Poll: Gerbong paling depan dan paling belakang bukan untuk penumpang. Setuju?
You do not have permission to vote in this poll.
Sangat setuju
5.77%
12 5.77%
Setuju
10.10%
21 10.10%
Tidak berpendapat
2.40%
5 2.40%
Tidak setuju
27.40%
57 27.40%
Sangat tidak setuju
54.33%
113 54.33%
Total 208 vote(s) 100%
* You voted for this item. [Show Results]

Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Diskusi] Gerbong Aling Aling
Positif :
:New_mikir:
- Menyelamatkan banyak nyawa penumpang jika tiba2 KA kena PLH
Negatif :
:New_mikir:
- Berat-berati lokomotif
- Suatu stanformasi KA jadi terlihat aneh. Contoh, MutTim. Aling2nya yg paling belakang selalu K2. Bahkan pernah make K3
- Menambah outcome daripada income
Rekan-rekan dan sanak saudara saya yang tidak mengerti kereta api tetap menganggap kebijakan ini tidak benar. Tunggu apa lagi? Mestinya sudah harus dihapus selekasnya ke bijakan ini.
Rumah bata en semen. Minum cendol..segarrr
(04-03-2011, 01:54 AM)spoorboedeg Wrote: Minggu lalu aku liat KA.13 pke K2 bt aling2. Mending kasih B aja buat ngangkut barang.

Saya setuju dengan usulan Anda. Tujuannya agar menambah income dan menekan angka kerugian yang masuk ke PT.KAI Xie Xie

(03-04-2011, 09:07 PM)paul_foxdemon Wrote: Rekan-rekan dan sanak saudara saya yang tidak mengerti kereta api tetap menganggap kebijakan ini tidak benar. Tunggu apa lagi? Mestinya sudah harus dihapus selekasnya ke bijakan ini.

Mungkin menunggu instruksi dari Dirjen Perkeretaapian untuk menghapus aling-aling.
aling2nya buat angkut/penitipan sepeda motor aja kek kereta komunitas musim lebaran..
Untuk informasi rekan²...

Bahwa kebijakan penggunaan gerbong aling² adalah MURNI KEBIJAKAN OPERATOR KA, jadi regulator (ie. Dirjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian) tidak tau menahu mengenai kebijakan intern manajemen operator kereta api.

Idealnya semua rangkaian kereta penumpang kedua ujungnya dirangkaikan dengan gerbong B dan BP, jadi kemanapun tujuan rangkaian itu gerbong B dan BP selalu paling depan dan paling belakang.

Sebenarnya juga kebijakan gerbong aling² ini cukup berbahaya dari segi sarana, karena beban coupler ke kereta aling² (yang nota bene kosong=32 ton) mempunyai ketinggian dan tekanan yang berbeda dengan lokomotif dan kereta berpenumpang (± 36-40 ton) yang mengakibatkan coupler akan (IMHO) mengalami keretakan dan kelelahan struktur, tinggal tunggu waktu (semoga tidak terjadi) coupler ini lepas dari rangkaian.

So, kita tunggu manajemen operator kereta api sadar bahwa kebijakan ini HARUS dicabut.

[Image: spammingsj0.gif]
[spoiler]
(04-04-2011, 09:13 AM)Gege Wrote: Untuk informasi rekan²...

Bahwa kebijakan penggunaan gerbong aling² adalah MURNI KEBIJAKAN OPERATOR KA, jadi regulator (ie. Dirjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian) tidak tau menahu mengenai kebijakan intern manajemen operator kereta api.

Idealnya semua rangkaian kereta penumpang kedua ujungnya dirangkaikan dengan gerbong B dan BP, jadi kemanapun tujuan rangkaian itu gerbong B dan BP selalu paling depan dan paling belakang.

Sebenarnya juga kebijakan gerbong aling² ini cukup berbahaya dari segi sarana, karena beban coupler ke kereta aling² (yang nota bene kosong=32 ton) mempunyai ketinggian dan tekanan yang berbeda dengan lokomotif dan kereta berpenumpang (± 36-40 ton) yang mengakibatkan coupler akan (IMHO) mengalami keretakan dan kelelahan struktur, tinggal tunggu waktu (semoga tidak terjadi) coupler ini lepas dari rangkaian.

So, kita tunggu manajemen operator kereta api sadar bahwa kebijakan ini HARUS dicabut.
[/spoiler]
Akibatnya apa ya Mr. Bravo misalnya putus .....(*pengen tau.com), akan terbalikkah...? dan misalnya terjadi beneran nanti yang bertanggung jawab sapa tuh?

