Posts: 460
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
11
Pedagang itu menurut saya juga ada keuntungannya untuk penumpang. Kalau tiada terpaksa musti beli di restaurati yang lebih mahal. Apa itu tujuan PT Persero untuk meningkatkan penjualan di kereta makan? Lagi pula dengan adanya asongan penumpang bisa menikmati makanan dan oleh2 daerah2 yang dilewatin.
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
Hahaha, ada hal yang tidak bisa kita dapatkan di Reska namun ada di asongan. Karena itu, saya cukup maklum dengan keberadaan mereka. Lha wong saya juga cukup butuh mereka  Secara umum sih asongan di pantura baik-baik dan sopan-sopan sih yah. Lain cerita di Cirebon, masuk rame-rame, teriak-teriak, gangguin orang tidur :v
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 377
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
0
(28-07-2012, 12:59 PM)ardial Wrote: (19-02-2012, 11:15 PM)eri4nto Wrote: asongan cirebon emang "super" sekali.. begitu kereta berhenti langsung menyerbu dgn ganas, hehehe..
kayaknya karena isue pembentukan provinsi cirebon menyebabkan mereka bermental bonek dalam berjualan, jadi mereka dibacking oleh oknum pejabat supaya mereka jualannya mesti dibeli dengan paksaan kalau tidak mereka akan bersama teman2nya menuntut separatisme+menganggap apapun dari jakarta musti beli di cirebon
kayaknya gak nyambung deh klo isu provinsi dikaitkan sama yang ginian, sory ya bro...
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
Waduh, sampe asongan aja dipolitisasi *dihubungkan ke politik maksudnya*  kalo dari pandangan saya sih, asongan Cirebon begitu hardcore gara-gara semua kereta dari dan menuju Jakarta kalo gak berhenti di Cirebon Prujakan ya Cirebon Kejaksan. Stasiunnya gak pernah sepi. Daripada ngikut ngider di dalem kereta yang berjalan, mendingan ditungguin aja di stasiun, kereta nya bakal dateng sendiri kok  dan "celaka" nya mereka selalu masuk ke dalam kereta hampir bersamaan, rame-rame, dan teriak-teriak. Phew .... gak ekonomi, bisnis, bahkan eksekutif semuanya disatroni juga ....
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 568
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
2
(03-09-2012, 05:50 AM)Hungry Soul Wrote: Waduh, sampe asongan aja dipolitisasi *dihubungkan ke politik maksudnya* kalo dari pandangan saya sih, asongan Cirebon begitu hardcore gara-gara semua kereta dari dan menuju Jakarta kalo gak berhenti di Cirebon Prujakan ya Cirebon Kejaksan. Stasiunnya gak pernah sepi. Daripada ngikut ngider di dalem kereta yang berjalan, mendingan ditungguin aja di stasiun, kereta nya bakal dateng sendiri kok dan "celaka" nya mereka selalu masuk ke dalam kereta hampir bersamaan, rame-rame, dan teriak-teriak. Phew .... gak ekonomi, bisnis, bahkan eksekutif semuanya disatroni juga .... 
Ane setuju aja selama asongan itu masih sopan2 dalam menawarkan dagangannya, dan tentunya jangan sampe asongan ngider sampe ke dalam gerbong terutama eksekutif, dulu waktu peron CN belum ditinggikan seperti sekarang beberapa kali ane naek KA eksekutif tuh asongan baik2 kok ga nyampe masuk ke bordes hanya teriak2 aja dari peron
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(31-08-2012, 11:48 PM)Logawa_ATB Wrote: (31-08-2012, 11:12 AM)Joe_cn Wrote: [spoiler]
Ya ga bisa dong om bukan masalah percontohan ato lain2, kalo emang dicabut larangannya ya spanduknya harus dicabut, itu kan akan mengganggu kenyamanan pengguna KA juga, mereka ngertinya di kereta gada asongan, lha ketika kereta berangkat dan berhenti di stasiun tertentu tuh asongan tetap ada.
Lagian spanduk di SGU kan bukan maksudnya cuma di SGU aja tuh asongan ga masuk KA mestinya di semua stasiun yang akan dilewati KA itu dong,gimana seh?
