Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
MASA KEEMASAN KERETA API INDONESIA
#21
(25-06-2011, 12:05 PM)Juragan Bajaj Wrote: Setuju. Kebijakan pengolahan Kereta Api memang sangat baik pada zaman PERUMKA. Pada zaman itu menjadikan Kereta Api merupakan Moda transportasi yang anggepannya "Nyesel ga naik KA". Selain pelayanan yg superduper mantap, kelas dan Kelayakan KA dalam perjalanan juga baik. Salah satunya pada KA Argo Bromo (KZ). hhmm, kalo di bilang memang susah, tapi anda liat sendiri deh Interiornya yg super mantap Ngiler
~edited~

Saya nge Share foto itu hanya untuk menunjukkan, betapa seriusnya para petinggi di PERUMKA dalam membuat Transportasi Massal yang baik dan nyaman. Bye Bye

Jadi inget jaman Pak Harto.

BTT .....
Reply
#22
betul mas.... PERUMKA emang bener2 manteb.... mereka eman:
- punya sense of belonging pada KA
- punya manajemen yang hebat dengan semangat need for acchievement... dan selalu punya semangat memenagkan persaingan
- punya integritas dan totalitas dalam pelayanan ke konsumen

sering juga saya tulis kalo era PERUMKA itu inovasi KA bahkan mendahului zaman... mereka bener2 total dalam menjadikan KA sebagai yg terbaik

bahkan atasan saya pernah cerita... kalo dinas lebih milih anggrek... karena ngga usah ribet2 ke bandara... dan untuk berhibingan dengan banyak pihak bisa menggunakan bussiness rro nya ABA "saat itu"

PERUMKA bisa tapi manajemen yg sekarang... ngga punya semangat bersaing, ngga punya totalitas, integritas dan sense of belonging atas KA.. ngga punya standar pelayanan

tanya kenapa?????
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#23
(25-06-2011, 02:57 PM)Bangunkarta Wrote: betul mas.... PERUMKA emang bener2 manteb.... mereka eman:
- punya sense of belonging pada KA
- punya manajemen yang hebat dengan semangat need for acchievement... dan selalu punya semangat memenagkan persaingan
- punya integritas dan totalitas dalam pelayanan ke konsumen

...

PERUMKA bisa tapi manajemen yg sekarang... ngga punya semangat bersaing, ngga punya totalitas, integritas dan sense of belonging atas KA.. ngga punya standar pelayanan

tanya kenapa?????

apakah suasana kerja pada masa perumka beda dengan jaman pt. kai? lha kok bisa beda ya kinerjanya. barangkali rf yang "orang dalam" bisa curhat disini? (naif banget saya...hehehe).
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#24
Top Bangetsetuju, jaman perumka memang top, loko aja diganti baju jadi sangar dan berwibawa, salut deh dg pejabat KA saat itu yg jelas saat ini PT KA belum menunjukan taringnya krn gigi aja blm punya he he tapi yg pasti pejabat PT KA saat ini kurang cinta dg KASedih
Reply
#25
(25-06-2011, 03:29 PM)ady_mcady Wrote: apakah suasana kerja pada masa perumka beda dengan jaman pt. kai? lha kok bisa beda ya kinerjanya. barangkali rf yang "orang dalam" bisa curhat disini? (naif banget saya...hehehe).
kalo boleh saya jawab perbedannya adalah pada orientasi perusahaan....

kalo PERUM itu kan tujuannya adalah pelayanan publik oleh penyelenggara negara (operator KA yg diberikan hak istimewa berupa subsidi dan hak monopoli shg tidak mempunyai pesaing bisa dikatakan salah satu penyelenggara negara)... sehingga orientasinya adalah pelayanan kepada masyarakat sebagai bentuk timbal balik dari negara kepada masyarakat yg telah melaksanakan kewajibannya..... meskipun sah-sah saja perusahaan mencari keuntungan, kalo PERUM itu pelayanan publik ada di atas segala-galanya....

oleh karena itu, pola pikir PERUMKA adalah pelayanan sebaik2 nya pada masyarakat... maka manajemen menanamkan doktrin bahwa sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa..... yang dikejar adalah kepuasan pelanggan... sehingga KA akan ada di hati masyarakat... kalo sudah begitu... maka keuntungan jangka panjang ya tinggal menunggu waktu... kan konsumen sudah loyal... yang diupayakan tinggal bagaimana perusahaan menjaga kepercayaan dan loyalitas pelanggan... artinya yang dikejar itu TRUST....

kalo yang sekarang... bentuknya kan PT... ya yang dikejar kan keuntungan... namun sayangnya, karena terlena oleh kehebatan masa lalu dan ketiadaan pesaing... manajemen lupa tentang nilai2 perusahaan jasa yang selalu mengedepankan TRUST.. jadinya ya yang dikejar cuman keuntungan namun sayangnya melupakan nilai-nilai Trust atas perusahaan tersebut....

selanjutnya... PERUMKA masih sangat merasa sebagai bagian dari Pemerintah... maka dengan posisi sebagai salah satu penyelenggara negara, orientasi mereka adalah pelayanan publik... dan kalo ada persoalan, PERUMKA dan Departemen2 terkait akan bersama-sama, berkoordinasi dan saling bahu-membahu mengatasi persoalan tersebut.... sementara kalo sekarang, kesannya...karena udah merasa berbentuk badan hukum mandiri dan bukan lagi bagian dari pemerintah, operator tidak merasa memiliki tanggung jawab dalam pelayanan publik... dan yang sangat disesalkan... ketika ada persoalan, yang terjadi bukan saling koordinasi lagi.. liat ajah... yang terjadi kan saling lempar kesalahan kan.....

apakah efeknyaBingung
kalo pas jaman PERUMKA selalu ada alasan untuk menggunakan KA
kalo sekarang... selalu ada alasan untuk meninggalkan KA dan beralih pada yang lain...

