Posts: 10
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
0
(10-06-2008, 10:01 AM)kepala_stasion Wrote:
![[Image: ka-d.gif]](http://suarapembaca.detik.com/content_image/2008/06/09/283/ka-d.gif)
'Seperti dikutip dari suara pembaca detik.com'
Quote:Kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia. Kekecewaan atas gerbong eksekutif kereta api sawunggalih.
Kejadian ini terjadi pada perjalanan Kebumen-Jakarta Minggu malam tanggal 8/9 juni 2008. Saya memilih gerbong eksekutif Kereta Api Sawunggalih dengan pertimbangan adalah suasana yang nyaman dan layanan yang lebih baik. Meskipun untuk itu saya harus mengganti harga tiket hampir dua kali lebih mahal daripada tiket kelas bisnis.
Harga tiket untuk gerbong eksekutif adalah sebesar Rp 130.000. Sedangkan harga tiket kelas bisnis adalah Rp 70.000. Cukup besar perbedaannya bukan?
Dengan harga sebesar itu saya berekspektasi akan mendapatkan kursi reclining seat yang nyaman, ruangan ber-AC, kursi yang lebih lega, toilet lebih bersih, dan tentunya ruang jalan yang kosong dari tiket berdiri sehingga lebih mudah untuk akses ke toilet. Dengan demikian saya akan lebih segar sekembalinya di Jakarta nanti karena langsung berangkat kerja.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Kekecewaan saya yang pertama adalah kursi reclining yang tidak dapat ditegakan. Kursi tersebut sudah saya usahakan sesuai prosedur untuk ditegakkan yaitu memencet tombol untuk mengwmbalikan posisi sandaran. Dan, saya sempat minta tolong kepada awak kereta untuk membetulkan karena selain tidak nyaman juga mengganggu penumpang di belakang saya.
Si awak kereta hanya berusaha sedikit akan tetapi tetap tidak berhasil dan dengan ringannya menjawab, "maaf, Pak, kursinya rusak" tanpa ada usaha lain. Saya tetap meminta untuk dibetulkan. Akan tetapi dia tetap menjawab sudah rusak dan tidak bisa dibetulkan.
Kemudian akhirnya dengan diajar oleh Omm saya yang kebetulan pulang bareng kursi tersebut dapat ditegakkan. Hanya dengan menarik pengait di bawah kursi. Saya sungguh kecewa atas ketidakprofesionalan awak kereta yang dengan mudahnya bilang kursi rusak tanpa usaha lain apa pun. Padahal untuk membetulkan alangkah mudahnya bagi yang lebih tahu. Apakah awak kereta tidak diajari hal-hal semacam itu? Foto kursi saya lampirkan.
Kekecewaan kedua. Setelah melewati stasiun Purwokerto satu persatu ada penumpang yang masuk ke gerbong eksekutif meskipun kursi telah penuh. Mereka menggelar koran di sepanjang jalan gerbong. Whats? Kereta eksekutif ada tiket berdirinya?
Saya yang sudah dongkol dari awal perjalanan semakin jengkel saja. Hampir sepanjang jalan dalam gerbong penuh akan penumpang yang tidur menggelar koran. Sebagian besar penumpang adalah pemuda pria dengan potongan rambut cepak dengan postur yang gagah. Saya tidak menuduh itu adalah oknum TNI atau POLRI. Tapi, ada yang menggunakan jaket dengan tulisan Lantamal dan tas Marinir, serta sepatu PDL yang tinggi itu.
Akses ke toilet semakin susah. Bahkan Omm saya harus berusaha keras untuk ke toilet karena kaki beliau sedang terserang asam urat. Untuk melangkah yang lebar tinggi melangkahi orang-orang yang tidur di lantai akan sangat kesakitan.
Rasa jengkel semakin menjadi-jadi ketika sehabis Cirebon ada Bapak Kondektur yang terhormat membangunkan satu per satu penumpang tersebut dan menerima uang sekedar untuk membolehkan mereka menumpang di situ. Terakhir saya dengar bahwa awak kereta termasuk Kondektur kereta katanya ketakutan karena si penumpang gelap adalah oknum aparat. Tapi, kok masih mau menarik duit juga? Kalau memang takut kok berani-beraninya minta duit?