Masa spanduk itu artinya hanya di SGU asongan ga jualan, sementara di stasiun lain terserah deh???
Terus terakhirnya pake kalimat kalo ane ga salah. kalo gitu kita yang baca perlu percaya ga tulisan ente bang? [/spoiler]
Kalo saya koq malah berpandangan lain ya..., saya malah menganalogikan spanduk berisi larangan itu kyk rambu2 lalu lintas.
Misal ilustrasinya kyk gini, penumpang KA ibarat penumpang bis TransJakarta. Penumpang bis tsb pingin nyaman dlm perjalanan, nggak macet & sampai tujuan tempat kerja pun cepet. Akhire jln dimana bis tsb melintas dibuat steril, dipasangi rambu2 lalu lintas selain bis TransJakarta "DILARANG MASUK".
Eh, kenyataannya kalo lihat di tivi & baca berita di koran masih ada saja kendaraan pribadi kyk sepeda motor & mobil nyerobot masuk. Alasan mereka, jalur di sebelahnya macet. Itu ajah masih ada rambu2 masih diserobot. Trus akhire pihak pengelola seolah2 pasif / nggak ada aksi utk menghalau. Penumpang bis TransJakarta yg merasa nggak nyaman akhire minta ketimbang di-serobot2 terus mending rambu2nya dibuang saja. Kalo udah kyk gitu saya pikir sepeda2 motor & mobil2 pribadi yg menyerobot jalur tsb malah ada di posisi menang. Lha wong nggak ada larangan lg koq... 
Asongan di stasiun2 itu ada akibat dari PEMBIARAN dari kinerja Dirut2 terdahulu yg akhirnya membuat suatu kultur yg turun temurun, apalg menyangkut isi perut & hajat hidup org banyak. Mau dirubah dlm waktu singkat pun nggak gampang, perlu waktu utk mengikisnya pelan2. Saya rasa perlu peran aktif dr pengguna jasa KA jg. Asongan nggak perlu naik ke dalam kereta & penumpang KA bersedia turun kalo mau jajan atau membeli oleh2 atau cemilan. Kalo merasa resiko meninggalkan tas berisi barang2 berharga ya puasa/nggak perlu jajan.
Kalo saya berposisi sebagai pedagang asongan ya berpikir rasional sj. Kalo ada duit banyak ya tinggal sewa buka kios di area peron stasiun. Kalo nggak ada duit banyak ya mencoba mencari celah bisnis yg lain. Toh, kalo merasa makhluk ber-Tuhan pasti akan ada berkah2 yg berdatangan kalo kita percaya kepadaNya & selalu berusaha.
#sorry, kepanjangan 
Wah asik neh jadi rame gini ngomentari asongan masuk KA.
Betul om emang ada celah dimana2 untuk mencari uang tapi ya memang sangat disayangkan ketika penumpang perlu dengan susah payah masuk ke dalam peron padahal mereka sudah susah payah bayar uang seharga tiket juga ditambah dengan harus disamakan dengan identitas, sementara masih banyak pedagang yang nyelonong masuk ke KA, lha sebenarnya yang mau diproritaskan ini siapa?pedagang ato penumpangnya?
sebenarnya koq jadi ribet banget buat naek KA ini, uda harus masuk dengan susah payah di KA pun harus tidur dengan susah payah pula, padahal gada lho keluhan dari para pengguna KA khususnya kelas bawah yang menginginkan ditiadakannya pedagang asongan.
sayangnya asongan2 di kereta banyak yang ga sopan padahal penumapang2 KA masih menerima koq keberadaan mereka, di antara mereka gada tuh yang melapor ke polsuska ato kondektur untuk mengusir mereka, sayangnya pedagang asongan tidak tahu itu, dan malah menjadi jadi bila jualannya tidak laku.
Nah sekarang ini mampukah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang uda 9 bulan ini perarturan sudah mulai berlaku sepertinya belum efektif sama sekali.
Daripada ga bisa menerapkan aturan ini, ya lebih baik dikembalikan lagi ke asal, asongan boleh berjualan daripada para penumpang kecewa yang katanya kereta steril dari asongan eh ternyata malah bejubel....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(03-09-2012, 10:57 AM)Joe_cn Wrote: Wah asik neh jadi rame gini ngomentari asongan masuk KA.
