Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kereta Api tidak "merakyat" lagi......
#31
(12-03-2013, 09:55 PM)ardial Wrote:
(12-03-2013, 09:17 PM)dozykayen Wrote:
(12-03-2013, 03:32 PM)Anugrah Bima Wrote:
(12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote:
(12-03-2013, 12:33 PM)PJL_Hunter Wrote: Berarti memang jebol semua ya.... Dari pemerintah gak mau ngasih talangan, sehingga KAI jadi kecekik, mau gak mau akhirnya segalanya dibikin selangit harganya, dan akhirnya KA jadi angkutan yang bisa semahal pesawat yang tentu saja bukan hal yang baik

Dan yang paling dipertanyakan adalah kenapa meski harga misalnya ComLine yang udah naik tapi kayaknya tetep segitu aja performanya

Boleh gak kalau mempertanyakan kebijakan yang juga ngerepotin di thread ini? Misalnya:
1. ComLine gak berhenti lagi di GMR dan PSE
2. Semua penumpang jadi kena tarif dewasa
3. Larangan pedagang untuk masuk (Entahlah ini jadi nggaknya, dan apa pedagang Wingko di SMT itu merupakan pegawai makanya boleh masuk KA)
4. Dan apa benar KAI lebih memprioritaskan Barang daripada Penumpang? Denger2 katanya "60% barang 40% penumpang". Benarkah itu?

Jadi penasaran juga sebenernya Dirut KAI bisa mengatur KAI gak? Kawan2 saya dah banyak yang mempertanyakan kebijakannya dan malah ada yang menganggap Dirutnya gak bisa ngatur KA.

Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.

2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.

3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)

4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst


menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal

Saya pribadi cenderung setuju untuk poin yang keempat. Jadi keuntungan KA barang bisa dilimpahkan untuk mengurangi harga tiket KA penumpang. KA barang juga memiliki kepastian keuntungan yang tinggi, dan benar. Ga cerewet. (Kecuali barang berharga atau pecah belah)
Saya ikutan ya...
1. Bagaimana kalau dibuat elevated line JAKK-MRI untuk lantai 2, jadi lantai 3 khusus untuk KA jarak jauh (impossible)
2. Untuk semua orang kena tarif dewasa, saya sangat tidak setuju. Katanya sekarang KAI ingin seperti pesawat...Kan pesawat ada reduksi anak dan lansia (75%, CMIIW)
3. No comment (nggak tau mau comment apa)
4. KAI kayaknya sedang 'dicekek' sama pemerintah, seperti yang dibilang tadi. KAI beli BBM untuk KA penumpang harga industri (CMIIW) yaitu 9k. Bayangkan dengan argo karet yang bisa dapet 4.5k. Kapan ya pemerintah mengucurkan dananya? Belum lagi PSO kurang, IMO, TAC, dll

ya kalau DEPHUBnya Dibuka Mata Hatinya Oleh JB(gubernur DKI/RI 3/JOKOWI ahok) sorry sekedar Intermezzo mudah2an kejadian jadi RI 3
jangankan setengah T, 3 T aja masih mau, tapi si JB bilang maksimal 9 T
syaratnya apa:1.KA Tidur, 2.KA Ber-AC untuk Ekonomi tapi tidak lebih dari 115 ribu untuk Ekonomi Orange dan K3 Dephub disarankan tidak lebih dari 200 ribu, 3.kalaupun Bisnis mau Ikutan Harganya tidak lebih dari 300 ribu, 4.KAI memberi kebebasan Makanan buat penumpang tapi sudah termasuk makanan yang dipilih penumpang+Harga Tiket.
simpel tapi yang mau menanggapi monggo.
maaf sebelumnya kurang berkenan.

Zaman sekarang mana ada sie yang merakyat, Pelayanan kesehatan bayar, pendidikan bayar, sampai sekarang ke pelayanan kereta api, hal itu bukan semata karena perubahan status menjadi PT. Tapi karena iklim bisnis negara ini juga.
Idealnya memang ada subsidi untuk membantu pelayanan kereta api yang termasuk transportasi umum, tetapi dengan pertimbangan ekonomi tertentu (entah juga termasuk politikkah?) subsidi menjadi mimpi indah. Terpaksa opsi kebijakan yang "tidak merakyat" ini dilakukan
Saya rasa inti masalahnya bukan di penerapan kebijakannya, tetapi kebijakan ini berjalan di saat infrastruktur perkeretaapian masih sangat kurang.

