Posts: 744
Threads: 0
Joined: Apr 2011
Reputation:
5
Pasti ada kelebihan dan kekurangan, semoga dengan pelayanan terbaru ini, masyarakat semakin nyaman dalam menggunakan jasa kereta api, dan PT. KAI sendiri dapat menghitung daya angkut optimal setiap armada K3-nya.
Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
(05-10-2011, 11:30 AM)Warteg Wrote: Kalau orang gak pada merantau ntar ibukota (atau kota besar, pendatang urban) sepi dong, 
Saya juga hidup di kota perantauan niech,,,,
Mengenai kebijakan ini menurut saya selain membuat kekacauan (diloket banyak orang ribut soal tiket), juga nanti dikhawatirkan akan adanya kongkalikong oknum-oknum tertentu (pemboikot tiket), penimbunan tiket dan segala macam,..
Yg di-bold: Kurang tepat, mas. Justru karena kota besar udah terlalu penuh, makanya dibuat skenario macam gitu, hehehehe. 
Ok, plis  lagi ya...
Posts: 1,095
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
3
(05-10-2011, 11:30 AM)Warteg Wrote: Kalau orang gak pada merantau ntar ibukota (atau kota besar, pendatang urban) sepi dong, 
Saya juga hidup di kota perantauan niech,,,,
Mengenai kebijakan ini menurut saya selain membuat kekacauan (diloket banyak orang ribut soal tiket), juga nanti dikhawatirkan akan adanya kongkalikong oknum-oknum tertentu (pemboikot tiket), penimbunan tiket dan segala macam,..
untuk kasus ini bukan hanya dikawatirkan, tetapi sudah mulai terjadi.!!
bahkan gak jarang petugas sengaja kongkalikong dengan calo, jadi di loket karcis abis tetapi kenyataan di atas KA kursi masih melompong
Posts: 132
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
2
(05-10-2011, 12:02 PM)BB 30501 Wrote: (05-10-2011, 11:30 AM)Warteg Wrote: Kalau orang gak pada merantau ntar ibukota (atau kota besar, pendatang urban) sepi dong, 
Saya juga hidup di kota perantauan niech,,,,
Mengenai kebijakan ini menurut saya selain membuat kekacauan (diloket banyak orang ribut soal tiket), juga nanti dikhawatirkan akan adanya kongkalikong oknum-oknum tertentu (pemboikot tiket), penimbunan tiket dan segala macam,..
untuk kasus ini bukan hanya dikawatirkan, tetapi sudah mulai terjadi.!!
bahkan gak jarang petugas sengaja kongkalikong dengan calo, jadi di loket karcis abis tetapi kenyataan di atas KA kursi masih melompong
bukan mulai lagi tapi sudah dari lama emang terjadinya 
orang yg sering naik di stasiun kiaracondong bandung tiap pagi kalau pasundan berangkat atau malam ketika kahuripan dan sawung mau berangkat pasti tahu, dan terang terangan bagaimana itu calo beraksi. padahal ya dekat dengan kantor pusat. spanduk himbauan juga gede di pasang disitu.
bahkan pernah ketika k3 dinyatakan bebas ttd saat libur panjang pun mereka si calo ini masih beraksi padahal mereka juga gak nawarin tempat duduk tapi jual karcisnya doank, saya sampek heran terus siapa yg mau modalin itu calo sampek berani ambil resiko kalau gak laku...???, ya siapa lagi kalau bukan modal kerjasama/kongkalikong tadi
saya acungi empat jempol dengan kebijakan ini, harusnya sejak dari dulu diterapkan , kita membayar/membeli suatu jasa angkutan katakan dari bandung / jakarta ke surabaya ditiket ditulis tanpa tempat duduk, la terus kita disuruh duduk dimana??????, di bordes bukan untuk penumpang, di loko tambah salah , di atap, disambungan salah juga, di restorasi bangkrut bisa bisa. apa di gang lesehan gak elok juga dilihatnya dan lagi itu tempat lalu lalang orang, atau disuruh berdiri terus sampai tempat tujuan , emangnya barang hantaran apa kayak sepeda motor aja berdiri terus.
untuk jarak dekat memang tidak apa apa dan harusnya kereta yg dipakai pun memang beda dari jenis ka komuter yg ada pegangan berdirinya.
saya kira PT KERETA API INDONESIA sudah di track perubahan yg benar .
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
Berarti postingan yg berikut ini sdh dipenuhi yak...?
(24-12-2009, 08:42 PM)BAMBANG EKO Wrote: Rp 67.000 untuk Jakarta-Surabaya menurut saya sangat wajar dengan KA Ekonomi , yang tidak wajar adalah , kalao penumpang sudah mengantongi tiket seharga Rp 67.000.- tapi tidak mendapat tempat duduk , dibiarkan nglesot , berdiri atau suk-sukan , gandulan di bordes.
