Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Susahnya penumpang K3
#21
(18-11-2011, 07:10 PM)Smidi_cahbagus Wrote: kalo aku punya usul nech...
gimana kalo dibikin modelnya spt halte busway termasuk dari segi bahannya. Panjang cukup utk 2 gerbong, yg dapet tempat duduk plg belakang naiknya dari tengah rangkaian aja.
Stasiun besar pemberangkatan awal wajib pake peron beton ato yg permanen.
Kalo stasiun besar yg jadi transit KA bendera spt GB, KM pake peron tinggi spt halte busway tp ngga pake atap (kan dah ada atapnya... ntar dobel Ngakak )
peronnya bisa dibikin 2 ya... satu peron buat kereta no ganjil, yg satunya bt kereta no genap...
Buat stasiun kecil spt SPH cs dibuat peron tinggi spt halte busway satu aja... menyatu dgn bangunan stasiun, biasanya dideket jalur 1. Pake atap biar jd tempat tunggu penumpang yg nyaman. Jadi kalo ada kereta mo naikin/nurunin penumpang belok ke jalur 1, kalo cm silang terserah si PPKA, bs dijalur 1 ato 3.
saya kira pake bhn spt halte busway cepat dipasang, kalo biaya jls lbh murah drpd buat peron permanen, lumayan buat solusi jangka pendek.

Xie Xie

NgakakNgakak
Reply
#22
(18-11-2011, 06:35 PM)Joe_cn Wrote:
(18-11-2011, 06:30 PM)CC203 35 Wrote: [spoiler]
(18-11-2011, 06:22 PM)Joe_cn Wrote:
(18-11-2011, 02:59 PM)andya nur Wrote: - Biasa nya klo di stasiun yg peron nya msh pendek ada semacam tangga (apa namanya ya) ???
- ya klo dpt kereta/tempat duduk yg ga kebagian peron, sebaiknya naik dri rangkaian tengah

ada lgi yg mw nambahin

Tapi kalo dikasih tangga di tempat seperti itu malah akan membahayakan karena terdapat banyak kricak di situ, resiko terpleset pasti ada...
[/spoiler]

Bancik maksudnya ?
Kalau itu kan bisa dipindah-pindah tangganya (bancik), jadi kalau ada Ka yang dateng langsung dipasin ke pintu. Seperti di JNG, MRI, SMT, dll.
Kepeleset gimana maksud mas Joe_cn?

maksudnya kalo yang seperti gambar di atas dikasih tangga yang om sebut bancik itu ditaro tidak mungkin kan?karena struktur tanahnya tidak rata, beda bila tangga bancik itu ditaro di peron stasiunnya akan sangat membantu sekali.Xie Xie

ya maksud saya juga spt itu mas Joe_cn Tengsin hehehehe

[Image: CopyofIMG_0286.jpg]
Reply
#23
atau sebaiknya pintu kereta K3 dibalikin ke model lama aja? jadi lebih rendah gak kayak sekarang, menyusahkan sekali jika naik dari peron rendah sekalipun.
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply
#24
(18-11-2011, 08:18 PM)andya nur Wrote:
(18-11-2011, 06:35 PM)Joe_cn Wrote:
(18-11-2011, 06:30 PM)CC203 35 Wrote: [spoiler]
(18-11-2011, 06:22 PM)Joe_cn Wrote:
(18-11-2011, 02:59 PM)andya nur Wrote: - Biasa nya klo di stasiun yg peron nya msh pendek ada semacam tangga (apa namanya ya) ???
- ya klo dpt kereta/tempat duduk yg ga kebagian peron, sebaiknya naik dri rangkaian tengah

ada lgi yg mw nambahin

Tapi kalo dikasih tangga di tempat seperti itu malah akan membahayakan karena terdapat banyak kricak di situ, resiko terpleset pasti ada...
[/spoiler]

Bancik maksudnya ?
Kalau itu kan bisa dipindah-pindah tangganya (bancik), jadi kalau ada Ka yang dateng langsung dipasin ke pintu. Seperti di JNG, MRI, SMT, dll.
Kepeleset gimana maksud mas Joe_cn?

