Posts: 1,336
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
18
(15-05-2011, 12:09 PM)Dana Komuter Wrote: Belanja standar aja spt kita mau beli voucher isi ulang di kebanyakan toko2 macem minimarket. Tapi yg ini jual karcis KA dg pelayan semisal toko buku A, bukan pelayan tiket yg biasa semisal di st. Gambir. Entah baiknya di banyak toko buku semisal toko buku A, B dan C atau toko buku A tapi di bbrp cabang semisal di Jabodetabek. Khan kalo akhir pekan dan jelang hari raya tertentu bisa antri panjang tuh... Tapi kita berharap jangan sampai ada calo di toko buku A tersebut.
Itu kalo di toko buku... Misal selain toko buku, yah... entah di toko serba ada, toko bangunan, toko mainan anak2, dll....
Dari sudut pandang bung apakah mungkin ide ini diterapkan??? Sebagian org indonesia kan ''cerdas'' bikin celah nakal. sedangkan e ticketing aja, sy liat di berita siang bbrp hari lalu, mesinnya nganggur, rusak pula, katanya 2012 baru operasi. Sy sih setuju di toko buku (I LOVE BOOKS) ato di karrefour.
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
Saya sih OK-OK aja dengan usulan Mas Dana Komuter agar ticket juga dijual di tempat lain semisal toko buku atau supermarket...
Tapi saya lebih setuju lagi kalo usulan Mas Bangunkarta dapat dijalankan dengan baik...
Kenapa?
Kalo e-Ticket, bisa diatur agar pemesanannya sedemikian rupa "dipersulit" dengan harus memasukkan identitas yang paling tepat
Quote:Contoh formulir:
Identitas Pemesan
Nama:
No. Identitas (KTP/SIM/Passport):
Alamat Lengkap:
No. Telepon/HP:
e-mail:
Identitas Kereta (single trip)
Nama Kereta:
Stasiun Keberangkatan:
Stasiun Tujuan:
Tanggal Keberangkatan:
Jumlah Tiket:
* Dewasa: * Anak (khusus Bisnis/Ekonomi):
Identitas Kereta (double trip)
Nama Kereta:
Stasiun Keberangkatan:
Stasiun Tujuan:
Tanggal Keberangkatan:
Jumlah Tiket:
* Dewasa: * Anak (khusus Bisnis/Ekonomi):
Dan saat pengambilan tiket, HARUS menyertakan kartu identitas sesuai yang tertera dalam formulir pemesanan, TIDAK diperkenankan diambil orang lain selain daripada pemilik identitas, KECUALI menyertakan surat kuasa, yg ditandatangani kedua belah pihak di hadapan Notaris.
Memang kelihatannya cukup, atau bisa dibilang sangat, rumit, cuma saya kira dengan begini maka pergerakan para calo dapat dihentikan.
Contoh yg baru saya alami, ibu saya ingin mengganti SIM card HP-nya, yg datang mengganti paman saya, eh diminta sama teller KTP. Giliran paman saya bilang "ini SIM card buat ibu saya", tellernya bilang "harus ada surat kuasa, ditandatangani di hadapan Notaris...
Nah lho, ganti SIM card aja yg (setahu saya) ga ada calo harus serumit itu, kenapa jual-beli ticket di stasiun tidak dibuat begitu saja, biar ga ada lagi yg namanya calo (kecuali kita kepepet batal naik kereta yg tiketnya udah dipesen, trus ga bisa dibatalkan seperti tiket promo, ya bolehlah kita jual ke temen/kerabat - seperti salah satu rekan kita di Semboyan 35 - itu ga masalah, beda dgn calo yg emang sengaja beli tiket dulu, dihabisin jatah di loket, baru dijual lagi, ga tanggung-tanggung dgn harga yg menjulang tinggi)...
Kalo yg jadi masalah "ga semua calon penumpang ada akses internet sehari-hari", bisa diakalin dgn cara menggabungkan pendapat Mas Dana Komuter dgn Mas Bangunkarta:
"Membeli Tiket dengan Gaya Baru"
Dimana calon penumpang bisa memesan tiket KA di (misal) toko buku, supermarket, dll.
Tinggal butuh koordinasi antara PT KA dgn instansi ybs., dan jadilah "Membeli Tiket dengan Gaya Baru"!
Posts: 1,336
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
18
15-05-2011, 06:56 PM
(This post was last modified: 15-05-2011, 06:57 PM by POERWOKERTO +75M.)
(15-05-2011, 06:40 PM)dtRAiNeR Wrote: Saya sih OK-OK aja dengan usulan Mas Dana Komuter agar ticket juga dijual di tempat lain semisal toko buku atau supermarket...