[Image: 8359555449_fd6dd08f73.jpg]
Reply
#32
(12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote: Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.

2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.

3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)

4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst


menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal

(12-03-2013, 09:17 PM)dozykayen Wrote: Saya ikutan ya...
1. Bagaimana kalau dibuat elevated line JAKK-MRI untuk lantai 2, jadi lantai 3 khusus untuk KA jarak jauh (impossible)
2. Untuk semua orang kena tarif dewasa, saya sangat tidak setuju. Katanya sekarang KAI ingin seperti pesawat...Kan pesawat ada reduksi anak dan lansia (75%, CMIIW)
3. No comment (nggak tau mau comment apa)
4. KAI kayaknya sedang 'dicekek' sama pemerintah, seperti yang dibilang tadi. KAI beli BBM untuk KA penumpang harga industri (CMIIW) yaitu 9k. Bayangkan dengan argo karet yang bisa dapet 4.5k. Kapan ya pemerintah mengucurkan dananya? Belum lagi PSO kurang, IMO, TAC, dll

Saya lumayan tergelitik juga buat menanggapi yang nomor 1, hahaha. Jadi kurang lebih begitu toh alasannya kenapa KRL di-LS-in di PSE dan GMR. Demi efektivitas boarding, demi mencegah penumpang bertiket tak sesuai identitas masuk. PFFFFFFT


[Image: fuckthat.jpg]

Jakarta Kota saja berhasil memisahkan pintu masuk penumpang KRL dan KA Jarak Jauh. Eeeh, PSE dan GMR gak bisa. Dan alasan menggunakan tiket KRL untuk menggunakan tiket KA Jarak Jauh dengan identitas berbada ini yang beneran bikin saya ketawa. Ini sama sekali gak menjadi masalah sebenernya.

Kita semua tau kalo tiketnya sudah diperiksa, tiketnya akan mendapatkan cap "sudah diperiksa". Lah kalo gak melewati pemeriksaan, tiket itu gak ada cap nya dong? Ya seharusnya fungsi kontrol berikutnya ada di atas kereta pas petugas memeriksa tiket. Kalo tiket itu gak ada cap nya, ya harusnya petugas di atas kereta yang menginterogasi. Duh pak, jangan malas po'o pak ....

Atau .... jangan-jangan ini memang demi memudahkan para petugas pemalas di atas kereta yang males melototin cap "sudah diperiksa" di tiket aja nih? Ngeledek Maaf kalau rada menusuk. Soalnya sebenarnya masalah "boarding pakai tiket KRL" ini bisa diatasi dengan langkah simpel di atas. Ah, saya lupa. Mental birokrat kan "kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dibuat mudah" ya?

Ini Mengingatkan saya pada anekdot tentang Ahli Antariksa Amerika yang berinvestasi jutaan dolar demi pena yang bisa dipakai di angkasa luar, sementara Ahli Antariksa Rusia cukup menggunakan pensil. PT. KAI lebih memilih jadi ahli antariksa nya Amerika ternyata ....


[Image: fuckthat.jpg]

Kalau tentang harga naik, saya juga berpikiran yang sama. Mungkin PT. KAI berusaha meminimalisasi pendapatan yang hilang dari tiadanya tiket berdiri. Hasilnya lumayan juga kan kalau tidak salah? Hahaha. Penumpang yang diangkut turun, tapi laba nya naik. Yah, tapi ya memang tiketnya jadi mahal sih. repot juga, hahaha.

Pedagang asongan? Kenyamanan penumpang? Sama deh, bingung harus komentar apa, hahaha.

(12-03-2013, 09:55 PM)ardial Wrote: ya kalau DEPHUBnya Dibuka Mata Hatinya Oleh JB(gubernur DKI/RI 3/JOKOWI ahok) sorry sekedar Intermezzo mudah2an kejadian jadi RI 3
jangankan setengah T, 3 T aja masih mau, tapi si JB bilang maksimal 9 T
syaratnya apa:1.KA Tidur, 2.KA Ber-AC untuk Ekonomi tapi tidak lebih dari 115 ribu untuk Ekonomi Orange dan K3 Dephub disarankan tidak lebih dari 200 ribu, 3.kalaupun Bisnis mau Ikutan Harganya tidak lebih dari 300 ribu, 4.KAI memberi kebebasan Makanan buat penumpang tapi sudah termasuk makanan yang dipilih penumpang+Harga Tiket.
simpel tapi yang mau menanggapi monggo.
maaf sebelumnya kurang berkenan.

