Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
All About KRL Duri - Tangerang
(05-03-2012, 11:03 AM)Dana Komuter Wrote: Yuppp.... Foto situ ini tampak dr Jl. Latumenten mengarah ke arah Tangerang yah... Sisi kanan pada foto dulu haltenya yg super kecil panjangnya... Cuma muat maks. 3 unit KRD kala itu. Soalnya aku ngalamin wkt suka nongkrong di halte Grogol ini.
Trus soal keberadaan stasiun memang nih stasiun dan secara keseluruhan di seantero Jabodetabek masih banyak yang dianak tirikan... Halte busway di Jl. Latumenten masih bernama "Latumenten Stasiun KA". Kapan yah ada stasiun KA namanya "Halte busway"???
Kalau stasiun Pesing memang masih banyak yang blm paham lokasi pastinya... Sebetulnya gampang aja kalau pemerintah mau sungguh2 mencantumkan nama stasiunnya dan berharap lebih ekstrimnya lagi, stasiunnya dibuat minimal kayak Tj. Barat yah... Jadi terlihat megah, gak tersembunyi gitu...

wah nanti bakalan ada kalimat "naik busway turun dihalte Stasiun KA lalu transit menggunakan KRL di Stasiun Halte Busway"
Eh iya lupa...

Mumpung belum jadi double traknya mending di pugar dari sekarang ya. kalo stasiun ini berfungsi mungkin masyarakat jelamabar memiliki alternatif lain jika mau kemana2. Dari pada naik Bajaj atau mikrolet macet, apalagi mobil pribadi yg nambah penuh jalan ibukota.

kalo ngga salah mau ada wacana pembangunan stasiun di Roxy (antara DU THB), klo bisa sih stasiun mati suri seperti stasiun Grogol dan Taman kota dihidupkan lagi. Sebelum sampai ditujuan akhir di tangerang ada stasiun mati suri juga, namanya stasiun Tanah tinggi. Padahal dekat menuju pusat pemerintakan kota Tangerang dan Pasar induk Tanah tinggi.

Kalo di lihat dari judul thread ini sudah tidak relevan lagi "Double Track Tangerang-Beos" padahal Duri sampe Beos kan udah Double Track dari zaman dulu
Ngikik
twitter : @zulfahmiID
Reply
(07-03-2012, 12:54 PM)zulfahmi Wrote:
(05-03-2012, 11:03 AM)Dana Komuter Wrote: Yuppp.... Foto situ ini tampak dr Jl. Latumenten mengarah ke arah Tangerang yah... Sisi kanan pada foto dulu haltenya yg super kecil panjangnya... Cuma muat maks. 3 unit KRD kala itu. Soalnya aku ngalamin wkt suka nongkrong di halte Grogol ini.
Trus soal keberadaan stasiun memang nih stasiun dan secara keseluruhan di seantero Jabodetabek masih banyak yang dianak tirikan... Halte busway di Jl. Latumenten masih bernama "Latumenten Stasiun KA". Kapan yah ada stasiun KA namanya "Halte busway"???
Kalau stasiun Pesing memang masih banyak yang blm paham lokasi pastinya... Sebetulnya gampang aja kalau pemerintah mau sungguh2 mencantumkan nama stasiunnya dan berharap lebih ekstrimnya lagi, stasiunnya dibuat minimal kayak Tj. Barat yah... Jadi terlihat megah, gak tersembunyi gitu...

wah nanti bakalan ada kalimat "naik busway turun dihalte Stasiun KA lalu transit menggunakan KRL di Stasiun Halte Busway"
Eh iya lupa...

Mumpung belum jadi double traknya mending di pugar dari sekarang ya. kalo stasiun ini berfungsi mungkin masyarakat jelamabar memiliki alternatif lain jika mau kemana2. Dari pada naik Bajaj atau mikrolet macet, apalagi mobil pribadi yg nambah penuh jalan ibukota.

kalo ngga salah mau ada wacana pembangunan stasiun di Roxy (antara DU THB), klo bisa sih stasiun mati suri seperti stasiun Grogol dan Taman kota dihidupkan lagi. Sebelum sampai ditujuan akhir di tangerang ada stasiun mati suri juga, namanya stasiun Tanah tinggi. Padahal dekat menuju pusat pemerintakan kota Tangerang dan Pasar induk Tanah tinggi.

