14-05-2010, 08:36 PM
Kesuksesan B.J. Habibie dalam menuntut ilmu serta membangun karir di Jerman, hingga menjadi salah satu eksekutif sebuah perusahaan pesawat terkenal, rupanya menginspirasi banyak orang Indonesia untuk menuntut ilmu di Jerman.
Makanya itu di sana kami tidak seperti orang asing di Swiss, karena di sana kami banyak bertemu orang-orang Indonesia. Seperti sekeluarga orang Indonesia yang mengantarkan anaknya untuk menuntut ilmu di sebuah universitas di kota kecil dekat Frankfurt, serta ada seorang lelaki dari Bali (yang menikah dengan wanita Jerman) yang menunjukkan jalan ke kami.
Keesokan harinya, setelah memutari kota Frankfurt, kami pergi menuju ke sebuah kantor biro wisata lokal yang menawarkan wisata perjalanan keliling daerah Frankfurt. Ada 2 pilihan yang bisa kita ambil: keliling dalam kota Frankfurt, atau pergi menuju ke lembah sungai Rhein (Rhine Valley).
Tadinya kami hampir saja memilih yang pertama. Namun kalau dipikir-pikir, hari itu adalah hari minggu, dan seperti halnya kota-kota di Eropa kalau hari minggu biasanya banyak yang tutup. Memang saat itu kota Frankfurt sedang sepi sekali. Pastinya akan membosankan. Oleh karena itu kami memilih yang kedua.
Setelah beberapa menit menunggu para turis lainnya, yang rata-rata berasal dari Amerika atau Kanada, kamipun berangkat dari kantor biro wisata tadi menuju ke sebuah halte bis, dimana di tempat itu sebuah bis wisata yang besar menunggu. Selama perjalanan kami dipandu oleh seorang pemandu wisata yang blasteran Jerman-Perancis. Beliau memandi kami dari kantor biro wisata ke halte bus tadi.
Begitu semua peserta tour masuk, bus langsung berangkat menuju ke luar kota Frankfurt. Sepanjang perjalanan pemandu wisata cukup banyak menceritakan tentang tempat-tempat yang di pinggir jalan. Mulai dari areal industri yang membosankan, hingga sebuah pangkalan Militer AS yang kami lewati di Wiesbaden.
Di perjalanan, jalan raya makin lama makin merapat dengan sebuah jalur KA yang cukup ramai. Yang unik, di kejauhan saya juga bisa melihat ada jalur KA juga yang cukup ramai. Jalur ini searah dengan jalur yang ada di pinggir jalan ini.
Makin lama, kedua jalur itu makin berdekatan. Dan diantara keduanya ada sungai yang lumayan besar. Selain itu makin lama kami serasa seperti memasuki sebuah lembah. Inilah rupanya lembah sungai Rhein yang terkenal itu. Pemandangannya cukup spektakuler sekali.
Setelah beberapa menit berjalan, bisa akhirnya berhenti di sebuah restoran yang terletak di pinggir rel kereta api. Kesempatan ini tetntu saja tak saya sia-siakan untuk melihat KA yang lewat. Mulai dari KA barang, hingga sebuah KA ICE yang kebetulan lewat.
Yang istimewa bagi saya saat itu adalah merasakan makanan yang disajikan. Maklum sepanjang jalan kami hanya makan McDonalds atau makanan yang dibawa dari Indonesia. Menu yang disajikan adalah Chicken Schnitzel yang disajikan dengan saus yang belakangan saya ketahui sebagai saus Bearnaise. Karena tekstur dan aromanya mirip Mayonaise, tapi rasanya tidak kecut. Yang saya sayangkan waktu itu adalah kenapa kok sayurnya tak saya makan? Padahal sayurannya terdiri dari tumbuhan yang tak tumbuh di Indonesia.
Seusai makan saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di balkon atas restoran. Dari sini kita bisa melihat pemandangan lembah sungai Rhein dengan lebih luas. Kebetulan di balkon saya juga menemui dan ngobrol beberapa eksekutif muda dari Korea Selatan yang kebetulan mengikuti tour, sambil menunggu connecting flight yang masih lama sekali. Dan setelah semua peserta tour selesai makan dan ngobrol, acara tour dilanjutkan.
![[Image: 2jfhlxc.jpg]](http://i44.tinypic.com/2jfhlxc.jpg)
Acara wisata sungai Rhein pada hari itu adalah acara mengarungi sungai Rhein dengan kapal wisata, sambil ditemani oleh sang kapten yang Jerman totok, tapi ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, serta mengunjungi sebuah (≖᷆︵︣≖) diatas bukit. Dari atas bukit, saya bisa melihat pemandangan sungai Rhein dengan jelas, lengkap dengan KA-KA yang lewat. Seusai acara itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat, karena besoknya harus bertolak ke Paris.
Saat subuh, setelah check out, kami langsung menuju ke stasiun Frankfurt untuk naik KA menuju ke Paris. Waktu kami datang, KA yang akan membawa kami masih belum datang, sehingga kami menyempatkan diri untuk mencoba miniatur KA model yang ada di situ.
