Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 144
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
4
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(22-08-2011, 08:30 PM)Bangunkarta Wrote: [spoiler]
(21-08-2011, 08:32 PM)Warteg Wrote: (21-08-2011, 07:09 PM)Bangunkarta Wrote: masa seh... PT KA dengan omset dan sirkulasi keuangan sangat besar... trus melayani transaksi besar...selalu pake cara-cara manual
Sekarang sudah ada pembelian tiket online, tapi ya ujung-ujungnya nanti ke loket juga untuk menukarkan bukti transaksi (pembayaran) dengan bentuk (fisik) tiket KA di Loket  [/spoiler]
yaaaa.... itu mah kudu telp 121... trus nunggu diangkat... kadang juga ga ada yg ngangkat.... trus batas pembelian via ATM cuman dibatesin 30 menit
maksud ane pas di loket.... koq ga terima debit ATM ato kartu kredit seh.... masa kalah ma mini market.... di kampung ajah, mini market udah trima debit ATM dan kartu kredit loohhh
Betul kang kadang2 dari jaman saya masih TK sampe sekarang, kenapa ya gada 1pun bank yang mau kerja sama dalam hal ini berurusan dengan debit?
apa dulu sempet pernah ada tapi kembali dihapuskan karena alasan tertentu?
apa bank takut mesinnya rusak ya?
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Posts: 133
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
2
Guys.. ini ada cuplikan surat pembaca dari Rhenald Khasali mengenai perkeretapian Indonesia. Dibaca dengan teliti dari awal mpe akhir ya semoga bisa membuka pikiran teman-teman tentang permasalahan yg dihadapi perkeretapian Indonesia saat ini. Berikut cuplikan suratnya:
Mengapa Kereta Api Selalu Bermasalah
Wednesday, 06 October 2010
BEBERAPA waktu lalu bersama keluarga, saya menumpang kereta api eksekutif jurusan Jakarta-Cirebon. Setelah lama tidak menumpang kereta api, saya merasakan kembali getaran-getaran jiwa yang dulu saya dapatkan di masa kecil.
Saya jadi teringat dengan lagu Naik Kereta Api, dengan asap yang keluar dari cerobong lokomotif berwarna hitam, dengan bunyinya yang jus-jus-jus,suara klakson yang khas,pengumuman petugas peron, dan tentu saja polisi kereta api yang memeriksa karcis dan OB yang berkeliling menawarkan nasi goreng dan kopi susu. Sebagian kenangan itu masih ada,tetapi suasana di dalam kereta telah berubah.
Jumlah penumpang sekarang sudah melebihi daya tampung gerbong.Mereka berebut tempat duduk dan sulit diatur.Beberapa orang membawa buah durian ke dalam kabin dan tak ada satu pun petugas yang melarang sampai seorang ibu hampir semaput dan berteriak meminta agar kardus buah itu ditaruh di luar. Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, yang saya gunakan terlalu sempit. Mesin pendingin tiba-tiba mati setengah jam sebelum tiba di tujuan. Saat melewati dapur, seorang penumpang membisiki saya.
â€Lihatlah cara mereka memasak. Untung kita tidak makan nasi gorengnya.†Sanitasi dan kebersihan masih perlu diperbaiki. Namun,terlepas dari persoalanpersoalan itu, saya sangat menikmati perjalanan dan keramahan petugas. Saya masih bisa menyaksikan pematang sawah yang hijau meski sudah semakin sempit dan dikepung sampah-sampah plastik dari permukiman yang semakin menjorok ke rel.Toilet juga dirawat dan dibersihkan setiap 15 menit, meski sejumlah penumpang perempuan segera kembali keluar begitu melihat toilet duduk yang tidak ada dudukannya.
Istri saya menahan keinginannya ke toilet selama tiga jam dalam perjalanan itu. Membeli tiket juga sudah jauh lebih nyaman dan modern. Jadwal pemberangkatan sudah lebih convenient, kereta lebih bersih – meski lebih tua, dan ketepatan waktu lebih dapat diandalkan. Ada komplain kecil dalam jiwa, namun saya bersyukur masih bisa naik kereta api dan menikmati perjalanan sambil melamun di tepi jendela yang relatif besar. Bagi saya,kereta api adalah transportasi yang paling aman.
