Posts: 4,569
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
54
(27-12-2009, 04:30 PM)Rachmad Wrote: Stasiun CN sama Terminal jauh gak ya??
soalnya aku mo ket4 temen,tapi dikasih tau alamatnya dari terminalnya,kalodari stasiun dia gak tau...
Aku disuruh naik bis aja,tapi aku males pake bis,aku pilih naik kereta aja..
Tolong kasih tau ya...
soalnya aku belum pernah ke Cirebon...
kalau dari stasiun ya jauh 
cari aja angkot yg gunungsari-terminal....
Posts: 1,595
Threads: 0
Joined: May 2008
Reputation:
1
ada artikel menarik di Harian Pikiran Rakyat tentang stasiun besar di cirebon Kejaksan dan prujakan. maaf klo artikelnya panjang, trus unutk momod on duty ditrit ini klo ada yg serup mohon untuk digabung aja, maaf merepotkan
Quote:Wajah Stasiun KA yang tak Pernah Berubah
LIDAH “wong Cerbon†menyebutnya dengan nama "tapsiun". Satu tempatpertemuan para pelancong yang akan ataupun tengah turun dari perjalanan. Wajah ragam hias art deco yang didesain pada bangunan itu memang bisa dijadikan pencirian bahwa bangunan tersebut bukan dalam masa klasik, juga bukan dalam masa modern. Lihat saja pada bentuk bagian atas bangunan yang merupakan segitiga, jendela kotak, dan pintu lengkung yang menjadi ciri khasnya.
Depan bangunan djadoel (djaman doeloe) tersebut tampak sangat artistik berpola simetris samping kanan dan kiri. Stasiun Kejaksan --begitu nama lain dari stasiun besar Cirebon itu-- terdiri atas bangunan induk, gudang, dan peturasan. Pada bagian lain terdapat dua dipo (bengkel), tiap-tiap dipo khusus untuk perbaikan dan pemeliharaan lokomotif dan dipo untuk wagon. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangungan stasiun.
Stasiun KA Kejaksan merupakan generasi pertama dari pembangunan stasiun kereta api pada masa penjajahan Hindia Belanda. Jalur yang membentang dari Jakarta dan Semarang pada masa itu. Data yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon mencatat, stasiun ini dibangun pada tahun 1911 atas prakarsa Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda.
Pembangunan jalur kereta api ini dilakukan untuk mempercepat mobilitas barang dan penumpang, yang perintisannya mulai dilakukan sejak 1893 untuk jalur SCS (Semarang Cheribon Stoomtram-Maatschappij). Sementara jalur Cirebon-Cikampek dibangun sejak 1909 dan Cirebon Kroya sejak 1912. Angkutan penumpang pengusaha Eropa, termasuk pekerja rodi untuk Kota Batavia atau sebaliknya, dilakukan melalui stasiun ini. Sejak Indonesia merdeka, stasiun ini menjadi milik dan dikelola PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi 3 Cirebon. "Sebagian besar bangunan yang ada di lingkungan stasiun ini benar-benar djadoel," kata Arie F., Wakil Kepala Seksi Dipo PT KA Daop 3 Cirebon. "Lihat saja bangunan yang benar-benar kokoh, seperti bengkel kereta dan gudang air itu," ucapnya menambahkan.
Dipo (bengkel kereta api) yang berada di lingkungan Stasiun Cirebon dibangun setahun setelah stasiun besar tersebut didirikan, sekitar tahun 1913. Di bengkel itu masih tersimpan lokomotif diesel pertama yang dibuat General Electric tahun 1953. Wong Cerbon menamai loko tersebut dengan loko sepur Gajah Mada. Keaslian tersebut juga ditunjang dengan masih utuhnya alat putar lokomotif yang juga dibuat tahun 1913 dengan kondisi yang masih normal.
Dalam ruangan stasiun terdapat pintu gerbang yang kokoh dengan rantai dan gembok asli tertempel di situ. Ada empat pintu gerbang yang berukuran sama yang ditutup dengan pintu besi Anderson. Bagian atas pintu dinaungi kanopi hijau berbentuk siku, terbuat dari rangka besi dan beratap kaca fiber sebagai bangunan tambahan yang dibangun setelah masa kemerdekaan.
Stasiun Kejaksan dikenal pula sebagai tempat bersejarah. Pada masa revolusi fisik, ribuan pejuang yang naik kereta dari Jatinegara menuju Yogyakarta sebagian diturunkan untuk menyergap Belanda yang datang membonceng bersama sekutu. Pertempuran besar terjadi di sekitar Alun-alun Kejaksan hingga sebelah barat Masjid At-Taqwa (sekitar Kantor HU Mitra Dialog saat ini).