![[Image: 2u5vn9k.jpg]](http://i42.tinypic.com/2u5vn9k.jpg)
(Saya memakai jaket biru tua di tengah)
Miniatur ini adalah miniatur KA model Marklin skala HO yang dioperasikan dengan memasukan koin ke slotnya. Begitu koin dimasukkan, kita bisa mengatur kecepatan KA selama beberapa putaran sebelum berhenti sendiri. Model KA yang dipakai adalah model KA ICE. Kontrol miniatur ini menggunakan analaog, bukan DCC. Mungkin karena lokasinya yang di tempat umum (dan dioperasikan orang awam) sehingga tidak memerlukan kontrol yang rumit seperti DCC.
Matahari masih belum terbit, tapi stasiun Frankfurt sudah ramai dengan aktivitas di hari senin, dimana para karyawan dari kota-kota di pinggir Frankfurt mulai berdatangan untuk memulai aktifitas kerja mereka. Dan tak lama kemudian datanglah kereta yang akan kami naiki. KA tersebut adalah KA milik SNCF Perancis, dan rupanya merupakan satu-satunya KA milik Perancis diantara jajaran KA Jerman yang ada di stasiun Frankfurt.
Kamipun langsung menaiki KA tersebut. Tak seperti KA-KA Jerman dan Swiss yang kami naiki sebelumnya, interiornya terdiri dari beberapa kompartemen yang didalamnya ada 8 tempat duduk yang saling berhadapan. Tak lama kemudian keretapun mulai bertolak menuju ke Paris... Perjalanan ke Perancis bisa dibilang keluar dari “zona nyaman†karena tak satupun dari kami bisa bahasa Perancis. Kakak saya memang fasih bahasa Jerman, tapi hanya itu saja bahasa Continental Europe yang dipahami kakak saya.
Pada awal perjalanan, saya bisa melihat suasana pinggiran kota Frankfurt yang sebagian tampaknya masih belum bangun juga, karena memang masih agak gelap. Saya juga agak kagum melihat kota Frankfurt yang walaupun merupakan pusat perdagangan Jerman, tapi kerapiannya masih terjaga.
Di sisi lain, saya juga melihat kalau kualitas KA milik SNCF ini lebih buruk dibandingkan dengan KA milik DB Jerman atau SBB Swiss. Ini bisa dilihat dari WC nya yang tak menggunakan tangki penampunyan, sehingga kalau anda buang air “bingkisan†anda langsung dibuang di rel. Selain itu kualitas insulasi gerbongnya juga jelek sehingga suara-suara dari luar masih terdengar jelas. Insulasi yang jelek ini juga terasa sangat mengganggu kalau KA memasuki terowongan. Karena kereta berjalan sangat cepat (mungkin sekitar 180-200 km/jam) ketika memasuki terowongan tekanan udara di kabin menjadi tinggi secara mendadak, sehingga ini membuat gendang telinga terasa sakit sekali.
Gangguan lain selama perjalanan adalah....kentut! Ini rupanya karena saya kebanyakan makan yoghurt! Harus saya akui bahwa yoghurt yang disajikan di hotel di Jerman enak sekali! Rasanya hampir menyerupai vla, jadi rasa manis dan aroma vanillanya sangat dominan sehingga membuat rasa masam khas yoghurt menjadi tak terasa. Apalagi dimakan menggunakan buah kaleng...yum!!! Saya ingat kalau setiap pagi, saya bisa menghabiskan tiga mangkok yoghurt. Mangkoknya sendiri juga ukurannya 2 kali ukuran mangkok bakso di Indonesia!
Akibatnya, perut saya selama perjalanan perut saya bergejolak, dan “zat radioaktif†terus keluar dari perut saya. Otomatis keluarga saya marah-marah. Sayapun akhirnya lebih memilih untuk duduk di kompartemen sebelah sendirian...
Matahari mulai terbit kira-kira 1 jam setelah kereta bertolak dari Frankfurt. Dan pemandangan di luarpun cukup didominasi oleh persawahan khas Eropa. Walaupun langit agak mendung, tapi itu tak mengurangi keindahan pemandangan di luar.
Selama perjalanan dari Frankfurt hingga perbatasan Perancis, KA ditarik oleh lokomotif Jerman. Lokomotif yang dipakai adalah lokomotif jenis BR103 yang dulu sering memecahkan rekor kecepatan di Jerman, sebelum ICE muncul. Walaupun dulu terkenal dengan warna krem-merah, tapi saat itu dia sudah dicat dengan warna biru tua.
![[Image: fvd2d0.jpg]](http://i44.tinypic.com/fvd2d0.jpg)
Menjelang perbatasan Perancis, pemandangannya mulai bercirikan daerah perbukitan rendah, dengan kota-kota kecil khas Perancis seperti yang pernah saya lihat di film-film Perancis. Dan akhirnya kereta sampai juga di kota perbatasan Forbach. Di sini lokomotif ditukar dengan lokomotif milik SNCF yang memiliki bentuk jendela yang khas, karena posisinya yang menghadap ke bawah. Dan seperti di Basel, KA juga berbalik arah sewaktu meninggalkan stasiun.