Tetapi,semua itu tiba-tiba berubah saat menyaksikan berita-berita tentang kecelakaan (tabrakan) kereta api yang menelan puluhan korban jiwa.Tak lama kemudian di televisi kita lihat Menteri Perhubungan yang berjanji akan memeriksa dan memberikan sanksi pada petugas dan direksi PT Kereta Api (KA). Esoknya, di koran ini Anda membaca headline yang berasal dari seorang politisi yang mengatakan manajemen PT KA sangat buruk.
Manajemen Transportasi
Bisakah kita menyalahkan musibah yang dialami perkeretaapian Indonesia pada PT KA sematamata? Saya kira siapa pun ahli manajemen yang mengerti peta dan kebijakan transportasi dan BUMN Indonesia akan terpingkal-pingkal menyaksikan dagelan-dagelan lucu yang dibicarakan para menteri,politisi, dan pengamat yang terkesan sekadar melempar tanggung jawab.
Mari kita urai benang kusut manajemenlayanantransportasiIndonesia. Pertama, transportasi publik adalah bisnis yang highly regulated. Sudah jelas masalah yang harus diutamakan adalah safety.Namun, di sini aturannya ternyata terlalu ketat. Regulasi mengatur semuanya, mulai dari safetysampai bisnis. Dalam industri penerbangan saja, pemerintah bukan hanya mengatur soal safety, melainkan juga sampai jumlah pesawat yang harus dimiliki airlines baru.Kedua, campur tangan teknis dan ekonomi dari luar begitu kuat.
Bahkan untuk menaikkan tarif saja bisa menimbulkan persoalan politik yang ramai. Naik harga tidak boleh, tetapi BUMN ini diwajibkan untung.Dari mana untungnya? Apakah para politisi mau mencari alternatifnya (subsidi)? Ternyata tidak juga. Jadi l ayanan dituntut bagus, tarif harus rendah, tetapi subsidi tidak diberi, dan bisnis harus untung. Ini juga berlaku untuk industri energi (Pertamina) dan listrik (PLN).
Di mana di dunia ini Anda bisa melihat keajaiban dari kombinasi kebijakan yang aneh itu? Ya, di mana lagi kalau bukan di sini. Selain itu, bagian terbesar keuntungan BUMN-BUMN kita sedikit sekali yang direinvestasikan. Sudah menjadi kebiasaan buruk di sini, mayoritas keuntungan BUMN dipakai untuk menambal APBN.
Ibarat sapi betina, susunya diperah setiap hari, tetapi sapinya tidak diberi makan makanan bergizi, kandangnya kecil, dan orang yang memeliharanya tertekan. Sudah pasti susu-susu yang dihasilkan berkualitas rendah dan maaf, sapinya kurus (peyot,menciut). Persis mirip armada perkeretaapian kita yang sudah tua dan kusam.Saat saya menengok ke AC yang mati,pipanya tampak sudah berlumut.
Profesional vs Birokrasi
Jadi bagaimana kita menyelamatkan kereta api atau transportasi publik yang kadung kusut seperti ini? Seorang pejabat menyatakan, serahkan saja pada profesional yang ahli pada bidangnya. Tetapi, hukum bisnis mengatakan profesional hanya bisa bekerja kalau ia dipimpin oleh profesional. Faktanya, para profesional, termasuk Saudara Ignasius Jonan, CEO PT KA bekerja di bawah kendali birokrasi.Di dunia profesional, Jonan punya nama dan diakui kinerjanya.
Tetapi, di habitat yang birokratik, reputasinya kini menjadi pertaruhan yang serius. Karena pemiliknya diwakili oleh birokrat, sudah pasti logika keduanya bertubrukan.Yang satu mau lari kencang, yang satu menahan. Persis seperti dua orang yang hendak menyeberang, yang akibatnya terseruduk bus di jalan raya. Gaji pemimpin BUMN di sini pun serbatanggung. Tingkatnya adalah sekitar seperdelapan gaji para profesional di sektor swasta.