Betul om emang ada celah dimana2 untuk mencari uang tapi ya memang sangat disayangkan ketika penumpang perlu dengan susah payah masuk ke dalam peron padahal mereka sudah susah payah bayar uang seharga tiket juga ditambah dengan harus disamakan dengan identitas, sementara masih banyak pedagang yang nyelonong masuk ke KA, lha sebenarnya yang mau diproritaskan ini siapa?pedagang ato penumpangnya?
sebenarnya koq jadi ribet banget buat naek KA ini, uda harus masuk dengan susah payah di KA pun harus tidur dengan susah payah pula, padahal gada lho keluhan dari para pengguna KA khususnya kelas bawah yang menginginkan ditiadakannya pedagang asongan.
sayangnya asongan2 di kereta banyak yang ga sopan padahal penumapang2 KA masih menerima koq keberadaan mereka, di antara mereka gada tuh yang melapor ke polsuska ato kondektur untuk mengusir mereka, sayangnya pedagang asongan tidak tahu itu, dan malah menjadi jadi bila jualannya tidak laku.
Nah sekarang ini mampukah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang uda 9 bulan ini perarturan sudah mulai berlaku sepertinya belum efektif sama sekali.
Daripada ga bisa menerapkan aturan ini, ya lebih baik dikembalikan lagi ke asal, asongan boleh berjualan daripada para penumpang kecewa yang katanya kereta steril dari asongan eh ternyata malah bejubel....
Kalo dikembalikan ke asal berarti PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menyerah dong..., terjadi PEMBIARAN lagi ya ntar kasihan Dirut selanjutnya. Mau nertibin makin tambah susah.
Ya memang dilema jg kalo udah menyangkut urusan perut & hajat hidup org banyak. Mengusir asongan pun nggak ada dasar hukumnya, malah2 ntar dituntut balik jd repot.
Paling tdk ada win win solution, misal spanduk larangan diganti tulisannya jd "ASONGAN DILARANG BERJUALAN SAAT KERETA BERJALAN" yg mana intinya asongan boleh berdagang di stasiun asal tertib, sopan dlm menjajakan dagangannya, tdk mengganggu kenyamanan penumpang & pada saat KA akan berjalan diHARUSkan turun. Kalo disterilkan sama sekali ya terjadi praktek monopoli. Bener nggak sich...?
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(03-09-2012, 11:53 PM)Logawa_ATB Wrote: Kalo dikembalikan ke asal berarti PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menyerah dong..., terjadi PEMBIARAN lagi ya ntar kasihan Dirut selanjutnya. Mau nertibin makin tambah susah.
Ya memang dilema jg kalo udah menyangkut urusan perut & hajat hidup org banyak. Mengusir asongan pun nggak ada dasar hukumnya, malah2 ntar dituntut balik jd repot.
Paling tdk ada win win solution, misal spanduk larangan diganti tulisannya jd "ASONGAN DILARANG BERJUALAN SAAT KERETA BERJALAN" yg mana intinya asongan boleh berdagang di stasiun asal tertib, sopan dlm menjajakan dagangannya, tdk mengganggu kenyamanan penumpang & pada saat KA akan berjalan diHARUSkan turun. Kalo disterilkan sama sekali ya terjadi praktek monopoli. Bener nggak sich...? 
Ya bukan menyerah om, tapi belajarlah sama perusahaan2 kereta di luar negeri, kalo ga mampu ya buatlah formula baru yang intinya win2 solution lah, bisa berjualan tapi ga ganggu kenyamanan penumpang itu sendiri, nah formula itu yang mungkin belum diketemukan ato mungkin masih diracik di pusat sono.... 
ya selama saya naek KA seh sejak ada aturan ini, uda bagus emang belum pernah ketemu pedagang yang sampe nekat ikut naek kereta sampe stasiun berikutnya dan terus berjualan saat kereta berjalan, mereka hanya berjualan saat kereta berhenti saja.