Di luar KA saya juga bisa melihat beberapa polisi Perancis berjaga-jaga. Jumlahnya tak banyak, tapi mereka sebagian dari mereka terlihat membawa senjata sub-machine gun. Tapi tak seperti polisi Perancis yang sering kita lihat di film, topi mereka mirip dengan topi polisi pada umumnya, bukan berbentuk silinder pendek seperti yang digambarkan di banyak media. Saya tahu mereka polisi Perancis karena seragamnya berwarna biru tua (kalau Jerman warnanya hijau tua).
Di Forbach juga, saya juga melihat dua petugas yang masuk sambil membawa tas yang cukup tebal. Yang satu seorang wanita berambut pirang, yang satu orang keturunan Afrika yang berkulit sangat hitam. Tadinya kami pikir mereka adalah petugas imigrasi. Rupanya begitu mereka memeriksa, mereka rupanya adalah kondektur SNCF yang merangkap sebagai petugas customer service yang membagikan kusioner ke penumpang.
Yang keturunan Afrika itu adalah yang menghandle kami. Awalnya dia berkata dalam bahasa Perancis, tapi begitu tahu kami bukan orang Perancis, dan faham bahasa Inggris, akhirnya dia berbicara dengan kami dalam bahasa Inggris.
Petugas Imigrasi yang asli justru mulai masuk KA di stasiun pertama yang disinggahi setelah Forbach (sekitar 1 jam perjalanan). Petugas-petugas itu berperilaku agak kasar, dan agresif. Mereka berjumlah sekitar 4-6 orang, yang memeriksa seluruh rangkaian KA dengan cepat. Sama seperti kondektur KA, mereka juga berbicara dengan kami (awalnya) dengan bahasa Perancis. Tapi mereka tak mau menggunakan bahasa Inggris.
Mereka dengan cepat memeriksa pasport dan visa kami, sambil mengajukan pertanyaan dalam bahasa Perancis yang tak bisa kami jawab. Si petugas sendiri juga tampaknya tak mengharapkan jawaban dari kami dan langsung pergi begitu selesai memeriksa paspor kami. Hal yang agak unik juga adalah, mereka semua tak mengenakan seragam. Mereka menggunakan baju preman, dan memperlihatkan lencana polisi mereka di dompet saat pemeriksaan.
Untungnya, semua pasport dan visa kami beres semua, sehingga pemeriksaan berjalan lancar. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya surat-surat kami ada yang tak beres, lalu kami diinterogasi dengan bahasa Croissant tersebut? Sacre bleu!!
Seusai pemeriksaan, kereta melanjutkan perjalanannya kembali. Pemandangan di daerah Perancis terlihat sedikit berbeda dengan Jerman atau Swiss. Sepanjang mata memandang yang kita lihat adalah persawahan yang lebih mirip padang rumput, karena tanamannya cukup rendah. Kata Ibu saya, itu adalah timun, tapi dugaan saya bisa saja kentang. Saya juga tak banyak melihat area industri, sehinga pemandangan pedesaan terlihat lebih bersahaja.
Terkadang saya bisa melihat beberapa rumah-rumah pedesaan di pinggir rel, yang berpagar kayu putih, dan lengkap dengan pancurannya. Sungguh menarik. Hanya sayangnya, terkadang saya juga menemui beberapa tiang tegangan tinggi yang agak merusak pemandangan.
Kontras dengan suasana pedesaannya Perancis yang alami dan bersahaja, kota Paris adalah kota yang cukup kumuh dan agak berantakan. Ini terlihat setelah beberapa jam perjalanan.
Begitu memasuki pinggiran kota Paris, beberapa daerah flat yang kumuh mulai terlihat di pinggir rel. Awalnya sedikit, tapi makin lama makin padat hingga kereta memasuki Paris. Di Paris sendiri saya juga melihat beberapa KRLnya terlihat degil dan bayak coretan. Sampah juga telihat berserakan di sebagian rel, mungkin dibuang oleh penumpang KRL yang iseng (karena beberapa KRL memiliki jendela yang bisa dibuka).
![[Image: 15qykah.jpg]](http://i41.tinypic.com/15qykah.jpg)
Setelah melalui jalur-jalur yang padat, akhirnya kereta kami memasuki stasiun Gare de l’Est di Paris. Seperti halnya stasiun-stasiun besar di Eropa, stasiun ini adalah stasiun buntu. Karena pintu keluar ada di balik sepur baduk, maka saya bisa melihat dengan jelas lokomotif yang menarik KA kami tadi.
Awalnya kami bingung harus kemana, karena tampaknya mayoritas papan penunjuk menggunakan bahasa Perancis, dan rata-rata orang Perancis merasa “tersinggung†kalau diajak bicara bahasa Inggris dulu.
