Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
13-03-2013, 07:52 PM
(This post was last modified: 13-03-2013, 07:55 PM by zmidth.)
(13-03-2013, 02:33 PM)Hungry Soul Wrote: Wohohoho, yang saya tusuk tuh PT. Sepurnya Om, bukan njenengan .... Asli lah menurut saya mereka ini kalo alasannya demi memudahkan pemisahan penumpang KRL atau meminimalisasi yang kayak gitu aja sampe ngebablasin KRL di PSE dan GMR itu ya konyol aja gitu rasanya 
Kalo tentang Pak Dirut .... hahaha. Saya sih gak peduli latar belakang apapun beliau ini, yang jelas kalo kebijakannya bagus saya apresiasi, kalo konyol ya saya kritisi. Salah satu yang saya apresiasi dari Pak Dirut satu ini adalah dengan tindakan ekstrim menghilangkan tiket tanpa tempat duduk di kelas ekonomi jarak jauh serta sistem reservasi tiket kereta api yang berkembang pesat sejak tahun lalu. Kalo yang saya kritisi ya contohnya kebijakan pembatasan penumpang KA Lokal macem Dhoho Penataran itu .... Udah KA Lokal, tiket dibatasi, rangkaiannya cebol pula ....   rupanya PT Sepur toh, mo ditusuk drmana, depan kena lomomotip, belakang kena Aling2. Tengah? Awaas ada PKD
PSE&GMR memang sich belum siap untuk menerima sistem boarding. PSE sich masih mungkin buat untuk pemisahan penumpang KA jarak jauh sama yg lokal. Kalo GMR emang susah, mau dibikin jalur layang, kayaknya lbh baik duitnya buat jalur layang di SMT-ATA biar kagak banjir lg. Kalau ngga, PSE-KMO disatukan biar luas&terbesar di Indonesia ya mirip kaya stasiun di Jepang(spt Akihabara gitu), Salah pake pintu keluar pasti nyasar #ngarep.com #khayalanTingkatTinggi mode on
(13-03-2013, 05:37 PM)Joe_cn Wrote: Wah ada yg ngomong kalo Jokowi itu RI3, wah ngaco aja ah...
saya juga mengapresiasi koq, banyak cara untuk membeli tiket, untuk sekarang memang masih belum familiar bari para pembeli tiket, dan masih juga yg beranggapan harga 7500 itu kemahalan, bagi saya itu ga mahal, apalagi saya cuma ngklik ga perlu antri lama2 di stasiun.
banyak koq langkah2 baru PT spoor yg merakyat, walawu emang ga semua, cuma bagi sbagian RF langkah2 baik PT spoor selalu tertutup dengan langkah2 yg emang kadang2 ga jitu njelimet bagi kebanyakan orang.
jadi sekali lagi, jangan jadi peribahasa SD saya "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak".
Betul kata om hungry apresiasilah langkah2 jitu dan baik yg dilakukan PT spoor banyak koq dan yg paling saya apresiasi cara pembelian tiketnya ini, kedua kritisi kalo perlu sebagai RF beri masukan saran kalo memang langkah2 yg dilakukan PT spoor salah njelimet dan buat masyarakat pengguna KA jadi males naek KA, jangan cuma koar2 dan jago ngetik doang....
Yup bener om Joe, Dirut jg manusia biasa. Kalau keliru ya wajar. Kasih saran,kritik atau solusi. Jgn cuma menghujat aja, tp ga bs kasih solusi.
Kalau PT Sepur pengin spt pesawat, kenapa KA Ekonomi ngga dibikin dengan konsep Low Cost Carier semacam A***SIA, sedangkan yg Eksekutip sama Bisnis pake konsep yg agak mahalan. Ya mirip2 Garuda sama Citilink
Posts: 626
Threads: 0
Joined: Jun 2012
Reputation:
4
Sepanjang diskusinya menarik, edukatif, dan informatif. Menurut saya kesimpulannya hanya 1. "Kalau tidak sesuai silahkan cari moda transportasi lainnya"
Posts: 1,214
Threads: 0
Joined: May 2011
Reputation:
22
(14-03-2013, 11:54 AM)Nicodio Wrote: Sepanjang diskusinya menarik, edukatif, dan informatif. Menurut saya kesimpulannya hanya 1. "Kalau tidak sesuai silahkan cari moda transportasi lainnya"
yang penting didik Bangsa jadi lebih cerdas Bertransportasi Khususnya KA
bahwa KA bukan hanya menjadi sekedar KA Rakyat Murah+rubah mentalnya menjadi Apapun jenis KAnya asalkan tertib akan Mirip dengan Pesawat.
