Posts: 5,045
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
14
Dan Jonan beserta perangkat di bawahnya berhasil mengubah pola pikir pax K3, dari asal keangkut (makanya terkadang jadi gudang berjalan) menjadi K3 yang lebih manusiawi dibandingkan jaman sebelumnya.
Kalo ingin KA merakyat lagi, ubah status perusahaan operator KA menjadi Jawatan/Perum lagi
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Posts: 975
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
24
(09-03-2013, 10:33 PM)ardial Wrote: (09-03-2013, 09:26 PM)dozykayen Wrote: (07-03-2013, 01:02 PM)dedy vh Wrote: saya sangat mendukung penuh dengan kebijakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini yang menerapakan 100 persen penumpang duduk , tiket online dan bebas pedagang kaki lima di peron dan di daalm kereta. saya rasa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini sedang menuju perusahaan yang sehat ini bisa di lihat dari keuntungan perusahaan yang semakin meningkat.bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi operator ka tingkat dunia. perusahaan saat ini sedang membersihkan dari para pegawai yang mencoba mengambil keuntungan pribadi.dengan menjadi calo karcis dll perusahaan nya makin bobrok pegawainya sejahtera dalam tanda kutip. kalau perusahaan sehat insya allah para pegawainya sejahtera..
namun memang saya kurang setuju dengan beberapa kebijakan perusahaan yang mengurangi jumlah pemberhentian ka ka lokal di masing masing daop. semisal ka lolak pwk - jkt , saya dulu sering naik ka ini kalau mau ke arah cikampek dan purwakarta dan ke arah kota dan kemayoran dari stasiun klender yang memang stasiun terdekat dari tempat tinggal saya. sekarang sudah tidak berhenti lagi di stasiun klender dan juga ka lokal cirebon - cikampek yang saat ini sudah almarhum
1. Saya malah kepengen ada koneksi KA lokal. Ka lokal stop semua stasiun. Nah, ka lokal juga di tambah. Jadinya ada lokalan : JAKK/TPK/PSE-PWK, PWK-CBT, CBT-KYA, KYA-KTA, KTA-SK, SK-KTS, KTS-SB, KTS-TA, TA-ML, ML-SB (penataran jadi ka ekspress jika ada ka lokal ini), Bangil-JR, dan JR-BW. Untuk Pantura ada SBI-BJ, BJ-SMC, SMC-TG, TG-CNP, CNP-CKP, serta jalur poros tengah (CN-KYA dan SMT-SLO). Lokalan full ac dengan harga normal. Andaikan saja...
2. Semua kereta disubsidi, kecuali beberapa K1
3. Semua stasiun online, dengan tingkatan tertentu (misal stasiun tengah sawah online lokalan), seperti saya bilang di awal
4. Kebijakan ac-nisasi, 100 %, boarding, saya dukung
5. 
Saya tanggapi 1 dan 2
jalur selatan:Jakarta apapun stasiun keberangkatannya-Purwakarta, bukankah sudah ada Patas biarpun sampai Purwakarta, Purwakarta-Cibatu kan ada Mandra, kalau KYA-KTA bukankah ada Maguwo walaupun agak ekstension Ke Maguwo+dihentikan sementara karena harus Backup ke KA Sumatera, KTA-SK bukankah sudah ada Prameks/Sriwedari, KTS-SB bukankah sudah ada Arjuno dan KTS-ML bukankah Bukankah sudah ada Kelud biarpun cuma sampai Kediri.
nah mungkin untuk yang belum saya tanggapi Bisa menjadi evaluasi buat semuanya
Pantura:Jakarta-Tegal Bukankah nanti Kaligangsa setelah dipulangkan ke jawa hanya sementara saja dihentikannya, toh kaligangsa 65.000 bisa sampai Tegal meskipun lebih lama dari Arum karena persoalan jadwal yang banyak bentrok+berhentinya Kaligangsa Juga perpetak buktinya Priuk-Cirebon ditempuh dalam waktu 4,5 jam+kaligangsa saja 2 Jam perjalanan sudah sampai Pegadenbaru sehingga Mulai Cikampek-Cirebon berhenti Perpetak bahkan udah lebih sabar dari KA Ekonomi lepas CN jalan dibelakang Argo Sindoro.
saking sabarnya Masuk Tegal Paling cepat 22:15.