Anda mau tahu berapa gaji pimpinan perusahaan milik BUMN Singapura atau Malaysia yang diangkat di Indonesia? Belum lama ini seorang teman yang mengepalai sebuah perusahaan milik BUMN tetangga di sini menunjukkan slip gajinya: USD45.000. Hitung saja berapa seperdelapan atau sepersembilan dari jumlah itu.Itulah pendapatan para CEO BUMN di sini. Sudah digaji seadanya,mereka pun menjadi sasaran amuk para atasan yang ingin terkesan tegas dan bekerja.
Mereka tidak diberi ruang untuk ekspansi teknologi atau investasi baru karena investasi baru tidak ada. Dan bila anak buahnya mengantuk, mereka pun menjadi sasaran tembak pengadilan dan politik. Jadi,menurut saya,upaya memperbaiki public transportation di negeri ini tidak bisa hanya dilakukan oleh para CEO.Upaya ini harus bersifat menyeluruh (strategic change) dan terpadu. Reformasi birokrasi dan tata nilai, prinsip reinvestasi, rekrutmen pegawai, metode pelatihan,pilihan teknologi, dan tentu saja sistem imbal jasa harus dibongkar bersama-sama.
Saya tidak yakin PT KA bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. PT KA perlu suntikan modal baru, dan perubahan pada Kementerian Perhubungan perlu dilakukan secara mendasar. Demikian juga di Kantor Kementerian BUMN dan para pembuat kebijakan infrastruktur. Tetapi, perubahan cara berpikir sudah pasti harus dimulai dari para wakil rakyat yang tidak asal tuding dan merasa paling tahu. Kita semua wajib bekerja sama dan membuat rumusan yang maju, terintegrasi, dan strategik.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisice...ew/355698/
begitu teman-teman permasalahan yang sedang dihadapin. lucu juga ya pemerintah kita...
Posts: 1,546
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
39
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(30-09-2011, 01:51 PM)UnionExpress Wrote: [spoiler]
Guys.. ini ada cuplikan surat pembaca dari Rhenald Khasali mengenai perkeretapian Indonesia. Dibaca dengan teliti dari awal mpe akhir ya semoga bisa membuka pikiran teman-teman tentang permasalahan yg dihadapi perkeretapian Indonesia saat ini. Berikut cuplikan suratnya:
Mengapa Kereta Api Selalu Bermasalah
Wednesday, 06 October 2010
BEBERAPA waktu lalu bersama keluarga, saya menumpang kereta api eksekutif jurusan Jakarta-Cirebon. Setelah lama tidak menumpang kereta api, saya merasakan kembali getaran-getaran jiwa yang dulu saya dapatkan di masa kecil.
Saya jadi teringat dengan lagu Naik Kereta Api, dengan asap yang keluar dari cerobong lokomotif berwarna hitam, dengan bunyinya yang jus-jus-jus,suara klakson yang khas,pengumuman petugas peron, dan tentu saja polisi kereta api yang memeriksa karcis dan OB yang berkeliling menawarkan nasi goreng dan kopi susu. Sebagian kenangan itu masih ada,tetapi suasana di dalam kereta telah berubah.
Jumlah penumpang sekarang sudah melebihi daya tampung gerbong.Mereka berebut tempat duduk dan sulit diatur.Beberapa orang membawa buah durian ke dalam kabin dan tak ada satu pun petugas yang melarang sampai seorang ibu hampir semaput dan berteriak meminta agar kardus buah itu ditaruh di luar. Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, yang saya gunakan terlalu sempit. Mesin pendingin tiba-tiba mati setengah jam sebelum tiba di tujuan. Saat melewati dapur, seorang penumpang membisiki saya.