Selagi menunggu, saya juga melihat-lihat interior hall utama stasiun Gare de l’Est yang cukup besar. Dari dalam hall, saya juga bisa melihat jalan raya di depan stasiun yang kelihatan cukup ruwet dibandingkan dengan jalanan di Frankfurt atau Zurich. Hall stasiun ini sendiri waktu itu juga agak kotor, karena beberapa burung yang hinggap di langit-langit hall berak sembarangan.
Beberapa menit kemudian bapak dan kakak saya datang kembali, dan langsung mengajak kami pergi ke kantor informasi yang ada di stasiun. Pelayanan di kantor informasi ini bisa dibilang sangat mengecewakan. Ego ala Perancis tetap saja dibawa petugas sama petugas, yang seharusnya membantu kita. Seperti halnya orang Perancis pada umumnya, mereka akan tersinggung kalau kita menyapa dan mengajak bicara dalam bahasa Inggris. Selain itu mungkin karena merasa superior, mereka juga setengah hati melayani kita.
Contohnya, sewaktu kami tanya dimana letak Place de La Republique dan bagaimana caranya ke sana, dengan belagunya si petugas berkata “Non monsieur, I don’t know where is that.â€Â
Goblok betul, begitu pikir saya. Masak kotanya sendiri nggak ngerti?? Setelah kami bertanya ke petugas satu yang cewek berambut pirang panjang (entah mau dibilang cakep atau nggak, karena make upnya kayanya ketebalan), si cewek menyarankan kami agar pergi ke stasiun KA bawah tanah yang ada di salah satu sudut stasiun Gare de l’Est.
(Belakangan saya tahu kalau jarak dari stasiun Gare de l’Est ke hotel kami hanya satu blok saja, dan sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki kalau mau. Apalagi trotoar di Paris kondisinya sangat nyaman untuk dilewati).
Setelah dengan susah payah membawa muatan kami melewati tangga yang sempit dan ramai, kamipun sampai ke stasiun KA bawah tanah Paris Metro.
Di peron, saya bisa melihat kalau para Parisienne memang benar-benar pintar berdandan. Pakaian yang mereka kenakan modis semua, biarpun mayoritas Parisienne nggak ada yang cakep. Saya juga melihat kalau relnya kelihat sangat berbeda dengan rel KA pada umumnya.
![[Image: 800px-Metro-Paris-Rame-MP-73-Lign.jpg]](http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9a/Metro-Paris-Rame-MP-73-Lign.jpg/800px-Metro-Paris-Rame-MP-73-Lign.jpg)
Tak lama kemudian KA metro kami datang. Saya juga agak takjub dengan KA ini karena 2 hal: rodanya ternyata menggunakan ban karet seperti mobil, dan KA ini jendelanya terbuka serta tak ber-AC. Jadi bisa dibilang kondisi angkutan KA ini tertinggal sekali jika dibandingkan yang ada di Swiss atau Jerman. Mirip sekali dengan KRL ekonomi di Jakarta, hanya penumpangnya berbaju necis semua.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit, yang terasa menyiksa karena kami harus berdesak-desakan sambil mengawasi barang bawaan kami yang banyak, akhirnya kami sampai juga di stasiun Place de La Republique.
Di sini kami langsung menuju ke hotel tempat kami menginap. Hotel ini terletak di jalan satu arah yang sempit (semacam “backstreetâ€Â) yang menanjak, dan dijejali beberapa mobil yang parkir. Yang unik, jalannya itu bukan jalan beraspal, melainkan menggunakan batu kali (seperti jalan Braga di Bandung). Memang jalan ini jauh lebih rapi dengan beberapa jalan serupa yang saya temui di Jakarta atau Bandung, tapi tetaplah agak jorok untuk ukuran Eropa Barat. Masa di situ saya melihat ada orang kencing sembarangan, dengan “menyembur†ke bagasi mobil orang?? Sudah begitu air seninya terlihat banyak sekali! Hoek!!!
Sesampainya di hotel, kami langsung check in. Petugas di hotel ini cukup telaten melayani kami, walaupun dengan pandangan sinis. Paling tidak dia masih banyak membantu kami, jika dibandingkan dengan yang tadi di stasiun. Potongan rambut, serta kumisnya yang tipis, plus bajunya yang menggunakan jas hitam rapi mengingatkan saya dengan gaya fashion ala tahun 1940an.
Namun kawannya yang di resepsionis, begitu tahu kami dari Indonesia, air mukanya langsung berubah dari kaku dan sinis menjadi langsung menyapa kami dengan senyum yang ramah sekali sambil berkata dalam bahasa Indonesia: “Apa kabar? Dari Indonesia ya? Bagus? Bagus? Selamat datang di Francaise, bapak monsieur.†Rupanya dia pernah berkunjung lama di Indonesia, dan sangat senang sekali waktu ke Indonesia (Bali), sehingga kalau ketemu orang Indonesia, dia berusaha untuk menyapa dalam bahasa Indonesia, agar (katanya) kalau ke Indonesia tidak kagok. Dia juga berkata kalau dia lebih memilih berbicara dengan kami menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris.