Mas, kalo boleh tau RI-3 di sini apa ya? Setau saya sih, Plat nomer RI-3 itu diberikan untuk Istri/suami Presiden. Sementara dalam urusan pemerintahan, jika presiden dan wakil presiden berhalangan mengurus negara karena misalnya meninggal, diculik, dst (naudzubillah), maka yang bertindak sebagai pemimpin negara sementara secara bersama adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan. Nanti selanjutnya akan diurus oleh MPR untuk menetapkan Presiden dan Wakil Presiden berikutnya.

Nah, jadi, Ini maksudnya RI-3 itu Jokowi jadi suami nya presiden gitu apa gimana? Atau jadi Ketua MPR? Bingung
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
#33
(13-03-2013, 07:59 AM)Hungry Soul Wrote:
(12-03-2013, 02:44 PM)zmidth Wrote: Saya bantu jawab...
1. ComLine bablas di PSE dan GMR untuk mendukung sistem boarding. Dulu waktu pertama kali pake sistem Boarding, CL masih berhenti di kedua stasiun tersebut, ada beberapa oknum yang memanfaatkan tiket CL untuk melewati pemeriksaan petugas. Padahal oknum tersebut mau naik kereta Jarak Jauh dan naik pake tiket yang berbeda dengan identitas asli penumpang tersebut. Untuk mencegah yang demikian maka KRL pun bablas di PSE dan GMR. Tapi sich menurut saya, sarananya yang belum siap pake boarding eh malah dipaksakan pake sistem boarding.

2. Tarif anak jadi tarif dewasa sama alasannya tarif ekonomi pake single tarif yaitu untuk memaksimalkan pendapatan yang hilang karena dihapusnya tiket berdiri.

3. Pedagang asongan tidak boleh berjualan diatas KA dan stasiun demi kenyamanan penumpang( dan biar yang jualan di kereta makan laku)

4. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengutamakan angkutan barang karena profitnya lebih tinggi daripada angkutan penumpang. BBM untuk angkutan barang disubsidi, sedangkan angkutan penumpang engga. Barang ngga cerewet, dari sisi finansial lebih menjanjikan karena kliennya perusahaan dst


menilai dirut kan ga bisa dilihat dari satu aspek saja. Menurut saya sich dirut sekarang lebih bagus dalam memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan punya untung. Naik kereta lebih manusiawi, air di toilet kereta selalu ada. Sudah pasti dapat tempat duduk dll. Ya walaupun ada yg kebijakannya yang kurang mengenakan seperti mengurangi pemberhentian kereta dan tarif yang mahal

(12-03-2013, 09:17 PM)dozykayen Wrote: Saya ikutan ya...
1. Bagaimana kalau dibuat elevated line JAKK-MRI untuk lantai 2, jadi lantai 3 khusus untuk KA jarak jauh (impossible)
2. Untuk semua orang kena tarif dewasa, saya sangat tidak setuju. Katanya sekarang KAI ingin seperti pesawat...Kan pesawat ada reduksi anak dan lansia (75%, CMIIW)
3. No comment (nggak tau mau comment apa)
4. KAI kayaknya sedang 'dicekek' sama pemerintah, seperti yang dibilang tadi. KAI beli BBM untuk KA penumpang harga industri (CMIIW) yaitu 9k. Bayangkan dengan argo karet yang bisa dapet 4.5k. Kapan ya pemerintah mengucurkan dananya? Belum lagi PSO kurang, IMO, TAC, dll

Saya lumayan tergelitik juga buat menanggapi yang nomor 1, hahaha. Jadi kurang lebih begitu toh alasannya kenapa KRL di-LS-in di PSE dan GMR. Demi efektivitas boarding, demi mencegah penumpang bertiket tak sesuai identitas masuk. PFFFFFFT


[Image: fuckthat.jpg]

Jakarta Kota saja berhasil memisahkan pintu masuk penumpang KRL dan KA Jarak Jauh. Eeeh, PSE dan GMR gak bisa. Dan alasan menggunakan tiket KRL untuk menggunakan tiket KA Jarak Jauh dengan identitas berbada ini yang beneran bikin saya ketawa. Ini sama sekali gak menjadi masalah sebenernya.