â€Lihatlah cara mereka memasak. Untung kita tidak makan nasi gorengnya.†Sanitasi dan kebersihan masih perlu diperbaiki. Namun,terlepas dari persoalanpersoalan itu, saya sangat menikmati perjalanan dan keramahan petugas. Saya masih bisa menyaksikan pematang sawah yang hijau meski sudah semakin sempit dan dikepung sampah-sampah plastik dari permukiman yang semakin menjorok ke rel.Toilet juga dirawat dan dibersihkan setiap 15 menit, meski sejumlah penumpang perempuan segera kembali keluar begitu melihat toilet duduk yang tidak ada dudukannya.
Istri saya menahan keinginannya ke toilet selama tiga jam dalam perjalanan itu. Membeli tiket juga sudah jauh lebih nyaman dan modern. Jadwal pemberangkatan sudah lebih convenient, kereta lebih bersih – meski lebih tua, dan ketepatan waktu lebih dapat diandalkan. Ada komplain kecil dalam jiwa, namun saya bersyukur masih bisa naik kereta api dan menikmati perjalanan sambil melamun di tepi jendela yang relatif besar. Bagi saya,kereta api adalah transportasi yang paling aman.
Tetapi,semua itu tiba-tiba berubah saat menyaksikan berita-berita tentang kecelakaan (tabrakan) kereta api yang menelan puluhan korban jiwa.Tak lama kemudian di televisi kita lihat Menteri Perhubungan yang berjanji akan memeriksa dan memberikan sanksi pada petugas dan direksi PT Kereta Api (KA). Esoknya, di koran ini Anda membaca headline yang berasal dari seorang politisi yang mengatakan manajemen PT KA sangat buruk.
Manajemen Transportasi
Bisakah kita menyalahkan musibah yang dialami perkeretaapian Indonesia pada PT KA sematamata? Saya kira siapa pun ahli manajemen yang mengerti peta dan kebijakan transportasi dan BUMN Indonesia akan terpingkal-pingkal menyaksikan dagelan-dagelan lucu yang dibicarakan para menteri,politisi, dan pengamat yang terkesan sekadar melempar tanggung jawab.
Mari kita urai benang kusut manajemenlayanantransportasiIndonesia. Pertama, transportasi publik adalah bisnis yang highly regulated. Sudah jelas masalah yang harus diutamakan adalah safety.Namun, di sini aturannya ternyata terlalu ketat. Regulasi mengatur semuanya, mulai dari safetysampai bisnis. Dalam industri penerbangan saja, pemerintah bukan hanya mengatur soal safety, melainkan juga sampai jumlah pesawat yang harus dimiliki airlines baru.Kedua, campur tangan teknis dan ekonomi dari luar begitu kuat.
Bahkan untuk menaikkan tarif saja bisa menimbulkan persoalan politik yang ramai. Naik harga tidak boleh, tetapi BUMN ini diwajibkan untung.Dari mana untungnya? Apakah para politisi mau mencari alternatifnya (subsidi)? Ternyata tidak juga. Jadi layanan dituntut bagus, tarif harus rendah, tetapi subsidi tidak diberi, dan bisnis harus untung. Ini juga berlaku untuk industri energi (Pertamina) dan listrik (PLN).
Di mana di dunia ini Anda bisa melihat keajaiban dari kombinasi kebijakan yang aneh itu? Ya, di mana lagi kalau bukan di sini. Selain itu, bagian terbesar keuntungan BUMN-BUMN kita sedikit sekali yang direinvestasikan. Sudah menjadi kebiasaan buruk di sini,mayoritas keuntungan BUMN dipakai untuk menambal APBN.
Ibarat sapi betina, susunya diperah setiap hari, tetapi sapinya tidak diberi makan makanan bergizi, kandangnya kecil, dan orang yang memeliharanya tertekan. Sudah pasti susu-susu yang dihasilkan berkualitas rendah dan maaf, sapinya kurus (peyot,menciut). Persis mirip armada perkeretaapian kita yang sudah tua dan kusam.Saat saya menengok ke AC yang mati,pipanya tampak sudah berlumut.
