Posts: 1,095
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
3
(30-09-2011, 06:44 PM)Joe_cn Wrote: (30-09-2011, 06:17 PM)ady_mcady Wrote: misalnya ada kasus seperti ini: ka gaya baru sudah "full tank" alias penuh penumpang selepas jombang. dan dari seluruh penumpang yang ada itu katakanlah ada beberapa yang turun solo dan yogya.
berarti selepas jombang sampai solo mestinya bablas terus ya? lha wong nggak ada yang turun (apalagi naik. karcis sudah habis), ngapain juga berhenti di kts, nj, mn dll.
nah, selepas solo dan yogya, pasti ada karcis yang sudah hangus karena penumpang turun, lalu stasiun kutoarjo boleh menjual sebanyak penumpang yang telah turun di yogya dan solo. begitu seterusnya.
begitu nggak ya?
Ya itu dia mas, kebanyakan orang2 masih berjalan estafet menggunakan KA, dan entahlah sistem online nanti apakah mampu mengkoordinir penumpang seperti itu.
Tapi masalahnya adalah apabila penumpang sebagai contoh(melanjutkan cerita om Adi tentang penumpang GBMS ) dia duduk di nomor 8 abc gerbong 3, di karcis dia harusnya turun di LPN eh ternyata dia ketiduran atau ada masalah tertentu sehingga akhirnya dia tidak turun di LPN.
Nah bila sistem online sudah bisa mengkoordinir nomor kursi yg kosong selepas LPN karena si nomor 8abc gerbong 3 harusnya kosong namun masih ada penumpang itu tadi, lha bagaimana?
Apa itu penumpang akan diturunkan paksa di pemberhentian selanjutnya?
Apakah harga GBMS dari SGU ke Yk dan ke PSE sama?
yapz. .benar sekali
system yg dipakai di ticketing KAI sudah online semua
jadi misal ada pnumpang GBMS dari SGU ke LPN dengan nomor seat K3-1 12 A. .berarti di system online untuk trayek SGU-LPN kursi itu udah terisi penumpang. .naah selepas LPN hingga JAKK kursi tersebut masih kosong
system yg sama juga dipakai di K1 maupun K2
cuman yang jadi masalah terkadang beberapa petugas loket di stasiun cari "praktis" aja
jadi misal harga tiket GBMS trayek SGU-LPN sama dengan SGU-SLO maka penumpang tujuan SLO tetap dapet tiket jurusan LPN yg otomatis kursi tersebut telah terisi hingga LPN. hal ini mengakibatkan tiket di kursi tersebut baru bisa diisi lagi selepas dari LPN
kalo udah gini kasian penumpang dari SLO. .kehabisan tiket padahal sebenarnya masih ada
untuk masalah penumpang tertidur dengan system penomoran ini malah sangat sangat membantu. penumpang itu bisa langsung dibangunkan oleh penumpang yang kemudian menempati kursi tersebut
naah kalau tidak ada penomoran bisa saja penumpang tersebut tertidur dan bablas ke JAKK tanpa ada yang memberitau
kasus kayak gitu mah sering banget terjadi
Posts: 812
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
8
30-09-2011, 08:53 PM
(This post was last modified: 30-09-2011, 08:59 PM by indra_Mri.)
Saya sih setuju kang ama kebijakan itu. pengguna jasa KA ekonomi jadi lebih nyaman karena udah pasti dapet t4 duduk, dan gk akan ada lg yg rebutan naik KA. dan perjalanan jadi bkal lebih aman karena KA gk bakal Over Load. Sebuah kebijakan yg berani dari pt.kai. 
tp, klu kayak gtu bner jg kata akang2, kasian yg naik keretanya estafet. bisa2 batal naik deh 
seharusnya klu tiket di batasi jadwalnya di tambah biar semua bisa ke angkut ama KA. Pemerintah harusnya mendukung kebijakan ini. trus di lengkapin deh armada kereta pt.kai.
Kita tunggu aja praktiknya di lapangan 
maju terus perkeretaapian Indonesia!