Kita semua tau kalo tiketnya sudah diperiksa, tiketnya akan mendapatkan cap "sudah diperiksa". Lah kalo gak melewati pemeriksaan, tiket itu gak ada cap nya dong? Ya seharusnya fungsi kontrol berikutnya ada di atas kereta pas petugas memeriksa tiket. Kalo tiket itu gak ada cap nya, ya harusnya petugas di atas kereta yang menginterogasi. Duh pak, jangan malas po'o pak ....

Atau .... jangan-jangan ini memang demi memudahkan para petugas pemalas di atas kereta yang males melototin cap "sudah diperiksa" di tiket aja nih? Ngeledek Maaf kalau rada menusuk. Soalnya sebenarnya masalah "boarding pakai tiket KRL" ini bisa diatasi dengan langkah simpel di atas. Ah, saya lupa. Mental birokrat kan "kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dibuat mudah" ya?

Ini Mengingatkan saya pada anekdot tentang Ahli Antariksa Amerika yang berinvestasi jutaan dolar demi pena yang bisa dipakai di angkasa luar, sementara Ahli Antariksa Rusia cukup menggunakan pensil. PT. KAI lebih memilih jadi ahli antariksa nya Amerika ternyata ....


[Image: fuckthat.jpg]

Kalau tentang harga naik, saya juga berpikiran yang sama. Mungkin PT. KAI berusaha meminimalisasi pendapatan yang hilang dari tiadanya tiket berdiri. Hasilnya lumayan juga kan kalau tidak salah? Hahaha. Penumpang yang diangkut turun, tapi laba nya naik. Yah, tapi ya memang tiketnya jadi mahal sih. repot juga, hahaha.

Pedagang asongan? Kenyamanan penumpang? Sama deh, bingung harus komentar apa, hahaha.

(12-03-2013, 09:55 PM)ardial Wrote: ya kalau DEPHUBnya Dibuka Mata Hatinya Oleh JB(gubernur DKI/RI 3/JOKOWI ahok) sorry sekedar Intermezzo mudah2an kejadian jadi RI 3
jangankan setengah T, 3 T aja masih mau, tapi si JB bilang maksimal 9 T
syaratnya apa:1.KA Tidur, 2.KA Ber-AC untuk Ekonomi tapi tidak lebih dari 115 ribu untuk Ekonomi Orange dan K3 Dephub disarankan tidak lebih dari 200 ribu, 3.kalaupun Bisnis mau Ikutan Harganya tidak lebih dari 300 ribu, 4.KAI memberi kebebasan Makanan buat penumpang tapi sudah termasuk makanan yang dipilih penumpang+Harga Tiket.
simpel tapi yang mau menanggapi monggo.
maaf sebelumnya kurang berkenan.

Mas, kalo boleh tau RI-3 di sini apa ya? Setau saya sih, Plat nomer RI-3 itu diberikan untuk Istri/suami Presiden. Sementara dalam urusan pemerintahan, jika presiden dan wakil presiden berhalangan mengurus negara karena misalnya meninggal, diculik, dst (naudzubillah), maka yang bertindak sebagai pemimpin negara sementara secara bersama adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan. Nanti selanjutnya akan diurus oleh MPR untuk menetapkan Presiden dan Wakil Presiden berikutnya.

Nah, jadi, Ini maksudnya RI-3 itu Jokowi jadi suami nya presiden gitu apa gimana? Atau jadi Ketua MPR? Bingung

RI 3 itu anekdot bagi Gub DKI, karena sangking pengtingnyang jabatan itu Ngikik
Back on Topic
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#34
Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya

Reply
#35
(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya


(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya
Mungkin, tetapi kayaknya ngga deh. kan dipanggil ke PT.KA juga kan untuk memerbaiiki kondisi perusahaan yang buruk. Dan dia berhasil melakukannya (meskipun sebagian kalangan, termasuk sebagian RF, menganggapnya sinis karena kebijakan ekstrimnya)
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#36
(13-03-2013, 11:03 AM)CC-201-23 Wrote:
(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya


(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya
Mungkin, tetapi kayaknya ngga deh. kan dipanggil ke PT.KA juga kan untuk memerbaiiki kondisi perusahaan yang buruk. Dan dia berhasil melakukannya (meskipun sebagian kalangan, termasuk sebagian RF, menganggapnya sinis karena kebijakan ekstrimnya)

mungkin setelah ini pak jonan diangkat menjadi dirut PPD Ngeledek
Reply
#37
(13-03-2013, 07:59 AM)Hungry Soul Wrote: Saya lumayan tergelitik juga buat menanggapi yang nomor 1, hahaha. Jadi kurang lebih begitu toh alasannya kenapa KRL di-LS-in di PSE dan GMR. Demi efektivitas boarding, demi mencegah penumpang bertiket tak sesuai identitas masuk. PFFFFFFT


[Image: fuckthat.jpg]

Jakarta Kota saja berhasil memisahkan pintu masuk penumpang KRL dan KA Jarak Jauh. Eeeh, PSE dan GMR gak bisa. Dan alasan menggunakan tiket KRL untuk menggunakan tiket KA Jarak Jauh dengan identitas berbada ini yang beneran bikin saya ketawa. Ini sama sekali gak menjadi masalah sebenernya.

Kita semua tau kalo tiketnya sudah diperiksa, tiketnya akan mendapatkan cap "sudah diperiksa". Lah kalo gak melewati pemeriksaan, tiket itu gak ada cap nya dong? Ya seharusnya fungsi kontrol berikutnya ada di atas kereta pas petugas memeriksa tiket. Kalo tiket itu gak ada cap nya, ya harusnya petugas di atas kereta yang menginterogasi. Duh pak, jangan malas po'o pak ....

Atau .... jangan-jangan ini memang demi memudahkan para petugas pemalas di atas kereta yang males melototin cap "sudah diperiksa" di tiket aja nih? Ngeledek Maaf kalau rada menusuk. Soalnya sebenarnya masalah "boarding pakai tiket KRL" ini bisa diatasi dengan langkah simpel di atas. Ah, saya lupa. Mental birokrat kan "kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dibuat mudah" ya?

Ini Mengingatkan saya pada anekdot tentang Ahli Antariksa Amerika yang berinvestasi jutaan dolar demi pena yang bisa dipakai di angkasa luar, sementara Ahli Antariksa Rusia cukup menggunakan pensil. PT. KAI lebih memilih jadi ahli antariksa nya Amerika ternyata ....


[Image: fuckthat.jpg]

Kalau tentang harga naik, saya juga berpikiran yang sama. Mungkin PT. KAI berusaha meminimalisasi pendapatan yang hilang dari tiadanya tiket berdiri. Hasilnya lumayan juga kan kalau tidak salah? Hahaha. Penumpang yang diangkut turun, tapi laba nya naik. Yah, tapi ya memang tiketnya jadi mahal sih. repot juga, hahaha.

Pedagang asongan? Kenyamanan penumpang? Sama deh, bingung harus komentar apa, hahaha.

Wohohoho aku ditusuk sama om Soul... Jadi zombie ngga ya... Pake tombak karatan sich....
Au ah... Back to topic...
Kalo emang jawabanq kurang bener ya dibenerin toh om... Lha menurut om Soul sendiri knp CL bablas PSE-GMR(#jgn jawab kalo dapet sponsor tkg obat masuk angin, Wess Ewesss Bablasss Sepuure...). Kalau JAKK berhasil memisahkan penumpang, knp jg ngga dijadiin stasiun utama untuk pemberangkatan KA jarak jauh setara PSE. Gumarang, Tawang Jaya, Senja Utama Solo dan Majapahit walaupun masuk JAKK tapi relasinya tetap tertulis Pasar Senen(yang lebih aneh lagi jelas-jelas Mutiara Timur cuma nyampe BW kok ditulis relasinya sampe Denpasar).

Kembali ke bablasnya KRL, dulu sich alasannya kan untuk memperlancar arus balik dan arus mudik. Eh ternyata bablasnya diperpanjang ampe sekarang.

(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya

Emang sich latar belakang mempengaruhi karakter seseorang. Lha sekarang kita lihat PT kan dibuat untuk mencari untung. Ya wajarlah kebijakannya selalu mengarah mencari keuntungan doang.