maksudnya kalo yang seperti gambar di atas dikasih tangga yang om sebut bancik itu ditaro tidak mungkin kan?karena struktur tanahnya tidak rata, beda bila tangga bancik itu ditaro di peron stasiunnya akan sangat membantu sekali.Xie Xie

ya maksud saya juga spt itu mas Joe_cn Tengsin hehehehe

Bancik selama ini yg saya tau khusus K1 deh..
pantauan di JNG pas 142,144,146 dkk masuk..nggak ada perintah PAP untuk mempersiapkan Bancik di peron 1..pas GoPar atau 44 masuk baru deh..


persoalan pintu K3,
kayaknya udah diwujudkan oleh kemenhub deh. Buktinya itu K3 selendang 2007,Nutri, sm K3 AC pintu ny kupu2 lagi
693-5073-893-673
Reply
#25
Foto-2 di awal thread ini diambil di lokasi setasiun MLK (Malang Kotalama) , sebelah selatan peron setasiun yg beratap.
Rangkaian K3 yg panjang ini adalah KA Matarmaja (ML-PSE) , berhenti normal di MLK untuk menaikkan penumpang.

Kasian memang bagi penumpang yg tiket nya menyebutkan naik di kereta nomor sekian dan letak kereta nya di jalur terbuka, sementara di area peron beratap paling-2 hanya menampung 2 K3 dan ada tangga 'portable' sebagai alat bantu naiknya penumpang.

Contoh SLO (Solo Balapan) atau SGU (Surabaya Gubeng) selaku setasiun besar mampu membangun peron tinggi sepanjang itu. Apabila ada setasiun yg bisa meniru desain stn GMR (Gambir) bagus juga. Keduanya memerlukan biaya besar.

Akan tetapi untuk setasiun-2 kecil di daerah, mestinya persediaan tangga portable tadi jumlah nya ditambah dan disediakan personil yg siap mengoperasikan di setiap kedatangan kereta, bisa dilakukan dengan biaya semampu setasiun ybs.

Upaya-2 ini adalah wujud untuk meningkatkan pelayanan .........

[Image: banner_semboyan35com_0002.png]
Reply
#26
Kalo saya punya usul bila setasiun kecil itu nggak bs mendirikan peron tinggi, ya cukup pake peron setengah tinggi. Kalo ternyata biaya mendirikan peron setengah tinggi masih terlalu mahal ya bikinnya setempat2 saja menyesuaikan jarak antar pintu kereta.

Kalo pake bancik ato pijakan tangga dr besi ato aluminium kayaknya memerlukan banyak SDM utk masang saat kereta akan berhenti, apalg kalo berhentinya cuma sesaat. Xie Xie
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#27
Kalo yang pernah ke stasiun bogor, buat peron kaya gitu ajah. yang di antara jalur 4 dan 5 lalu jalur 6 dan 7. peronnya gak terlalu tinggi, dan terbuat dari beton yang gak terlalu tebal. kaya jembatan gitu. penumpang bisa tunggu di ruang tunggu, saat kereta akan datang, barulah penumpang naik ke peron. ato tidak di kereta di tambah tangga bantuan kaya di KRL Commuter Line. saat KRL masuk jalur 2 ato 3 stasiun MRI, para penumpang baik pria maupun wanita tidak terlalu sulit untuk naik ke kereta karena ada tangga bantuan di bawah pintu KRL. baik KRL Ekonomi maupun Commuter Line ada tangga itu. Kalo masalah peron pendek, gak hanya K3 ajah yang Rebek, tapi K2 dan bahakan pengalaman saya naik K1 Gajayana juga susah karena pintu kereta terlalu tinggi dari peron. Terima kasih
Reply
#28
Hmm ... peron stasiun Kediri juga rendah .... peronnya juga cuma muat sekitar dua sampai tiga K3 .... sisanya memanjang sampai ke belakang. Agak susah juga sih naik dari Stasiun Kediri kalo dapet kereta belakang jika rangkaiannya tidak standby di sepur 1 (sepur lurusnya stasiun Kediri). Kalo Brantasnya di sepur 1 sih gampang, peronnya panjang (walau tak semuanya beratap) dan banyak tangga portabel sampai rangkaian paling belakang. Nah kalo dapet sepur 2 atau sepur 3 yang peronnya cuma sepanjang atapnya (seperti yang saya alami terakhir kali), saya lebih memilih naik di Peron beratap, pake tangga portabel itu, dan menyusuri lorong sampai kereta kedua dari belakang Bethe entah kenapa tiap naik Brantas ke Jakarta, tempat duduk saya tidak pernah jauh dari kereta pertama - kereta ketiga dari belakang Ngakak