Walaupun bahasa Indonesianya kaku dan agak patah-patah, tapi mungkin itu adalah sifat ramah pertama yang kami jumpai semenjak menjejakkan kaki kami di negeri Menara Eiffel itu.
BERSAMBUNG.
Makanya itu di sana kami tidak seperti orang asing di Swiss, karena di sana kami banyak bertemu orang-orang Indonesia. Seperti sekeluarga orang Indonesia yang mengantarkan anaknya untuk menuntut ilmu di sebuah universitas di kota kecil dekat Frankfurt, serta ada seorang lelaki dari Bali (yang menikah dengan wanita Jerman) yang menunjukkan jalan ke kami.
Keesokan harinya, setelah memutari kota Frankfurt, kami pergi menuju ke sebuah kantor biro wisata lokal yang menawarkan wisata perjalanan keliling daerah Frankfurt. Ada 2 pilihan yang bisa kita ambil: keliling dalam kota Frankfurt, atau pergi menuju ke lembah sungai Rhein (Rhine Valley).
Tadinya kami hampir saja memilih yang pertama. Namun kalau dipikir-pikir, hari itu adalah hari minggu, dan seperti halnya kota-kota di Eropa kalau hari minggu biasanya banyak yang tutup. Memang saat itu kota Frankfurt sedang sepi sekali. Pastinya akan membosankan. Oleh karena itu kami memilih yang kedua.
Setelah beberapa menit menunggu para turis lainnya, yang rata-rata berasal dari Amerika atau Kanada, kamipun berangkat dari kantor biro wisata tadi menuju ke sebuah halte bis, dimana di tempat itu sebuah bis wisata yang besar menunggu. Selama perjalanan kami dipandu oleh seorang pemandu wisata yang blasteran Jerman-Perancis. Beliau memandi kami dari kantor biro wisata ke halte bus tadi.
Begitu semua peserta tour masuk, bus langsung berangkat menuju ke luar kota Frankfurt. Sepanjang perjalanan pemandu wisata cukup banyak menceritakan tentang tempat-tempat yang di pinggir jalan. Mulai dari areal industri yang membosankan, hingga sebuah pangkalan Militer AS yang kami lewati di Wiesbaden.
Di perjalanan, jalan raya makin lama makin merapat dengan sebuah jalur KA yang cukup ramai. Yang unik, di kejauhan saya juga bisa melihat ada jalur KA juga yang cukup ramai. Jalur ini searah dengan jalur yang ada di pinggir jalan ini.
Makin lama, kedua jalur itu makin berdekatan. Dan diantara keduanya ada sungai yang lumayan besar. Selain itu makin lama kami serasa seperti memasuki sebuah lembah. Inilah rupanya lembah sungai Rhein yang terkenal itu. Pemandangannya cukup spektakuler sekali.
Setelah beberapa menit berjalan, bisa akhirnya berhenti di sebuah restoran yang terletak di pinggir rel kereta api. Kesempatan ini tetntu saja tak saya sia-siakan untuk melihat KA yang lewat. Mulai dari KA barang, hingga sebuah KA ICE yang kebetulan lewat.
Yang istimewa bagi saya saat itu adalah merasakan makanan yang disajikan. Maklum sepanjang jalan kami hanya makan McDonalds atau makanan yang dibawa dari Indonesia. Menu yang disajikan adalah Chicken Schnitzel yang disajikan dengan saus yang belakangan saya ketahui sebagai saus Bearnaise. Karena tekstur dan aromanya mirip Mayonaise, tapi rasanya tidak kecut. Yang saya sayangkan waktu itu adalah kenapa kok sayurnya tak saya makan? Padahal sayurannya terdiri dari tumbuhan yang tak tumbuh di Indonesia.
Seusai makan saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di balkon atas restoran. Dari sini kita bisa melihat pemandangan lembah sungai Rhein dengan lebih luas. Kebetulan di balkon saya juga menemui dan ngobrol beberapa eksekutif muda dari Korea Selatan yang kebetulan mengikuti tour, sambil menunggu connecting flight yang masih lama sekali. Dan setelah semua peserta tour selesai makan dan ngobrol, acara tour dilanjutkan.
![[Image: 2jfhlxc.jpg]](http://i44.tinypic.com/2jfhlxc.jpg)
Acara wisata sungai Rhein pada hari itu adalah acara mengarungi sungai Rhein dengan kapal wisata, sambil ditemani oleh sang kapten yang Jerman totok, tapi ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, serta mengunjungi sebuah (≖᷆︵︣≖) diatas bukit. Dari atas bukit, saya bisa melihat pemandangan sungai Rhein dengan jelas, lengkap dengan KA-KA yang lewat. Seusai acara itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat, karena besoknya harus bertolak ke Paris.
Saat subuh, setelah check out, kami langsung menuju ke stasiun Frankfurt untuk naik KA menuju ke Paris. Waktu kami datang, KA yang akan membawa kami masih belum datang, sehingga kami menyempatkan diri untuk mencoba miniatur KA model yang ada di situ.