Kalo di lihat dari judul thread ini sudah tidak relevan lagi "Double Track Tangerang-Beos" padahal Duri sampe Beos kan udah Double Track dari zaman dulu
Ngikik

Padahal deket tuh Tn. Tinggi drpd stasiun TNG yg rada jauh dikit ke pusat kotanya
kalau mau di add monggo, ga di add/follow juga ora popo Ngeledek

Reply
Stasiun Roxy nampaknya masih menunggu kepastian apakah trek ke bandara Soetta itu pakai 2 alternatif saja atau cuma 1 alternatif? Yang mana alt. 1 dr Roxy berbelok ke kiri sambung ke st. Grogol dan alt. 2 berbelok ke kiri dr st. Angke via Pluit.
Jembatan kecil peninggalan sejarah keberadaan petak rel ini :

[Image: sw4uq0.jpg]

Berjalan sedikit ke arah barat tampak pasar tumah ruah :

[Image: kyazp.jpg]
Kerumunan warga yg bertransaksi jual beli.

Masih di lokasi yang sama :

[Image: 149coid.jpg]
Merasa gondrong, biar lebih cakep atau kepanasan nih? Rambut dicukur akhh...

Tampak palang lampu perlintasan KA termenung :

[Image: iqvac3.jpg]
...krn ibarat dagu, si lampu perlintasan yg bunder itu bersender di atas kanopi lapak pasar kaget.
Masih di lokasi yg sama....


[Image: 33zbsd1.jpg]
Saat ada KRL hendak melintas.


[Image: 34o5y7k.jpg]
Saat palang pintu perlintasan KA menutup.


[Image: m8eiz8.jpg]
KRL pun melintas yang kala itu masih KRL AC Benteng Ekspres (ekspres).

Reply
@zulfahmi,
o, ya trims koreksinya. dulu waktu buat thread ini masih ngantuk. jadi lupa kalo duri-beos udah dobel dari dulu. hehehe...

bagaimana mas bravo, judul thread ini apakah bisa disesuaikan? dari tangerang-beos menjadi tangerang-duri.

dan juga letaknya apakah sudah cukup pas di gerbong komuter atau lebih pas di letakkan di jalur barat, terserah mas bravo bagaimana pertimbangannya.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
(07-03-2012, 01:32 PM)Dana Komuter Wrote: Stasiun Roxy nampaknya masih menunggu kepastian apakah trek ke bandara Soetta itu pakai 2 alternatif saja atau cuma 1 alternatif? Yang mana alt. 1 dr Roxy berbelok ke kiri sambung ke st. Grogol dan alt. 2 berbelok ke kiri dr st. Angke via Pluit.
[spoiler]

Berjalan sedikit ke arah barat tampak pasar tumah ruah :

[Image: kyazp.jpg]
Kerumunan warga yg bertransaksi jual beli.

Masih di lokasi yang sama :

[Image: 149coid.jpg]
Merasa gondrong, biar lebih cakep atau kepanasan nih? Rambut dicukur akhh...

Tampak palang lampu perlintasan KA termenung :

[Image: iqvac3.jpg]
...krn ibarat dagu, si lampu perlintasan yg bunder itu bersender di atas kanopi lapak pasar kaget.
Masih di lokasi yg sama....


[Image: 33zbsd1.jpg]
Saat ada KRL hendak melintas.


[Image: 34o5y7k.jpg]
Saat palang pintu perlintasan KA menutup.


