Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Trip Report Keliling Eropa di tahun 1999.
#31
Paris memang adalah kota yang glamour. Hal ini tidaklah aneh, mengingat kota ini adalah pusat mode dunia. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa banyak merek fashion dunia punya butik utama mereka di sini, yang bisa membuat FO-FO megah di Bandung tidak ubahnya seperti toko pakaian murahan.

Namun sayangnya, itu hanya bisa anda nikmati kalau anda punya uang saja. Di Paris, gap antara kaya dan miskin lumayan jauh jika dibandingkan dengan Jerman, apalagi Swiss! Walaupun tentu saja konsekuensinya, biaya hidup di Paris paling murah.

Pada malam pertama setelah datang di Paris, kami mengisi waktu dengan berpergian keliling Paris. Daripada bingung mencari jalan, kami memilih mencarter minibus yang menawarkan tour keliling Paris dengan sopir yang merangkap tour guide.

Sopir wanita paruh baya yang mengantar kami ternyata mengerti bahasa Indonesia sedikit, karena katanya sering ke Yogyakarta. Namun walaupun begitu, beliau lebih banyak berbicara menggunakan bahasa Inggris saat menerangkan kepada kita.

Kami naik sebuah minibus Citroen, mengelilingi kota Paris yang gemerlap di malam hari. Saya tak ingat bagaimana kronologis perjalanannya, tapi kami melihat-lihat beberapa tempat terkenal seperti Champ Elysse, Istana Presiden Perancis, Place de la Concorde (yang di salah satu pojoknya ada hotel Ritz tempat Lady Diana terakhir menginap), deretan butik-butik milik merek fashion dunia (itu kantor pusat mereka) di Avenue Montaigne, klub Moulin Rouge dan Le Lido yang terkenal karena para penari topless, dan penari bugil (yang tubuhnya disoroti dengan pola-pola warna yang mengesankan seperti pakaian), serta Musee d’Orsay.


[Image: 11rggw1.jpg]
Tampak samping Gare d’Orsay

Musee d’Orsay ini dulunya adalah stasiun KA Gare d’Orsay, dan merupakan stasiun KA yang lokasinya paling sentral di Paris. Gaya arsitektur Baroquenya bisa dibilang sama megahnya dengan istana-istana ala raja-raja Perancis di masa silam (seperti Istana Versailles atau Louvre yang terkenal itu), mengalahkan gaya arsitektur stasiun-stasiun besar lainnya di Paris yang masih beroperasi saat ini.
Kalau itu kurang, dia pada waktu pertama dibuka menggunakan beberapa inovasi teknologi yang sangat canggih di jamannya, seperti eskalator, dan KA listrik.
Namun sayangnya, stasiun ini ternyata dulu juga dikritik karena ukurannya yang terlalu kecil untuk sebuah stasiun utama, dan peronnya kurang panjang untuk menampung rangkaian KA modern yang panjang, sehingga akhirnya Gare d’Orsay menutup operasinya sebagai stasiun KA di tahun 1939.
Setelah mangkrak lama sekali, stasiun ini dipugar di tahun 1977, dan dibuka lagi di awal tahun 1986....sebagai museum seni! Jauh dari kesan bahwa itu adalah stasiun KA. Bahkan kalau anda sekarang ke sana, anda tak akan menemui satupun artefak (entah plakat atau bahkan foto!) yang menunjukkan kalau itu bekas stasiun KA.
Walaupun stasiun RER (semacam KRL) Gare d’Orsay masih ada, tapi lokasinya di bawah tanah, sekitar beberapa meter dari lokasi bangunan Musee d’Orsay, dan hanyalah halte biasa saja.
Tapi bagi yang bermata jeli, pasti akan tahu kalau itu bekas stasiun, karena bangunannya agak memanjang, ada jam besar di pintu masuknya, serta memiliki hall masuk yang besar, dengan jendela-jendela besar.

Kembali ke perjalanan, sebenarnya pada saat tour itu kami juga penasaran ingin melihat terowongan Pont d’Alma tempat Lady Diana mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya (dan tunangannya yang orang Mesir itu). Tapi ibu pemandu wisata menolak dengan alasan takutnya nanti salah satu dari kami jadi terlalu emosional (kesurupan maksudnya?).

