Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Trip Report Keliling Eropa di tahun 1999.
#11
Kegiatan saya selama di Luzern cukuplah padat. Mulai dari mengunjungi kampus kakak saya di Luzern (di tahun 2007, saya sempat mendaftar masuk ke kampus ini, diterima, tapi kemudian menolak masuk karena kekecewaan saya terhadap dunia kerja perhotelan), menemani orang tua saya berkeliling Luzern, dan melihat toko-toko perhiasan dan jam di sana (walaupun penampilannya sederhana dan bersahaja, tapi harga barangnya bisa membuat anda bangkrut!), sekaligus melihat-lihat obyek wisata di sekeliling Luzern.


[Image: 5wgvt4.jpg]

Sayapun juga berkesempatan untuk naik “trolley bus” yang ada di Luzern. Bis ini sebenarnya mirip dengan bis kota biasa. Hanya bedanya dia menggunakan tenaga listrik, bukannya mesin diesel seperti mayoritas bis di dunia (dan Indonesia). Listriknya sendiri tidak berasal dari baterai, melainkan dari kabel LAA seperti KRL di Jakarta, sehingga otomatis di atapnya ada pantograph untuk mengambil arus. Sopir bis tentunya harus sangat terlatih, karena dia tidak hanya dilatih untuk mengemudikan kendaraan besar seperti bis, tetapi juga mengenali rute-rute yang harus dia lewati, atau jalan-jalan di Luzern yang ada kabel LAA untuk trolley bus. Tanpa LAA, bisnya langsung mogok!
Naik trolley bus sendiri tidak beda dengan naik bis biasa. Yang berbeda adalah absennya suara deru mesin diesel. Sebagai gantinya, anda malah mendengar deru suara motor listrik dari bawah bis. Bis-bis “trolley bus” ini waktu itu sudah menggunakan transmisi otomatis semua.

Sebenarnya di kota Luzern sendiri ada juga layanan bis kota bermesin diesel. Tapi fungsinya lebih sebagai “feeder” trolley bus ini, jadi rute-rute bis kota konvensional hanya melayani daerah pinggiran Luzern, tidak sampai tengah kota karena di tengah kota sudah ada trolley bus.
Kota Luzern sendiri, menurut saya, adalah kota yang penampilannya seperti “terhenti” di akhir dekade 1960an dan awal 1970an. Saya heran bahwa banyak rumah-rumah baru yang dibangun dengan desain arsitektur ala awal dekade 1970an. Saya tak menemui shopping mall dengan arsitektur modern di sana. Kontras sekali dengan negara barat satu lagi yang pernah saya kunjung, Australia. (Belakangan saya diberi tahu oleh para mantan dosen saya di Enhaii bahwa daerah Swiss Jerman memang begitu. Sedangkan Swiss Perancis sedikit lebih moderat dan terbuka).


[Image: 394079267_eab0a3c176_b.jpg]

Di Luzern saya juga menyempatkan diri untuk mampir ke museum Transportasi Swiss yang terletak di kota itu. Museum ini terletak di pinggi sebuah jalur KA utama. Saya tak tahu kemana jurusannya, tapi di situ ada juga sebuah sepur belok yang bercabang dari jalur tadi dan masuk langsung ke areal museum tersebut. Sepur belok itu berfungsi untuk membawa keluar masuk koleksi yang ada di dalam museum itu.

Hanya sayangnya, karena saat itu saya belum (kembali) menjadi railfans, jadi saya tak masuk sepeserpun ke bagian kereta apinya. Kalau saya waktu itu sudah jadi railfans, mungkin saya akan senang melihat koleksi KA-KA tua yang ada di sana. Termasuk juga (katanya) sebuah layout KA model di dalam. Malah belakangan saya insyaf: waktu saya datang itu, sebenarnya ada sebuah replika lokomotif pertama buatan Jerman “Der Adler” yang sedang dipamerkan di situ. Momen langka memang, karena biasanya dia ditaruh di sebuah museum terkenal di Jerman (Munich?) dan jarang dibawa keluar.

