![]() |
|
Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Printable Version +- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com) +-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=4) +--- Forum: PPKA (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=12) +--- Thread: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron (/showthread.php?tid=6687) |
RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - samnawi - 28-10-2011 (15-10-2011, 10:36 PM)Adi Sutjipto Wrote: ini yang kalo ga salah pernah masuk di majalah.... (apa ya , lupa....) bukan sih, kalo ga salah yang dulu sering tugas di KA penataran.... mohon koreksi kalo salah, hehehe.... NB : coba kalo ga blur, tambah cantik aja tu pasti....
RE: Dampak Di Tiadakan Peron,.. - fahrizal - 28-10-2011 (05-10-2011, 08:47 PM)Adi Sutjipto Wrote: Saya tanya dengan beberapa orang yang bertugas komentar pakdhe..ngademin bener.maklum sudah senior (...maaf .bukan dari singkatan senang istri orang..he..he.he) ![]() ![]() ![]() (07-10-2011, 08:26 PM)pinguin Wrote: saya kira petugas juga manusia...bukan robot setuju masbro.. saya di sta jat..juga bisa masuk ,cuma bilang ke mas pkd ..numpang mau solat di ruang tunggu VIP.. setelah selesai...kembali bilang terima kasih ke mas pkd...beres ![]() ![]() (17-10-2011, 06:16 PM)bonbon Wrote: ambil potonya bolong'in koran ya bukan..mas broo....bolongin sarung...he..he..he ![]() ![]() RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - pepunk - 30-10-2011 Saya ikut share poto polsuska perempuan yg manis di st. ML ![]()
RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Kutukupret - 31-10-2011 (14-10-2011, 08:05 PM)Joe_cn Wrote: dan inilah saatnya ada asongan resmi PT KA, tentunya sebatas hanya luar gerbong saja memakai seragam dan tertib nomor1. ane setuju klo asongan ga sampe masuk ke rangkaian KA selain mengurangi rasa kenyamanan,terus terang ane ngerasa ga nyaman klo asongan yg jumlahnya masyaalloh buanyaknya bolak balik sepanjang koridor di dalem rangkaian,ada juga faktor lain seperti : [spoiler=miris] Pramugari Kereta Di Atas Kereta, Mereka Bergoyang
![]() Gemuruh gesekan roda kereta dengan rel baja, tidak membuat Iin, pramugari, panik ketika tiba-tiba derit rem kereta memecah kesunyian pagi. Ia tetap mengantarkan pesanan mi rebus dan segelas kopi susu. Dengan cekatan tangan kirinya merengkuh senderan bangku dan menyodorkan makanan di atas baki yang terguncang memercikkan kuah ke pemesannya. “Maaf, Pak. Keretanya oleng,†ujarnya dengan raut memelas. Iin tak mengira setamat SMA, ia bertahun-tahun menjalani profesi sebagai pramugari kereta. Padahal, dulu ia bercita-cita menjadi pramugari pesawat udara. Meski sebutan pramugari tidak membeda-bedakan profesi stewardes itu, toh pramugari pesawat udara lebih bergengsi, dan menurut Iin, nasibnya bak bumi dengan langit. Menurut Iin, gaji pramugari udara lebih tinggi dibandingkan gaji pramu kereta. “Belum lagi bicara soal gengsi sebagai pramugari udara lebih wah ketimbang pramu kereta api,†ujarnya. “Kalau pramu kereta bekerja bisa lebih dari delapan jam. Sejak stasiun pemberangkatan hingga tujuan akhir. Belum lagi kalau ada pesanan makanan atau minuman tengah malam.†Padahal kalau dipikir-pikir, papar Iin ketika berbincang saat sepi pesanan, profesi pramugari dituntut agar memberi pelayanan saat memperoleh pesanan makanan atau minuman para penumpang. Tidak peduli waktu. “Tidak enaknya kalau bekerja sebagai pramugari kereta, saat tengah malam atau dini hari pas kantuk menyerang, eh ada yang pesan. Apalagi kalau pas Lebaran atau liburan sekolah, bordes atau ruangan kecil di dekat sambungan gerbong penuh. Tapi kami tetap menjalankan tugas. Karena hanya inilah pekerjaan yang ada saat ini,†katanya menerawang. “Berbeda dengan pramugari pesawat udara, paling banter 3-4 jam lamanya melayani penumpang.