Tapi saya lebih setuju lagi kalo usulan Mas Bangunkarta dapat dijalankan dengan baik...
Kenapa?
Kalo e-Ticket, bisa diatur agar pemesanannya sedemikian rupa "dipersulit" dengan harus memasukkan identitas yang paling tepat
Quote:Contoh formulir:
Identitas Pemesan
Nama:
No. Identitas (KTP/SIM/Passport):
Alamat Lengkap:
No. Telepon/HP:
e-mail:
Identitas Kereta (single trip)
Nama Kereta:
Stasiun Keberangkatan:
Stasiun Tujuan:
Tanggal Keberangkatan:
Jumlah Tiket:
* Dewasa: * Anak (khusus Bisnis/Ekonomi):
Identitas Kereta (double trip)
Nama Kereta:
Stasiun Keberangkatan:
Stasiun Tujuan:
Tanggal Keberangkatan:
Jumlah Tiket:
* Dewasa: * Anak (khusus Bisnis/Ekonomi):
Dan saat pengambilan tiket, HARUS menyertakan kartu identitas sesuai yang tertera dalam formulir pemesanan, TIDAK diperkenankan diambil orang lain selain daripada pemilik identitas, KECUALI menyertakan surat kuasa, yg ditandatangani kedua belah pihak di hadapan Notaris.
Memang kelihatannya cukup, atau bisa dibilang sangat, rumit, cuma saya kira dengan begini maka pergerakan para calo dapat dihentikan.
Contoh yg baru saya alami, ibu saya ingin mengganti SIM card HP-nya, yg datang mengganti paman saya, eh diminta sama teller KTP. Giliran paman saya bilang "ini SIM card buat ibu saya", tellernya bilang "harus ada surat kuasa, ditandatangani di hadapan Notaris...
Nah lho, ganti SIM card aja yg (setahu saya) ga ada calo harus serumit itu, kenapa jual-beli ticket di stasiun tidak dibuat begitu saja, biar ga ada lagi yg namanya calo (kecuali kita kepepet batal naik kereta yg tiketnya udah dipesen, trus ga bisa dibatalkan seperti tiket promo, ya bolehlah kita jual ke temen/kerabat - seperti salah satu rekan kita di Semboyan 35 - itu ga masalah, beda dgn calo yg emang sengaja beli tiket dulu, dihabisin jatah di loket, baru dijual lagi, ga tanggung-tanggung dgn harga yg menjulang tinggi)...
Kalo yg jadi masalah "ga semua calon penumpang ada akses internet sehari-hari", bisa diakalin dgn cara menggabungkan pendapat Mas Dana Komuter dgn Mas Bangunkarta:
"Membeli Tiket dengan Gaya Baru"
Dimana calon penumpang bisa memesan tiket KA di (misal) toko buku, supermarket, dll.
Tinggal butuh koordinasi antara PT KA dgn instansi ybs., dan jadilah "Membeli Tiket dengan Gaya Baru"!
Apa nanti membeli tiket dengan gaya baru ini berpotensi menimbulkan masalah dengan gaya baru pula??? Seperti yg saya bilang, sebagian org indonesia ''cerdas'' dalam membuat celah nakal. Kadang konsistensi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) juga setengah hati sih. Kalo mood baik semangat 45 kalo moody abs aja (asal babe senang). Sekedar usul, bs gak seluruh isi trit ini di copy paste, dicetak, terus dikirim ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pusat, menhub dan dirjen sepur??? Gimana om momod??? Mungkin dengan membaca isi trit ini mereka bs fresh membuat solusi ato kebijakan ttg calo ini. Biar resmi saat dikirimkan diatasnamakan  .com disertakan tandatangan dari semua member yg posting. Sebab semua isi di trit ini pada akhirnya ya kembali lagi ke yg berwenang membuat aturan perkeretaapian.
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
Ada ide lagi tapi dengan langkah2 seperti ini :
* Aku ambil contoh di stasiun Gambir
Semisal aku berempat turun dari bus TJ hendak ke sisi selatan krn mau gak mau jarak terdekat dari halte TJ Gambir 2 yah sisi selatan. Pas ada tulisan pintu masuk ada pegawai stasiun cewek dg pakaian spt pelayan loket menyapa "Selamat siang, berapa orang bapak datang kemari?"sapanya. -> "4 orang" jawab aku. "Mau ke mana pak?"tanyanya. -> "Ke Yogyakarta..."jawabku. -> "Hmm... utk hari ini yah pak? Ditunggu sebentar, kebetulan kami masih menyediakan KA Argo Lawu untuk keberangkatan nanti malam..."jelasnya. -> Sudah pasti aku bertanya2, kenapa enggak Taksaka II. Dijelasin darinya kalau Taksaka II sudah habis terjual. Akan ditambah 1 kereta lagi kalau misalnya pemesan > 20 calon penumpang. Di bawah itu tidak akan ditambahin. -> Setelah berunding dan di belakangnya masih mengantri akhirnya aku pun serombongan tetap setuju aja naik si Argo Lawu.