Sayangnya...saya tak melihatnya.

Keesokan harinya kami sekeluarga bersiap untuk etape berikutnya, yaitu ke Frankfurt, Jerman. Kami menitipkan koper-koper besar kami di hotel tempat kami menginap di Luzern, dan akan mengambil kembali nantinya sebelum kembali ke Indonesia. Pemilik hotel itu rupanya cukup baik juga mau menerima penitipan barang kami tanpa menarik biaya sepeserpun untuk penitipan itu.

Rencana hari itu kami akan naik KA reguler Swiss dari Luzern menuju ke kota kecil bernama Olten. Kota kecil ini adalah kota percabangan jalur utama KA Zurich-Geneva dan Luzern-Basel. Di Olten kami akan berganti KA, dan naik KA super cepat ICE yang terkenal itu. Saya pun entusias sekali mendengar rencana itu, karena saya sudah bolak-balik mendengar dan melihat foto KA itu di buku dan majalah. Kali ini saya akan menaikinya sendiri. Hore!!!

Setelah selesai urusan dengan hotel, kami langsung pergi ke stasiun Luzern. Oya, waktu pertama datang ke Luzern saya sempat agak heran dengan stasiun ini, karena tak seperti stasiun-stasiun besar di Swiss, desain stasiun ini khas ala 1970an. Rupanya di depan stasiun itu ada semacam tugu/monumen yang tak lain adalah pintu masuk bangunan stasiun yang lama. Di tugu itu ada plakat yang bertuliskan bahasa Jerman dan Perancis. Sayangnya saya tak mengerti kedua bahasa itu. Yang jelas di tulisan itu ada angka tahun, yaitu 1856, 1896, dan tanggal 5 Februari 1971.
Belakangan saya tahu kalau 1856 adalah tahun pembukaan stasiun tersebut. Tahun 1896 adalah tahun peresmian stasiun baru yang lebih besar. Dan tanggal 5 Februari 1971 tanggal dimana stasiun aslinya hangus terbakar, menyisakan gerbang itu sebagai monumen peninggalan sejarah stasiun yang lama.


[Image: 2qiqznm.jpg]

Seperti halnya stasiun Zurich, stasiun Luzern berfungsi juga seperti sebuah shopping mall, dimana banyak toko-toko dibuka di situ. Jadi tampaknya di kota-kota besar di Swiss tak ada shopping centre. Dan stasiun berfungsi sebagai shopping centre atau mall, karena di situlah konsentrasi kepadatan masyarakat berada.

Di peron stasiun Luzern saya bisa melihat ada beberapa kereta api di sana. Mulai dari yang modern, termasuk sebuah lokomotif Swiss terkenal (Seri 2000, atau Re 460 menurut perusahaan KA Swiss) yang didesain oleh Pininfarina (desainer mobil sport Ferrari), hingga beberapa lokomotif tua yang tampaknya sudah beroperasi dari tahun 1940an. Semuanya dalam kondisi bersih dan sehat, tanpa ada dekil sedikitpun.
Gerbong-gerbong juga bervariasi, hanya bedanya mereka sepertinya jauh lebih modern daripada lokomotifnya. Tampaknya paling tua adalah yang buatan tahun 1980an. Ada juga beberapa gerbong double decker. Tapi yang unik adalah beberapa gerbong yang diperlengkapi kabin masinis di ujungnya.
Belakangan saya tahu kalau KA itu beroperasi dengan sistem “push-and-pull” dimana jika KA berbalik arah, lokomotif tak usah dilangsir. Cukup dengan dikendalikan dari kabin tersebut. Di Indonesia, sistem ini bisa dijumpai di KRDE “Prambanan Express” atau “Baraya Geulis”, hanya besanya kalau KRDE mesin berada di “power unit” yang bersatu dengan rangkaian KA, sementara di sini mesin berada di lokomotif yang terpisah.