Sudah waktunya Penumpang KA Ekonomi diperlakukan sebagai penumpang yang memberikan kontribusi plus kepada PT. Kereta Api (Persero) , untuk itu tolong lihat dengan kacamata yg bening potensi penumpang KA Ekonomi terhadap pemasukan keuangan ,jika dipandang perlu terapkan harga tiket yang bisa membuat " Derajat " penumpang KA Ekonomi sebagai manusia dengan hak2 nya sebagai penumpang KA yang sudah seharusnya mendapatkan " Hak " nya bukan hanya " Mendengarkan Hak " nya saja dan jangan perlakukan penumpang KA sebagai barang yang selama ini telah terjadi .Kalau PT. Kereta Api (Persero) bisa memberikan pelayanan yang memuaskan kepada penumpang " Sesuai dengan tarip " maka kenaikan tarip KA Ekonomi bukan menjadi masalah yang harus diperdebatkan atau Sertifikat ISO nya harus ditinjau kembali.
Yach, mudah2an saja di hari2 yg akan datang penumpang K3 semakin dipandang selayaknya manusia, bukan yg lain.
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 779
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
5
cara membrantas calo mudah koq.....suruh aja petugas loket ikut dalam perjalanan terus penumpangnya disuruh beli tiket di atas KA ( emanknya bus akdp )....Wkwkwkwkwk
just kiding
Posts: 402
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Mestinya dengan sistem tiket all duduk begini mereka-mereka yang sudah tua merasa makin nyaman untuk naik KA.
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
(05-10-2011, 04:10 PM)mas_bagus_ajah Wrote: Mestinya dengan sistem tiket all duduk begini mereka-mereka yang sudah tua merasa makin nyaman untuk naik KA.
ya dan perlahan akan terhapus budaya berebut naik turun kereta dan rebutan bangku atau masuk kereta lewat jendela di K3...
mudah2an kebijakan ini jangan menggunakan pengecualian di hari raya, jadi nggak setengah-setengah
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 1,095
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
3
(05-10-2011, 02:55 PM)jokotingkir Wrote: (05-10-2011, 12:02 PM)BB 30501 Wrote: (05-10-2011, 11:30 AM)Warteg Wrote: Kalau orang gak pada merantau ntar ibukota (atau kota besar, pendatang urban) sepi dong, 
Saya juga hidup di kota perantauan niech,,,,
Mengenai kebijakan ini menurut saya selain membuat kekacauan (diloket banyak orang ribut soal tiket), juga nanti dikhawatirkan akan adanya kongkalikong oknum-oknum tertentu (pemboikot tiket), penimbunan tiket dan segala macam,..
untuk kasus ini bukan hanya dikawatirkan, tetapi sudah mulai terjadi.!!
bahkan gak jarang petugas sengaja kongkalikong dengan calo, jadi di loket karcis abis tetapi kenyataan di atas KA kursi masih melompong
bukan mulai lagi tapi sudah dari lama emang terjadinya 
orang yg sering naik di stasiun kiaracondong bandung tiap pagi kalau pasundan berangkat atau malam ketika kahuripan dan sawung mau berangkat pasti tahu, dan terang terangan bagaimana itu calo beraksi. padahal ya dekat dengan kantor pusat. spanduk himbauan juga gede di pasang disitu.
bahkan pernah ketika k3 dinyatakan bebas ttd saat libur panjang pun mereka si calo ini masih beraksi padahal mereka juga gak nawarin tempat duduk tapi jual karcisnya doank, saya sampek heran terus siapa yg mau modalin itu calo sampek berani ambil resiko kalau gak laku...???, ya siapa lagi kalau bukan modal kerjasama/kongkalikong tadi
saya acungi empat jempol dengan kebijakan ini, harusnya sejak dari dulu diterapkan , kita membayar/membeli suatu jasa angkutan katakan dari bandung / jakarta ke surabaya ditiket ditulis tanpa tempat duduk, la terus kita disuruh duduk dimana??????, di bordes bukan untuk penumpang, di loko tambah salah , di atap, disambungan salah juga, di restorasi bangkrut bisa bisa. apa di gang lesehan gak elok juga dilihatnya dan lagi itu tempat lalu lalang orang, atau disuruh berdiri terus sampai tempat tujuan , emangnya barang hantaran apa kayak sepeda motor aja berdiri terus.
untuk jarak dekat memang tidak apa apa dan harusnya kereta yg dipakai pun memang beda dari jenis ka komuter yg ada pegangan berdirinya.
saya kira PT KERETA API INDONESIA sudah di track perubahan yg benar . 