Dari dialog2 di atas asumsi si pelayan loket gak asal naikin tarif KA dan loket pun ditiadain. Jadinya maksud aku loket cuma berlaku utk perjalanan KA komuter alias dalam hal ini semua KRL AC Jabodetabek. Abisan pake loket pun percuma... yang ada alasannya karcis ABIS... BIS... BISSSS.... melulu....
Posts: 358
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
2
setuju skali dgn usulan E-ticketing yg lazim d terapkan di penjualan ticket pesawat...
memang agk ribet tapi dgn sistem ini konsumen tidak akan lagi menjadi "mangsa empuk" para calo & dapat menghilangkan praktek calo./
hidupkan lagi jalur KTA - PWR & feeder purworejo..
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
saya setuju dengan E-ticketing usulan mas bangunkarta dan bro d'trainer tersebut di atas.
nah sambil menunggu hal tersebut terwujud, sebagai langkah awal, untuk saat ini sebaiknya jangka waktu pemesanan tiket diperpanjang. kalau bisa sih sampai 6 bulan sehingga calon penumpang bisa membeli tiket lebih awal dan tidak terjadi antrian yang panjang di loket ticketing. dengan tidak adanya antrian yang panjang di loket ticketing maka konsumen dari calo tersebut akan berkurang sehingga peluang calo untuk menawarkan tiket kepada calon penumpang yang tidak kebagian tiket akan berkurang juga.
KA Sumber Kentjono
Posts: 6,463
Threads: 0
Joined: Jul 2008
Reputation:
1
bener banget, pakai sistem e-ticketing bisa menghapus total sistem percaloan, bila perlu beli tiket di ATM sdh dapet nomer tempat duduk....
Posts: 1,336
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
18
Di berita siang yg saya liat bbrp waktu lalu katanya mesin e-ticketing yg sdh ada di stasiun2 tertentu tidak dioperasikan dan malah ada yg rusak. Ktnya pengoperasian akan dilakukan tahun 2012. Itu kata reporternya loh.
Pertanyaannya, apa benar tuh beritanya di lapangan (nyata) kayak yg dilaporin tuh berita siang????? Kalo emang udh mantep mau pake e-ticketing, secepatnyalah disosialisakan ke masyarakat luas pengguna jasa kereta api.
Paling tidak jauh2 hari sebelum lebaran masyarakat sudah diajarkan sedetil2nya dan dibiasakan menggunakan e-ticketing. Juga sistem IT nya jgn asal2an, ntar pas peak season ERROS deh.
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
Posts: 1
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
0
(07-05-2011, 07:35 PM)dtRAiNeR Wrote: Izin buat thread baru ya...
Akhir-akhir ini para calon penumpang sering terganggu oleh kehadiran "penjual hitam" tiket a.k.a. para calo tiket. Kalo boleh tau, di stasiun mana saja banyak terdapat calo tiket, bahkan kalo bisa dibilang sangat mengganggu?
Kalo saya sih selama ini baru nemu di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Di Bandung, yg konon ada calo juga, saya belum pernah nemu...
Ceritanya begini. Tanggal 04 Mei silam, saya dan ayah saya berencana pulang ke Bandung menggunakan KA Argo Parahyangan 028, jam 19:00 dari Gambir. Setiba kami di loket, si petugas cewek di loket tidak langsung melayani kami.
Kontan datang seorang pria yg tak diundang, lalu menawarkan tiket travel sebesar Rp. 60 ribu. Dengan mentah-mentah langsung kami tolak tawaran tersebut.
Tapi, ulah pria tak diundang (dan tak diharapkan) ini tak kunjung usai. Diapun bertanya "mau naik kereta atau travel". Beruntung si mbak penjual karcis langsung melayani kami. Kami pun langsung membeli tiket pada petugas resmi itu dan "menjadikan" calo tadi bak tiang listrik yang bisa berbicara.
Lalu, bagaimana cara membasmi hama-hama ini yg sudah sangat mengganggu, baik pihak penumpang maupun PT KA sendiri? Sampai kapan para calo tetap "merajalela" di stasiun-stasiun besar di Indonesia?
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
Saya mau tanya nich, kalo sistem e-ticketing diterapkan trus nasib para calon penumpang yg nggak punya tabungan ber-kartu ATM gimana tuch...? Cara dapetin tiketnya tanpa diganggu calo seperti apa...?
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
|