†Selain itu, ujar lajang 28 tahun asal Solo ini, untuk menjalani profesi sebagai pramugari kereta bukan perkara mudah. “Paling tidak harus berpenampilan menarik dan punya wajah cantik atau ganteng.†Secara fisik pramugari harus memiliki tinggi badan lebih dari 160 untuk wanita dan 170 untuk pria. “Persyaratannya sama menjadi pramugari udara, bedanya hanya soal gaji,†tuturnya sembari tertawa. Untuk menjadi pramugari kereta, seseorang harus harus lulus tes dan pelatihan yang diadakan PT Kereta Api Indonesia. Selain tes tertulis dan wawancara, semua harus mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Hal ini diakui Agustina, pramugari yang mendaftar dengan berbekal ijazah diploma satu. “Saya mengikuti training pramugari kereta karena semua calon pramugari wajib mengkutinya,†terang Agustina. Namun, bukan dengan seleksi yang ketat dan berat profesi ini patut dibanggakan. ![]() Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Upah yang diterima pramugari tidaklah besar. Menurut seorang pramugari kereta yang setiap hari mengarungi jalur Surabaya-Jakarta yang tidak mau disebutkan namanya, setiap bulan ia menerima upah setara dengan upah minimum regional. Dia merasa upah tersebut tidak sesuai dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Menurutnya, tidak hanya dalam perjalanan, selama persiapan hingga tempat tujuan, mereka dituntut bekerja. Dalam keadaan normal, mereka harus sudah siap dua jam sebelum kereta berangkat. Berdiri di depan pintu gerbong dan memberikan bantuan kepada penumpang sebelum kereta bertolak dari stasiun keberangkatan. Setiba di kota tujuan, mereka hanya bisa beristirahat sejenak. Kemudian sore harinya sudah harus berangkat lagi. Padahal, dalam perjalanan, mereka harus wara-wiri dari gerbong ke gerbong. Membagikan makanan, selimut, atau mengantar makanan pesanan. Mereka harus bolak-balik dalam memberikan layanan bagi penumpang. Misalkan dihitung, entah berapa kilometer jarak yang mereka tempuh setiap harinya selama bekerja di atas kereta. Mereka juga mengaku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Sebut saja Sahril. Menurut pengakuannya, ia pernah ditodong oleh penumpang karena dianggap terlambat mengantar makanan. “Seorang penumpang bahkan pernah menodongkan pistol ke rekan saya, hanya gara-gara terlambat mengirim makanan yang dipesan," ujarnya. Lain lagi dengan yang dialami Agus. Lorinya pernah ditendang dengan kasar oleh penumpang. Sebabnya juga hanya persoalan sepele. Saat berjalan, lorinya menyenggol salah seorang penumpang. Menurutnya, lori tersebut susah berjalan karena terhalang travel bag penumpang. Karena menghindari travel bag, lori seberat lebih dari 50 kg tersebut justru menabrak penumpang. Menurut mereka, penghargaan penumpang terhadap pramugari sangat minim. Tak sedikit penumpang yang kebanyakan dari kalangan atas tersebut berperangai penuh emosional. "Teman saya pernah menangis gara-gara dimaki-maki penumpang. Kamu ini kan di sini hanya pelayan. Jadi melayani yang benar. Dibayar berapa sih!" kata Yeni menirukan omelan penumpang yang marah pada rekannya itu. Omelan penumpang semakin banyak diarahkan pada mereka saat kereta mengalami keterlambatan. Padahal, keterlambatan kereta sama sekali tak terkait dengan tugas mereka. Belum lagi jika ada toilet bau atau mesin pendingin rusak. Meski itu semua bukan tanggung jawab mereka, penumpang tidak mau tahu, dan justru melampiaskan amarah pada pramugari. Merekalah yang selalu kena damprat penumpang. Menurut Agustina, dirinya hanya bersikap wajar menghadapi penumpang. “Penumpang adalah raja, titik. Itulah semboyan kami semua. Karena raja, harus dilayani sebaik-baiknya,†terang Agustina. “Tapi meski raja, kami berharap penumpang tidak berubah menjadi raja yang sewenang-wenang. Kami toh juga manusia. Punya rasa sedih, tersinggung, mangkel dan sebagainya. Kami dibayar tidak untuk dimaki-maki.