Profesional vs Birokrasi
Jadi bagaimana kita menyelamatkan kereta api atau transportasi publik yang kadung kusut seperti ini? Seorang pejabat menyatakan, serahkan saja pada profesional yang ahli pada bidangnya. Tetapi, hukum bisnis mengatakan profesional hanya bisa bekerja kalau ia dipimpin oleh profesional. Faktanya, para profesional, termasuk Saudara Ignasius Jonan, CEO PT KA bekerja di bawah kendali birokrasi.Di dunia profesional, Jonan punya nama dan diakui kinerjanya.
Tetapi, di habitat yang birokratik, reputasinya kini menjadi pertaruhan yang serius. Karena pemiliknya diwakili oleh birokrat, sudah pasti logika keduanya bertubrukan.Yang satu mau lari kencang, yang satu menahan. Persis seperti dua orang yang hendak menyeberang, yang akibatnya terseruduk bus di jalan raya. Gaji pemimpin BUMN di sini pun serbatanggung. Tingkatnya adalah sekitar seperdelapan gaji para profesional di sektor swasta.
Anda mau tahu berapa gaji pimpinan perusahaan milik BUMN Singapura atau Malaysia yang diangkat di Indonesia? Belum lama ini seorang teman yang mengepalai sebuah perusahaan milik BUMN tetangga di sini menunjukkan slip gajinya: USD45.000. Hitung saja berapa seperdelapan atau sepersembilan dari jumlah itu.Itulah pendapatan para CEO BUMN di sini. Sudah digaji seadanya,mereka pun menjadi sasaran amuk para atasan yang ingin terkesan tegas dan bekerja.
Mereka tidak diberi ruang untuk ekspansi teknologi atau investasi baru karena investasi baru tidak ada. Dan bila anak buahnya mengantuk, mereka pun menjadi sasaran tembak pengadilan dan politik. Jadi,menurut saya,upaya memperbaiki public transportation di negeri ini tidak bisa hanya dilakukan oleh para CEO.Upaya ini harus bersifat menyeluruh (strategic change) dan terpadu. Reformasi birokrasi dan tata nilai, prinsip reinvestasi, rekrutmen pegawai, metode pelatihan,pilihan teknologi, dan tentu saja sistem imbal jasa harus dibongkar bersama-sama.
Saya tidak yakin PT KA bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. PT KA perlu suntikan modal baru, dan perubahan pada Kementerian Perhubungan perlu dilakukan secara mendasar. Demikian juga di Kantor Kementerian BUMN dan para pembuat kebijakan infrastruktur. Tetapi, perubahan cara berpikir sudah pasti harus dimulai dari para wakil rakyat yang tidak asal tuding dan merasa paling tahu. Kita semua wajib bekerja sama dan membuat rumusan yang maju, terintegrasi, dan strategik.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisice...ew/355698/
begitu teman-teman permasalahan yang sedang dihadapin. lucu juga ya pemerintah kita...
[/spoiler]
Ternyata om Rhenald sepertinya seorang RF juga ya, diem2 dia memperhatikan kereta penumpangnya dan semua kekurangan yang ada di gerbong.
Betul sekali sepertinya Argo Jati yang dia naikin masih sekelas k-2 ya, lagi2 permasalahan ac mati masih kerap ada di k-1,dan juga ada duren di k-1 ya orang pada mabok semua. 
Manajemen transportasi yang dipaparkan oleh om Rhenald bener2 menjabarkan bagaimana ga selarasnya hubungan PT Kereta api (persero) dengan pemerintah.
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Posts: 118
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
0
Sekedar saran Buat Manajemen KAI
Saya sebagai RF yang sering bolak balik jakarta - madiun, melihat Jumlah penumpang kereta ekonomi yang melewati Madiun - Jakarta selalu penuh sesak, sebaiknya ditambahkan rangkaian kereta baru yang diberangkatkan pada pagi hari juga. jadi jika kita mau ke madiun atau kejakarta bisa berangkat pagi hari atau sore hari.