Kira-kira sekitar jam 9 pagi, kami bertolak menuju ke Olten, menggunakan KA reguler milis Swiss. Interior KA ini mengingatkan saya dengan beberapa KA eksekutif di Indonesia di tahun 1980an. Warnanya didominasi warna cokelat, atau warna “earthy”. Kursinya paten dan saling berhadapan. Tak ada sistem hiburan. Rak bagasi berada diatas gerbong, dan bentuknya.....seperti rak pada umumnya.
Sebenarnya jika dibandingkan dengan gerbong EXA Indonesia di tahun itu, desain gerbong itu terkesan ketinggalan jaman. Hanya perawatan yang sangat baik (kontras dengan di kita yang setengah hati) membuat kereta api jauh lebih baik dari yang ada di Indonesia.

Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan di luar yang asri dan alami. Langit yang biru, serta pegunungan yang agak menghijau kecoklatan, plus salju di puncaknya.
Walaupun di sepanjang jalan saya juga menemui beberapa pabrik, tapi itu tak membuat daerah tersebut terkesan urban dan sumpek. Yang unik, jalur-jalur cabang di sepanjang jalan banyak sekali. Dan tak semua jalaur cabang mengarah ke pabrik besar. Beberapa pabrik kecil juga ada yang dilayani jalur cabang!

Hal unik lainnya adalah di angkasa sepertinya banyak sekali pesawat yang lewat. Kalau saya hitung ada sekitar 10 pesawat yang saya lihat di angkasa. Padahal saya biasanya di rumah di Surabaya tak pernah melihat lebih dari 2 pesawat secara bersamaan di angkasa.

Di dalam kereta ini kami juga menemui keramah tamahan ala Swiss. Sewaktu kami mau berfoto bersama, ada seorang penumpang orang Swiss yang dengan senang hati menawarkan untuk memotret kami, agar kami semua bisa dipotret. Ini adalah salah satu dari beberapa sifat ramah tamah ala orang Swiss. Berdasarkan penilaian saya, orang Swiss itu sangat ramah, rendah hati, dan tidak banyak macam. Walaupun di kota besar seperti Zurich sekalipun.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan dari Luzern, kami akhirnya sampai juga di Olten. Kami tidak keluar dari stasiun, cukup hanya berpindah ke peron yang ada di tengah pelataran stasiun Olten. Di situ saya teringat, saya sebenarnya punya seorang kawan baik orang Swiss yang dulu saya temui di Australia tahun 1997. Dia tinggal di daerah (semacam kelurahan) bernama Winznau, dekat Olten.
Sayangnya, di tahun 1999 kami tak punya alamat e-mail. Kami tak punya handphone. Facebook belum ada apalagi pendiri Facebook seumuran dengan adik saya yang waktu itu masih 15 tahun (dan hingga kini kawan saya itu tak punya account Facebook, dan alamat e-mailnya sudah “mati” sehingga saya sudah putus kontak dengan dia), sehingga saya bertemu dia walaupun rumahnya dekat dengan stasiun. Bahkan sayapun tak pernah bertemu dia lagi. Kemanakah kau Heinz?

Kami menunggu sebentar saja di stasiun ini sekitar 15 menit. Kemudian dari arah timur, datanglah KA cepat ICE dari Interlaken. Saya sendiri cukup kagum begitu melihat kereta berwarna putih dengan strip merah di badannya datang dengan cepat. Sayapun tak menyia-nyiakan momen untuk memotretnya (sayangnya, begitu filmnya dicetak di Surabaya, ternyata fotonya “terbakar”!). ICE yang saya naiki itu kalau tak salah adalah ICE generasi pertama (ICE 1) yang mempunyai power unit di kedua ujung rangkaian.