Pada saat tour keliling Paris itu, cuacanya hujan deras, sehingga kami tak seberapa bebas memandang keluar. Sayang sekali...
Selesai tour, kami diantar kembali ke hotel, dan kamipun langsung tidur.


[Image: 2e1answ.jpg]
Croissant dengan butter.

Pagi harinya kami sarapan di hotel. Ini kesempatan bagus untuk merasakan butter Perancis yang khas rasanya (di Indonesia anda bisa membelinya di super market, dengan merek “Elle Vire”), serta Croissant yang terkenal itu.
Yang saya agak heran dengan Croissant asli Perancis itu adalah, sekali gigit kulit luarnya langsung rontok dan mengotori meja. Beda dengan croissant yang biasanya saya makan di Indonesia, yang cenderung solid hingga gigitan terakhir.

Setelah sarapan, kami berjalan-jalan keliling Paris sambil melihat-lihat obyek terkenal di kota itu.
Pertama ke menara Eiffel yang di bagian atas anginnya ekstra kencang. Antrian di liftnya waktu itu lumayan panjang. Tapi itu terbayar dengan pemandangan indah dari atas puncak menara Eiffel. Dari atas situ saya bisa melihat segala penjuru kota Paris, dan beberapa pencakar langit yang terletak di pinggir Paris.

Namun ada kejadian unik yang membuat saya tersenyum simpul. Sewaktu turun dari atas menara ke bagian tengah, ada 2 orang berpakaian seperti satpam yang mengucapkan kata-kata “Bagus...bagus..!” ke saya. Waduh! Jauh-jauh mengelilingi setengah dunia, kok ada orang Perancis yang tahu nama saya?
Rupanya yang mereka maksud adalah mereka menawarkan produk yang mereka jual di sana (karena mereka juga bertugas sebagai penjual souvenir). Dan seperti pemandu wisata di malam sebelumnya, rupanya mereka juga sering ke Indonesia. Jadi begitu melihat saya, mereka tahu saya orang Indonesia. Ha..ha..ha...ada-ada saja.

Setelah itu kami menuju gereja Notre Dame yang memiliki pintu yang lebih tinggi dari rumah saya di Bandung (tinggi pintunya sekitar 10 meter!). Waktu itu gereja Notre Dame sedang dalam proses renovasi, tapi kami sempat masuk dan melihat keangkeran suasana di dalam gereja tua itu. Walaupun siang itu suasana gereja ini lebih angker daripada Lawang Sewu, tapi herannya kok ya banyak turis yang datang ke sini untuk berdoa atau sekedar melihat-lihat saja.
Kami juga datang ke museum seni Louvre yang terkenal itu, sekaligus melihat lukisan Mona Lisa yang legendaris, serta cewek-cewek Perancis yang kecantikannya artistik. Apalagi di museum Louvre juga banyak sekali.
Bahkan di plaza halaman depan museum (juga di depan istana Trocadero, dekat menara Eiffel), adegan pelukan dan ciuman mesra yang biasanya disensor di TV bisa anda lihat dengan jelas, tanpa perlu disensor. Bahkan mau anda foto (dari jarak jauh tentunya) ya silahkan.


[Image: 2cp2w08.jpg]
Paris di malam hari.

Ya bisa dibilang, kota Paris itu adalah kota yang cantik sekali. Bisa dibilang seakan-akan kota Paris itu adalah seorang wanita yang cantik, karena dimana-mana saya bisa melihat foto-foto wanita cantik, walaupun cewek cakep di Paris kalah banyak dengan yang saya lihat di Swiss...he..he..he...bukan hanya karena cewek. Bangunan-bangunan kuno dan baru di Paris rata-rata dibangun dengan estetika dan feminisme yang sangat bagus sekali. Jadi kesimpulannya, Paris itu adalah kota yang feminim.
Walaupun dibandingkan dengan kota-kota di Eropa lainnya yang saya kunjungi seperti Zurich dan Frankfurt, Paris itu lebih kumuh, tapi faktor feminimismenya kuat sekali. Walaupun kalau anda ingin mencari yang seperti Emanuelle Beart atau Laetita Casta, anda mungkin kesulitan juga.