Posts: 626
Threads: 0
Joined: Jun 2012
Reputation:
4
@ardial : tertib dalam hal apa saja mas?
Posts: 975
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
24
(14-03-2013, 01:33 PM)ardial Wrote: (14-03-2013, 11:54 AM)Nicodio Wrote: Sepanjang diskusinya menarik, edukatif, dan informatif. Menurut saya kesimpulannya hanya 1. "Kalau tidak sesuai silahkan cari moda transportasi lainnya"
yang penting didik Bangsa jadi lebih cerdas Bertransportasi Khususnya KA
bahwa KA bukan hanya menjadi sekedar KA Rakyat Murah+rubah mentalnya menjadi Apapun jenis KAnya asalkan tertib akan Mirip dengan Pesawat.
Memang penumpang KA itu ada beberapa yang tidak tertib...(maaf ya sblmnya). Belum penumpang, pejabatnya aja nggak tertib...Untung saja ketidaktertiban itu sudah mulai berkurang, dengan sistem 100%, boarding, dan asongan dilarang masuk...Sebenernya intinya sih, tidak ada kebijakan yang sempurna, ada pro dan kontra, tapi itulah namanya kebijakan publik.
Posts: 1,214
Threads: 0
Joined: May 2011
Reputation:
22
(14-03-2013, 04:20 PM)Nicodio Wrote: @ardial : tertib dalam hal apa saja mas?
Misalkan begini penjelasan saya Mas Nico:1. Borading Pass adalah langkah awal agar masyarakat lebih rapi dalam hal masuk ke kereta
2.jangan pakai harga subsidi yang saya maksud itu supaya dirubah mentalnya adalah setiap detik anda merusak KA maka nantinya Maintenance Cost akan sangat MAHAL BGT!
3.Sebaik apapun KELASNYA MAU KA TIDUR-kelas rakyat(K3 KURSI KAYU) kalau masyarakatnya tidak ada sosialisasi tentang maintenance maka akan ada anggapan ih apaan Makin gak merakyat dari segi harga, berarti ada permasalahan mindset karena tidak terbiasa tertib dan hanya tahunya enak saja tanpa bantuan partisipasi masyarakat.
nah selagi masyarakat kesadaran partisipasi akan menjaga fasilitas masih kurang, operator akan simpel menjawab cari yang lebih bebas dari KA, toh mulai lebaran tahun Ini Mulai Bus, dan Kapal laut mau pakai Boarding pass juga.
Posts: 377
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
0
(04-03-2013, 08:46 PM)Toentang Wrote: Operator KA di Indonesia yaitu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sekarang memang lebih tertib, diantaranya pemesanan tiket KA lebih mudah, penumpang KA jarak jauh semua kelas dijamin mendapat tempat duduk dan suasana di stasiun KA lebih nyaman, dengan penertiban calon penumpang dan pedagang.
Tetapi mungkin demi mengejar keuntungan karena sudah menjadi Perusahaan Perseroan (PT) yang dituntut untuk menghasilkan profit, banyak hal yang menjadikan kesan kereta api sekarang berbeda dengan dulu.
Dahulu KA terkesan lebih merakyat, identik dengan transportasi murah meriah tapi relatif cepat dan aman. Adanya KA feeder dengan tiket yang super murah dan berhenti hampir di tiap stasiun, maupun tiket ekonomi dan bisnis yang masih tergolong sangat terjangkau. Selain itu adanya para pedagang makanan yang khas tentu dengan harga yang murah pula, sebut saja pecel madiun, pecel gambringan atau pecel kroya.
Dulu dengan uang 6000 rupiah, sudah bisa menempuh perjalanan dari Semarang menuju Cepu dengan bonus keakraban dengan para penumpang yang sama-sama duduk lesehan. Ditambah lagi bisa makan pecel yang murah dan kenyang sekaligus nikmat. Atau feeder Wonogiri yang dengan tiga lembar uang seribu sudah bisa menempuh perjalanan dari Solo ke Wonogiri. Jika dengan moda transportasi yang lain, mustahil dengan harga segitu.