[Image: 343fypj.jpg]

Melihatnya saja sudah menimbulkan kekaguman, apalagi saat itu saya langsung menaikinya! Interior KA ICE itu cukup nyaman. Didominasi oleh warna merah jambu tua. Kursinya paten semua, dan di beberapa bagian ada yang berhadapan, dengan meja paten di tengahnya. Yang unik antara bordes dengan kabin hanya dibatasi oleh partisi. Sebagian malah partisi kaca. Interior kereta benar-benar dibuat “full pressurized” seperti kabin pesawat (termasuk areal sambungan), agar penumpang merasa cukup nyaman dan tak terganggu pada saat kereta berjalan dengan kecepatan tinggi.
Kursinya juga cukup besar sekali. Sehingga kami merasa nyaman sekali duduk di situ. Tidak ada TV di dalam, sebagai gantinya, ada semacam colokan untuk earphone di sandaran tangan. Anehnya, tak ada satupun petugas di KA yang membagikan earphone (sepanjang perjalanan saya tak melihat ada Prama atau Prami) sehingga saya menggunakan earphone walkman yang saya bawa dari rumah. Channel musiknya bisa diganti-ganti. Yang unik, musik yang dimainkan adalah musik-musik berbahasa Inggris, yang dinyanyikan oleh penyanyi Jerman.

Lima menit setelah kami naik, kereta ICE langsung berangkat. Perjalanan berlangsung dengan sangat mulus.sekali. Namun karena di Swiss tidak ada jalur khusus kecepatan tinggi (dan di Jermannya sendiri juga belum banyak waktu itu) kereta ICE hanya berjalan dengan kecepatan “pelan”. Tapi sepelan-pelannya, saya bisa melihat di layar speedometer besar di bordes kalau kereta berjalan dengan kecepatan 150 km/jam!

Beberapa menit kemudian kereta sampai di Basel, sebuah kota di perbatasan Swiss-Perancis. Di sini, krew kereta berganti dari krew Swiss ke krew Perancis. Sebagai catatan, walaupun banyak kereta beroperasi lintas batas, biasanya begitu memasuki negara tertentu, kereta dioperasikan oleh krew (masinis dan kondektur) negara bersangkutan.

Setelah berhenti selama 15 menit, kereta berangkat lagi. Tapi saya sempat kaget begitu merasa keretanya berjalan mundur! Rupanya stasiun Basel adalah stasiun buntu, dan kereta berjalan ke jalur lain yang mengarah langsung ke Jerman. Sayapun langsung bertukar tempat duduk. Mudah saja karena waktu itu tak banyak penumpang di dalam kereta. Apalagi yang kami naiki adalah Kelas 1 (berkat Europass, kami bisa naik di Kelas 1 dengan harga yang lebih miring dari Kelas 2 sekalipun).

Pada perjalanan rute Basel-Frankfurt kereta berjalan dengan lebih cepat. Saya perhatikan paling pelan kereta berjalan dengan kecepatan 180 km/jam. Tapi umumnya kereta berjalan dengan kecepatan sekitar 220-240 km/jam.

Pemandangan alam di rute ini tak banyak beda denga ruta Luzern-Olten. Hanya kali ini tidak banyak pegunungan, serta padang rumput dan sawah (gandum) lebih luas dan lapang. Area urbannya juga tidak banyak.

Secara teoritis di perbatasan Swiss-Jerman, paspor dan visa kami seharusnya diperiksa oleh petugas imigrasi. Tapi entah kenapa, rasanya sepanjang perjalanan saya tak menemui petugas imigrasi sama sekali. Paling juga seorang kondektur Deustche Bundesbahn yang berumur sekitar akhir 30an yang dengan ramah memeriksa karcis dan Europass kami.

Walaupun tak berjalan dengan kecepatan maksimalnya, tapi kereta ICE ini berjalan dengan cukup cepat dan stabil. Malah di beberapa bagian yang bersebelahan dengan jalan tol, terlihat ICE bisa dengan mudah menyalip semua mobil di jalan tol.

Dari dalam kereta saya bisa melihat kalau jaringan jalan KA di Eropa sangat padat sekali. Berkali-kali kita melewati percabangan. Ada juga jalur KA yang lewat di jalan layang diatas jalur yang dilewati KA. Saya juga beberapa kali melihat rangkaian KA pembawa mobil (VW Kodok generasi baru) yang berhenti di stasiun-stasiun sepanjang jalan.