(30-09-2011, 03:19 PM)sultan rakyat Wrote: (30-09-2011, 02:25 PM)sochdi Wrote: gimana nih, ada yang mau nyobain? ditunggu laporan dari tkp ya 
insaloh besok ayas nek gaya baru.. Nanti tak kabarin ceritane,trmasuk "mungkin" kehebohan planggan setia sepur yg "dipaksa" jd bismania
di tunggu ya kang kabarnya
semoga dapat t4 duduk ya kang
Posts: 80
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
2
Kalo untuk KA jarak dekat spt Parahyangan dan CIreks saya rasa tetap perlu tiket berdiri. toh, perjalanan tidak lama (sekitar 3 jam) jadi tdk berpengaruh kpd kenyamanan. Sayang kalau tiket berdiri di PArahyangan dan Cireks dihapus. apalagi tiket bisnis parahyangan skrg ini bisa dikatakan sangat kompetitif dibanding moda angkutan lain dan sangat membantu orangg yg punya budget pas2an
<a target='_blank' title='ImageShack - Image And Video Hosting' href='http://imageshack.us/photo/my-images/513/signatureduw.jpg/'><img src='http://img513.imageshack.us/img513/5100/signatureduw.jpg' border='0'/></a>
Posts: 3,141
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
106
30-09-2011, 11:37 PM
(This post was last modified: 01-10-2011, 12:30 AM by Adi Sutjipto.)
Suasana hari terakhir masuk emplasement
dengan tiket peron di tasiun Malang.
Gambar 01
[spoiler]
Memberi cap, tanggal 30 September 2011, tanggal terakhir ? [/spoiler]
Gambar 02
[spoiler]
Beli peron mbak..... [/spoiler]
Gambar 03
[spoiler]
Bagian Ticketing tasiun Malang, pintu masuk untuk K3 [/spoiler]
Gambar 04
[spoiler]
Hari terakhir, penumpang gratis,
pengantar boleh ikut masuk, asal membayar peron, Rp. 2500,- [/spoiler]
Gambar 05
[spoiler]
Mas Putra, mBak Henny, mBak Ifa [/spoiler]
Gambar 06
[spoiler]
Tiket peron untuk masuk K1 Gajayana dan Malabar. [/spoiler]
Gambar 07
[spoiler]
Masuk ke emplasement. [/spoiler]
Gambar 08
[spoiler]
Inikah yang akan menjadi tiket peron terakhir PT. KAI,
atau akan ada perubahan kebijaksanaan kembali ? [/spoiler]
Untung tadi sempat beli tiket peronnya,
untuk kenang-kenangan terakhir !
Foto sejenak dengan bagian ticketing ah....
 
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
(30-09-2011, 11:37 PM)Adi Sutjipto Wrote: Untung tadi sempat beli tiket peronnya,
untuk kenang-kenangan terakhir !

Lho, emangnya tiket peron ditiadakan selamanya?
Kalau ganti logo dan nama sih iya.
Dulu PT Kereta Api (Persero), sekarang jadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
(30-09-2011, 11:26 PM)hendraibrahim Wrote: Kalo untuk KA jarak dekat spt Parahyangan dan CIreks saya rasa tetap perlu tiket berdiri. toh, perjalanan tidak lama (sekitar 3 jam) jadi tdk berpengaruh kpd kenyamanan. Sayang kalau tiket berdiri di PArahyangan dan Cireks dihapus. apalagi tiket bisnis parahyangan skrg ini bisa dikatakan sangat kompetitif dibanding moda angkutan lain dan sangat membantu orangg yg punya budget pas2an
Kan sudah disebutkan mas, Kalo tiket berdiri untuk KA jarak dekat seperti KRD, KRL, dsb masih tetap ada. Yang dihapus cuma KA- KA jarka jauh kan
Btw, bener kan, seharusnya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mensosialisasikan kebijakan ini dengan lebih intens dan luas ... biar kejadiannya gak kayak gini:
Quote:Kebijakan Pembatasan Penumpang Diprotes Konsumen KTB
Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya
Surabaya - Bulan Oktober 2011, kebijakan pembatasan penumpang kereta api (KA) ekonomi akan dilakukan. Untuk KA jarak sedang dan jauh dilakukan kebijakan 100%, yang berarti semua penumpang akan duduk dan tidak ada yang berdiri.