[Image: m8eiz8.jpg]
KRL pun melintas yang kala itu masih KRL AC Benteng Ekspres (ekspres).[/spoiler]

lokasi ini kalo dibandingkan sm pasar gaplok dan gang sentiong lebih semrawut mana ya???

nyumbang artikel dari http://arkeologi.web.id/articles/memori-...ke-batavia

(sori kalo repost)

Stasiun Angke dan Stasiun Duri, Pintu Gerbang ke Batavia
Tuesday, 02 March 2010 05:29 rochtri

Batavia dan jalur kereta api. Batavia dan kanal. Batavia dan rimbun pepohonan. Itu dulu, berabad lampau. Kini, Jakarta dan macet. Jakarta dan kanal yang menyempit dan dangkal, alias got. Jakarta yang gersang. Jakarta yang tak nyaman. Jakarta yang tak punya transportasi massal yang terpadu dan dikelola pemerintah, bukan Organda. Transportasi massal dan terpadu adalah bentuk layanan publik yang harusnya disediakan oleh pemerintah. Itu adalah pertanggungjawaban atas semua pajak warga, Anda dan saya.

Saya hanya bisa membayangkan ketika Jakarta masih Batavia dengan trem, kereta yang menghubungkan Tanjungpriuk-Batavia-Meester Cornelis-Weltevreden yang pada akhirnya menghubungkan Batavia dengan kota-kota di Jawa Barat, Timur, dan Tengah. Bahkan jika sempat Anda tengok jalur kereta api dari puncak Monas, maka akan terlihat, Batavia dikelilingi jalur lintas kereta api. Jenis transportasi yang pertama kali dibawa Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini sungguh jadi andalan Batavia.

Pada akhirnya, seluruh kawasan Batavia bisa dijangkau dengan kereta api. Foto-foto kuno milik KITLV menunjukkan beberapa halte trem Tanah Abang West-Weltevreden. Ketika masa NISM berakhir, Staatspoorwegen (SS) menggantikan urusan penyelenggaraan jaringan kereta api. Di Batavia, hidup makin sumringah ketika pada April 1875 dibuka jaringan kereta listrik oleh Electrische Staatspoorwegen. Maka kawasan pinggiran yang di masa itu sulit dijangkau, kawasan di luar Batavia, kini mudah dicapai.

Beberapa waktu lalu, saya sempatkan mampir kembali ke Jembatan Lima, Jakarta Barat. Kawasan ini tak hanya dipenuhi jembatan tapi juga dilalui jalur kereta api. Hanya saja, lintas ini jarang disebut-sebut. Padahal, dari catatan Dinas Museum tahun 1993, Kampung Jembatan Lima merupakan pintu gerbang orang dari kulon ke Batavia. Penghubungnya tak lain kereta api, dengan Stasiun Angke yang membawa orang dari Tangerang, Pandeglang, Banten, Baturaja, Rangkasbitung, dll.

Kini, stasiun itu sudah berubah total dengan toko yang memenuhi hampir seluruh gedung stasiun yang ada di areal pasar buah, Angke. Setelah Stasiun Angke dengan lintasan yang tak pernah sepi dari warga berkegiatan, maka muncullah Stasiun Duri. Kondisi lintasan di sini juga tak jauh berbeda. Sore hari, ketika orang menanti kereta, warga sekitar juga memenuhi lintasan. Anak-anak bahkan bermain bola.

Tak seperti Stasiun Angke, Stasiun Duri masih menyisakan tanda-tanda sebagai stasiun kuno. Bangunan itu telihat baru saja dicat ulang namun tak tampak nama stasiun seperti yang biasa ada pada setiap stasiun lengkap dengan angka ketinggian stasiun.

Dua stasiun tadi, termasuk Tanah Abang, Paal Merah, memang stasiun kecil. Hanya sebagai stasiun antara yang mengantar warga di lintas barat Batavia. Meski kecil, stasiun-stasiun dan jalur tersebut bukanlah jalur biasa karena sudah dibikin oleh Belanda. Kisah jalur kereta api hingga ke Bayah, jalur mati, dan Merak tak kalah menarik dengan jalur Batavia-Buitenzorg atau jalur dalam kota Batavia. Hanya saja, kisah itu tampaknya kurang terangkat. Sejarah, perkiraan tahun pembangunan jalur dan stasiun kecil tersebut di atas pun belum terlacak. Semoga ini menjadi perhatian Divisi Pelestarian PT KA.