Dan jujur saja, saya pernah sekali ketemu seorang cewek cakep pada hari itu. Waktu itu kami naik subway Paris Metro (tak ingat dari mana ke mana), dan di depan saya ada cewek berambut pirang, berhidung mancung, dan bermata sendu. Saya cukup takjub juga lihat cewek itu. Apalagi saya waktu itu duduk pas di depannya. Mau saya ajak bicara, saya nggak enak karena dua hal: tidak mengerti bahasa Perancis, serta takutnya nanti disalah sangka sama keluarga saya. Sayangnya begitu sampai di tujuan, itulah terakhir kali saya melihat si cantik dari kota mode ini.


[Image: 202vmc.jpg]
Cewek-cewek Paris di depan stasiun metro Saint-Paul.

Saya selama bertahun-tahun berusaha mencari foto-foto cewek-cewek Perancis yang cakep. Tapi kalau mencari lewat internet, kok sering diarahkan web porno? Nah, baru belakangan saya berhasi mendapatkan foto-foto yang sesuai kategori di Wikipedia. Memang sih cewek Perancis tak secakep cewek Italia atau Spanyol, tapi lumayan juga ketimbang Jerman.

Setelah makan siang hari itu, kamipun langsung bertolak ke Euro Disney. Taman rekreasi yang saham mayoritasnya dimiliki Walt Disney di Amerika Serikat ini adalah bagian dari jaringan taman rekreasi Disneyland yang tersebar di beberapa negara. Dan walaupun lokasinya tak selalu di Amerika, tapi ciri khas ala Amerika (khususnya karakter-karakter film animasi Walt Disney) bisa ditemui di tempat ini.

Kami berangkat ke sana menggunakan KRL yang lebih dikenal sebagai RER. Interiornya lebih baik dari Metro, karena dia menggunakan AC, dan penumpangnya lebih beradab. Beberapa diantaranya malah menggunakan KA double decker, tapi yang saya naiki waktu itu adalah single deck seperti KA biasa.

Saya tak ingat dari mana kita naik RER, tapi yang pasti perjalanan ke Euro Disney memberikan sedikit refreshing dari hiruk pikuk dan kesumpekan kota Paris. Pada awal-awal perjalanan, kereta berjalan melewati jalur di bawah tanah, seperti KA Paris Metro, tapi perlahan-lahan mulai keluar tanah. Pertama-tama kereta berjalan melewati daerah urban di timur Paris, dan kemudian daerah perumahan berganti dengan daerah pedesaan yang menghijau dan asri ala Eropa.

Kira-kira 30 menit kemudian, karena mulai memasuki stasiun yang terletak di dalam terowongan. Akhirnya kami sampai juga di Euro Disney (kebetulan papan nama stasiun ada di peron).


[Image: 517zpx.jpg]
Mejeng di depan Istana Disneyland.

Begitu kami keluar dari KA, kami langsung naik ke eskalator untuk keluar dari peron. Dari atas, saya bisa melihat kalau ternyata stasiun Euro Disney itu terdiri dari 2 bagian: ada peron untuk RER (dan mungkin KA biasa), serta ada satu peron lagi yang dikhususkan untuk KA cepat TGV, dan juga Eurostar yang saat itu trayeknya baru saja diperpanjang hingga ke Perancis selatan.
[Image: overstappen.png]
Kami langsung berjalan keluar dari stasiun dan langsung menuju ke gerbang masuk Euro Disney. Kakak saya berkata bahwa kita cukup beruntung antrian hari itu pendek sekali. Hal itu tidaklah aneh: saat itu musim dingin dan hawanya berkisar antara 5-9 derejat celcius. Makanya tidak banyak orang yang mau melakukan kegiatan outdoor. Kakak saya juga menambahkan bahwa terakhir dia ke sana, pada musim panas tahun 1994, antriannya panjaaang sekali, hampir 5 km! Apalagi waktu itu Euro Disney baru saja dibuka.