Dan memang yang saya perhatikan bila pedagang itu sopan dengan sendirinya rezeki itu mengalir koq, saya kasih contoh aja pas kemaren saya balik ke YK pake Sancaka, kelihatan banget para pedagang asongan MN dagangannya lebih cepat laris padahal mereka hanya menjual dagangannya ga sampe naek bordes tapi hanya di luar kereta, sementara di KTS mereka berjualan di dalam kereta,dan dalam jangka waktu 30 menit(karena saat itu KA saya ditahan lama di KTS), ada tuh beberapa pedagan mundar mandir ampe 5x, saya liat dagangannya masih segitu2 aja, alias ga berkurang....
Ya intinya penumpang pun tahu koq dan ingin merasakan kuliner2 kota setempat, tapi ketika mereka ingin membeli melihat pedagang yang arogan mereka pun enggan, sementara di lain stasiun eh para pedagang pun sopan, mereka pun malah bisa membeli lebinh dari 1 karena kesopanan si pedagang itu....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Posts: 568
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
2
(04-09-2012, 10:12 AM)Joe_cn Wrote: (03-09-2012, 11:53 PM)Logawa_ATB Wrote: Kalo dikembalikan ke asal berarti PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menyerah dong..., terjadi PEMBIARAN lagi ya ntar kasihan Dirut selanjutnya. Mau nertibin makin tambah susah.
Ya memang dilema jg kalo udah menyangkut urusan perut & hajat hidup org banyak. Mengusir asongan pun nggak ada dasar hukumnya, malah2 ntar dituntut balik jd repot.
Paling tdk ada win win solution, misal spanduk larangan diganti tulisannya jd "ASONGAN DILARANG BERJUALAN SAAT KERETA BERJALAN" yg mana intinya asongan boleh berdagang di stasiun asal tertib, sopan dlm menjajakan dagangannya, tdk mengganggu kenyamanan penumpang & pada saat KA akan berjalan diHARUSkan turun. Kalo disterilkan sama sekali ya terjadi praktek monopoli. Bener nggak sich...? 
Ya bukan menyerah om, tapi belajarlah sama perusahaan2 kereta di luar negeri, kalo ga mampu ya buatlah formula baru yang intinya win2 solution lah, bisa berjualan tapi ga ganggu kenyamanan penumpang itu sendiri, nah formula itu yang mungkin belum diketemukan ato mungkin masih diracik di pusat sono....
ya selama saya naek KA seh sejak ada aturan ini, uda bagus emang belum pernah ketemu pedagang yang sampe nekat ikut naek kereta sampe stasiun berikutnya dan terus berjualan saat kereta berjalan, mereka hanya berjualan saat kereta berhenti saja.
Dan memang yang saya perhatikan bila pedagang itu sopan dengan sendirinya rezeki itu mengalir koq, saya kasih contoh aja pas kemaren saya balik ke YK pake Sancaka, kelihatan banget para pedagang asongan MN dagangannya lebih cepat laris padahal mereka hanya menjual dagangannya ga sampe naek bordes tapi hanya di luar kereta, sementara di KTS mereka berjualan di dalam kereta,dan dalam jangka waktu 30 menit(karena saat itu KA saya ditahan lama di KTS), ada tuh beberapa pedagan mundar mandir ampe 5x, saya liat dagangannya masih segitu2 aja, alias ga berkurang....
Ya intinya penumpang pun tahu koq dan ingin merasakan kuliner2 kota setempat, tapi ketika mereka ingin membeli melihat pedagang yang arogan mereka pun enggan, sementara di lain stasiun eh para pedagang pun sopan, mereka pun malah bisa membeli lebinh dari 1 karena kesopanan si pedagang itu....
Kalau mondar-mandir dalam gerbong eksa harus ditndak om karena itu keterlaluan, separah-parahnya paling nyampe bordes dengan catatan tidak teriak2 dan berlaku sopan
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(04-09-2012, 11:11 AM)Didit Achmad Wrote: Kalau mondar-mandir dalam gerbong eksa harus ditndak om karena itu keterlaluan, separah-parahnya paling nyampe bordes dengan catatan tidak teriak2 dan berlaku sopan
Waduh kalo sepengalaman saya seh belum pernah om ada pedagang yang berani masuk ke kereta eksa, paling pol ya kelas bisnis.
Tapi ada beberapa temen disini yang punya pengalaman yang naek ka eksa sampe ada pedagang masuk ke kereta....
Buat pedagangnya saya harus ngomong DOBEL WAOW....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
|