Pada tahun 1982-an, ketika Kantor Pikiran Rakyat/â€ÂPR†Edisi Cirebon pindah dari Siliwangi 77 ke Jln. Kartini No. 7 masih bisa dilihat tembok dan pintu kayu jati yang bolong-bolong bekas tembakan peluru. Untuk memperingati pertempuran tersebut, kini dibangun tugu kemerdekaan persis di perempatan Jln. Siliwangi-Jln. Kartini.
Stasiun Prujakan
STASIUN KA Prujakan rupanya memiliki jalur rel yang berbeda dengan Stasiun Kejaksan. Stasiun kedua setelah Kejaksan ini awalnya sengaja dibangun untuk angkutan barang dari pelabuhan. Lihat saja sisa-sisa rel dan jembatan djadoel yang masih tersisa di pinggir Jln. Sisingamangaraja, Kampung Kegiren dan Syekhmagelung.
Rel yang menghubungkan pelabuhan tersebut melintasi kedua kampung tersebut dan saat ini telah tertimbun tanah dan banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk perumahan dan usaha. Sementara di bagian barat --berdekatan dengan Jln. K.S. Tubun --dialokasikan untuk tempat pedagang onderdil sepeda, becak, dan sepeda motor bekas.
Menarik untuk menelusuri jalur rel KA Prujakan ini. Sewaktu masih aktif jalur tersebut, sering kali lokomotif "jugjes" dengan pembakaran batu bara mogok. Otomatis anak-anak yang ada di sekitar kampung tersebut berhamburan untuk melihat sepur (spoor) mogok. Saat lokomotif selesai diperbaiki, mereka menaiki kereta barang tersebut hingga ke Stasiun Prujakan.
Di sebelah selatan stasiun terdapat bangunan memanjang yang disebut sebagai "gudang barangâ€Â. Namun, sejak dekade 1970-an, gudang tersebut tak lagi dimanfaatkan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api-kini PT KA) sehingga dimanfaatkan anak-anak muda penggemar bulu tangkis berlatih di situ. Pada masa kejayaan bulu tangkis Indonesia di tingkat internasional, dari gudang barang itu lahir atlet internasional juara All England. Dialah Tjun Tjun yang saat itu berpasangan dengan Johan Wahyudi.
Kini, stasiun barang tersebut kembali dimanfaatkan untuk kereta jurusan Tegal-Brebes-Cirebon. Naik-turun penumpang dilakukan di stasiun tersebut. Karena memang letaknya yang strategis di pinggir Jln. Kembar (kini Jln. Nyi Mas Gandasari). Berbeda dengan Stasiun Kejaksan yang berada agak jauh dari Jln. Siliwangi yang menjadi stasiun utama di Kota Cirebon.
Dari catatan yang dihimpun Disbudpar Kota Cirebon, stasiun ini dibangun hampir berbarengan dengan Stasiun Kejaksan, yakni sekitar tahun 1911 atas prakarsa perusahaan kereta api swasta, Semarang-Cheriboncshe-Stoomtram-maatshappij (SCS). Pembangunan stasiun ini dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat mobilitas arus komoditas pertanian dan barang-barang impor. Arus barang dari stasiun ini selanjutnya bermuara di Pelabuhan Cirebon.
Untuk generasi yang lahir pada dekade 1980-an, mereka tak lagi menyaksikan rel kereta yang membentang di tengah kampung padat tersebut, meski sisa-sisanya masih bisa dilihat. Kisah menarik dari Arie F. kepada penulis. "Sering kali saya menaruh paku di rel kereta untuk dibuat semacam pisau kecil," katanya mengenang. "Saya lahir di rumah orang tua dekat rel dan alhamdulillah saya pun jadi orang yang bekerja di lingkungan kereta api," ujarnya.
Sekitar tahun 1920, masa awal arus penumpang dilakukan. Anak-anak pribumi yang berpakaian sarung dan bendo sering naik-turun di stasiun tersebut. Dari rumah kampung, mereka naik dokar. Bayarnya cukup satu blendong (di bawah satu sen gulden). Jalan Pekalangan yang kebetulan berhadapan dengan stasiun acap kali riuh ramai pada musim mudik dan arus balik Lebaran. Maklum, mereka juga rindu kampung halaman. (Nurdin M. Noer, wartawan senior, Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon/LBSC)***
Penulis:
Back
TRAVEL WARNING TRAIN DANGEROUSLY exotic VEHICLE
Posts: 619
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
10
kadang sering ngga dong stasiun cirebon yg dipake bwad berhenti itu yg prujakan ato kejaksan 
ternyata dari artikel ini terjawab sudah 
request poto kedua stasiun dunk, sambil diaksi penjelasan/ekterangan2 gitu
thx
Posts: 2,236
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
14
Posts: 619
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
10
itu yg prujakan pa kejaksan mas nino
btw thx gambare...monggo dilanjut
Posts: 253
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
2
(12-03-2010, 09:45 PM)wedhoez Wrote: itu yg prujakan pa kejaksan mas nino
btw thx gambare...monggo dilanjut 
Tak bantu jawab...itu stasiun cirebon kejaksaan
Posts: 3,962
Threads: 0
Joined: Feb 2010
Reputation:
47
sepi ye...