Antrian tidak panjang. Yang unik petugasnya mengenakan mantel dan topi yang mirip seperti yang ada di film-film kartun Walt Disney. Termasuk juga petugas pemeriksa karcis. Dan rata-rata karyawan dan petugas yang ada di areal Euro Disney menggunakan seragam yang desainnya memang merujuk dari kartun-kartun Walt Disney.
Karcisnya modelnya mirip kartu ATM, lengkap dengan gambar Mickey Mouse. Dengan karcis ini kita bisa mengakses semua wahana yang ada disana. Yang tidak termasuk tentu saja pembelian cindera mata dan makanan di dalam.


[Image: 2873e2s.jpg]
Trem Disneyland.

Begitu masuk ke dalam kami langsung disambut oleh pemandangan kota yang desainnya mirip negeri antah berantah yang (tentu saja) persis seperti yang kita lihat di kartun-kartun Walt Disney. Yang unik, di tengah jalan-jalan utamanya pasti ada jalur trem. Mayoritas single track, walaupun terkadang ada yang double track, lengkap dengan weselnya yang terletak di aspal. Sayang selama saya ke sana saya tak sepesepun melihat tramnya lewat. Tapi saya sempat melihat di brosur bahwa rolling stocknya adalah kereta yang ditarik kuda! Pantas saja kenapa kok saya tak melihat ada LAA diatasnya.

Saya tidak seberapa ingat apa saja wahana yang kami naiki waktu itu. Kalaupun yang ingat hanya dua.

Yang satu adalah atraksi KA uap yang mengelilingi kompleks Euro Disney. Tadinya saya kira ini adalah loko uap betulan. Baru belakangan saya sadar kalau ternyata lokonya menggunakan tenaga lain (listrik atau diesel kalau tidak salah), dan dipasangi smoke generator dan speaker suara. Jadi persis sekali dengan loko uap model! Pantas saja kenapa kok masinisnya cuman satu, dan tampaknya dia tak kesulitan mengemudikannya.Tak seperti krew loko uap betulan yang biasanya terlihat mengoperasikan lokomotif dengan susah payah.
Atraksi lain yang saya ingat adalah atraksi rumah hantu. Hal yang membuat saya mengingat yang satu ini bukan karena atraksinya menarik, tapi karena ada cewek yang sangat cakep sekali yang ikut mengatri dengan saya. Jumlahnya tidak satu tapi 5! Sayangnya, seperti halnya cewek di Metro, saya tak bisa pedekate karena kendala bahasa dan restriksi keluarga.

Sebelum pulang, kami sempat membeli banyak cindera mata khas Disneyland untuk dibawa pulang kembali ke Indonesia. Kami juga menyempatkan diri untuk makan di situ. Sayangnya, saya sebenarnya kurang puas dengan makanannya yang porsinya tanggung, tapi harganya agak mahal ketimbang makan di luar. Saya juga sempat merasakan mustard yang ada. Rasanya benar-benar “menendang” sampai ke ubun-ubun karena pedas sekali. Rasanya saya tak pernah menemui mustard semacam ini di Indonesia.
Ada hal unik lain yang saya perhatikan. Sewaktu saya datang, langit diatas Disneyland tampak sepi. Tapi menjelang pulang (sekitar sore hari) langit penuh dengan pesawat yang mau mendarat. Rupanya area Euro Disney terletak di dekat jalur pendaratan pesawat yang mau landing di bandara Charles de Gaulle.

Usai semua kegiatan, kamipun langsung kembali ke hotel kami di Paris untuk beristirahat serta mengepak barang, sebelum kembali ke Zurich esok harinya. Kami juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan di daerah sekitar Place de la Republique, sekaligus belanja perbekalan untuk esok.

Besok harinya kami langsung check out dari hotel dan langsung menuju ke stasiun Gare de Lyon. Stasiun ini hanya satu dari beberapa stasiun KA di Paris di tahun 1999 yang disinggahi KA cepat TGV. Yang lainnya adalah Gare de Montparnasse dan Gare du Nord (yang juga melayani perjalanan KA Eurostar ke London).


