIT YANG MENGARAH LANGSUNG KEPADA RAKYAT, KEBANYAKAN MENGARAH PADA ELIT POLITIK TERTENTU/KALANGAN2 TERTENTU YANG PUNYA AKSES LANGSUNG KE PEMERINTAH.[/spoiler]
Mereka berbuat seperti itu karena mereka menganggap seperti ini:
[spoiler] "HALAH, NGAPAIN NGIKUTIN ATURAN PEMERINTAH BUAT GINI-GITU, LAH ORANG PEMERINTAHNYA AJA KAYAK GITU, SUKA MELANGGAR UNDANG2, MASA' KITA GAK BOLEH NGELANGGAR JUGA? HARUS ITU!"[/spoiler]
Kembali ke masalah perkeretaapian,
Yg membuat semrawutnya naik-turun penumpang di atasiun itu tidak lain & tidak bukan karena:
1. Takut ketinggalan kereta.
2. Takut tidak kebagian tempat duduk.
3. Takut terlambat kerja/sekolah/kuliah.
4. Masih banyak takut yg lainnya.
Jadi, karena kerasnya kehidupan di kota besar dimana orang berlomba2 untuk mendapatkan rezeki sebanyak2nya untuk hidup & memperkaya diri, makanya orang2 yg akan naik kereta pada rebutan.
CMIIW, tolong dikoreksi kalo salah.(Jangan lupa dg kata2 & bahasa yg baik, gunakan pikiran, jangan gunakan emosi)
Sekian.
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
09-12-2010, 10:06 AM
(This post was last modified: 09-12-2010, 10:09 AM by Dana Komuter.)
@ naufalannabil : Stasiun2 KA komuter di Indonesia khususnya di Jabodetabek tidak dirancang dengan sekat kaca pembatas seperti kebanyakan di stasiun2 KA bawah tanah di luar negeri (Bangkok, Singapura, dll). Jadi, bila KA datang, maka siapa yg duluan masuk dialah merasa yg dapet posisi yang pas / enak / gak tergencet sama yang bakal masuk lagi. Padahal secara logika yg duluan sama yg belakangan masuk tetap aja sama2 kebagian enak dan gak enaknya. Gak enaknya kl lg apes di KRL AC atau Eko AC malah ACnya gak gitu dingin. Enaknya kalo lg gak gitu penuh gak gitu panas.
Kalau di luar negeri, selain di Paris aku juga pernah ngalamin naik KRL komuter di kota Zurich di Swiss. Yg ini dobel deker (maksudnya double decker ^_^). Peronnya tanpa sekat kaca pembatas. Tapi mungkin karena jumlah populasi penduduk yg cuma sekian juta jiwa, jadi gak ada perebutan keluar - masuk KA. Apalagi kala itu lg menjelang musim panas yg konon kalau kebanyakan negara barat musim panas akan punya libur sekolah, kuliah dan kerja yg panjang. Tp Juni itu aku rasa utk sekaliber Swiss msh termasuk dingin. Soalnya dikelilingin puncak gunung yg melebihi ketinggian awan.
@ wedhoez : Gak harus di klas Ekonomi atau pun Ekonomi AC. Justru di Klas2 AC pun juga sama aja. Lain kalau itu rangkaian KA2 jarak menengah dan jauh. Soalnya semisal Gopar dtg dari Bandung, yg turun bisa keluar dg nyaman. Karena yg mau masuk mesti nyari2 dulu "Kita di gerbong mana sih?". Di karcis tertulis di kereta 2 misalnya. Tau2 posisinya di peron ujung utara Gambir. Yah jelas terlalu jauh utk jangkau kereta 2.
Trus ngomong2 ngatur keluar - masuk penumpang di KA jarak jauh koq jadi keinget arus balik Lebaran kemarin yah? Tegal Arum dateng di Brebes, krn saking penuhnya pintu K3 langsung pada mrk kunci. Yah jelas yg di luar frustasi dg maki2 kalo kita2 juga mau naik. Emangnya pintu K3 dg mudahnya bisa digembok yah? Bukannya harus ijin petugas / entah PKD dulu gitu?
Posts: 909
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
Sabar aja deh, baru mampunya segini. Di luar negeri katanya peron tertutup, ada pintunya, orang tinggal antri saja, Penumpang keluar di tengah pintu, yang masuk antri dari samping pintu. Lha di sini? kita nggak tau posisi pintu ketika kereta akan berhenti.
Trus disini rebutan, cari tempat duduk. Karena KRL disini hobi telat. Sudah pegal menunggu 10-30menit, ditambah telat di jalan. Coba kalo 30-40 menit sampe bogor, orang masih sanggup berdiri. Kalau disini yang asam urat, kegemukan, varises tersiksa berdirinya karena Kereta telat. Orang yang duduk biasanya tidur, untuk kompensasi bangun lebih pagi, untuk rebutan tempat duduk.
|