Dan karena jumlah penumpang yang mengisi gerbong eksekutif semakin banyak maka AC gerbong tidak mampu lagi mendinginkannya. Ruangan menjadi semakin pengap.
Dalam hal ini saya merasa dirugikan. Bahkan, seluruh penumpang dengan tiket resmi Rp 130.000 yang hampir dua kali lipat dengan harga tiket kelas bisnis. Pada waktu saya memotret ada beberapa orang juga yang memotret dengan menggunakan telepon genggam, dan ada yang mengacungkan jempol pada saya karena mungkin mengira saya wartawan dengan kamera DSLR.
Saya tidak habis pikir apakah pihak PT Kereta Api (Persero) tetap membiarkan oknum kondektur yang masih mepertahankan cara-cara lama untuk menambah pemasukannya. Padahal kondisi tersebut sangat merugikan penumpang yang menggunakan tiket resmi kelas eksekutif. Apalah bedanya kelas eksekutif dengan kelas bisnis? Dengan harga 2 kali lipat.
Mungkin saya akan bertoleransi apabila penumpang tanpa tiket tersebut ada dalam ruanga restorasi atau ruangan pembangkit yang memang merupakan ruangan milik awak kereta karena mungkin tidak setiap orang mempunyai rejeki yang cukup untuk melakukan perjalanan. Tapi ini ada di ruangan/gerbong eksekutif yang mengutamakan kenyamanan penumpang.
Dengan dikirimkan surat pembaca ini saya mengharapkan pihak kereta dapat memberikan kompensasi kepada penumpang yang menggunakan tiket resmi seperti saya yang sangat dirugikan akan adanya penumpang gelap di gerbong eksekutif. Apabila tidak bersedia PT KA (Persero) dapat melakukan evaluasi sehingga tidak diulang kembali di perjalanan selanjutnya.
Di samping itu terhadap kondektur-kondektur yang masih suka menaikkan penumpang gelap agar diberikan teguran atau bahkan peringatan. Oleh karena kelakuan dia dapat merugikan penumpang dan menambah jelek wajah pihak PT KA (Persero). Apabila ditenggarai awak kereta tidak berani menahan penumpang gelap karena penumpang tersebut adalah aparat TNI/Polri. Mungkin lebih baik yang melakukan operasi di kereta yang biasanya dilakukan oleh Polsuska diganti oleh Polisi Militer/PM.
Demikian surat ini saya buat dan saya harapkan PT KA (Persero) dapat segera menanggapinya. Terima kasih.
Fajar Karyanto
Kementerian Negara BUMN
Gedung Garuda
Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat
<!-- e --><a href="mailto:fajar.karyanto@gmail.com">fajar.karyanto@gmail.com</a><!-- e -->
08159692902
Setelah baca artikelnya, jadi mkir2 lagi naek kelas eksekutif sawungg.
wong pejabat ajah digituin sama awak ka, gimana kita yang notabane gak punya jabatan dan status hanya masyarakat biasa.?
keterlaluan banget deh tuh awak ka.
KP takut sama pejabat negara, fasilitas tidak sebaik harga, siapa yang salah nih?
Posts: 144
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
4
(18-04-2012, 04:47 PM)siswajipurwo Wrote: Kalau saya boleh usul nih mas hendaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daops 5 PWT memperlakukan Ka Sawungtama baik pagi maupun malam dari PSE dan KTA sama seperti Ka Purwojaya dari gerbong K1 dan K2 serta fasilitas yang sama dengan Purwo, gerbong Purwo terawat sedangkan gerbong Sawungtama nggak. mhn maaf kalau ada salah.
Kalau Ka Sawungtama dari KTA ada K1 nya, sedangkan dari PSE Ka Sawungtama tidak ada K1nya, kalau tidak salah yah.
emang purwojaya kek gimana gan?
K2 nya 11-12 ama sawung ah....
seat cover kaga ada,kipas angin gantung juga ga make,tirai jendela juga ga ada,yg bikin beda cuma si purwo di gambir sawung di mutasi dari gambir ke pse,just it...klo sawung yg full k2 ga usah di bandingin soale emang cuma bawa k2 beda ama ka sawung eksis 113 & purwo
(18-04-2012, 09:58 PM)tris_milanisti Wrote: Setelah baca artikelnya, jadi mkir2 lagi naek kelas eksekutif sawungg.
wong pejabat ajah digituin sama awak ka, gimana kita yang notabane gak punya jabatan dan status hanya masyarakat biasa.?
keterlaluan banget deh tuh awak ka.