[Image: rcjzu1.jpg]
Peron stasiun Gare de Lyon

Karena saya datang dari stasiun bawah tanah Metro, maka saya tak sempat menikmati arsitektur stasiun ini. Yang saya ingat, stasiun ini sibuk sekali dan di peronnya ada banyak KA TGV yang stand by di situ. Saya bahkan baru belakangan tahu kalau di situ ada restoran “Le Train Bleu” yang terkenal, dan kemudian sempat jadi setting film “Mr. Bean’s Holliday”. Apalagi kejadian buruk (yang akan saya jelaskan) yang menimpa kami kemudian membuat saya tak begitu terkesan dengan stasiun ini.

Yang aneh, di stasiun-stasiun yang saya kunjungi (termasuk halte metro) terkadang saya menjumpai beberapa tentara bersenjata lengkap. Katanya untuk mencegah aksi terorisme, khususnya sejak ada serangan teroris seperti "Carlos the Jackal" di masa lalu. Ingat, ini 2 tahun sebelum serangan 11 September itu.

Setelah kami menitipkan tas di pusat locker di Gare de Lyon, kami menghabiskan waktu menunggu kami (KA TGV tujuan Zurich berangkat jam 3 sore, sedangkat saat itu masih pukul 8.30 pagi) dengan berkeliling kota Paris, mengunjungi beberapa spot yang belum sempat kami kunjungi.
Seperti pusat perbelanjaan Gallerie Lafayette yang merupakan shopping centre modern pertama di Paris (dibuka sebelum Perang Dunia pertama). Di sini kami sempat menemui seorang penjaga stand yang ternyata orang Indonesia!
Rupanya beliau adalah istri seorang staff Kedubes R.I. di Paris. Awalnya kami tak mengira kalau beliau orang Indonesia (karena kulitnya putih, dan wajahnya Indo-Eropa), apalagi dia menyapa dalam bahasa Perancis. Rupanya beliau memang ayahnya orang Perancis, tapi ibunya orang Indonesia. Dia lahir dan besar di Jakarta, dan terkadang suka ke Perancis untuk mengunjungi keluarga besar ayahnya.

Kami kemudian menyempatkan juga ke mulut terowongan Pont d’Alma tempat Lady Diana menemui ajalnya di dalam terowongan ini. Mungkin kalau anda ingat beberapa dokumentasi seputar kematian Lady Diana, anda pasti ingat ada sebuah monumen obor api yang di bawahnya sempat ditaruh banyak karangan bunga sebagai tanda belasungkawa.


[Image: 2r2p5hs.jpg]
Patung obor Liberty di depan terowongan Pont d’Alma.

Monumen obor ini ternyata tak ada sangkut pautnya dengan kejadian tragis itu, karena monumen itu adalah monumen peringatan pembebasan Paris dari cengkeraman Nazi, serta untuk mengenang jasa para gerilyawan bawah tanah Perancis selama Perang Dunia kedua. Kebetulan saja monumen ini terletak diatas portal masuk terowongan Pont d’Alma.

Selama keliling-keliling kami juga sempat mampir ke toko souvenir di arelah stasiun bawah tanah, yang penjaganya rupanya mengerti bahasa Indonesia. Si penjaga toko itu orang keturunan Aljazair, dan katanya sering sekali bertemu turis Indonesia.
Selesai jalan-jalan dan makan siang di satu restoran makanan Perancis yang agak murah, kami langsung kembali ke stasiun Gare de Lyon untuk bersiap-siap berangkat naik KA TGV menuju kembali ke Swiss.

Namun, pada saat kami mengambil tas di locker, kami tertimpa musibah: dua tas besar kami hilang!!! Yang satu tas berisi perbekalan makanan, dan yang satu berisi semua cindera mata yang kami beli di Disneyland. Kami pun gempar dan kelabakan. Kami meminta tolong kepada petugas keamanan di situ untuk membantu. Sayangnya, si petugas itu cenderung cuek saja dengan kegelisahan kami, dan dengan angkuhnya mengejek kami! Ejekannya bernada diskriminasi lagi!