Stasiun Utama
Dalam rangka mengembangkan angkutan massal berbasis kereta api, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerjasama dengan PT Kereta Api (KA), berencana mengembangkan layanan transportasi kereta lingkar kota (loopline) di wilayah utara Jakarta yang langsung terhubung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Untuk keperluan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pernah menyatakan, akan menjadikan Stasiun Duri sebagai salah satu stasiun utama. Sehingga stasiun ini akan mulai direvitalisasi pada tahun ini.

Untuk itu, revitalisasi Stasiun Duri harus menyeluruh, temasuk penyediaan transportasi pendukung (feeder) dan pembenahan permukiman liar. Selain itu, menurut Fauzi, tahun ini Pemprov DKI juga akan membangun Pluit City Terminal, yaitu stasiun lengkap dengan jalur kereta yang langsung menuju bandara.



Pradaningrum Mijarto
Sumber: http://www1.kompas.com/readkotatua/


[Image: 00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg]
Murtini

Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012

Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.

Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
Reply
^^

lebih semrawut di sanalah, sekarang pasar Gaplok dah dibersihin, pasar tetep ada tapi diberi garis penghalang jadi pedagang ga bisa jualan di rel lagi Ngeledek

Back on Topic

pic dr arah sebaliknya (menuju duri)

[Image: Foto0065.jpg]
kalau mau di add monggo, ga di add/follow juga ora popo Ngeledek

Reply
SENIN, 07 MEI 2012 | 20:30 WIB
Rel Ganda Duri-Tangerang Sedot Rp 538,16 Miliar
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah segera menyelesaikan pembangunan jalur ganda Duri - Tangerang. Proyek senilai Rp 538,16miliar ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2013. Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan pembangunan badan jalan kereta Api sudah selesai sejak 2011. "Saat ini tengah dibangun kelengkapan dan sarana relnya,"kata dia dalam konferensi pers di Hotel Millennium, Senin 7 Mei 2012. Proyek jalur ganda Duri - Tangerang terdiri dari rute Duri - Pesing sepanjang 3,7 kilometer, Pesing - Rawa Buaya 5,1 kilometer, Rawa Buaya - Kalideres 2,56 kilometer, Kalideres - Poris 2,50 kilometer, Poris - Batu Ceper 1,78 kilometer serta Batu Ceper - Tanggerang 3,63 kilometer.

Tundjung menyatakan pihaknya sudah mengucurkan dana sebesar Rp 20miliar untuk membangun badan jalan rute Kalideres - Poris dan Batu Ceper - Tangerang pada 2010. Sedangkan pada 2011 Kementerian Perhubungan mengucurkan dana Rp 28,16miliar untuk pembangunan badan jalan Duri - Kalideres. Pada 2012, Kementerian Perhubungan mengucurkan dana sebesar Rp 340miliar untuk menyelesaikan pembangunan badan jalan Poris - Batu Ceper serta memasang sarana kelengkapan seperti jembatan, rel, elektrifikasi, persinyalan dan telekomunikasi. "Sisanya sebesar Rp 105miliar untuk penyelesaian persinyalan dan telekomunikasi tahun depan,"ujarnya.

Jalur rel ganda lintas Duri - Tanggerang dibangun untuk mendukung operasi kereta api commuter line Bandara Soekarno - Hatta. Kapasitas perlintasan kereta akan ditambah dari 52 armada per hari menjadi 104 armada per hari.

Sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/07...816-Miliar

Reply
Apakah nantinya stasiun yg ga aktif macam grogol n tanah tinggi akan aktif lagi kalau jalur duri ke tangerang jadi double track...?
Ingatlah akan kebesaran hati Sri Sultan HB VII yang sudah membolehkan tanahnya untuk dipakai sebagai tempat "sabuk besi" beserta kelengkapannya di wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat......
Reply
Om , mau tanya nih agak OOT . RF di tangerang biasa kumpul dimana ??
[spoiler]
[Image: 15052012060.jpg] [/spoiler]
Reply
(18-05-2012, 08:30 AM)Bimantara Wrote: Om , mau tanya nih agak OOT . RF di tangerang biasa kumpul dimana ??

kayaknya biar kata ada RF di Tangerang, mereka kalo hunting itu nggak di stasiun TNG apalagi Duri, palingan Manggarai
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)