Emang kebijakannya bagi sebagian orang yang tidak biasa dengan perubahan sangat merepotkan. Harus naik dari stasiun besarlah atau harus pesan tiket dulu lah(bagi yg suka go show sangat tidak menyenangkan). Tapi bagi saya sich nikmati aja perubahan yg sedang terjadi, ngga usah mengait-kaitkan dengan latar belakang Dirut segala, apalagi sampai lahir di Singapura atau dimana. Lama-lama kalau diteruskan bisa sampe suku, ras, agama dll alias nyerempet masalah SARA(#jangan sampe yak). Emang kalau ganti Dirut menjamin kebijakannya akan kembali seperti dulu lagi. Kalau suka yang silakan naik Kereta Api. Kalau ngga suka, ya silakan cari moda transportasi lain.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
#38
(13-03-2013, 12:56 PM)zmidth Wrote: Wohohoho aku ditusuk sama om Soul... Jadi zombie ngga ya... Pake tombak karatan sich....
Au ah... Back to topic...
Kalo emang jawabanq kurang bener ya dibenerin toh om... Lha menurut om Soul sendiri knp CL bablas PSE-GMR(#jgn jawab kalo dapet sponsor tkg obat masuk angin, Wess Ewesss Bablasss Sepuure...). Kalau JAKK berhasil memisahkan penumpang, knp jg ngga dijadiin stasiun utama untuk pemberangkatan KA jarak jauh setara PSE. Gumarang, Tawang Jaya, Senja Utama Solo dan Majapahit walaupun masuk JAKK tapi relasinya tetap tertulis Pasar Senen(yang lebih aneh lagi jelas-jelas Mutiara Timur cuma nyampe BW kok ditulis relasinya sampe Denpasar).

Kembali ke bablasnya KRL, dulu sich alasannya kan untuk memperlancar arus balik dan arus mudik. Eh ternyata bablasnya diperpanjang ampe sekarang.



Emang sich latar belakang mempengaruhi karakter seseorang. Lha sekarang kita lihat PT kan dibuat untuk mencari untung. Ya wajarlah kebijakannya selalu mengarah mencari keuntungan doang.

Emang kebijakannya bagi sebagian orang yang tidak biasa dengan perubahan sangat merepotkan. Harus naik dari stasiun besarlah atau harus pesan tiket dulu lah(bagi yg suka go show sangat tidak menyenangkan). Tapi bagi saya sich nikmati aja perubahan yg sedang terjadi, ngga usah mengait-kaitkan dengan latar belakang Dirut segala, apalagi sampai lahir di Singapura atau dimana. Lama-lama kalau diteruskan bisa sampe suku, ras, agama dll alias nyerempet masalah SARA(#jangan sampe yak). Emang kalau ganti Dirut menjamin kebijakannya akan kembali seperti dulu lagi. Kalau suka yang silakan naik Kereta Api. Kalau ngga suka, ya silakan cari moda transportasi lain.

Wohohoho, yang saya tusuk tuh PT. Sepurnya Om, bukan njenengan .... Ngikik Asli lah menurut saya mereka ini kalo alasannya demi memudahkan pemisahan penumpang KRL atau meminimalisasi yang kayak gitu aja sampe ngebablasin KRL di PSE dan GMR itu ya konyol aja gitu rasanya Ngikik

Kalo tentang Pak Dirut .... hahaha. Saya sih gak peduli latar belakang apapun beliau ini, yang jelas kalo kebijakannya bagus saya apresiasi, kalo konyol ya saya kritisi. Salah satu yang saya apresiasi dari Pak Dirut satu ini adalah dengan tindakan ekstrim menghilangkan tiket tanpa tempat duduk di kelas ekonomi jarak jauh serta sistem reservasi tiket kereta api yang berkembang pesat sejak tahun lalu. Kalo yang saya kritisi ya contohnya kebijakan pembatasan penumpang KA Lokal macem Dhoho Penataran itu .... Udah KA Lokal, tiket dibatasi, rangkaiannya cebol pula .... Ngikik
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
#39
Wah ada yg ngomong kalo Jokowi itu RI3, wah ngaco aja ah...Bethe


(13-03-2013, 02:33 PM)Hungry Soul Wrote: Wohohoho, yang saya tusuk tuh PT. Sepurnya Om, bukan njenengan .... Ngikik Asli lah menurut saya mereka ini kalo alasannya demi memudahkan pemisahan penumpang KRL atau meminimalisasi yang kayak gitu aja sampe ngebablasin KRL di PSE dan GMR itu ya konyol aja gitu rasanya Ngikik