Posts: 133
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
2
(30-09-2011, 07:20 PM)Joe_cn Wrote: (30-09-2011, 01:51 PM)UnionExpress Wrote: [spoiler]
Guys.. ini ada cuplikan surat pembaca dari Rhenald Khasali mengenai perkeretapian Indonesia. Dibaca dengan teliti dari awal mpe akhir ya semoga bisa membuka pikiran teman-teman tentang permasalahan yg dihadapi perkeretapian Indonesia saat ini. Berikut cuplikan suratnya:
Mengapa Kereta Api Selalu Bermasalah
Wednesday, 06 October 2010
BEBERAPA waktu lalu bersama keluarga, saya menumpang kereta api eksekutif jurusan Jakarta-Cirebon. Setelah lama tidak menumpang kereta api, saya merasakan kembali getaran-getaran jiwa yang dulu saya dapatkan di masa kecil.
Saya jadi teringat dengan lagu Naik Kereta Api, dengan asap yang keluar dari cerobong lokomotif berwarna hitam, dengan bunyinya yang jus-jus-jus,suara klakson yang khas,pengumuman petugas peron, dan tentu saja polisi kereta api yang memeriksa karcis dan OB yang berkeliling menawarkan nasi goreng dan kopi susu. Sebagian kenangan itu masih ada,tetapi suasana di dalam kereta telah berubah.
Jumlah penumpang sekarang sudah melebihi daya tampung gerbong.Mereka berebut tempat duduk dan sulit diatur.Beberapa orang membawa buah durian ke dalam kabin dan tak ada satu pun petugas yang melarang sampai seorang ibu hampir semaput dan berteriak meminta agar kardus buah itu ditaruh di luar. Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, yang saya gunakan terlalu sempit. Mesin pendingin tiba-tiba mati setengah jam sebelum tiba di tujuan. Saat melewati dapur, seorang penumpang membisiki saya.
â€Lihatlah cara mereka memasak. Untung kita tidak makan nasi gorengnya.†Sanitasi dan kebersihan masih perlu diperbaiki. Namun,terlepas dari persoalanpersoalan itu, saya sangat menikmati perjalanan dan keramahan petugas. Saya masih bisa menyaksikan pematang sawah yang hijau meski sudah semakin sempit dan dikepung sampah-sampah plastik dari permukiman yang semakin menjorok ke rel.Toilet juga dirawat dan dibersihkan setiap 15 menit, meski sejumlah penumpang perempuan segera kembali keluar begitu melihat toilet duduk yang tidak ada dudukannya.
Istri saya menahan keinginannya ke toilet selama tiga jam dalam perjalanan itu. Membeli tiket juga sudah jauh lebih nyaman dan modern. Jadwal pemberangkatan sudah lebih convenient, kereta lebih bersih – meski lebih tua, dan ketepatan waktu lebih dapat diandalkan. Ada komplain kecil dalam jiwa, namun saya bersyukur masih bisa naik kereta api dan menikmati perjalanan sambil melamun di tepi jendela yang relatif besar. Bagi saya,kereta api adalah transportasi yang paling aman.
Tetapi,semua itu tiba-tiba berubah saat menyaksikan berita-berita tentang kecelakaan (tabrakan) kereta api yang menelan puluhan korban jiwa.Tak lama kemudian di televisi kita lihat Menteri Perhubungan yang berjanji akan memeriksa dan memberikan sanksi pada petugas dan direksi PT Kereta Api (KA). Esoknya, di koran ini Anda membaca headline yang berasal dari seorang politisi yang mengatakan manajemen PT KA sangat buruk.
Manajemen Transportasi
Bisakah kita menyalahkan musibah yang dialami perkeretaapian Indonesia pada PT KA sematamata? Saya kira siapa pun ahli manajemen yang mengerti peta dan kebijakan transportasi dan BUMN Indonesia akan terpingkal-pingkal menyaksikan dagelan-dagelan lucu yang dibicarakan para menteri,politisi, dan pengamat yang terkesan sekadar melempar tanggung jawab.