[spoiler=BRAKE.Emergency use only]

YAHOO!

nikimura.cellular
[/spoiler]
Apabila terjadi putus rangkaian di tengah jalan mendatar = rangkaian meluncur tak terkendali ada kemungkinan anjlok, terguling.

Apabila terjadi putus rangkaian di tengah jalan naik atau menurun = .... bisa dibayangkan sendiri...

Soalan Coupler bisa dibaca di thread ini, untuk pembahasan coupler tingkat lanjut silahkan dibahas disana.

Dan referensi ini bisa buat dibaca.

Soal siapa yang bertanggungjawab terhadap PLH model ini silahkan disimpulkan sendiri dengan data PLH-PLH yang terjadi sebelumnya.

Sebenarnya sebuah kebijakan yang akan diambil harus memikirkan resiko dan akibat lanjutan dari kebijakan itu sebelum diterapkan, ada antisipasi. Seyogyanya...... namun yang terjadi di bumi kita tercinta adalah bagaimana sebuah kejadian menelurkan sebuah kebijakan, bukan sebuah kebijakan akan mengantisipasi kejadian...

Fiuh....

[Image: spammingsj0.gif]
[spoiler]
(04-04-2011, 11:04 AM)Gege Wrote: Apabila terjadi putus rangkaian di tengah jalan mendatar = rangkaian meluncur tak terkendali ada kemungkinan anjlok, terguling.

Apabila terjadi putus rangkaian di tengah jalan naik atau menurun = .... bisa dibayangkan sendiri...

Soalan Coupler bisa dibaca di thread ini, untuk pembahasan coupler tingkat lanjut silahkan dibahas disana.

Dan referensi ini bisa buat dibaca.

Soal siapa yang bertanggungjawab terhadap PLH model ini silahkan disimpulkan sendiri dengan data PLH-PLH yang terjadi sebelumnya.

Sebenarnya sebuah kebijakan yang akan diambil harus memikirkan resiko dan akibat lanjutan dari kebijakan itu sebelum diterapkan, ada antisipasi. Seyogyanya...... namun yang terjadi di bumi kita tercinta adalah bagaimana sebuah kejadian menelurkan sebuah kebijakan, bukan sebuah kebijakan akan mengantisipasi kejadian...

Fiuh....
[/spoiler]
Ane udah baca semuanya Mr Bravo, Thanks atas pencerahannya... Ane mah bukan ngampangin system coupler automatis ini ya, tp namanya sialkan gak tau jalannye ... thanks dah, baca2 nyang laen dulu Mr.Bravo Bye Bye
[spoiler=BRAKE.Emergency use only]

YAHOO!

nikimura.cellular
[/spoiler]
(04-04-2011, 09:13 AM)Gege Wrote: Untuk informasi rekan²...

Bahwa kebijakan penggunaan gerbong aling² adalah MURNI KEBIJAKAN OPERATOR KA, jadi regulator (ie. Dirjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian) tidak tau menahu mengenai kebijakan intern manajemen operator kereta api.

Idealnya semua rangkaian kereta penumpang kedua ujungnya dirangkaikan dengan gerbong B dan BP, jadi kemanapun tujuan rangkaian itu gerbong B dan BP selalu paling depan dan paling belakang.

Sebenarnya juga kebijakan gerbong aling² ini cukup berbahaya dari segi sarana, karena beban coupler ke kereta aling² (yang nota bene kosong=32 ton) mempunyai ketinggian dan tekanan yang berbeda dengan lokomotif dan kereta berpenumpang (± 36-40 ton) yang mengakibatkan coupler akan (IMHO) mengalami keretakan dan kelelahan struktur, tinggal tunggu waktu (semoga tidak terjadi) coupler ini lepas dari rangkaian.

So, kita tunggu manajemen operator kereta api sadar bahwa kebijakan ini HARUS dicabut.

Ya mudah2an saja semakin cepat dicabut semakin cepat pula saya ganti tulisan di signature saya. Meskipun nggak dibaca sama orang kereta api, paling tidak emosi diri terlampiaskan. Ngakak
Syukur2 ada komunitas sepur yang mau bikin kaos tulisannya kayak gitu. Pisss ahhh...

"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Satu saat nanti, entah kapan, kalau kebijakan ini sudah dan memang seharusnya dicabut, saya yakin tidak akan ada lagi dhemit masuk dan berkeliaran dalam forum ini. Ngakak


Forum Jump:


Users browsing this thread: 4 Guest(s)