Sedangkan untuk KA ekonomi lokal dilakukan kebijakan 125 % yang berarti ada toleransi 25 % penumpang boleh berdiri dari seluruh kapasitas kursi yang ada.
Kebijakan tersebut rupanya mendapat protes dari pengguna KA yang biasa menggunakan Kartu Trayek Berlangganan (KTB). Dengan adanya kebijakan itu, maka KTB tidak akan berlaku lagi.
Dengan begitu, konsumen bulanan tersebut mengaku bakal kerepotan dan bukan tidak mungkin tidak akan bisa lagi menggunakan angkutan yang menurut mereka sangat murah. Puluhan konsumen tersebut mendatangi kantor PT Daops VIII dan meminta penjelasan.
"Kalau kebijakan pembatasan penumpang dilakukan, maka kami harus mengantri tiket. Iya kalau kebagian, kalau tidak, kami harus naik apa. Padahal rumah kami jauh," keluh Rini, warga Malang kepada wartawan, Jumat (30/9/2011).
Selama ini, konsumen KTB memang tidak perlu mengantre tiket. Mereka cukup menunjukkan tiket bulanan tersebut untuk masuk ke KA. "Yang penting kami bisa masuk dan sampai ke rumah, meski berdiri tidak apa-apa," tambah Rini.
Pegawai koperasi di Jalan Pasar Besar yang sudah 10 tahun menggunakan KTB itu juga mengeluhkan sosialisasi kebijakan pembatasan penumpang. Sosialisasi yang dilakukan Daops VIII Surabaya cuma seminggu dan Rini sendiri baru kemarin mengetahui adanya kebijakan tersebut.
"Sosialisasinya sangat singkat, kami tidak siap padahal besok sudah bulan Oktober," lanjut Rini.
Rini yang mewakili teman-temannya mengatakan mereka sebenarnya tidak menolak kebijakan pembatasan penumpang ekonomi. Hanya saja para penumpang KTB harus difasilitasi. Mereka memilih kereta api karena praktis, murah dan cepat.
Kebanyakan dari konsumen KTB sudah lama setia. Bahkan ada yang sudah berlangganan tiket bulanan sejak 30 tahun lalu. Dari Pasuruan saja, kata Rini, paling tidak ada 300-an konsumen KTB. Itu belum dari Bangil dan Lawang.
"Kami tertib kok. Konsumen KTB di sini tidak seperti di Jakarta yang berdesak-desakan," terang Rini yang selalu menggunakan kereta Penataran.
Sementara Humas PT Daops VIII Surabaya, Sri Winarto, mengatakan pihaknya belum bisa memberikan keputusan atas protes dari konsumen KTB. Untuk sementara penggunaan KTB diperpanjang hingga tanggal 8 Oktober sembari menunggu keputusan dari pusat.
"Biasanya KTB habis berlakunya tanggal 4, tetapi karena adanya ini maka diperpanjang hingga tanggal 8. Kami masih mencari solusinya," ujar Winarto.
Jika nantinya KTB masih diberlakukan, Winarto meminta agar konsumen KTB naik ke kereta yang sesuai dengan tiketnya. Winarto mengatakan kadangkala penumpang KTB naik kereta Logawa jurusan Jember - Purwokerto, padahal mereka menggunakan KA Penataran.
"Kami harap konsumen KTB bersabar. Kami masih mencari solusi atas KTB," tandas Winarto.
(iwd/fat)
Beritanya saya ambil dari http://surabaya.detik.com/read/2011/09/3...nsumen-ktb
Takutnya ntar pada muncul suara-suara sumbang dari "belahan" pulau lain karena sosialisasinya yang kurang ...
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
Sekarang sudah tanggal 1 Oktober 2011, kebetulan jatuh hari Sabtu, akhir pekan.
Coba Anda bayangkan, betapa kecewanya orang-orang yang 'terpaksa ditolak' untuk naik KA Kutojaya Utara,
relasi THB - KTA, berangkat jam 07:00 WIB, KA K3 non AC pertama yang diberangkatkan dari Daop I.
Beruntung dan berbahagialah bagi mereka yang dapat memperoleh tiket, tapi 'musibah' bagi yang 'terpaksa ditolak'.
