01-04-2013, 09:26 PM
(30-03-2013, 11:35 PM)Logawa_ATB Wrote:(30-03-2013, 12:24 AM)Warteg Wrote: Mungkin karena operator KA (monopoli) di sini berbentuk PT jadi ada kesan mencari untung dalam artian komersialisasi (gak mau rugi perawatan).
Dirjen Perkeretaapian dan pemerintah pada umumnya harus bisa mempertahankan angkutan massal yang terjangkau lapisan masyarakat (semua golongan) dengan mererapkan subsidi pada tarif kereta api kelas Ekonomi.
Tapi apalah kenyataannya dilapangan, kian hari kian banyak kereta yang "dicabut" subsidinya dengan dalih penambahan pendingin udara AC
Untuk PT.KAI dalam hal ini juga diminta agar tidak arogansi
Selamat malam, Kang...
Bukan ada kesan lg, Kang... Namanya PT tujuan utamanya nyari untung...
Ada koq dlm UU BUMN tertulis tujuan & maksud didirikannya Persero (PT)
Quote:UU No 19 Tahun 2003 tentang BUMN
Pasal 12
Maksud dan tujuan pendirian Persero adalah :
a. menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat;
b. mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan.
Nah, yg jd pertanyaan mendasar siapa Presiden yg membuat UU BUMN tahun 2003 ini...? Kenapa dia sampai hati menulis tujuan didirikannya Persero seperti itu yg akhirnya jd "bom waktu" buat rakyat kecil saat ini...?
Kalo pun ada operator KA swasta pasti bikin harganya jg harga komersial utk KA Ekonomi yg dijalankan koq...
sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).
analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....
walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.



![[Image: ooters.jpg]](http://i872.photobucket.com/albums/ab285/ardianpuput/ooters.jpg)