![[Image: 2u5vn9k.jpg]](http://i42.tinypic.com/2u5vn9k.jpg)
(Saya memakai jaket biru tua di tengah)
Miniatur ini adalah miniatur KA model Marklin skala HO yang dioperasikan dengan memasukan koin ke slotnya. Begitu koin dimasukkan, kita bisa mengatur kecepatan KA selama beberapa putaran sebelum berhenti sendiri. Model KA yang dipakai adalah model KA ICE. Kontrol miniatur ini menggunakan analaog, bukan DCC. Mungkin karena lokasinya yang di tempat umum (dan dioperasikan orang awam) sehingga tidak memerlukan kontrol yang rumit seperti DCC.
Matahari masih belum terbit, tapi stasiun Frankfurt sudah ramai dengan aktivitas di hari senin, dimana para karyawan dari kota-kota di pinggir Frankfurt mulai berdatangan untuk memulai aktifitas kerja mereka. Dan tak lama kemudian datanglah kereta yang akan kami naiki. KA tersebut adalah KA milik SNCF Perancis, dan rupanya merupakan satu-satunya KA milik Perancis diantara jajaran KA Jerman yang ada di stasiun Frankfurt.
Kamipun langsung menaiki KA tersebut. Tak seperti KA-KA Jerman dan Swiss yang kami naiki sebelumnya, interiornya terdiri dari beberapa kompartemen yang didalamnya ada 8 tempat duduk yang saling berhadapan. Tak lama kemudian keretapun mulai bertolak menuju ke Paris... Perjalanan ke Perancis bisa dibilang keluar dari “zona nyaman†karena tak satupun dari kami bisa bahasa Perancis. Kakak saya memang fasih bahasa Jerman, tapi hanya itu saja bahasa Continental Europe yang dipahami kakak saya.
Pada awal perjalanan, saya bisa melihat suasana pinggiran kota Frankfurt yang sebagian tampaknya masih belum bangun juga, karena memang masih agak gelap. Saya juga agak kagum melihat kota Frankfurt yang walaupun merupakan pusat perdagangan Jerman, tapi kerapiannya masih terjaga.
Di sisi lain, saya juga melihat kalau kualitas KA milik SNCF ini lebih buruk dibandingkan dengan KA milik DB Jerman atau SBB Swiss. Ini bisa dilihat dari WC nya yang tak menggunakan tangki penampunyan, sehingga kalau anda buang air “bingkisan†anda langsung dibuang di rel. Selain itu kualitas insulasi gerbongnya juga jelek sehingga suara-suara dari luar masih terdengar jelas. Insulasi yang jelek ini juga terasa sangat mengganggu kalau KA memasuki terowongan. Karena kereta berjalan sangat cepat (mungkin sekitar 180-200 km/jam) ketika memasuki terowongan tekanan udara di kabin menjadi tinggi secara mendadak, sehingga ini membuat gendang telinga terasa sakit sekali.
Gangguan lain selama perjalanan adalah....kentut! Ini rupanya karena saya kebanyakan makan yoghurt! Harus saya akui bahwa yoghurt yang disajikan di hotel di Jerman enak sekali! Rasanya hampir menyerupai vla, jadi rasa manis dan aroma vanillanya sangat dominan sehingga membuat rasa masam khas yoghurt menjadi tak terasa. Apalagi dimakan menggunakan buah kaleng...yum!!! Saya ingat kalau setiap pagi, saya bisa menghabiskan tiga mangkok yoghurt. Mangkoknya sendiri juga ukurannya 2 kali ukuran mangkok bakso di Indonesia!
Akibatnya, perut saya selama perjalanan perut saya bergejolak, dan “zat radioaktif†terus keluar dari perut saya. Otomatis keluarga saya marah-marah. Sayapun akhirnya lebih memilih untuk duduk di kompartemen sebelah sendirian...
Matahari mulai terbit kira-kira 1 jam setelah kereta bertolak dari Frankfurt. Dan pemandangan di luarpun cukup didominasi oleh persawahan khas Eropa. Walaupun langit agak mendung, tapi itu tak mengurangi keindahan pemandangan di luar.
Selama perjalanan dari Frankfurt hingga perbatasan Perancis, KA ditarik oleh lokomotif Jerman. Lokomotif yang dipakai adalah lokomotif jenis BR103 yang dulu sering memecahkan rekor kecepatan di Jerman, sebelum ICE muncul. Walaupun dulu terkenal dengan warna krem-merah, tapi saat itu dia sudah dicat dengan warna biru tua.
![[Image: fvd2d0.jpg]](http://i44.tinypic.com/fvd2d0.jpg)
Menjelang perbatasan Perancis, pemandangannya mulai bercirikan daerah perbukitan rendah, dengan kota-kota kecil khas Perancis seperti yang pernah saya lihat di film-film Perancis. Dan akhirnya kereta sampai juga di kota perbatasan Forbach. Di sini lokomotif ditukar dengan lokomotif milik SNCF yang memiliki bentuk jendela yang khas, karena posisinya yang menghadap ke bawah. Dan seperti di Basel, KA juga berbalik arah sewaktu meninggalkan stasiun.