Dengan adanya peraturan baru yang menghilangkan semua KA feeder maupun KA lokal yang dianggap kurang menguntungkan, kesan kereta api yang bersahabat dengan rakyat biasa semakin memudar. Apalagi jika peraturan pedagang yang tidak boleh masuk stasiun benar-benar dilaksanakan, maka semakin hilanglah kesan kereta api yang merakyat. Adanya KA ekonomi AC yang dengan alasan lebih manusiawi adalah alasan untuk menaikkan tiket ekonomi.
Dengan menjadi Perusahaan Perseroan (PT) yang dituntut untuk menghasilkan profit, akan beda saat masih menjadi perusahaan jawatan (PJKA) atau Perusahaan Umum (Perumka). Kedua bentuk badan usaha tsb lebih cenderung mengutamakan pelayanan daripada mengejar keuntungan.
Hal yang sebenarnya lebih menjadi perhatian operator KA adalah faktor keamanan, baik keamanan perjalanan KA maupun keamanan penumpang KA itu sendiri. Tingginya angka pencurian dan kehilangan barang di KA, pelemparan batu yang mengenai penumpang dan kru KA serta masalah-masalah keamanan lain harusnya menjadi fokus utama operator KA. Sebenernya peran wakil rakyat terutama Komisi V DPR RI yang membidangi perhubungan juga penting karena mereka yang menentukan subsidi dan keberadaan KA Ekonomi. Setahu saya DPR lah yang membuat persetujuan mengenai tarif KA ekonomi sementara bisnis dan eksekutif ditentukan oleh operator.
Nah sekarang kalau anggota dewan yang terhormat "Malas" naik KA ekonomi mereka bakal setuju saja dengan penghapusan KA kelas rakyat tersebut, apalagi mereka tidak pernah tahu kalau masyarakat butuh sarana trasportasi yang murah.
Posts: 975
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
24
(14-03-2013, 11:59 PM)babay_elgoe Wrote: (04-03-2013, 08:46 PM)Toentang Wrote: Operator KA di Indonesia yaitu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sekarang memang lebih tertib, diantaranya pemesanan tiket KA lebih mudah, penumpang KA jarak jauh semua kelas dijamin mendapat tempat duduk dan suasana di stasiun KA lebih nyaman, dengan penertiban calon penumpang dan pedagang.
Tetapi mungkin demi mengejar keuntungan karena sudah menjadi Perusahaan Perseroan (PT) yang dituntut untuk menghasilkan profit, banyak hal yang menjadikan kesan kereta api sekarang berbeda dengan dulu.
Dahulu KA terkesan lebih merakyat, identik dengan transportasi murah meriah tapi relatif cepat dan aman. Adanya KA feeder dengan tiket yang super murah dan berhenti hampir di tiap stasiun, maupun tiket ekonomi dan bisnis yang masih tergolong sangat terjangkau. Selain itu adanya para pedagang makanan yang khas tentu dengan harga yang murah pula, sebut saja pecel madiun, pecel gambringan atau pecel kroya.
Dulu dengan uang 6000 rupiah, sudah bisa menempuh perjalanan dari Semarang menuju Cepu dengan bonus keakraban dengan para penumpang yang sama-sama duduk lesehan. Ditambah lagi bisa makan pecel yang murah dan kenyang sekaligus nikmat. Atau feeder Wonogiri yang dengan tiga lembar uang seribu sudah bisa menempuh perjalanan dari Solo ke Wonogiri. Jika dengan moda transportasi yang lain, mustahil dengan harga segitu.
Dengan adanya peraturan baru yang menghilangkan semua KA feeder maupun KA lokal yang dianggap kurang menguntungkan, kesan kereta api yang bersahabat dengan rakyat biasa semakin memudar. Apalagi jika peraturan pedagang yang tidak boleh masuk stasiun benar-benar dilaksanakan, maka semakin hilanglah kesan kereta api yang merakyat. Adanya KA ekonomi AC yang dengan alasan lebih manusiawi adalah alasan untuk menaikkan tiket ekonomi.