Nah, itu naiknya. Kalo turunnya, beberapa kali saya lihat banyak bapak atau ibu lanjut usia sering kesulitan mau turun kereta kalau mereka kebagian apes keretanya berhenti di tempat yang berperon rendah ... sampe harus dibantu .... Sedih kira-kira bakal dibangun peron tinggi gak yah stasiun yang ini? Walau kecil (bangunannya, pangkatnya sih stasiun besar, hehehe Ngeledek ) stasiun ini kan rame juga ... kok gak ada yang pengen ninggiin peron yah?
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
#29
(19-11-2011, 07:06 PM)Hungry Soul Wrote: Hmm ... peron stasiun Kediri juga rendah .... peronnya juga cuma muat sekitar dua sampai tiga K3 .... sisanya memanjang sampai ke belakang. Agak susah juga sih naik dari Stasiun Kediri kalo dapet kereta belakang jika rangkaiannya tidak standby di sepur 1 (sepur lurusnya stasiun Kediri). Kalo Brantasnya di sepur 1 sih gampang, peronnya panjang (walau tak semuanya beratap) dan banyak tangga portabel sampai rangkaian paling belakang. Nah kalo dapet sepur 2 atau sepur 3 yang peronnya cuma sepanjang atapnya (seperti yang saya alami terakhir kali), saya lebih memilih naik di Peron beratap, pake tangga portabel itu, dan menyusuri lorong sampai kereta kedua dari belakang Bethe entah kenapa tiap naik Brantas ke Jakarta, tempat duduk saya tidak pernah jauh dari kereta pertama - kereta ketiga dari belakang Ngakak

Nah, itu naiknya. Kalo turunnya, beberapa kali saya lihat banyak bapak atau ibu lanjut usia sering kesulitan mau turun kereta kalau mereka kebagian apes keretanya berhenti di tempat yang berperon rendah ... sampe harus dibantu .... Sedih kira-kira bakal dibangun peron tinggi gak yah stasiun yang ini? Walau kecil (bangunannya, pangkatnya sih stasiun besar, hehehe Ngeledek ) stasiun ini kan rame juga ... kok gak ada yang pengen ninggiin peron yah?

hehehehe.. dari tahun ke tahun Stasiun ini kayanya gak ada perubahan. ane lupa pertama kali injek stasiun kediri. waktu itu kelas 2 sd. sekitar tahun 2000 jamannya gajayana masih ada bisnisnya. terakhir kemaren bulan oktober ke kediri pake si gajah.. ternyata masih belom ada perubahan.
Reply
#30
melihat kasus peninggian peron di stasiun lempuyangan ada positif dan negatifnya.
positifnya : -sangat membantu pnp naik-turun sehingga proses naik turun membutuhkan waktu yg tidak lama
-lebih manusiawi
negatifnya : -pnp rawan korban luka jika jatuh ke rel yg cukup dalam
-bentuk stasiun jadi aneh
-pengecekan roda jadi sulit karena peninggian peron pada 2 sisi (terutama jalur 2)

tetapi overall saya lebih mendukung peninggian peron hingga setara lantai kereta karena lebih manusiawi dan dapat diterima oleh semua golongan termasuk orang cacat.
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 4 Guest(s)