Mendekati Frankfurt, kereta mulai memasuki jalur yang kalau saya perhatikan mirip jalan TOL nya KA, karena posisinya agak terpisah dengan jalur KA biasa. Rupanya kami memasuki jalur super cepat. Dan di sini KA ICE yang kami naiki mulai menunjukkan kekuatannya. Pada satu saat, saya perhatikan dia berjalan dengan kecepatan 310 km/jam!

Beberapa menit kemudian kereta berhenti di sebuah kota di selatan Frankfurt. Saya tak ingat nama kotanya, tapi kalau tidak salah itu adalah Mannheim. Di kota itu juga banyak sekali tremnya. Hanya rolling stock tremnya lebih modern dibandingkan dengan yang saya lihat di Zurich.

Selepas kota tadi kereta ICE saya mulai ngebut lagi. Tampaknya menjelang Frankfurt, kereta melewati jalur super cepat karena kereta sering berjalan dengan kecepatan diatas 300 km/jam. Sayangnya, karena daerah perkotaan mulai padat, di beberapa tempat jalur kereta api ditutupi tembok yang tinggi, sehingga saya tak bisa melihat pemandangan keluar.

Menjelang Frankfurt kereta mulai melambat, dan kemudian kereta memasuki pelataran stasiun Frankfurt yang besar sekali. Kebetulan kereta sampai di Frankfurt siang hari di hari Sabtu, sehingga lalu lintas keretanya cukup padat. Begitu masuk ke stasiun Frankfurt, kami mengemasi barang kami dan keluar dari kereta.


[Image: 2rpp3ki.jpg]

Saya cukup kagum juga melihat stasiun Frankfurt yang besar. Semua peronnya diberi atap. Atapnya sendiri lebih besar dari atap peron stasiun Tanjung Priok di Jakarta. Itupun terdiri dari beberapa atap! Sungguh luar biasa. Dan walaupun perkembangan teknologi berjalan sangat progresif di Jerman, tapi mereka tak melupakan akar masa lalu mereka, sehingga cukup unik juga melihat bangunan bergaya klasik ala stasiun Frankfurt berpadu dengan KA-KA Jerman yang canggih itu (termasuk ICE yang baru saya naiki tadi).

Kamipun langsung keluar dari stasiun dan mencari hotel tempat penginapan. Selama di Eropa, kami tinggal di hotel yang terdaftar sebagai member di Europass, karena dengan itu kami bisa mendapat diskon.

Selama di Swiss dan Jerman, kakak saya bertindak sebagai penterjemah, sehingga tak susah mencari tempat-tempat atau menawar harga barang selama di negara berbahasa Jerman. Setelah bertanya dengan petugas di stasiun, kami langsung menuju ke hotel yang ternyata tak jauh dari stasiun.

Di depan stasiun, kebetulan ada jalur trem, dan saya tentunya cukup kagum dengan tram yang lalu lalang di depan stasiun. Yang aneh, walaupun tremnya terlihat cukup modern (malah lebih modern daripada yang di Zurich), tapi jalurnya banyak yang tertutup rumput, sehingga terkesan tak terawat.

Setelah check in ke hotel, dan meletakkan barang di sana, kamipun langsung pergi berjalan-jalan keliling kota Frankfurt naik tram. Tak ada yang beda rasanya dibandingkan dengan naik tram di Zurich, hanya yang tak saya rasakan adalah ternyata tram ini berjalan lebih cepat dari yang saya kira. Jadi perjalanan melintasi beberapa blok kota dari stasiun ke kota tua Frankfurt terasa dekat. Padahal tidak!

Begitu sampai ke kota tua Frankfurt, kami melihat-lihat suasana kota yang mengingatkan saya dengan kota tua di jaman waktu komposer-komposer musik klasik Jerman masih ada. Dan gaya berpakaian orang-orang di sana yang modern, menjauhkan saya dari kesan Jerman di jaman Nazi. Beberapa artis jalanan ada yang beraksi. Ada yang main akrobat atau main musik. Termasuk juga seorang penyanyi opera wanita yang menyanyikan lagu klasik dengan nada tinggi.

