Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 4 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
KA Sawunggalih (Sejarah, Pelayanan, Cerita)
#51
(20-05-2009, 06:09 PM)hasan Wrote: tapi exe nya sawunggalih sama exe nya purwojaya beda ya lebih nyaman purwojaya....lebih terawat...

K2nya juga iya..
kemaren KA 122 bawa 13 rangkaian kereta dari PWT-KTA
Reply
#52
wah....kalo bawa 13 kereta berarti ada 1/2 kereta yang di LD, trus dilangsir di KTA.

[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#53
(20-05-2009, 06:09 PM)hasan Wrote: tapi exe nya sawunggalih sama exe nya purwojaya beda ya lebih nyaman purwojaya....lebih terawat...
Jawabannya kayak di thread "Jalan2 Naik Purwojaya" Kang....Hehehe...Ngeledek
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#54
tapi sekarang gw lebih suka perjalanan nae Sawunggalih..
tapi kalo KA 121/122 duank..
he,,
Reply
#55
Tgl 22 naik KA 120 ke KTA. keretanya habis di PA. maknyus rasanya. hampir gak ada getaran, bener2 nyaman. serasa naik Argo Lawu Top Banget
tetap the best lah Sawunggalih

[Image: ooters.jpg?t=1258039493]
Reply
#56
(25-05-2009, 06:12 PM)nistra_cakep_deh Wrote: tapi sekarang gw lebih suka perjalanan nae Sawunggalih..
tapi kalo KA 121/122 duank..
he,,

Pasti ada maksudnya ya, Kang....Ngakak
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#57
Namanya aja kereta bisnis paling murah, bandingkan dengan SU/FU SLO-YK dengan tarifnya 110.000, atau SU/FU SMT dengan tarif 100.000, sawunggalih cuma 80.000, ya mesti kualitas bergantung pada harga. Saya klo ikut sawunggalih, pasti ktemu ma penumpang gelap yang namanya kecoa, dan itu di tiap gerbong pasti ada. Apalagi kondisi kereta yang "mengenaskan", ibarat pepatah hidup segan mati pun tak mau. Klo boleh bandingkan ma SU/FU SMT, masih kalah jauh. Hampir semua kereta bisnis di jawa saya pernah ikut, dan kesimpulannya kereta yang paling minim adalah Sawunggalih.Sedih
Ada pengalaman yang kurang menarik, waktu itu tanggal 23 November 2008 dari jakarta, ikut kereta Sawunggalih. Sampe PWT jam 01.00, kemudian masuk Kroya berhenti hampir satu jam. Itu karena bersimpangan dengan kereta Turangga arah ke BD dan Gajayana ke JKT. Ditambah lagi disalip ma kereta Lodaya ke SLO, dan menunggu kereta Argo Lawu ke SLO. Sungguh mengenaskan nasib kereta dengan tarif murah, selalu jadi kereta nomor dua, harus mengalah ma kereta lain. Klo ngalah ma eksekutif sih itu biasa, tapi ini ma sama2 bisnis (Lodaya) kok ngalah. Padahal masuk Kroya duluan Sawunggalih, tapi berangkat paling akhir.
Semoga aja DAOP V mo meningkatkan pelayanan kereta Sawunggalih, minimal layak untuk dinaiki sesuai dengan kelasnya, kelas "BISNIS", Semoga....
Reply
#58
(26-05-2009, 02:05 AM)petroex Wrote: Namanya aja kereta bisnis paling murah, bandingkan dengan SU/FU SLO-YK dengan tarifnya 110.000, atau SU/FU SMT dengan tarif 100.000, sawunggalih cuma 80.000, ya mesti kualitas bergantung pada harga. Saya klo ikut sawunggalih, pasti ktemu ma penumpang gelap yang namanya kecoa, dan itu di tiap gerbong pasti ada. Apalagi kondisi kereta yang "mengenaskan", ibarat pepatah hidup segan mati pun tak mau. Klo boleh bandingkan ma SU/FU SMT, masih kalah jauh. Hampir semua kereta bisnis di jawa saya pernah ikut, dan kesimpulannya kereta yang paling minim adalah Sawunggalih.Sedih
Kurasa tarif 80.000 dr PSE ke KTA itu lumrah...Yach, sekarang tinggal SDM yg ngerawat tu kereta. Ada sense of belonging dan cinta pada pekerjaannya apa nggak...?