Di luar KA saya juga bisa melihat beberapa polisi Perancis berjaga-jaga. Jumlahnya tak banyak, tapi mereka sebagian dari mereka terlihat membawa senjata sub-machine gun. Tapi tak seperti polisi Perancis yang sering kita lihat di film, topi mereka mirip dengan topi polisi pada umumnya, bukan berbentuk silinder pendek seperti yang digambarkan di banyak media. Saya tahu mereka polisi Perancis karena seragamnya berwarna biru tua (kalau Jerman warnanya hijau tua).
Di Forbach juga, saya juga melihat dua petugas yang masuk sambil membawa tas yang cukup tebal. Yang satu seorang wanita berambut pirang, yang satu orang keturunan Afrika yang berkulit sangat hitam. Tadinya kami pikir mereka adalah petugas imigrasi. Rupanya begitu mereka memeriksa, mereka rupanya adalah kondektur SNCF yang merangkap sebagai petugas customer service yang membagikan kusioner ke penumpang.
Yang keturunan Afrika itu adalah yang menghandle kami. Awalnya dia berkata dalam bahasa Perancis, tapi begitu tahu kami bukan orang Perancis, dan faham bahasa Inggris, akhirnya dia berbicara dengan kami dalam bahasa Inggris.
Petugas Imigrasi yang asli justru mulai masuk KA di stasiun pertama yang disinggahi setelah Forbach (sekitar 1 jam perjalanan). Petugas-petugas itu berperilaku agak kasar, dan agresif. Mereka berjumlah sekitar 4-6 orang, yang memeriksa seluruh rangkaian KA dengan cepat. Sama seperti kondektur KA, mereka juga berbicara dengan kami (awalnya) dengan bahasa Perancis. Tapi mereka tak mau menggunakan bahasa Inggris.
Mereka dengan cepat memeriksa pasport dan visa kami, sambil mengajukan pertanyaan dalam bahasa Perancis yang tak bisa kami jawab. Si petugas sendiri juga tampaknya tak mengharapkan jawaban dari kami dan langsung pergi begitu selesai memeriksa paspor kami. Hal yang agak unik juga adalah, mereka semua tak mengenakan seragam. Mereka menggunakan baju preman, dan memperlihatkan lencana polisi mereka di dompet saat pemeriksaan.
Untungnya, semua pasport dan visa kami beres semua, sehingga pemeriksaan berjalan lancar. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya surat-surat kami ada yang tak beres, lalu kami diinterogasi dengan bahasa Croissant tersebut? Sacre bleu!!
Seusai pemeriksaan, kereta melanjutkan perjalanannya kembali. Pemandangan di daerah Perancis terlihat sedikit berbeda dengan Jerman atau Swiss. Sepanjang mata memandang yang kita lihat adalah persawahan yang lebih mirip padang rumput, karena tanamannya cukup rendah. Kata Ibu saya, itu adalah timun, tapi dugaan saya bisa saja kentang. Saya juga tak banyak melihat area industri, sehinga pemandangan pedesaan terlihat lebih bersahaja.
Terkadang saya bisa melihat beberapa rumah-rumah pedesaan di pinggir rel, yang berpagar kayu putih, dan lengkap dengan pancurannya. Sungguh menarik. Hanya sayangnya, terkadang saya juga menemui beberapa tiang tegangan tinggi yang agak merusak pemandangan.
Kontras dengan suasana pedesaannya Perancis yang alami dan bersahaja, kota Paris adalah kota yang cukup kumuh dan agak berantakan. Ini terlihat setelah beberapa jam perjalanan.
Begitu memasuki pinggiran kota Paris, beberapa daerah flat yang kumuh mulai terlihat di pinggir rel. Awalnya sedikit, tapi makin lama makin padat hingga kereta memasuki Paris. Di Paris sendiri saya juga melihat beberapa KRLnya terlihat degil dan bayak coretan. Sampah juga telihat berserakan di sebagian rel, mungkin dibuang oleh penumpang KRL yang iseng (karena beberapa KRL memiliki jendela yang bisa dibuka).
![[Image: 15qykah.jpg]](http://i41.tinypic.com/15qykah.jpg)
Setelah melalui jalur-jalur yang padat, akhirnya kereta kami memasuki stasiun Gare de l’Est di Paris. Seperti halnya stasiun-stasiun besar di Eropa, stasiun ini adalah stasiun buntu. Karena pintu keluar ada di balik sepur baduk, maka saya bisa melihat dengan jelas lokomotif yang menarik KA kami tadi.
Awalnya kami bingung harus kemana, karena tampaknya mayoritas papan penunjuk menggunakan bahasa Perancis, dan rata-rata orang Perancis merasa “tersinggung†kalau diajak bicara bahasa Inggris dulu.