KP takut sama pejabat negara, fasilitas tidak sebaik harga, siapa yang salah nih?
elo baca page one doank ya?
Posts: 125
Threads: 0
Joined: Apr 2010
Reputation:
1
(18-04-2012, 11:46 PM)Kutukupret Wrote: (18-04-2012, 04:47 PM)siswajipurwo Wrote: Kalau saya boleh usul nih mas hendaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daops 5 PWT memperlakukan Ka Sawungtama baik pagi maupun malam dari PSE dan KTA sama seperti Ka Purwojaya dari gerbong K1 dan K2 serta fasilitas yang sama dengan Purwo, gerbong Purwo terawat sedangkan gerbong Sawungtama nggak. mhn maaf kalau ada salah.
Kalau Ka Sawungtama dari KTA ada K1 nya, sedangkan dari PSE Ka Sawungtama tidak ada K1nya, kalau tidak salah yah.
emang purwojaya kek gimana gan?
K2 nya 11-12 ama sawung ah....
seat cover kaga ada,kipas angin gantung juga ga make,tirai jendela juga ga ada,yg bikin beda cuma si purwo di gambir sawung di mutasi dari gambir ke pse,just it...klo sawung yg full k2 ga usah di bandingin soale emang cuma bawa k2 beda ama ka sawung eksis 113 & purwo
Klo buat orang PWT yg sering bgt pake Sawung n Purwojaya pasti kerasa beda bgt deh trutama yg exa. Klo yg bisnia jg beda, mnurut pengalaman ane bisnis sawung lebih kotor, kursinya sering kotor, banyak debu, jendela kotor gmn gitu, toilet sering ga bersih, pelayanan lebih tidak ramah, banyak pedagang masuk (yg satu ini dah dulu, tapi dulu Purwojaya hampir ga ada pedagang jg, mungkin karena jadwalnya yg beda he3), sering nelat, terkesan lebih kurang tertib dan ada faktor X lain spt panas karena Sawung siang perjalanannya full tengah hari dsb. Tapi sawung tetep mantjab kok
Posts: 2,439
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
62
19-04-2012, 05:13 PM
(This post was last modified: 19-04-2012, 05:18 PM by Billy Dancing.)
(18-04-2012, 09:58 PM)tris_milanisti Wrote: (10-06-2008, 10:01 AM)kepala_stasion Wrote:
![[Image: ka-d.gif]](http://suarapembaca.detik.com/content_image/2008/06/09/283/ka-d.gif)
'Seperti dikutip dari suara pembaca detik.com'
Quote:Kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia. Kekecewaan atas gerbong eksekutif kereta api sawunggalih.
Kejadian ini terjadi pada perjalanan Kebumen-Jakarta Minggu malam tanggal 8/9 juni 2008. Saya memilih gerbong eksekutif Kereta Api Sawunggalih dengan pertimbangan adalah suasana yang nyaman dan layanan yang lebih baik. Meskipun untuk itu saya harus mengganti harga tiket hampir dua kali lebih mahal daripada tiket kelas bisnis.
Harga tiket untuk gerbong eksekutif adalah sebesar Rp 130.000. Sedangkan harga tiket kelas bisnis adalah Rp 70.000. Cukup besar perbedaannya bukan?
Dengan harga sebesar itu saya berekspektasi akan mendapatkan kursi reclining seat yang nyaman, ruangan ber-AC, kursi yang lebih lega, toilet lebih bersih, dan tentunya ruang jalan yang kosong dari tiket berdiri sehingga lebih mudah untuk akses ke toilet. Dengan demikian saya akan lebih segar sekembalinya di Jakarta nanti karena langsung berangkat kerja.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Kekecewaan saya yang pertama adalah kursi reclining yang tidak dapat ditegakan. Kursi tersebut sudah saya usahakan sesuai prosedur untuk ditegakkan yaitu memencet tombol untuk mengwmbalikan posisi sandaran. Dan, saya sempat minta tolong kepada awak kereta untuk membetulkan karena selain tidak nyaman juga mengganggu penumpang di belakang saya.