Tegal-Semarangf:bukankah sudah dilayani 3 KA Kaliagung meskipun namanya+Rangkaiannya beda2(Ekonomi tegal Ekspres, Bisnis:KRDE, K1 Kaliagung Mas)
Semarang-Bojonegoro:bukankah ada Blojeks
K2+K3:bukankah K2 itu Komersial biar gak tekor+merugi?
Kalau K3 Masih Tolerance lah dengan catatan Tidak Lebih dari Pekgo Termasuk Subsidi, tapi kalau K1 genah Pinten Mas?/Wani Piro
3 dan 4.Pasti Setuju
Hmmm, setelah dipikirkan iya juga ya ngapain K1 dikasih subsidi, orang kaya kok disubsidi (kecewa pada diri sendiri)....Ya mendingan subsidi dialihkan kepada seluruh K3 AC (kan nantinya AC semua). Dan oh ya, semua ka enaknya ada tuslah deh menurut sy..Misalnya, untuk ka argo+bima+gajah ada appertizer n dessert, terus K1 satwa apa gitu, K1 eksis beda lagi, terus sampe K3 lokalan dapet aqua gelas...Kalau andaikan KAI itu sebuah perusahaan airline, KAI sudah termasuk no frill (LCC), nggak seperti dulu yang full service.
1. Usul buat K1: lantai diganti karpet, kursi kain semua, tv di tengah gerbong ukuran sedang, ada announcementnya saat mau masuk stasiun, toilet duduk, running text (stasiun pemberhentian&waktu), bantal selimut korden wangi, toilet nya juga ditambah toilet khusus untuk pria(yang untuk BAK)....
Tapi semua itu ada kendalanya
1. Maaf ya sebelumnya, ada orang indonesia yang 'mental colongan', ada barang baru dicolong.
2. Maaf lagi, 'bisa membuat tidak bisa merawat'. Percuma saja sudah dikasih fasilitas bagus bagus nggak bisa ngrawat
3. Biaya
Posts: 1,214
Threads: 0
Joined: May 2011
Reputation:
22
(10-03-2013, 01:42 PM)dozykayen Wrote: (09-03-2013, 10:33 PM)ardial Wrote: (09-03-2013, 09:26 PM)dozykayen Wrote: (07-03-2013, 01:02 PM)dedy vh Wrote: saya sangat mendukung penuh dengan kebijakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini yang menerapakan 100 persen penumpang duduk , tiket online dan bebas pedagang kaki lima di peron dan di daalm kereta. saya rasa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini sedang menuju perusahaan yang sehat ini bisa di lihat dari keuntungan perusahaan yang semakin meningkat.bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi operator ka tingkat dunia. perusahaan saat ini sedang membersihkan dari para pegawai yang mencoba mengambil keuntungan pribadi.dengan menjadi calo karcis dll perusahaan nya makin bobrok pegawainya sejahtera dalam tanda kutip. kalau perusahaan sehat insya allah para pegawainya sejahtera..
namun memang saya kurang setuju dengan beberapa kebijakan perusahaan yang mengurangi jumlah pemberhentian ka ka lokal di masing masing daop. semisal ka lolak pwk - jkt , saya dulu sering naik ka ini kalau mau ke arah cikampek dan purwakarta dan ke arah kota dan kemayoran dari stasiun klender yang memang stasiun terdekat dari tempat tinggal saya. sekarang sudah tidak berhenti lagi di stasiun klender dan juga ka lokal cirebon - cikampek yang saat ini sudah almarhum
1. Saya malah kepengen ada koneksi KA lokal. Ka lokal stop semua stasiun. Nah, ka lokal juga di tambah. Jadinya ada lokalan : JAKK/TPK/PSE-PWK, PWK-CBT, CBT-KYA, KYA-KTA, KTA-SK, SK-KTS, KTS-SB, KTS-TA, TA-ML, ML-SB (penataran jadi ka ekspress jika ada ka lokal ini), Bangil-JR, dan JR-BW. Untuk Pantura ada SBI-BJ, BJ-SMC, SMC-TG, TG-CNP, CNP-CKP, serta jalur poros tengah (CN-KYA dan SMT-SLO). Lokalan full ac dengan harga normal. Andaikan saja...
2. Semua kereta disubsidi, kecuali beberapa K1
3. Semua stasiun online, dengan tingkatan tertentu (misal stasiun tengah sawah online lokalan), seperti saya bilang di awal
4. Kebijakan ac-nisasi, 100 %, boarding, saya dukung
5. 