Dengan perasaan mendongkol dan agak dendam, kamipun mengambil sisa barang-barang kami untuk kemudian menuju ke bagian kehilangan barang di stasiun Gare de Lyon. Setelah melaporkan kejadian itu, kami langsung mencari makanan untuk bekal diatas KA.
Kebetulan kami menemui satu restoran masakan Chinese di situ. Karena kangen nasi, kami membeli dua porsi, yang masing-masing seharga 15 franc. Konyolnya, 2 toko dari situ, ada toko yang menjual roti Perancis isi daging, keju, dan sayur (pokoknya komplit!) yang berporsi jauh lebih besar, dimana satunya dihargai 8 franc! Rupanya kami lupa kalau di Eropa, roti jauh lebih murah ketimbang nasi.
Setelah itu kami langsung kembali ke peron untuk menaiki KA yang akan membawa kami ke Zurich.

Sialnya papan penunjuk yang dalam bahasa Perancis serta kekalutan membuat kami kebingungan mencari dimana kereta yang akan membawa kami. Waktu saya bertanya kepada seorang prami SNCF yang lewat, dengan bahasa Inggris dan nada kuatir, si prami malah menjawab dengan tatapan cuek: “I don’t understand English.”. F**k! Brengsek juga mentalitas orang Paris ternyata! (Dan yang lebih membuat saya jengkel, ternyata prami itu adalah prami KA yang kemudian saya naiki, dan tidak hanya itu, dia ternyata fasih bahasa Inggris!). Akhirnya dengan setengah lari dan melihat sana-sini, akhirnya kami menemukan KA kami.


[Image: a4n4zq.jpg]
TGV PSE saat beraksi.

KA itu adalah TGV Paris Sud Est yang masih menggunakan warna oranye yang lama. Dan di sebelahnya ada juga TGV Duplex yang bertingkat dua.
Yang membuat KA ini tak kelihatan adalah posisinya yang di belakang dan tersambung dengan rangkaian TGV Atlatique warna perak-biru tujuan Italia. Pantas saja dari spoor baduk tidak kelihatan.

Begitu masuk, kami langsung menaruh bagasi diatas dan duduk di tempat duduk kami masing-masing. Tak seperti sewaktu naik ICE dimana ada perasaan kagum dan takjub, kali ini kami terlalu letih dan mendongkol untuk mengapresiasi KA TGV itu. Apalagi interior TGV PSE itu terkesan sederhana sekali dibandingkan ICE Jerman. Bahkan ayah saya berkata kalau dia kapok datang ke Paris lagi. Mungkin diantara kami, hanya saya saja yang masih penasaran ingin ke Paris lagi...apalagi kalau bukan karena cewek-ceweknya yang artistik ;-)

Sekitar pukul 4.30 sore, kereta berangkat meninggalkan Paris. Saya tak begitu menikmati awal-awal perjalanan, karena saya duduk di kursi yang menghadap ke belakang. Sayapun langsung bertukar kursi dengan kakak sepupu saya, agar saya bisa melihat pemandangan di luar. Oh ya, kursi di kelas 1 TGV konfigurasinya 1+2 (bukan 2+2 seperti di KA di Indonesia). Kursinya juga paten dan berhadap-hadapan, lengkap dengan meja yang tak bisa dilipat di tengah.

Saya sempat melihat pemandangan ke luar selama kereta berjalan cepat. Sayangnya, karena beberapa bagian kecepatan tinggi terdiri dari terowongan dan tembok pengaman, maka saya tidak bisa begitu menikmati saat KA TGV itu melesat dengan kecepatan 300 km/jam.

Menjelang matahari terbenam, kereta kami memasuki stasiun Dijon yang kecil dan sederhana. Nama daerah Dijon ini mengingatkan saya akan 2 hal: saus mustard, serta pangkalan skuadron pesawat tempur di komik Tanguy dan Laverdure.
Yang tidak saya perhatikan saat itu adalah, ternyata rangkaian TGV Atlatique di belakang kami di lepas, karena dia berjalan ke selatan, sementara TGV saya berjalan ke timur.

Kereta berhenti sebentar sekali di sini: hanya 5 menit saja. Setelah itu kereta berangkat lagi. Saya sempat penasaran dengan seberapa cepatkah TGV ini. Hanya yang tidak saya ketahui waktu itu adalah, ternyata dari Dijon hingga ke Zurich, kereta berjalan di jalur biasa. Dan kecepatan maksimalnya hanyalah 200 km/jam saja. Bahkan saya sempat kaget sewaktu menemui kereta ini melewati perlintasan sebidang (hal yang tak akan ditemui di jalur cepat LGV).