Si awak kereta hanya berusaha sedikit akan tetapi tetap tidak berhasil dan dengan ringannya menjawab, "maaf, Pak, kursinya rusak" tanpa ada usaha lain. Saya tetap meminta untuk dibetulkan. Akan tetapi dia tetap menjawab sudah rusak dan tidak bisa dibetulkan.
Kemudian akhirnya dengan diajar oleh Omm saya yang kebetulan pulang bareng kursi tersebut dapat ditegakkan. Hanya dengan menarik pengait di bawah kursi. Saya sungguh kecewa atas ketidakprofesionalan awak kereta yang dengan mudahnya bilang kursi rusak tanpa usaha lain apa pun. Padahal untuk membetulkan alangkah mudahnya bagi yang lebih tahu. Apakah awak kereta tidak diajari hal-hal semacam itu? Foto kursi saya lampirkan.
Kekecewaan kedua. Setelah melewati stasiun Purwokerto satu persatu ada penumpang yang masuk ke gerbong eksekutif meskipun kursi telah penuh. Mereka menggelar koran di sepanjang jalan gerbong. Whats? Kereta eksekutif ada tiket berdirinya?
Saya yang sudah dongkol dari awal perjalanan semakin jengkel saja. Hampir sepanjang jalan dalam gerbong penuh akan penumpang yang tidur menggelar koran. Sebagian besar penumpang adalah pemuda pria dengan potongan rambut cepak dengan postur yang gagah. Saya tidak menuduh itu adalah oknum TNI atau POLRI. Tapi, ada yang menggunakan jaket dengan tulisan Lantamal dan tas Marinir, serta sepatu PDL yang tinggi itu.
Akses ke toilet semakin susah. Bahkan Omm saya harus berusaha keras untuk ke toilet karena kaki beliau sedang terserang asam urat. Untuk melangkah yang lebar tinggi melangkahi orang-orang yang tidur di lantai akan sangat kesakitan.
Rasa jengkel semakin menjadi-jadi ketika sehabis Cirebon ada Bapak Kondektur yang terhormat membangunkan satu per satu penumpang tersebut dan menerima uang sekedar untuk membolehkan mereka menumpang di situ. Terakhir saya dengar bahwa awak kereta termasuk Kondektur kereta katanya ketakutan karena si penumpang gelap adalah oknum aparat. Tapi, kok masih mau menarik duit juga? Kalau memang takut kok berani-beraninya minta duit?
Dan karena jumlah penumpang yang mengisi gerbong eksekutif semakin banyak maka AC gerbong tidak mampu lagi mendinginkannya. Ruangan menjadi semakin pengap.
Dalam hal ini saya merasa dirugikan. Bahkan, seluruh penumpang dengan tiket resmi Rp 130.000 yang hampir dua kali lipat dengan harga tiket kelas bisnis. Pada waktu saya memotret ada beberapa orang juga yang memotret dengan menggunakan telepon genggam, dan ada yang mengacungkan jempol pada saya karena mungkin mengira saya wartawan dengan kamera DSLR.
Saya tidak habis pikir apakah pihak PT Kereta Api (Persero) tetap membiarkan oknum kondektur yang masih mepertahankan cara-cara lama untuk menambah pemasukannya. Padahal kondisi tersebut sangat merugikan penumpang yang menggunakan tiket resmi kelas eksekutif. Apalah bedanya kelas eksekutif dengan kelas bisnis? Dengan harga 2 kali lipat.
Mungkin saya akan bertoleransi apabila penumpang tanpa tiket tersebut ada dalam ruanga restorasi atau ruangan pembangkit yang memang merupakan ruangan milik awak kereta karena mungkin tidak setiap orang mempunyai rejeki yang cukup untuk melakukan perjalanan. Tapi ini ada di ruangan/gerbong eksekutif yang mengutamakan kenyamanan penumpang.