nyumbang dhe penampilan full bangunan tengah sta CN saat malem
untuk photo sta CNP menyusul ya, karna CNP agak sulit d photo bangunannya, banyak ketutupan pohon & kendaraan
btw, rencana CNP akan d jadikan sta pulau sperti ATA & TLS suda mulai d laksanakan lho, tanah sudah rata & sudah mulai d buat penanaman kabel wesel dari bangunan sta lama k bangunan sta yg mau d bangun.
rencana selesainya juli 2011 & mulai d resmikannya nanti sta CNP yg baru, maka K3 yang berhenti d sta ini bukan hanya yg lintas utara aja, tapi juga lintas selatan sperti GBMS, kutojaya, bengawan & progo.
sedangkan untuk sta CN sendiri akan d ubah konstruksi peronnya menjadi 5 spoor aktif & akan d buat underpass bagi penumpang & penjemput seperti layaknya sta PSE, namun untuk pemisahan spoor untuk KA jalur utara & selatan, atau kedatangan & keberangkatan masi belum menentu. Namun untuk sekarang ini konstruksi yang sudah d mulai adalah dari spoor 1 yang sedang d ganti bantalan & ballastnya, serta tanah yang mulai d cor, bertahap akan d lakukan pada spoor 2 hingga 7 nantinya.
pembangunan ini d rencanakan selesai bersamaan dengan pembangunan sta CNP pada juli 2011, mari kita tunggu bagaimana sosok baru dari 2 sta induk DAOP III ini nantinya
Posts: 85
Threads: 0
Joined: Jun 2010
Reputation:
4
18-07-2010, 12:25 AM
(This post was last modified: 18-07-2010, 12:26 AM by black_cutlery.)
Teman2 RF sekalian, mau sedikit curhat nih. Kalo diperhatikan, di antara semua kota besar yang dilalui jalur KA, kok kelihatannya Cirebon itu ada kesan dianaktirikan ya? Kenapa demikian? Karena menurut saya, walaupun Cirebon itu ramai sebagai jalur transit KA dari barat ke timur Pulau Jawa, tapi ga ada satupun KA itu yang berasal dari Cirebon. Selain tentu aja ke Jakarta dengan Cireks dan Argo Jati..Rencana KA ke Bandung (Ppdyn Expres) malah jadi nggak jelas seiring dengan protes awak angkutan darat Bandung Cirebon.
Dalam perjalanan ke YK dengan Taksaka, saya pernah ngobrol dengan seorang penumpang yang naik dari Cirebon. Dia sedikit banyak mengeluhkan, kenapa ya kalau mau ke arah timur selalu harus numpang KA dari Jakarta (dan sekarang Bandung dengan Harina) tanpa kecuali. Karena namanya naik kereta yang transit, tentu saja berhentinya nggak selama kalau kereta itu memang berasal dari tempat itu. Dan menurut dia, jadi masalah kalo misalnya musim2 padat, penumpang Cirebon bisa dapat kursi yang minim banget. Dia bilang, "Kapan ya ada kereta CN-YK, CN-SB, CN-ML yang asli berangkat dari Cirebon dan bukan dari Jakarta. Padahal penumpang dari CN banyak lho". Makanya dia terus bilang, "Stasiun Cirebon itu emang ramai Mas, tapi sebenarnya sepi!"
Jangankan KA jarak jauh, kelihatannya Cirebon nggak punya KA komuter juga ya. Kaligung aja dari Semarang cuma sampe Tegal. Dulu seinget saya pernah ada KA Cisemar, CN-SMT. Tapi kayaknya udah ngga ada lagi (CMIIW). Mau ke SMT harus nunggu Fajut/Senjut atau Harina, mau ke Yk harus naik Taksaka atau Fajut/Senjut Yk, juga mau ke kota lain. Dan semuanya juga tergantung jatah penumpang dari Jakarta.
Apa betul okupansi penumpang dari Cirebon ke timur begitu rendah sehingga DAOP 3 nggak bikin KA ke tempat lain selain ke Jakarta, atau nggak ada DAOP lain yang menyediakan armadanya buat khusus untuk Cirebon? Dan bicara soal DAOP, kayaknya DAOP 3 juga paling kecil ya, kecil wilayah dan 'power' nya. Semua DAOP lain punya lebih stasiun besar di luar pusat DAOP nya. DAOP 5 punya PWT, KYA, dan KTA. DAOP 6 ada YK dan SLO. Daop 4 ada SMT dan Cepu..tapi DAOP 3? Cuma dua stasiun besar, dan itu di Cirebon2 juga, CN dan CNP.