itu baru persoalan calo, di atas KA lebih parah mas bro
saya ngalamin sendiri waktu naik KA 166 tepat tanggal 1 Oktober kemarin
dari BW saya beli karcis tujuan SGU seharga 24ribu untuk 2 orang dan saya bayar 50ribu lalu dikembalikan 2ribu
naah saat saya cek ternyata karcis saya tertulis tujuan LEMPUYANGAN dengan harga tiket tertera 35000 dan total 70000.!!!
saat saya tanya ke loket si petugas menjawab : itu karcis batalan mas, tapi harganya sudah saya kurangi"
anehnya lagi di atas KA saat KP memeriksa sambil bertanya "turun mana mas.??"lalu saya jawab "Gubeng pak" kontan saja si KP bilang "karcisnys saya ambil ya.??"
naaah loooh
ada apa gerangan.???
Posts: 1,376
Threads: 0
Joined: Aug 2008
Reputation:
12
(05-10-2011, 06:50 PM)BB 30501 Wrote: (05-10-2011, 02:55 PM)jokotingkir Wrote: (05-10-2011, 12:02 PM)BB 30501 Wrote: (05-10-2011, 11:30 AM)Warteg Wrote: Kalau orang gak pada merantau ntar ibukota (atau kota besar, pendatang urban) sepi dong, 
Saya juga hidup di kota perantauan niech,,,,
Mengenai kebijakan ini menurut saya selain membuat kekacauan (diloket banyak orang ribut soal tiket), juga nanti dikhawatirkan akan adanya kongkalikong oknum-oknum tertentu (pemboikot tiket), penimbunan tiket dan segala macam,..
untuk kasus ini bukan hanya dikawatirkan, tetapi sudah mulai terjadi.!!
bahkan gak jarang petugas sengaja kongkalikong dengan calo, jadi di loket karcis abis tetapi kenyataan di atas KA kursi masih melompong
bukan mulai lagi tapi sudah dari lama emang terjadinya 
orang yg sering naik di stasiun kiaracondong bandung tiap pagi kalau pasundan berangkat atau malam ketika kahuripan dan sawung mau berangkat pasti tahu, dan terang terangan bagaimana itu calo beraksi. padahal ya dekat dengan kantor pusat. spanduk himbauan juga gede di pasang disitu.
bahkan pernah ketika k3 dinyatakan bebas ttd saat libur panjang pun mereka si calo ini masih beraksi padahal mereka juga gak nawarin tempat duduk tapi jual karcisnya doank, saya sampek heran terus siapa yg mau modalin itu calo sampek berani ambil resiko kalau gak laku...???, ya siapa lagi kalau bukan modal kerjasama/kongkalikong tadi
saya acungi empat jempol dengan kebijakan ini, harusnya sejak dari dulu diterapkan , kita membayar/membeli suatu jasa angkutan katakan dari bandung / jakarta ke surabaya ditiket ditulis tanpa tempat duduk, la terus kita disuruh duduk dimana??????, di bordes bukan untuk penumpang, di loko tambah salah , di atap, disambungan salah juga, di restorasi bangkrut bisa bisa. apa di gang lesehan gak elok juga dilihatnya dan lagi itu tempat lalu lalang orang, atau disuruh berdiri terus sampai tempat tujuan , emangnya barang hantaran apa kayak sepeda motor aja berdiri terus.
untuk jarak dekat memang tidak apa apa dan harusnya kereta yg dipakai pun memang beda dari jenis ka komuter yg ada pegangan berdirinya.
saya kira PT KERETA API INDONESIA sudah di track perubahan yg benar . 
itu baru persoalan calo, di atas KA lebih parah mas bro
saya ngalamin sendiri waktu naik KA 166 tepat tanggal 1 Oktober kemarin
dari BW saya beli karcis tujuan SGU seharga 24ribu untuk 2 orang dan saya bayar 50ribu lalu dikembalikan 2ribu
naah saat saya cek ternyata karcis saya tertulis tujuan LEMPUYANGAN dengan harga tiket tertera 35000 dan total 70000.!!!
saat saya tanya ke loket si petugas menjawab : itu karcis batalan mas, tapi harganya sudah saya kurangi"
anehnya lagi di atas KA saat KP memeriksa sambil bertanya "turun mana mas.??"lalu saya jawab "Gubeng pak" kontan saja si KP bilang "karcisnys saya ambil ya.??"
naaah loooh
ada apa gerangan.???
haha...
kelakuan kondektur nakal juga masih terjadi ternyata
berarti kambing masih berkeliaran ya? walau gak ada karcis tetep nekat naik dengan harapan dibantu oleh sang kondektur...
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri
|