Dengan dikirimkan surat pembaca ini saya mengharapkan pihak kereta dapat memberikan kompensasi kepada penumpang yang menggunakan tiket resmi seperti saya yang sangat dirugikan akan adanya penumpang gelap di gerbong eksekutif. Apabila tidak bersedia PT KA (Persero) dapat melakukan evaluasi sehingga tidak diulang kembali di perjalanan selanjutnya.
Di samping itu terhadap kondektur-kondektur yang masih suka menaikkan penumpang gelap agar diberikan teguran atau bahkan peringatan. Oleh karena kelakuan dia dapat merugikan penumpang dan menambah jelek wajah pihak PT KA (Persero). Apabila ditenggarai awak kereta tidak berani menahan penumpang gelap karena penumpang tersebut adalah aparat TNI/Polri. Mungkin lebih baik yang melakukan operasi di kereta yang biasanya dilakukan oleh Polsuska diganti oleh Polisi Militer/PM.
Demikian surat ini saya buat dan saya harapkan PT KA (Persero) dapat segera menanggapinya. Terima kasih.
Fajar Karyanto
Kementerian Negara BUMN
Gedung Garuda
Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat
<!-- e --><a href="mailto:fajar.karyanto@gmail.com">fajar.karyanto@gmail.com</a><!-- e -->
08159692902
Setelah baca artikelnya, jadi mkir2 lagi naek kelas eksekutif sawungg.
wong pejabat ajah digituin sama awak ka, gimana kita yang notabane gak punya jabatan dan status hanya masyarakat biasa.?
keterlaluan banget deh tuh awak ka.
KP takut sama pejabat negara, fasilitas tidak sebaik harga, siapa yang salah nih?
Wkkwk... liat dulu dong itu kan tahun 2008, saat itu emang K1-nya Sawunggalih masih pakai yang jelek.
DJ rail = Sawunggalih gak parah-parah amat kok. Sekarang dia udah prima, masuk PSE sekitar 14.55 dan 03.30. Lagian juga keadaan K1-nya gak memprihatinkan banget. Kapan terakhir kali naik K1 Sawunggalih ? Gw aja pas ngeliat Sawunggalih lagi berhenti di JNG jadi mupeng ngeliatnya -_- AC freezer, kursi pakai seat cover dan empuk, pintu manual tidak rusak, lampu baca nyala semua (bisa dimatiin kok). Bahkan, kalau menurut gw K1 0 99 (Eksis dan Satwa) milik Sawunggalih lebih bagus ketimbang beberapa K1 Argo dan Satwa milik Argo Muria. Tapi kalau pelayanan, entahlah..
Posts: 1,184
Threads: 0
Joined: Dec 2011
Reputation:
13
Sawung k2 kebanggaan wong kutoarjo
Posts: 30
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
1
jumat 4 mei 2012 naek sawunggalih pagi dari KTA-PSE dpt bisnis 4/10D, kayanya memang ga terawat ni kereta kursi ada yang uda lepas jahitannya, lantai buluk trus ada binatang2 kecil yang berkeliaran, 
mudah2an fasilitas ni kereta dibenahi biar makin bagooos...
Posts: 16
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
0
Bener hari ini baru turun dari sawung jam 15.00 dapet gerbong 3 kaca pada pecah bekas timpukan batu. Atap deket toilet bocor pas ujan. Mudah2an bisa dirawat dengan baik karena okupansinya bagus
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(07-05-2012, 05:56 PM)gnk_lavezzi Wrote: Bener hari ini baru turun dari sawung jam 15.00 dapet gerbong 3 kaca pada pecah bekas timpukan batu. Atap deket toilet bocor pas ujan. Mudah2an bisa dirawat dengan baik karena okupansinya bagus
Sempat tau ato malah sempat ingat nomer seri kereta yg bocor atapnya itu, Um...?
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 16
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
0
Ga hafal pokoknya samping no 17C 17D yang hampir di tiap jendelanya kacanya hampir pecah bekas kena timpukan batu. Bagus cleaning servinya tanggap jadi langsung di pel. Hehe
Posts: 10
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
0
semalam naek Sawunggalih bisnis KTA-PSE walo dengan sedikit keterlambatan masalah teknis, disini ane baru tahu kalo sekarang di Sawunggalih bisnis sdh ga bisa mesen indomie lagi, kata krunya cm ada di Sawunggalih ekonomi saja, hehhehe
|