(26-05-2009, 02:05 AM)petroex Wrote: ...Ada pengalaman yang kurang menarik, waktu itu tanggal 23 November 2008 dari jakarta, ikut kereta Sawunggalih. Sampe PWT jam 01.00, kemudian masuk Kroya berhenti hampir satu jam. Itu karena bersimpangan dengan kereta Turangga arah ke BD dan Gajayana ke JKT. Ditambah lagi disalip ma kereta Lodaya ke SLO, dan menunggu kereta Argo Lawu ke SLO. Sungguh mengenaskan nasib kereta dengan tarif murah, selalu jadi kereta nomor dua, harus mengalah ma kereta lain. Klo ngalah ma eksekutif sih itu biasa, tapi ini ma sama2 bisnis (Lodaya) kok ngalah. Padahal masuk Kroya duluan Sawunggalih, tapi berangkat paling akhir.
Semoga aja DAOP V mo meningkatkan pelayanan kereta Sawunggalih, minimal layak untuk dinaiki sesuai dengan kelasnya, kelas "BISNIS", Semoga....
Kadang saya jg bingung, apa gara2 dah deket dgn sta. akhir yg ujung2nya harus ngalah dgn KA2 yg msh jauh trayeknya ato itu bagian dr suatu regelmen ato sikap pengambilan keputusan dr seorang PPKA yg tdk sesuai dgn keinginan konsumen...?
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#59
(23-04-2009, 07:32 PM)dwipangga Wrote: Tgl 16 April naik Sawunggalih pagi dr JNG ke KM.... awal perjalanan nyaman2 aja, AC lumayan dingin, pelayanan yg ramah.......
ada kemajuan jg neh kereta, dah mulai dipasang TV, tp sayang blm nyala ........

[Image: 20090423192128_Picture_920_resize_49f05d487d43f-t.jpg]


Lepas sta Bekasi bencana terjadi, ACnya matot... Ngeledek , puanasnya ruarrrrrrrrrr biasa. teknisinya berulangkali berusaha menghidupkan tu AC, walaupun sempat hidup tp gak lama mati lagi.... dinyalain lg, gak lama mati lagi...... berulangkali..........
ane kasian aja ngeliat teknisinya dimarahin ma penumpang yg mayoritas nenek2
Lepas CN ACnya matot n gak bisa dinyalain lagi, bener2 puanas. apalagi daerah CIrebon terkenal panas dan ditambah cuaca yg benar2 terik ......
penderitaan ini berakhir di sta PWT dimana tu kereta rusak akhirnya diganti

[Image: 20090423193009_Picture_952_resize_49f05f51693e2-t.jpg]

perjalanan dilanjutkan setelah kereta diganti.........
knapa ya tiap naik Sawung ane sial terus........... Pasrah Aja Dah

tergantung amal dan perbuatan kang...wkakaka...
ngemeng2 eksa nya sawunggalih ada brape neh........?

[Image: 9661409091]
Reply
#60
(26-05-2009, 02:05 AM)petroex Wrote: Namanya aja kereta bisnis paling murah, bandingkan dengan SU/FU SLO-YK dengan tarifnya 110.000, atau SU/FU SMT dengan tarif 100.000, sawunggalih cuma 80.000, ya mesti kualitas bergantung pada harga. Saya klo ikut sawunggalih, pasti ktemu ma penumpang gelap yang namanya kecoa, dan itu di tiap gerbong pasti ada. Apalagi kondisi kereta yang "mengenaskan", ibarat pepatah hidup segan mati pun tak mau. Klo boleh bandingkan ma SU/FU SMT, masih kalah jauh. Hampir semua kereta bisnis di jawa saya pernah ikut, dan kesimpulannya kereta yang paling minim adalah Sawunggalih.Sedih
Ada pengalaman yang kurang menarik, waktu itu tanggal 23 November 2008 dari jakarta, ikut kereta Sawunggalih. Sampe PWT jam 01.00, kemudian masuk Kroya berhenti hampir satu jam. Itu karena bersimpangan dengan kereta Turangga arah ke BD dan Gajayana ke JKT. Ditambah lagi disalip ma kereta Lodaya ke SLO, dan menunggu kereta Argo Lawu ke SLO. Sungguh mengenaskan nasib kereta dengan tarif murah, selalu jadi kereta nomor dua, harus mengalah ma kereta lain. Klo ngalah ma eksekutif sih itu biasa, tapi ini ma sama2 bisnis (Lodaya) kok ngalah. Padahal masuk Kroya duluan Sawunggalih, tapi berangkat paling akhir.
Semoga aja DAOP V mo meningkatkan pelayanan kereta Sawunggalih, minimal layak untuk dinaiki sesuai dengan kelasnya, kelas "BISNIS", Semoga....

ya kan nomer KA nya sawunggalih lebih kecil dari KA2 yang disalip/silang yg disebutin di atas kang,makanya wajib menunggu,PPKA pun nggak brani mbrangkatin,lha nomer KA nya lebih kecil kok...
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)