Posts: 347
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
0
(01-10-2011, 05:40 AM)pardjono Wrote: Sekarang sudah tanggal 1 Oktober 2011, kebetulan jatuh hari Sabtu, akhir pekan.
Coba Anda bayangkan, betapa kecewanya orang-orang yang 'terpaksa ditolak' untuk naik KA Kutojaya Utara,
relasi THB - KTA, berangkat jam 07:00 WIB, KA K3 non AC pertama yang diberangkatkan dari Daop I.
Beruntung dan berbahagialah bagi mereka yang dapat memperoleh tiket, tapi 'musibah' bagi yang 'terpaksa ditolak'. info dr tmen smalem,dia trpaksa jd bismania ke kebumen,coz bengawan,progo,sampek serayu ludes gak berbekas.eh eh eh...
kata KAI "sukurin lu,sapa suruh kere.. Klo mau gua layanin bayar donk 4x lipat dr yg skarang (kutojaya 28, k3 ac 115)"
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
(01-10-2011, 06:04 AM)sultan rakyat Wrote: (01-10-2011, 05:40 AM)pardjono Wrote: Sekarang sudah tanggal 1 Oktober 2011, kebetulan jatuh hari Sabtu, akhir pekan.
Coba Anda bayangkan, betapa kecewanya orang-orang yang 'terpaksa ditolak' untuk naik KA Kutojaya Utara,
relasi THB - KTA, berangkat jam 07:00 WIB, KA K3 non AC pertama yang diberangkatkan dari Daop I.
Beruntung dan berbahagialah bagi mereka yang dapat memperoleh tiket, tapi 'musibah' bagi yang 'terpaksa ditolak'.
info dr tmen smalem,dia trpaksa jd bismania ke kebumen,coz bengawan,progo,sampek serayu ludes gak berbekas.eh eh eh...
kata KAI "sukurin lu,sapa suruh kere.. Klo mau gua layanin bayar donk 4x lipat dr yg skarang (kutojaya 28, k3 ac 115)"
Kebijakan ini sangat baik bagi mereka yang beruntung tetapi sangat tidak baik bagi mereka yang 'terpaksa ditolak'.
Yang berwenang menentukan sebaiknya mempertimbangkan juga segi populasi 'pengguna setia KA K3 non AC jarak jauh' yang sudah terbiasa cukup 'ngrumangsani' dan 'nrimo'.
Berharap semoga mereka yang 'terpaksa ditolak' merasa 'legowo' menjadi 'korban pencitraan'.
Posts: 1,336
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
18
01-10-2011, 09:05 AM
(This post was last modified: 01-10-2011, 09:18 AM by POERWOKERTO +75M.)
Jakarta, 1 Oktober 2011 - 08:42
Tadi saya ke St. Pasarsenen nganter ibu sama bulik saya yg mau pulang ke Purwokerto naik KA. BOGOWONTO. Brgkt sm istri dan 2 anak sy. Niatnya sih sekalian nganter juga mau motret2, bikin video skalian menularkan suka sepur sm anak pertama sy. Eh, ternyata eh ternyata, pas udh siapin duit peron mau ikut masuk, dicegat petugas. Katanya sih ada aturan baru (LAGI), pengantar dan penjemput tidak boleh masuk ke dalam peron stasiun, terus sekarang tiket KA dijual per tempat duduk (PASTI DAPAT) dan tidak jual tiket berdiri.