Mari kita urai benang kusut manajemenlayanantransportasiIndonesia. Pertama, transportasi publik adalah bisnis yang highly regulated. Sudah jelas masalah yang harus diutamakan adalah safety.Namun, di sini aturannya ternyata terlalu ketat. Regulasi mengatur semuanya, mulai dari safetysampai bisnis. Dalam industri penerbangan saja, pemerintah bukan hanya mengatur soal safety, melainkan juga sampai jumlah pesawat yang harus dimiliki airlines baru.Kedua, campur tangan teknis dan ekonomi dari luar begitu kuat.
Bahkan untuk menaikkan tarif saja bisa menimbulkan persoalan politik yang ramai. Naik harga tidak boleh, tetapi BUMN ini diwajibkan untung.Dari mana untungnya? Apakah para politisi mau mencari alternatifnya (subsidi)? Ternyata tidak juga. Jadi layanan dituntut bagus, tarif harus rendah, tetapi subsidi tidak diberi, dan bisnis harus untung. Ini juga berlaku untuk industri energi (Pertamina) dan listrik (PLN).
Di mana di dunia ini Anda bisa melihat keajaiban dari kombinasi kebijakan yang aneh itu? Ya, di mana lagi kalau bukan di sini. Selain itu, bagian terbesar keuntungan BUMN-BUMN kita sedikit sekali yang direinvestasikan. Sudah menjadi kebiasaan buruk di sini,mayoritas keuntungan BUMN dipakai untuk menambal APBN.
Ibarat sapi betina, susunya diperah setiap hari, tetapi sapinya tidak diberi makan makanan bergizi, kandangnya kecil, dan orang yang memeliharanya tertekan. Sudah pasti susu-susu yang dihasilkan berkualitas rendah dan maaf, sapinya kurus (peyot,menciut). Persis mirip armada perkeretaapian kita yang sudah tua dan kusam.Saat saya menengok ke AC yang mati,pipanya tampak sudah berlumut.
Profesional vs Birokrasi
Jadi bagaimana kita menyelamatkan kereta api atau transportasi publik yang kadung kusut seperti ini? Seorang pejabat menyatakan, serahkan saja pada profesional yang ahli pada bidangnya. Tetapi, hukum bisnis mengatakan profesional hanya bisa bekerja kalau ia dipimpin oleh profesional. Faktanya, para profesional, termasuk Saudara Ignasius Jonan, CEO PT KA bekerja di bawah kendali birokrasi.Di dunia profesional, Jonan punya nama dan diakui kinerjanya.
Tetapi, di habitat yang birokratik, reputasinya kini menjadi pertaruhan yang serius. Karena pemiliknya diwakili oleh birokrat, sudah pasti logika keduanya bertubrukan.Yang satu mau lari kencang, yang satu menahan. Persis seperti dua orang yang hendak menyeberang, yang akibatnya terseruduk bus di jalan raya. Gaji pemimpin BUMN di sini pun serbatanggung. Tingkatnya adalah sekitar seperdelapan gaji para profesional di sektor swasta.
Anda mau tahu berapa gaji pimpinan perusahaan milik BUMN Singapura atau Malaysia yang diangkat di Indonesia? Belum lama ini seorang teman yang mengepalai sebuah perusahaan milik BUMN tetangga di sini menunjukkan slip gajinya: USD45.000. Hitung saja berapa seperdelapan atau sepersembilan dari jumlah itu.Itulah pendapatan para CEO BUMN di sini. Sudah digaji seadanya,mereka pun menjadi sasaran amuk para atasan yang ingin terkesan tegas dan bekerja.
Mereka tidak diberi ruang untuk ekspansi teknologi atau investasi baru karena investasi baru tidak ada. Dan bila anak buahnya mengantuk, mereka pun menjadi sasaran tembak pengadilan dan politik. Jadi,menurut saya,upaya memperbaiki public transportation di negeri ini tidak bisa hanya dilakukan oleh para CEO.Upaya ini harus bersifat menyeluruh (strategic change) dan terpadu. Reformasi birokrasi dan tata nilai, prinsip reinvestasi, rekrutmen pegawai, metode pelatihan,pilihan teknologi, dan tentu saja sistem imbal jasa harus dibongkar bersama-sama.