Hari mulai gelap begitu kereta mendekati perbatasan Swiss. Kebetulan di dekat saya ada seorang penumpang yang memesan steak yang baunya ueenak! Tapi apa harganya enak? Tunggu dulu. Saya sempat mendengar dari prama yang menagih kalau dia membayar sekitar 18 franc untuk itu.

Selama perjalanan saya juga sempat ngobrol sedikit dengan seorang prama di situ. Rupanya dia orang Swiss-Perancis yang bekerja di SNCF, dan cukup fasih bahasa Inggris, walaupun aksen Perancisnya tak hilang. Pantas saja kok sifatnya lebih ramah dan bersahabat dibanding orang Perancis.
Saya juga memperhatikan bahwa tampaknya pakaian kita kurang pantas. Sementara penumpang lain menggunakan pakaian bisnis yang rapi, kita malah menggunakan pakaian jalan-jalan yang tidak formil sama sekali.

Tak banyak yang bisa saya lihat di luar karena hari sudah malam. Namun karena saya masih penasaran, saya masih tetap mencoba untuk melihat pemandangan di luar. Kepenasaran saya rupanya terbayar: begitu memasuki perbatasan Swiss, di luar tampak hujan salju yang sangat tebal sekali. Bahkan sampai papan nama stasiun penuh dengan es. Peron-peron stasiun juga terlihat tertimbun salju yang tebal, apalagi atap-atapnya dipenuhi salju.

Beberapa jam kemudian, kereta memasuki stasiun Frasne, di perbatasan Perancis-Swiss. Di sini, beberapa prama dan prami SNCF turun, dan kondektur KA Swiss naik. Saya sebenarnya ingin sekali keluar sebentar untuk merasakan salju yang tebal. Tapi sayangnya, Ibu saya melarang karena takut kalau saya ketinggalan kereta. Tapi kakak dan adik saya sempat keluar sebentar untuk mengambil contoh salju. Saya pegang-pegang, ternyata es salju tidak sedingin es yang biasanya ada di kulkas.

Begitu kereta berangkat, para kondektur Swiss itu langsung memeriksa karcis dan passport penumpang. Cara memeriksa mereka sangat teliti dan efisien, tanpa harus unjuk arogansi seperti petugas perbatasan Perancis.

Setelah selesai pemeriksaan, saya pindah ke salah satu tempat duduk yang kosong, agar saya bisa meluruskan kaki. Tapi para kondektur kemudian kembali lagi untuk memeriksa tiket penumpang yang naik dari satu stasiun setelah Frasne (lupa stasiun apa). Yang lucu, ada seorang kondektur yang wajahnya mirip Thompson di komik Tintin sempat terkejut melihat saya. Dia kira saya penumpang gelap yang menyelinap. Tapi dia tiba-tiba teringat kalau saya tadi duduk agak ke depan. Gayanya untuk mengingat, sambil menunjuk-nunjuk ke sudut kereta kelihatan lucu.

Kereta sempat berhenti di Bern dan Olten, tempat saya melihat KA ICE beberapa hari sebelumnya. Hari sudah malam, bahkan saya lihat, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Di Olten, saya melihat praktek yang persis dengan yang dilakukan penumpang KRL Jabotabek di Bekasi. Biasanya kita tahu kalau di Bekasi, beberapa penumpang KRL suka ada yang menumpang KA jarak jauh dari timur, untuk ikut hingga Jatinegara atau Gambir.
Praktek serupa juga saya temui di situ, dimana beberapa penumpang KA reguler Swiss ada yang nebeng ikut naik TGV dari Olten hingga Zurich, dengan karcis KA reguler! Apalagi saat itu para kondektur sudah tidak ada yang kelihatan.

Sekitar tengah malam, KA TGV kamipun akhirnya sampai di Zurich. Stasiun Zurich terlihat sepi. Satu-satunya KA yang ada hanyalah KA TGV yang kami naiki. Yang unik, power unitnya mengeluarkan suara desisan yang keras sekali. Tampaknya kompresornya membuang angin.