Gubrak, ada aturan baru kok gak tau???? Katanya member Semboyan 35....cape dech (maklum sibuk kerja smp2 gak sempet mampir ke Semboyan 35) Pupus sudah semangat 45 dari rumah mau kahir pekan sebentar di stasiun (mumpung nganter dan pas lagi libur)..... kuciwa ati ini rasanya gak boleh ikut masuk, gak bisa moto, bikin video, liat sepur, mencium aroma sepur (maklum deh jarang2 sy naik sepur, kalo lewat perlintasan sih sering tiap hari)
Dengan sisa2 semangat yg masih ada, sy langsung pulang, nyalain kompi, online dan meluncur ke Semboyan 35. Maaf nih ya gak baca semua postingan karena: 1. Jaringan internet via TelkomFlexi udh bbrp hari LEMOT BANGET (mau masuk Semboyan 35 susah puuooool). 2. Saya buru2 ngetiknya
Ternyata apa yg saya cari tentang aturan baru ini ada di Semboyan 35 (seperti sya duga)
Anyway, sebenarnya nih aturan gak jelek2 banget. Khususnya tentang aturan penjualan tiket yg hanya dijual sesuai dengan kapasitas tempat duduk, dengan kata lain bagi penumpang yg beruntung pasti mendapat tempat duduk dan yang tidak beruntung harus cari kereta lain karena tidak dijual karcis berdiri. Positifnya, ruang di dalam kereta lebih tertib, penumpang nyaman tidak berdesakan ato kepanasan karena faktor penumpang yg berlebih, RF BISA LELUASA MELAKUKAN AKTIVITASNYA TANPA PERLU BERJUBEL2 DI DALAM KERETA, keseimbangan dan beban kereta saat berjalan juga lebih ringan, petugas KA dan keamanan juga bisa lebih maksimal melakukan tugasnya, ruang stasiun pastinya juga akan lebih tertib dan nyaman, karena hanya penumpang, petugas dan pemilik kios yg boleh berada di area peron stasiun.
Itu dari sudut pandang saya sebagai penumpang dan RF yg ikut naik kereta.
Tapi dari sudut pandang saya sebagai RF yg hanya nganter aja, soal penjualan tiket sih sya setuju banget. Cuma soal gak boleh masuk peron, sy agak kecewa. Gak tiap hari saya bisa masuk stasiun kecuali kalo nganter ato berangkat. Kecewanya sih lebih ke hal pribadi seperti tidak bisa motret, tidak bisa bikin video, liat aktivitas dan lalu lalang kereta, merasakan suasana stasiun, yah hal2 begitulah. Apa gak bisa ya agak lunak sedikit soal ini???? Entahlah
Semoga aja sih aturan baru ini sukses meraih tujuannya dan tidak menjadi aturan yg gagal seperti bbrp aturan2 yg sebelumnya, dimana aturan ato kebijakan yg dibuat petinggi kereta api seperti biasa hanya semangat di depannya, digembar gemborkan ke massa, keras dan disiplin, kemudian setelah berganti hari dan hari dan hari menjadi lembek dan lembek (mungkin juga basi).
Sekian.
(01-10-2011, 05:06 AM)Hungry Soul Wrote: (30-09-2011, 11:26 PM)hendraibrahim Wrote: Kalo untuk KA jarak dekat spt Parahyangan dan CIreks saya rasa tetap perlu tiket berdiri. toh, perjalanan tidak lama (sekitar 3 jam) jadi tdk berpengaruh kpd kenyamanan. Sayang kalau tiket berdiri di PArahyangan dan Cireks dihapus. apalagi tiket bisnis parahyangan skrg ini bisa dikatakan sangat kompetitif dibanding moda angkutan lain dan sangat membantu orangg yg punya budget pas2an
Kan sudah disebutkan mas, Kalo tiket berdiri untuk KA jarak dekat seperti KRD, KRL, dsb masih tetap ada. Yang dihapus cuma KA- KA jarka jauh kan 
Btw, bener kan, seharusnya PT. Kereta Api (Persero) mensosialisasikan kebijakan ini dengan lebih intens dan luas ... biar kejadiannya gak kayak gini:
Quote:Kebijakan Pembatasan Penumpang Diprotes Konsumen KTB
Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya
Surabaya - Bulan Oktober 2011, kebijakan pembatasan penumpang kereta api (KA) ekonomi akan dilakukan. Untuk KA jarak sedang dan jauh dilakukan kebijakan 100%, yang berarti semua penumpang akan duduk dan tidak ada yang berdiri.
Sedangkan untuk KA ekonomi lokal dilakukan kebijakan 125 % yang berarti ada toleransi 25 % penumpang boleh berdiri dari seluruh kapasitas kursi yang ada.
Kebijakan tersebut rupanya mendapat protes dari pengguna KA yang biasa menggunakan Kartu Trayek Berlangganan (KTB). Dengan adanya kebijakan itu, maka KTB tidak akan berlaku lagi.