Saya tidak yakin PT KA bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. PT KA perlu suntikan modal baru, dan perubahan pada Kementerian Perhubungan perlu dilakukan secara mendasar. Demikian juga di Kantor Kementerian BUMN dan para pembuat kebijakan infrastruktur. Tetapi, perubahan cara berpikir sudah pasti harus dimulai dari para wakil rakyat yang tidak asal tuding dan merasa paling tahu. Kita semua wajib bekerja sama dan membuat rumusan yang maju, terintegrasi, dan strategik.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisice...ew/355698/
begitu teman-teman permasalahan yang sedang dihadapin. lucu juga ya pemerintah kita...
[/spoiler]
Ternyata om Rhenald sepertinya seorang RF juga ya, diem2 dia memperhatikan kereta penumpangnya dan semua kekurangan yang ada di gerbong.
Betul sekali sepertinya Argo Jati yang dia naikin masih sekelas k-2 ya, lagi2 permasalahan ac mati masih kerap ada di k-1,dan juga ada duren di k-1 ya orang pada mabok semua.
Manajemen transportasi yang dipaparkan oleh om Rhenald bener2 menjabarkan bagaimana ga selarasnya hubungan PT Kereta api (persero) dengan pemerintah.
iy bang, ane setuju... sebagai pihak otoritas tertinggi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yaitu pemerintah seharusnya jangan asal maen ambil keputusan aja. Teliti dulu di lapangan jangan duduk aja di ruangan ber AC
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
Yth. Direksi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) (Persero) dan PT INKA (Persero)
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama naik kereta bisnis jarak jauh tujuan jatim dan jateng, tempat duduk K2 nampaknya kurang nyaman untuk perjalanan jauh (perjalanan lebih dari 5 jam). Ketika perjalanan sudah menginjak lebih dari 5 jam, penumpang perlu untuk istirahat (tidur). Namun, mengingat sandaran kursi K2 terlalu tegak dan tidak ada footrest, maka penumpang tidak bisa tidur dengan nyaman.
Sebagian penumpang (menurut pengamatan saya jumlahnya sekitar 35% dari baris tempat duduk yang ada) memutuskan untuk tidur di lantai dengan menggelar koran/tikar/selimut dan pasangannya tidur di kursi, dengan demikian mereka bisa tidur dengan nyaman karena bisa selonjor dan rebahan. Sementara sisanya yang bertahan tidur dengan posisi duduk, terlihat gelisah dan sering terbangun. Bahkan ada pula yang tidak bisa tidur sama sekali.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, saya mengusulkan agar fasilitas tempat duduk kelas bisnis, terutama untuk yang jarak jauh, dilengkapi dengan fitur reclining dan footrest.
Bentuk kursi tidak perlu semewah kursi kelas eksekutif, namun cukup menyerupai kursi K2 yang ada sekarang namun direkayasa sedemikian rupa sehingga sandaran kursi bisa disesuaikan kemiringannya. Kemiringannya tentu tidak sebesar di K1 mengingat ruang antar kursi di K2 tentu lebih sempit. Untuk kemiringan, bisa mencontoh kursi penumpang bis ekonomi Sumber Kencono.
Selanjutnya, kursi juga dilengkapi dengan footrest. Footrest cukup dibuat static saja (tidak adjustable seperti footrest K1) yang berupa 2 batang besi/baja pipih melintang yang dilas atau dibaut pada setiap kaki kursi sebelah depan atau belakang. Dengan demikian batang tersebut bisa dijadikan pijakan (footrest) bagi penumpang di belakang. Untuk desain footrest ini bisa mencontoh dari bis Rosalia Indah kelas bisnis ac (seat 2-2).
Demikian uneg-uneg dari saya, semoga bisa menjadi masukan bagi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) (Persero) dan PT INKA (Persero).
Terima kasih.
KA Sumber Kentjono
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
mohon PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memperlebar dan memisah jalan PJL Gang Sentiong , macednya minta ampun dah kalau pagi dan sore, serobot sono sini, ngelawan arah krn ada batas di perlintasan
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
|