Kalo tentang Pak Dirut .... hahaha. Saya sih gak peduli latar belakang apapun beliau ini, yang jelas kalo kebijakannya bagus saya apresiasi, kalo konyol ya saya kritisi. Salah satu yang saya apresiasi dari Pak Dirut satu ini adalah dengan tindakan ekstrim menghilangkan tiket tanpa tempat duduk di kelas ekonomi jarak jauh serta sistem reservasi tiket kereta api yang berkembang pesat sejak tahun lalu. Kalo yang saya kritisi ya contohnya kebijakan pembatasan penumpang KA Lokal macem Dhoho Penataran itu .... Udah KA Lokal, tiket dibatasi, rangkaiannya cebol pula .... Ngikik

saya juga mengapresiasi koq, banyak cara untuk membeli tiket, untuk sekarang memang masih belum familiar bari para pembeli tiket, dan masih juga yg beranggapan harga 7500 itu kemahalan, bagi saya itu ga mahal, apalagi saya cuma ngklik ga perlu antri lama2 di stasiun.
banyak koq langkah2 baru PT spoor yg merakyat, walawu emang ga semua, cuma bagi sbagian RF langkah2 baik PT spoor selalu tertutup dengan langkah2 yg emang kadang2 ga jitu njelimet bagi kebanyakan orang.
jadi sekali lagi, jangan jadi peribahasa SD saya "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak".Ngakak

Betul kata om hungry apresiasilah langkah2 jitu dan baik yg dilakukan PT spoor banyak koq dan yg paling saya apresiasi cara pembelian tiketnya ini, kedua kritisi kalo perlu sebagai RF beri masukan saran kalo memang langkah2 yg dilakukan PT spoor salah njelimet dan buat masyarakat pengguna KA jadi males naek KA, jangan cuma koar2 dan jago ngetik doang....Ngakak

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#40
(13-03-2013, 12:56 PM)zmidth Wrote:
(13-03-2013, 07:59 AM)Hungry Soul Wrote: Saya lumayan tergelitik juga buat menanggapi yang nomor 1, hahaha. Jadi kurang lebih begitu toh alasannya kenapa KRL di-LS-in di PSE dan GMR. Demi efektivitas boarding, demi mencegah penumpang bertiket tak sesuai identitas masuk. PFFFFFFT


[Image: fuckthat.jpg]

Jakarta Kota saja berhasil memisahkan pintu masuk penumpang KRL dan KA Jarak Jauh. Eeeh, PSE dan GMR gak bisa. Dan alasan menggunakan tiket KRL untuk menggunakan tiket KA Jarak Jauh dengan identitas berbada ini yang beneran bikin saya ketawa. Ini sama sekali gak menjadi masalah sebenernya.

Kita semua tau kalo tiketnya sudah diperiksa, tiketnya akan mendapatkan cap "sudah diperiksa". Lah kalo gak melewati pemeriksaan, tiket itu gak ada cap nya dong? Ya seharusnya fungsi kontrol berikutnya ada di atas kereta pas petugas memeriksa tiket. Kalo tiket itu gak ada cap nya, ya harusnya petugas di atas kereta yang menginterogasi. Duh pak, jangan malas po'o pak ....

Atau .... jangan-jangan ini memang demi memudahkan para petugas pemalas di atas kereta yang males melototin cap "sudah diperiksa" di tiket aja nih? Ngeledek Maaf kalau rada menusuk. Soalnya sebenarnya masalah "boarding pakai tiket KRL" ini bisa diatasi dengan langkah simpel di atas. Ah, saya lupa. Mental birokrat kan "kalau bisa dibuat susah, kenapa harus dibuat mudah" ya?

Ini Mengingatkan saya pada anekdot tentang Ahli Antariksa Amerika yang berinvestasi jutaan dolar demi pena yang bisa dipakai di angkasa luar, sementara Ahli Antariksa Rusia cukup menggunakan pensil. PT. KAI lebih memilih jadi ahli antariksa nya Amerika ternyata ....