CMIIW
ini perspektif saya pribadi loh ya... sebagai pengguna KA
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#26
kalau tidak salah, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini kan lahirnya tahun 1998 ya? jadi pas ketika terjadi "goro-goro" di republik ini yaitu krisis ekonomi. atas tekanan imf, pemerintah ditekan untuk mengefisiensikan segala bentuk pos anggaran yang dianggap bisa menjadi beban apbn.

sekarang setelah jadi pt, negara hanya bertanggungjawab dengan pembangunan dan perawatan infratruktur. itu pun katanya pejabat2 pt. kai banyak nomboknya dengan alasan macam2 lah kita sudah bosan dengarnya. mana yang benar, pt. kai atau pemerintah, sama susahnya menjawab mana yang lebih dulu, ayam atau telur?

tetapi yang saya sorot adalah, kok bisa loyo? apakah ini gejalanya sama dengan seseorang yang tiba2 statusnya berubah total menjadi pegawai swasta yang dituntut mandiri untuk mengelola perusahannya agar tetap eksis.

o ya. kira2 pegawai pt. kai yang sekarang itu sebagian besar apakah masih peninggalan perumka tahun 1998, atau sudah rekruitmen baru semua?

"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#27
kayaknya semua pernyataan dari jaman/masa ke-emas-an KAI ini sudah temen2 keluarkan,,
yang tugas kita sebagai pecinta dan pemerhati KA hanya mencoba memberikan solusi bagaimana kita bisa meraih dan mengembalikan masa2 ke-emas-an atau kejayaan KAI beberapa tahun silam,, share yuks gimana solusi nya !!!!
Reply
#28
Masa-masa keemasan kereta api Indonesia menurut saya ada pada jaman PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) tahun 80'an.
Untuk kereta ekonomi relasi Yk-GMR yang sering saya naiki waktu itu kondisinya jauh lebih baik dari kelas Argo jaman sekarang.
Keretanya bersih, tidak ada pedagang asongan yang naik, setiap jendela memiliki tirai yang dapat diatur ketinggiannya (mirip tirai KRL AC sekarang), kamar mandi (toilet) memiliki lampu indikator yang bisa dilihat penumpang. Kalau lampu hijau menyala berarti toilet kosong, kalau merah berarti isi. Kereta jarang terlambat, biasanya sebelum subuh sudah masuk GMR.
Jangan lupakan masa-masa jaya icon kereta api Indonesia waktu itu seperti Mutiara dan BIMA.
RF jamboapha, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
Reply
#29
Jaaman skrg gak ada KRL yang bersih dari atapers kayak gini

[Image: 184727_186195454752800_100000870411024_4...0800_n.jpg]
Blog|Flickr|FB

[Image: P22Y3t]
Argo Unyu
Reply
#30
Sedikit OOT...

Di zaman Orde Baru itu yg namanya transportasi di Indonesia itu mengalami masa keemasannya. Jika di dalam negeri yg terlihat menonjol adalah KA dan kapal laut (PELNI), maka di dunia internasional yg menonjol adalah penerbangannya.

Zaman Pak Harto, sang Garuda Indonesia mampu mengepakkan sayapnya hingga ke berbagai kota besar di 5 benua di dunia.

Semenjak kejatuhan Orba, masa keemasan tersebut mulai pudar. Mulai dari lilitan utang yg membuat Garuda harus mencabut beberapa rute domestik maupun internasional hingga berbagai PLH yg menyebabkan nama Garuda di-blacklist dari zona terbang Eropa.

Sekarang, sejak dipimpin oleh seorang yg bernama Emirsyah Satar tahun 2005 (saya baca ini di Kompas seminggu apa dua minggu yg lalu), Garuda Indonesia kembali bangkit. Dan lihat apa hasilnya sekarang. Dengan bangganya GA memamerkan armada A330-200 terbarunya sebagai andalan penerbangan "perdana" kembali ke Eropa, Cengkareng-Schiphol di Amsterdam, dan pesawat yg sama kini menjadi andalan RI-1 juga, mengalahkan sang Jumbo B747-400 yg mulai menua...

Nah, kalo Garuda bisa, kenapa PT KA tidak bisa? Padahal, kalo mau dilihat sulit mengembangkan yg mana, jelas lebih susah membangkitkan reputasi penerbangan Indonesia, karena ga cuma melingkupi dunia domestik, tetapi juga internasional (seperti pencabutan larangan terbang di Eropa)...

Mungkin ada sedikit andil dari pemerintah yg lebih besar terhadap peningkatan harga diri Garuda yg sempat jatuh, tapi ayolah, PT KA juga bisa koq. Masak untuk masalah yg lebih kecil ga bisa?

Semoga, dimulai dari comeback ABA facelift (Go Green), masa keemasan perkeretaapian di Indonesia pun mengalami sebuah "facelift", lebih baik dari Perumka!

Satu hal yang penting:

Mau untung? Jangan kecewakan pelanggan! Pelanggan, sebagai "tamu" dalam "rumah" kereta, adalah raja dari "tuan rumah" PT KA!
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)