Dengan begitu, konsumen bulanan tersebut mengaku bakal kerepotan dan bukan tidak mungkin tidak akan bisa lagi menggunakan angkutan yang menurut mereka sangat murah. Puluhan konsumen tersebut mendatangi kantor PT Daops VIII dan meminta penjelasan.
"Kalau kebijakan pembatasan penumpang dilakukan, maka kami harus mengantri tiket. Iya kalau kebagian, kalau tidak, kami harus naik apa. Padahal rumah kami jauh," keluh Rini, warga Malang kepada wartawan, Jumat (30/9/2011).
Selama ini, konsumen KTB memang tidak perlu mengantre tiket. Mereka cukup menunjukkan tiket bulanan tersebut untuk masuk ke KA. "Yang penting kami bisa masuk dan sampai ke rumah, meski berdiri tidak apa-apa," tambah Rini.
Pegawai koperasi di Jalan Pasar Besar yang sudah 10 tahun menggunakan KTB itu juga mengeluhkan sosialisasi kebijakan pembatasan penumpang. Sosialisasi yang dilakukan Daops VIII Surabaya cuma seminggu dan Rini sendiri baru kemarin mengetahui adanya kebijakan tersebut.
"Sosialisasinya sangat singkat, kami tidak siap padahal besok sudah bulan Oktober," lanjut Rini.
Rini yang mewakili teman-temannya mengatakan mereka sebenarnya tidak menolak kebijakan pembatasan penumpang ekonomi. Hanya saja para penumpang KTB harus difasilitasi. Mereka memilih kereta api karena praktis, murah dan cepat.
Kebanyakan dari konsumen KTB sudah lama setia. Bahkan ada yang sudah berlangganan tiket bulanan sejak 30 tahun lalu. Dari Pasuruan saja, kata Rini, paling tidak ada 300-an konsumen KTB. Itu belum dari Bangil dan Lawang.
"Kami tertib kok. Konsumen KTB di sini tidak seperti di Jakarta yang berdesak-desakan," terang Rini yang selalu menggunakan kereta Penataran.
Sementara Humas PT Daops VIII Surabaya, Sri Winarto, mengatakan pihaknya belum bisa memberikan keputusan atas protes dari konsumen KTB. Untuk sementara penggunaan KTB diperpanjang hingga tanggal 8 Oktober sembari menunggu keputusan dari pusat.
"Biasanya KTB habis berlakunya tanggal 4, tetapi karena adanya ini maka diperpanjang hingga tanggal 8. Kami masih mencari solusinya," ujar Winarto.
Jika nantinya KTB masih diberlakukan, Winarto meminta agar konsumen KTB naik ke kereta yang sesuai dengan tiketnya. Winarto mengatakan kadangkala penumpang KTB naik kereta Logawa jurusan Jember - Purwokerto, padahal mereka menggunakan KA Penataran.
"Kami harap konsumen KTB bersabar. Kami masih mencari solusi atas KTB," tandas Winarto.
(iwd/fat)
Beritanya saya ambil dari http://surabaya.detik.com/read/2011/09/3...nsumen-ktb
Takutnya ntar pada muncul suara-suara sumbang dari "belahan" pulau lain karena sosialisasinya yang kurang ... 
Seperti biasa, setiap PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bikin kebijakan/aturan baru pasti akan ada pro dan kontra, ada yg mendukung sepenuh hati ada juga yg mendukung setengah hati (terpaksa) ada juga yg menolak tapi akhirnya ngikut juga (terpaksa) inilah uniknya perkeretaapian Indonesia, multi dimensi.
Semoga untuk kasus KTB ini cepat ada solusinya, hidup matinya kereta api bukan dari modal dari pemerintah ato swasta, buka juga dari bagus rapinya stasiun dan kereta dll, tapi dari ada tidaknya penumpang, puas tidaknya penumpang. Penumpang adalah hal (ter)penting dalam sektor jasa angkutan selain barang.
Satu hal yg mengganjal, apakah pernah para petinggi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebelum bikin kebijakan/aturan, mereka terjun langsung, mblusukan ke jalur kereta untuk mencari referensi dan mengolahnya sebelum jadi suatu kebijakan ato aturan. Ato jangan2, mereka cuma nyuruh orang aja ke lapangan.
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
|