Sebelum ke hotel, kami menyempatkan diri untuk foto bersama di depan power unit TGV itu (sayangnya begitu sampai ke Indonesia, fotonya ternyata “terbakat”!).

Sekeluarnya dari stasiun, kami mencari supermarket untuk membeli barang-barang perbekalan untuk di hotel. Namun karena hari sudah malam, semua toko di sekitar stasiun Zurich sudah tutup semua.


[Image: 23wodqc.jpg]
Supermarket otomatis di Zurich.

Kakak saya pun menunjukkan sesuatu yang unik sebagai pengganti supermarket. Rupanya di salah satu sudut dekat stasiun, ada sebuah mesin otomatis yang besar sekali, hampir sebesar sebuah toko. Di situ kita bisa memilih barang-barang apa saja yang kita mau. Cukup masukkan koin, tekan mana saja yang mau kita pilih, dan “Voila!” barang-barang itu sudah di tangan kita.

Selepas “belanja”, kami langsung menuju ke hotel. Kami menyusuri jalan-jalan kota Zurich yang sepi sekali. Walaupun begitu kami tak perlu begitu kuatir tentang kemanan, karena Zurich itu memang mempunyai angka kriminalitas yang sangat rendah sekali untuk ukuran Eropa.
Kami kemudian sampai juga ke hotel. Saat check in, kami disambut oleh sang pemilik hotel yang wajahnya kaku karena mengantuk. Setelah mendapat kunci kamar, kami langsung menuju ke kamar hotel untuk mandi dan tidur...

BERSAMBUNG.
Reply
#32
MAsih belum ada respons juga. Padahal kemarin ada yang kebelet pingin lihat terusan ceritanya.
Reply
#33
manteb mas reportnya....

serasa ikut jalan2....
hahaha.....Ngakak

mantab tuh cwe2 prancisnya...Ngiler


btw kehilangan 2 tas besar tu gak ada kelanjutannya mas???
eman2 bgt itu...Bethe
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply
#34
wah! keren-kerenTepuk TanganTepuk Tangan

ditunggu yang berikutnya

[Image: _DSC0376a.jpg]
Reply
#35
(23-06-2010, 12:57 PM)bagus70 Wrote: MAsih belum ada respons juga. Padahal kemarin ada yang kebelet pingin lihat terusan ceritanya.

ehehe...maaf om bagus....ane yg kebelet tp br sempet reply sekarang....Xie Xie

top markotop dah ceritanya...ane jd bener2 pengen ngerasain keliling Eropa naik kereta, start dari singapur finish di london...

keyen...keyen....
Reply
#36
Cerita kelima nanti nggak akan sepanjang dan seseru bagian keempat, tapi masih lumayan lah...
Reply
#37
OK om Bagus, ditunggu ulasannya ^_^

mudah2an tetep sehat supaya bisa nulis pengalamannya yg sangat berharga....
Reply
#38
Wah Mantap banget Jalan-jalannya apalagi bisa merasakan teknologi perkeretaapian disana Top Banget

Kapan ya saya bisa jalan-jalan ke sana Kapan ya...
Kapan juga stasiun Tanjung Priok bisa kayak gini Kapan ya...


[Image: rcjzu1.jpg]
Ijin pinjem Pic-nya ya..
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Reply
#39
Di tunggu ceritanya mas Bagus mantap euy bisa jalan2 ke luar negeri
Reply
#40
Aku juga punya banyak pengalaman yang sama dengan mas Bagus70 ini saat di kota Zurich dan Perancis. Kami sama2 menikmati perjalanan KRL ke stasiun Beos-nya kota Zurich dan sama2 menikmati perjalanan KRL khusus Euro Disney. Lebih2 sama2 naik subway / metro di ibukota Paris.

[Image: 20100718212906_Di_Beosnya_Kota_Zurich_4c...f1ca-t.jpg]

Tapi sayang aku cuma nemuin foto yang ini aja. Padahal yang di dalem dan luar trem di kota Zurich juga ada fotonya kala itu Juni 1992. Tapi yang di Paris cuma di dalem stasiun KA bawah tanah pas begitu sampe di kawasan pedestrian langsung terlihat menara Eiffel, gak perhatiin stasiun apa namanya, maklum aku masih SD sih...

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)