Selagi menunggu, saya juga melihat-lihat interior hall utama stasiun Gare de l’Est yang cukup besar. Dari dalam hall, saya juga bisa melihat jalan raya di depan stasiun yang kelihatan cukup ruwet dibandingkan dengan jalanan di Frankfurt atau Zurich. Hall stasiun ini sendiri waktu itu juga agak kotor, karena beberapa burung yang hinggap di langit-langit hall berak sembarangan.
Beberapa menit kemudian bapak dan kakak saya datang kembali, dan langsung mengajak kami pergi ke kantor informasi yang ada di stasiun. Pelayanan di kantor informasi ini bisa dibilang sangat mengecewakan. Ego ala Perancis tetap saja dibawa petugas sama petugas, yang seharusnya membantu kita. Seperti halnya orang Perancis pada umumnya, mereka akan tersinggung kalau kita menyapa dan mengajak bicara dalam bahasa Inggris. Selain itu mungkin karena merasa superior, mereka juga setengah hati melayani kita.
Contohnya, sewaktu kami tanya dimana letak Place de La Republique dan bagaimana caranya ke sana, dengan belagunya si petugas berkata “Non monsieur, I don’t know where is that.â€Â
Goblok betul, begitu pikir saya. Masak kotanya sendiri nggak ngerti?? Setelah kami bertanya ke petugas satu yang cewek berambut pirang panjang (entah mau dibilang cakep atau nggak, karena make upnya kayanya ketebalan), si cewek menyarankan kami agar pergi ke stasiun KA bawah tanah yang ada di salah satu sudut stasiun Gare de l’Est.
(Belakangan saya tahu kalau jarak dari stasiun Gare de l’Est ke hotel kami hanya satu blok saja, dan sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki kalau mau. Apalagi trotoar di Paris kondisinya sangat nyaman untuk dilewati).
Setelah dengan susah payah membawa muatan kami melewati tangga yang sempit dan ramai, kamipun sampai ke stasiun KA bawah tanah Paris Metro.
Di peron, saya bisa melihat kalau para Parisienne memang benar-benar pintar berdandan. Pakaian yang mereka kenakan modis semua, biarpun mayoritas Parisienne nggak ada yang cakep. Saya juga melihat kalau relnya kelihat sangat berbeda dengan rel KA pada umumnya.
Tak lama kemudian KA metro kami datang. Saya juga agak takjub dengan KA ini karena 2 hal: rodanya ternyata menggunakan ban karet seperti mobil, dan KA ini jendelanya terbuka serta tak ber-AC. Jadi bisa dibilang kondisi angkutan KA ini tertinggal sekali jika dibandingkan yang ada di Swiss atau Jerman. Mirip sekali dengan KRL ekonomi di Jakarta, hanya penumpangnya berbaju necis semua.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit, yang terasa menyiksa karena kami harus berdesak-desakan sambil mengawasi barang bawaan kami yang banyak, akhirnya kami sampai juga di stasiun Place de La Republique.
Di sini kami langsung menuju ke hotel tempat kami menginap. Hotel ini terletak di jalan satu arah yang sempit (semacam “backstreetâ€Â) yang menanjak, dan dijejali beberapa mobil yang parkir. Yang unik, jalannya itu bukan jalan beraspal, melainkan menggunakan batu kali (seperti jalan Braga di Bandung). Memang jalan ini jauh lebih rapi dengan beberapa jalan serupa yang saya temui di Jakarta atau Bandung, tapi tetaplah agak jorok untuk ukuran Eropa Barat. Masa di situ saya melihat ada orang kencing sembarangan, dengan “menyembur†ke bagasi mobil orang?? Sudah begitu air seninya terlihat banyak sekali! Hoek!!!
Sesampainya di hotel, kami langsung check in. Petugas di hotel ini cukup telaten melayani kami, walaupun dengan pandangan sinis. Paling tidak dia masih banyak membantu kami, jika dibandingkan dengan yang tadi di stasiun. Potongan rambut, serta kumisnya yang tipis, plus bajunya yang menggunakan jas hitam rapi mengingatkan saya dengan gaya fashion ala tahun 1940an.
Namun kawannya yang di resepsionis, begitu tahu kami dari Indonesia, air mukanya langsung berubah dari kaku dan sinis menjadi langsung menyapa kami dengan senyum yang ramah sekali sambil berkata dalam bahasa Indonesia: “Apa kabar? Dari Indonesia ya? Bagus? Bagus? Selamat datang di Francaise, bapak monsieur.†Rupanya dia pernah berkunjung lama di Indonesia, dan sangat senang sekali waktu ke Indonesia (Bali), sehingga kalau ketemu orang Indonesia, dia berusaha untuk menyapa dalam bahasa Indonesia, agar (katanya) kalau ke Indonesia tidak kagok. Dia juga berkata kalau dia lebih memilih berbicara dengan kami menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris.
Walaupun bahasa Indonesianya kaku dan agak patah-patah, tapi mungkin itu adalah sifat ramah pertama yang kami jumpai semenjak menjejakkan kaki kami di negeri Menara Eiffel itu.
BERSAMBUNG.




atw liat ce-nya nih??