Buat saya ini nggak adil. Bagaimana menurut teman2 semua? Silakan berbagi disini pengetahuan dan pendapatnya...
 Kapan ya rakyat Indonesia diberi kado berupa semua jalur KA hidup lagi oleh pemerintah..
Posts: 3,962
Threads: 0
Joined: Feb 2010
Reputation:
47
sbagai warga & RF CN gw mwncoba kasi tanggepan dhe
klo okupansi bnernya gede k timur juga, klo misal ga gede mana mungkin si anggrek, sembrani, gajayana, lawu & bangunkarta exa brenti normal skarang d CN. Toh aslinya sblom muncul GAPEKA 2010 pun KA-KA ini uda sering d BLBin ampir tiap hri d CN karna permintaan penumpang yg paling sdikitnya 15 orang.
komuter sbenernya sempet ada koq d CN tujuan BB brupa feeder & pernah malah 2 bulan itu ada feeder laen dari CN yg nyampe ketanggungan (KGG) namun yg ketanggungan cuma 2 bulan aja umurnya karna memang respon masyarakat sangat minim, tapi klo yg BB sbenernya respon nya sangat bagus malahan jam 5 pagi rangkaian cirex kbrangkatan dari BB yg d stabilingnya d CN d fungsikan juga sbagai feeder full 1 rangkaian itu untuk k BB, sedangkan siang & sore hari pun ada rangkaian feeder sndiri menghubungkan CN-BB, malem hrinya rangkaian balik k CN juga d fungsikan sbagai feeder meskipun tengah malem sampe d CN, sayangnya feeder2 itu musnah karna cirex d perpanjang hingga tegal (TG) karna d pikir uda ga efektif lagi untuk teep jalanin feeder sedangkan kbrangkatan cirex dari TG sehari uda ada 2x
untuk luas wilayah DAOP III sbenernya ga terlalu kcil koq, isa d bilang setara dengan DAOP VI sbenernya, cuma karna memang lebih tersorot yg k arah barat ato DAOP I jadi terlihat kecil, sbenernya kan bates DAOP III d CN itu sampe tanjung rasa (TJS) tepat 1 sta sblom cikampek (CKP) k arah selatan smape d prupuk (PPK) sedangkan perbatasan utaranya sampe brebes (BB) dengan sta besar d dalemnya yaitu cirebon (CN), cirebon prujakan (CNP), jatibarang (JTB), haurgeulis (HGL), brebes (BB), prupuk (PPK) & Losari (LOS)
klo soal bikin KA baru memang slaen kendala CN sbenernya hanya punya rangkaian cadangan cirex & brapa K1 argo, memang juga kendala pemerintah daerah yg terlalu lemah untuk menangkal prostes dari pihak moda transportasi laen, sehingga memang papandayan merupakan 1 contoh 'kegugurannya' kerjasama DAOP II dengan III. d sisi laen pernah juga ngobrol panjang lebar sama KS CN sndiri, katanya klo mo bikin KA smape k timur cukup susah mengatur jadwalnya karna mengingat banyak jalur utara yg masi single track dengan kepadatan lalu lintas KA d sta CN sndiri yg kosongnya hanya 3-4 jam tiap harinya jadi 1 problem tersendiri bagi KA argo & unggulan yg sudah ada skarang, klo d selipin KA baru lagi untuk waktu tmepuh mreka bisa makin mulur karna untuk kejar KA dari CN d petak tertentu & juga okupansi dari CN k timur sendiri meski banyak, namun klo untuk memenuhi 1 rangkaian tersendiri masi blum sampai 60%
hal ini juga yg menyebabkan brapa bulan lalu K3 milik CN sbenarnya uda resmi punya CN tinggal d rapatkan rute mana yg d pilih tapi karna pihak PT KA sndiri ketakutan mengingat peristiwa papandayan, akhrinya K3 itu amngkrak lama & berakhir dengan mutasi k BD sbagai bagian dari malabar
selain itu armada lok pun agak kurang memadai klo jalanin rangkaian baru
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
Emang sih, tapi kalo bisa untuk KA dari Cirebon tuh model kyk Sawunggalih jaman msh K3, ada 2 gerbong sendiri yg nanti dirangkai, tinggal nunggu dari arah Jakarta, dateng trus di rangkai deh. Misal yg mau ke Yogyakarta, dari Cirebon dah disiapkan dulu 2 Gerbong, nanti tunggu Fajar Utama masuk Cirebon tinggal di rangkai...
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
|