Saya tanggapi 1 dan 2
jalur selatan:Jakarta apapun stasiun keberangkatannya-Purwakarta, bukankah sudah ada Patas biarpun sampai Purwakarta, Purwakarta-Cibatu kan ada Mandra, kalau KYA-KTA bukankah ada Maguwo walaupun agak ekstension Ke Maguwo+dihentikan sementara karena harus Backup ke KA Sumatera, KTA-SK bukankah sudah ada Prameks/Sriwedari, KTS-SB bukankah sudah ada Arjuno dan KTS-ML bukankah Bukankah sudah ada Kelud biarpun cuma sampai Kediri.
nah mungkin untuk yang belum saya tanggapi Bisa menjadi evaluasi buat semuanya
Pantura:Jakarta-Tegal Bukankah nanti Kaligangsa setelah dipulangkan ke jawa hanya sementara saja dihentikannya, toh kaligangsa 65.000 bisa sampai Tegal meskipun lebih lama dari Arum karena persoalan jadwal yang banyak bentrok+berhentinya Kaligangsa Juga perpetak buktinya Priuk-Cirebon ditempuh dalam waktu 4,5 jam+kaligangsa saja 2 Jam perjalanan sudah sampai Pegadenbaru sehingga Mulai Cikampek-Cirebon berhenti Perpetak bahkan udah lebih sabar dari KA Ekonomi lepas CN jalan dibelakang Argo Sindoro.
saking sabarnya Masuk Tegal Paling cepat 22:15.
Tegal-Semarangf:bukankah sudah dilayani 3 KA Kaliagung meskipun namanya+Rangkaiannya beda2(Ekonomi tegal Ekspres, Bisnis:KRDE, K1 Kaliagung Mas)
Semarang-Bojonegoro:bukankah ada Blojeks
K2+K3:bukankah K2 itu Komersial biar gak tekor+merugi?
Kalau K3 Masih Tolerance lah dengan catatan Tidak Lebih dari Pekgo Termasuk Subsidi, tapi kalau K1 genah Pinten Mas?/Wani Piro
3 dan 4.Pasti Setuju
Hmmm, setelah dipikirkan iya juga ya ngapain K1 dikasih subsidi, orang kaya kok disubsidi (kecewa pada diri sendiri)....Ya mendingan subsidi dialihkan kepada seluruh K3 AC (kan nantinya AC semua). Dan oh ya, semua ka enaknya ada tuslah deh menurut sy..Misalnya, untuk ka argo+bima+gajah ada appertizer n dessert, terus K1 satwa apa gitu, K1 eksis beda lagi, terus sampe K3 lokalan dapet aqua gelas...Kalau andaikan KAI itu sebuah perusahaan airline, KAI sudah termasuk no frill (LCC), nggak seperti dulu yang full service.
1. Usul buat K1: lantai diganti karpet, kursi kain semua, tv di tengah gerbong ukuran sedang, ada announcementnya saat mau masuk stasiun, toilet duduk, running text (stasiun pemberhentian&waktu), bantal selimut korden wangi, toilet nya juga ditambah toilet khusus untuk pria(yang untuk BAK)....
Tapi semua itu ada kendalanya
1. Maaf ya sebelumnya, ada orang indonesia yang 'mental colongan', ada barang baru dicolong.
2. Maaf lagi, 'bisa membuat tidak bisa merawat'. Percuma saja sudah dikasih fasilitas bagus bagus nggak bisa ngrawat
3. Biaya

Bukannya K1 ada beberapa yang sudah Duduk, malahan K1+K2 beberapa closet duduk saat 2010, announcer rada susah umumin akan masuk karena luar biasa bebannya
lho jenengan kan udah tahu kan.
Posts: 995
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
14
jangan serta merta nyalahin PT. Kereta Api Indonesia (Persero) atas harga tiket yg melangit.
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saja mengaku kalo mereka gak pernah dapet duit dari pemerintah.
baca >> m.liputan6.com/bisnis/read/526673/tak-pernah-terima-dana-apbn-kai-mengadu-ke-dpr
utk menutup biaya operasional,harga tiket dinaikkan. seandainya dana tsb bisa cair dg mulus,gak ada lagi harga tiket selangit.
Posts: 435
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
8
Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik
Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya
Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?
Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.
Posts: 444
Threads: 0
Joined: Nov 2012
Reputation:
12
kenapa Pasundanku harus naik 3 kali lipat lebih harga tiketnya ..... 
pantesan terakhir naik bulan februari kmaren kerasa nyaman bgt dengan AC yg dingin bgt jg tp dengan harga yang harga normal....  bye pasundan.. kini kau tak spt dulu lg....