Dengan menjadi Perusahaan Perseroan (PT) yang dituntut untuk menghasilkan profit, akan beda saat masih menjadi perusahaan jawatan (PJKA) atau Perusahaan Umum (Perumka). Kedua bentuk badan usaha tsb lebih cenderung mengutamakan pelayanan daripada mengejar keuntungan.
Hal yang sebenarnya lebih menjadi perhatian operator KA adalah faktor keamanan, baik keamanan perjalanan KA maupun keamanan penumpang KA itu sendiri. Tingginya angka pencurian dan kehilangan barang di KA, pelemparan batu yang mengenai penumpang dan kru KA serta masalah-masalah keamanan lain harusnya menjadi fokus utama operator KA. Sebenernya peran wakil rakyat terutama Komisi V DPR RI yang membidangi perhubungan juga penting karena mereka yang menentukan subsidi dan keberadaan KA Ekonomi. Setahu saya DPR lah yang membuat persetujuan mengenai tarif KA ekonomi sementara bisnis dan eksekutif ditentukan oleh operator.
Nah sekarang kalau anggota dewan yang terhormat "Malas" naik KA ekonomi mereka bakal setuju saja dengan penghapusan KA kelas rakyat tersebut, apalagi mereka tidak pernah tahu kalau masyarakat butuh sarana trasportasi yang murah.
Kayaknya wayat harus sering-sering turun deh, atau status perusahaan dibah jadi Perum/pn yang tujuannya tidak mencari profit, tetapi untuk melayani masyarakat. Jadi, nanti sih saya pengennya semua KA K3 ashee semua (yang non ac jadi cadangan buat peak season) tapi harga PSO. Dan harga K3 yang nanggung-nanggung (pake 500) diturunin biar pas. Harga KA lain juga dirasionalisasi, misalnya Sancaka YK-SGU PP K1nya jadi 90.000, bisnis ac 65.000, dll deh...terus tuslah diadain lagi, dengan rasa yang lebih baik. Reska bisa menggandeng perusahaan yang terkenal dalam bidang boga untuk dilatih cara memasak makanan yang enak..
Posts: 81
Threads: 0
Joined: Feb 2013
Reputation:
0
sebenarnya banyak kelebihan pt sepur dibanding jaman dirut sebelumnya, terutama soal ketepatan waktu dan semua penumpang boleh duduk dan pelayanan kereta ac...
saya masih ingat saat lebaran jaman dulu, bahkan gerbong bagasi dibuat mengangkut manusia, yang menunjukkan bahwa manusia lebih buruk daripada binatang...
jadi menurut saya tidak terlalu tepat untuk mengkritik dirut yang baru ini dengan banyak kritik bernada negatif yang saya lihat bertebaran di forum ini...
Posts: 1,488
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
27
Urun rembug ya ...
Memang sekarang PT. KAI memiliki kelebihan dan kekurangannya. PT. KAI selaku operator tunggal kereta api di negeri ini harus berusaha sekuatnya untuk menghidupi perusahaan dan pegawainya. Lain halnya dengan di Amerika Serikat, dimana perusahaan KA-nya banyak dan istilahnya bisa berbagi pendapatan dan okupansi. Karena PT. KAI menanggung beban sendiri, jadi lumrah kalau segalanya dinaikkan, termasuk tarif ekonomi, kecuali ada subsidi atau bantuan dari pemerintah atau masyarakat umum, mungkin tiket akan murah meriah. Untuk AC juga kita coba apresiasi, di saat dulu para ekomomer (penumpang setia klas ekonomi) sumpek dan gerah di dalam K3 yang pengap dan panas, kini sudah dipasang solusinya, yaitu AC meskipun split. Ya imbasnya, harus rela tarif dinaikkan. Bahasa bisnisnya 'Kalau ingin enak (sukses), ya harus berkorban lebih, karena tidak ada kamusnya orang tanpa pengorbanan mendapatkan hasil banyak' ...
Apapun kebijakan PT. KAI, selama kita melihat sisi positifnya, pasti semua juga untuk para penumpang ... Mulai pemasangan AC, boarding pass yang bak bandara, serta pedagang dilarang masuk KA.
Sekian, mohon maaf jika ada yang tak berkenan ...
- R y z k y W i d i A T m a j a -
|