Yang mengherankan, walaupun waktu itu pukul 2 siang, tapi hawanya dingiiiin sekali! Saya lihat di termometer 3 derajat celcius!!! Padahal tidak ada salju. Otomatis saya benar-benar menggigil kedinginan, dan merasa kesakitan. Walaupun celana sudah rangkap tiga, dan saya sudah menggunakan sarung tangan, tapi tetap saja tidak ada gunanya.
Sayapun langsung mencari perlindungan di salah satu toko souvenir di dekat situ. Kebetulan orang tua saya juga sedang melihat-lihat di dalamnya. Ah...hangat!

Setelah bermain-main di kota tua, kami kembali ke hotel untuk makan malam dan beristirahat.

BERSAMBUNG....
Reply
#12
Ini yang di tunggu untuk study banding antara lain dari foto tsb;
1. Trem kota yang tertata dan bersinergi dengan mobil.
2. Musium yang rapi dan tertutup adalah suatu hikmah.
3. jalur lintas jarak jauh yang jauh dari pusat tetap bersih dari rumput serta tetap kelihatan kokoh safety.
mantap...Top Banget
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#13
(22-04-2010, 09:24 PM)eko winarno Wrote: Ini yang di tunggu untuk study banding antara lain dari foto tsb;
1. Trem kota yang tertata dan bersinergi dengan mobil.
2. Musium yang rapi dan tertutup adalah suatu hikmah.
3. jalur lintas jarak jauh yang jauh dari pusat tetap bersih dari rumput serta tetap kelihatan kokoh safety.
mantap...Top Banget

Hmm...saya kadang kepikiran, gimana kalau bekas depo Purwakarta dijadikan museum KA? Mikir Dulu
Reply
#14
(23-04-2010, 11:06 AM)bagus70 Wrote:
(22-04-2010, 09:24 PM)eko winarno Wrote: Ini yang di tunggu untuk study banding antara lain dari foto tsb;
1. Trem kota yang tertata dan bersinergi dengan mobil.
2. Musium yang rapi dan tertutup adalah suatu hikmah.
3. jalur lintas jarak jauh yang jauh dari pusat tetap bersih dari rumput serta tetap kelihatan kokoh safety.
mantap...Top Banget

Hmm...saya kadang kepikiran, gimana kalau bekas depo Purwakarta dijadikan museum KA? Mikir Dulu


Dan ini pernah tak bahas di los Bunder supaya di jadikan musium bekas dipo Purwakarta atau los bunder lempuyangan.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#15
Dan seterusnya...dan seterusnya. OK, saya masih ada tiga cerita lagi yang perlu digarap.
Reply
#16
Lanjut lagi bos TR nya
Kapan saya bisa kesana Ngiler
Ku mau terbang dan tenggelam, menjalani semua ini .....
"Terbang Tenggelam" ~ song by NETRAL
Reply
#17
Masih saya garap. Bab berikutnya tentang kegiatan di Frankfurt, termasuk lihat Rhine Valley, dan perjalanan dari Frankfurt ke Paris.
Reply
#18
(29-04-2010, 12:06 PM)bagus70 Wrote: Masih saya garap. Bab berikutnya tentang kegiatan di Frankfurt, termasuk lihat Rhine Valley, dan perjalanan dari Frankfurt ke Paris.

ijin nyimak den bagus....
Xie Xie
Reply
#19
Sorry trip reportnya belum selesai. Karena kemarin saya ke Surabaya. Ini baru balik ke Bandung.
Reply
#20
(11-05-2010, 08:49 PM)bagus70 Wrote: Sorry trip reportnya belum selesai. Karena kemarin saya ke Surabaya. Ini baru balik ke Bandung.

ga papa den bagus, kita tunggu koq ceitanya, pengen ngalamin sendiri euy perjalanannya....
Ngiler
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)