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
(12-03-2013, 12:33 PM)PJL_Hunter Wrote: Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik
Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya
Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?
Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.
Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.
2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.
3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)
4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst
menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal
Posts: 406
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
3
(12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote: (12-03-2013, 12:33 PM)PJL_Hunter Wrote: Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik
Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya
Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?
Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.
Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.
2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.
3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)
4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst
menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal
Saya pribadi cenderung setuju untuk poin yang keempat. Jadi keuntungan KA barang bisa dilimpahkan untuk mengurangi harga tiket KA penumpang. KA barang juga memiliki kepastian keuntungan yang tinggi, dan benar. Ga cerewet. (Kecuali barang berharga atau pecah belah)
Posts: 975
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
24
(12-03-2013, 03:32 PM)Anugrah Bima Wrote: (12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote: (12-03-2013, 12:33 PM)PJL_Hunter Wrote: Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik
Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya
Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?
Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.
Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.
2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.
3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)
4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst
menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal
Saya pribadi cenderung setuju untuk poin yang keempat. Jadi keuntungan KA barang bisa dilimpahkan untuk mengurangi harga tiket KA penumpang. KA barang juga memiliki kepastian keuntungan yang tinggi, dan benar. Ga cerewet. (Kecuali barang berharga atau pecah belah) Saya ikutan ya...
1. Bagaimana kalau dibuat elevated line JAKK-MRI untuk lantai 2, jadi lantai 3 khusus untuk KA jarak jauh (impossible)
2. Untuk semua orang kena tarif dewasa, saya sangat tidak setuju. Katanya sekarang KAI ingin seperti pesawat...Kan pesawat ada reduksi anak dan lansia (75%, CMIIW)
3. No comment (nggak tau mau comment apa)
4. KAI kayaknya sedang 'dicekek' sama pemerintah, seperti yang dibilang tadi. KAI beli BBM untuk KA penumpang harga industri (CMIIW) yaitu 9k. Bayangkan dengan argo karet yang bisa dapet 4.5k. Kapan ya pemerintah mengucurkan dananya? Belum lagi PSO kurang, IMO, TAC, dll
Posts: 1,214
Threads: 0
Joined: May 2011
Reputation:
22
(12-03-2013, 09:17 PM)dozykayen Wrote: (12-03-2013, 03:32 PM)Anugrah Bima Wrote: (12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote: (12-03-2013, 12:33 PM)PJL_Hunter Wrote: Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik
Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya
Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?
Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.
Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.
2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.
3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)
4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst
menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal
Saya pribadi cenderung setuju untuk poin yang keempat. Jadi keuntungan KA barang bisa dilimpahkan untuk mengurangi harga tiket KA penumpang. KA barang juga memiliki kepastian keuntungan yang tinggi, dan benar. Ga cerewet. (Kecuali barang berharga atau pecah belah) Saya ikutan ya...
1. Bagaimana kalau dibuat elevated line JAKK-MRI untuk lantai 2, jadi lantai 3 khusus untuk KA jarak jauh (impossible)
2. Untuk semua orang kena tarif dewasa, saya sangat tidak setuju. Katanya sekarang KAI ingin seperti pesawat...Kan pesawat ada reduksi anak dan lansia (75%, CMIIW)
3. No comment (nggak tau mau comment apa)
4. KAI kayaknya sedang 'dicekek' sama pemerintah, seperti yang dibilang tadi. KAI beli BBM untuk KA penumpang harga industri (CMIIW) yaitu 9k. Bayangkan dengan argo karet yang bisa dapet 4.5k. Kapan ya pemerintah mengucurkan dananya? Belum lagi PSO kurang, IMO, TAC, dll
ya kalau DEPHUBnya Dibuka Mata Hatinya Oleh JB(gubernur DKI/RI 3/JOKOWI ahok) sorry sekedar Intermezzo mudah2an kejadian jadi RI 3
jangankan setengah T, 3 T aja masih mau, tapi si JB bilang maksimal 9 T
syaratnya apa:1.KA Tidur, 2.KA Ber-AC untuk Ekonomi tapi tidak lebih dari 115 ribu untuk Ekonomi Orange dan K3 Dephub disarankan tidak lebih dari 200 ribu, 3.kalaupun Bisnis mau Ikutan Harganya tidak lebih dari 300 ribu, 4.KAI memberi kebebasan Makanan buat penumpang tapi sudah termasuk makanan yang dipilih penumpang+Harga Tiket.
simpel tapi yang mau menanggapi monggo.
maaf sebelumnya kurang berkenan.
|