[Image: fuckthat.jpg]

Kalau tentang harga naik, saya juga berpikiran yang sama. Mungkin PT. KAI berusaha meminimalisasi pendapatan yang hilang dari tiadanya tiket berdiri. Hasilnya lumayan juga kan kalau tidak salah? Hahaha. Penumpang yang diangkut turun, tapi laba nya naik. Yah, tapi ya memang tiketnya jadi mahal sih. repot juga, hahaha.

Pedagang asongan? Kenyamanan penumpang? Sama deh, bingung harus komentar apa, hahaha.

Wohohoho aku ditusuk sama om Soul... Jadi zombie ngga ya... Pake tombak karatan sich....
Au ah... Back to topic...
Kalo emang jawabanq kurang bener ya dibenerin toh om... Lha menurut om Soul sendiri knp CL bablas PSE-GMR(#jgn jawab kalo dapet sponsor tkg obat masuk angin, Wess Ewesss Bablasss Sepuure...). Kalau JAKK berhasil memisahkan penumpang, knp jg ngga dijadiin stasiun utama untuk pemberangkatan KA jarak jauh setara PSE. Gumarang, Tawang Jaya, Senja Utama Solo dan Majapahit walaupun masuk JAKK tapi relasinya tetap tertulis Pasar Senen(yang lebih aneh lagi jelas-jelas Mutiara Timur cuma nyampe BW kok ditulis relasinya sampe Denpasar).

Kembali ke bablasnya KRL, dulu sich alasannya kan untuk memperlancar arus balik dan arus mudik. Eh ternyata bablasnya diperpanjang ampe sekarang.

(13-03-2013, 10:11 AM)PJL_Hunter Wrote: Oh. Iya, dengan latar belakangnya Dirut yang dari Akuntansi dan lahir di Singapura ada pengaruhnya gak dengan kebijakan yang kesannya nyari untung doang? Teman2 saya (Dan saya terkadang) yang skeptikal udah selalu menganggap bahwa karena dia latar belakangnya demikian mebuatnya dia ngerti untung doang "karena dah kebiasaan hidup enak"

Sebelumnya maaf jika jadi ngomongin Dirutnya. Saya cuman bertanya demikian karena ada RF (Bukan dari sini) yang udah demikian pandangannya

Emang sich latar belakang mempengaruhi karakter seseorang. Lha sekarang kita lihat PT kan dibuat untuk mencari untung. Ya wajarlah kebijakannya selalu mengarah mencari keuntungan doang.

Emang kebijakannya bagi sebagian orang yang tidak biasa dengan perubahan sangat merepotkan. Harus naik dari stasiun besarlah atau harus pesan tiket dulu lah(bagi yg suka go show sangat tidak menyenangkan). Tapi bagi saya sich nikmati aja perubahan yg sedang terjadi, ngga usah mengait-kaitkan dengan latar belakang Dirut segala, apalagi sampai lahir di Singapura atau dimana. Lama-lama kalau diteruskan bisa sampe suku, ras, agama dll alias nyerempet masalah SARA(#jangan sampe yak). Emang kalau ganti Dirut menjamin kebijakannya akan kembali seperti dulu lagi. Kalau suka yang silakan naik Kereta Api. Kalau ngga suka, ya silakan cari moda transportasi lain.
Iya juga sih. Kalau kebijakannya membantu kesehatan KAI pasti akan tetep jalan (Kecuali soal ComLine dan Gambir/Senen, mohon banget direvert kayak dulu)

Entahlah, tapi kalau saya rasa sendiri sih emang kebijakannya meski banyak yang rese' tapi ada juga baiknya. Dan K3 terutama jadi lebih manusiawi daripada dulu (Meski pada akhirnya jadi kemahalan, tapi untuk kasus itu, pertanyakan kenapa HSD buat angkutan KA make harga industri, dan itu bukan masalahnya KAI doang)

Dan diantara kita yang sinis mungkin gak terbiasa aja kali yah ama kebijakan baru, apa karena terlalu konservatif dan terbiasa enak ama kebijakan Dirut lama?

Tapi kata2 "legendarisnya" Pak Dirut yang "take it or leave it" itu tuh, meski bener, tapi itu juga yang jadi bikin kurang baik kesannya

Tambahan:

m.detik.com/finance/read/2013/03/13/165352/2193037/4/dirut-kai-ingin-krl-non-ac-seluruhnya-diganti-ber-ac-dengan-tarif-rp-8000

Semoga saja orang kecil masih bisa naik KA...

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)