†Hal senada diungkapkan Iin. Bahkan menurutnya, tidak hanya sabar menghadapi penumpang, juga sabar menghadapi risiko bekerja yang memakasanya untuk begadang semalam suntuk. Kalaupun bisa memejamkan mata, itu tidak lama. Ruang istirahat pun hanya ala kadarnya, berupa ruangan sempit berukuran dua kali dua meter yang diisi lima orang. “Jadi, kalau sedang bertugas, istirahat dan tidurnya mencuri-curi waktu kalau sedang kosong tugas di dalam kereta,†terang Iin. ![]() Namun di luar hal itu semua, Iin dan teman-temannya merasa cukup enjoy dengan pekerjaan mereka. Mereka senang bisa bertemu dengan banyak orang dari lapisan sosial menengah ke atas seperti artis ataupun tokoh-tokoh nasional yang sering menggunakan jasa kereta api. “Saya pernah bertemu rombongan grup Sheila on 7,†terang Agustin. Pengakuan berbeda datang dari Iin. Menurutnya, ia merasa senang karena banyak membantu orang lain. Ia pernah membantu seorang nenek dari India yang kerepotan. Ia membantu nenek tersebut mengangkat barang-barang bawaannya, “Sehingga ketika turun di stasiun tujuan, nenek tersebut memberi manisan sebagai tanda terima kasih,†ujar Iin. Belum sempat ia menuntaskan pengalamannya sebagai pramugari yang dilakoninya lebih dari empat tahun, gadis Solo ini bergegas pamit ingin memejamkan mata. “Kantuk mulai menyerang. Maaf saya harus memejamkan mata barang sejenak,†tuturnya. Mengamati apa yang telah dilakukan para pramugari kereta, rasanya tidak pada tempatnya bila penumpang terlalu mengharapkan pelayanan lebih kepada mereka. Apalagi dengan mencaci-maki. Penampilan memang eksekutif, namun nasib mereka tetap saja tetap tercekik. (*)[/spoiler] SOURCE tuh prami KA sekelas argo yg notabene tidak dimasuki pedagang asongan aja kek gitu,apalagi KA yg kelas dibawahnya(K2 ,K3) yg pedagang asongan bebas hilir mudik,no offence ,piss ![]() klo ada yg ndak suka ama post ane maaf & bagi yg pro sama pedegang asongan untuk masuk ke dalam KA,klo mo batapun silahken ane terima dengan lapang dada RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Bangunkarta - 01-11-2011 ^^^ postingan yang nagus mas.... ![]() hmmm.. tapi kalo dipikir-pikir.. setiap pekerjaan pasti ada yang dinamakan resiko bekerja, apakah itu resiko fisik, mental atau resiko berupa tanggung jawab... tinggal gimana aja nyikapinya... salah satu solusi... dan ini cukup ampuh dan telah berhasil merubah pandangan dan sikap penumpang di banyak airlines (terutama LCC) yg dulunya juga nganggep pramugara/i sekedar pelayan penumpang... (kalo penumpang Garuda seh... umumnya cukup bijak menyikapi pramugari dengan segala tugasnya... misalnya di majalah untuk penumpang pesawat... sering diulas profil Pramugari/prama... serta selalu disisipkan jobdesc pramugari/prama misal: - Prami/a adalah partner penumpang... bukan pembantu.. disertai argumentasi yang logis, sopan serta tidak menggurui - prami/a bertanggungjawab atas ketertiban dan kenyamanan penerbangan.. (kalo di KA ya kenyamanan seluruh penumpang dalam KA) - Prama/i adalah partner penumpang dalam penerbangan - Pramugari/a juga punya wewenang untuk memperingatkan anda, memindahkan tempat duduk anda bahkan menolak kehadiran anda di kabin... dan itu semua demi kenyamanan dan keselamatan bersama - bla..bla..bla.. namun juga hendaknya Prami/a itu bukan ditarget sebagai sales keliling... tidak salah kalo berjualan di kabin... namun seyogyanya jobdesc utama prami/a itu adalah partner bagi penumpang selama dalam perjalanan saya pikir hal2 tersebut sangat logis untuk diterapkan di KA RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - samnawi - 01-11-2011 Dampak ditiadakan karcis peron, berarti yang kayak gini bakal jadi barang langka.... ![]() ![]()
RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Adi Sutjipto - 02-11-2011 (01-11-2011, 03:32 PM)samnawi Wrote: Dampak ditiadakan karcis peron, berarti yang kayak gini bakal jadi barang langka.... Makanya, saya sempatkan punya karcis peron hari terakhir..... ![]() * Repost ![]() RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Bangunkarta - 02-11-2011 cuman kebetulan pas pusing .. eh kepikiran ngisi.. iseng2 aja seh... ![]() kalo misalnya ga ada karcis peron dan pengantar ga boleh masuk... sebenarnya bisa dijadikan sebuah momentum peningkatan pelayanan KA... yakni adanya luggage service for customers... nah saya nulis kek gini... karna sepanjang yang saya tahu.. penumpang KA apapun itu.. kereta Eksekutif maupun brand Argo sekalipun... terlihat penumpangnya otong2 barang bawaan ke kabin... masa iya seh, penumpang kelas satu musti otong2 barang ke kabin... saya aja yang naeknya cuman kelas ekonomi, ke kabin tinggal bawa yg kecil2 n penting... bagasi udah ada yg ngurus... begitu turun tinggal ambil itu bagasi ![]() nah kalo misalnya penumpang KA kelas satu mendapatkan luggage service... tentu ini merupakan sebuah peningkatan pelayanan kepada customers... secara customers tunjukin tiket KA kelas-1 (cek in lah istilahnya).. trus diberi fasilitas bagasi cuma2 max misal 25kg dan volume max sekian liter... selebihnya dikenakan charge per kg... nah dengan begitu.. penumpang ke kabin tinggal santai... bawa yg kecil2 n penting ajah... ga perlu otong2 barang.. begitu turun tinggal tunggu di tempat pengambilan bagasi... ambil bagasi, dan di exit.. tinggal diverivikasi petugas.. apakah bagasi-nya sama dengan sign bagasi yg ditempelin di ticket.... lah secara sekarang hampir semua KA kan pake gerbong B ijo2 bekas K-2...daripada melompong, kan mending diberdayakan buat peningkatan pelayanan tuh ![]() efeknya => penumpang akan merasa lebih dilayani dan diperhatikan... ingat customer care itu juga salah satu faktor penting dalam value perusahaan jasa loh.... dan dengan pelayanan prima dan customer care akan ada pride dalam menggunakan KA... dimana dalam era modern ini.. pride juga merupakan value penting... monggo dilihat, penerbangan ke beberapa rute gemuk (mis: Jakarta- Denpasar; Jakarta-Makassar; dll).. Garuda bahkan tiketnya lebih cepet sold out ketimbang LCC.. padahal harganya Garuda bisa 2x-3x tiket LCC dan waktu tenpuh sama... tapi kenapa koq Garuda bisa lebih cepet Sold out tiketnya.. karena Garude memberikan pride kepada penumpang.. hmmm... misalnya kalo itu ditetapkan.. gimana ya naek KA... pasti nyantai, lebih tenang dan merasa terlayani RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Adi Sutjipto - 02-11-2011 (02-11-2011, 08:06 PM)Bangunkarta Wrote: [spoiler]Betul, jika barang bisa dititipkan seperti pada pesawat, memang enak. Sayapun pernah membicarakan hal ini dengan beberapa punggawa tasiun. Pesawat, mungkin hanya transit di 2 atau 3 bandara, sehingga semua barang tinggal dikelompokkan atau biasanya lebih banyak yang one shuttle. Begitu landing dan berhenti, ya tinggal bongkar semua. Belum lagi, semua penumpang dan barang, hanya dalam 1 kendaraan transport. Yang jadi masalah, jika dengan kereta api, ada banyak rangkaian, penumpang tidak bisa langsung dikelompokkan, karena ada yang naik/ turun ditasiun yang berbeda. Berhentinya kereta, rata-rata hanya 2-5 menit, dan untuk jarak jauh, harus berhenti dibeberapa tasiun, entah menunggu silangan yang normal, atau gara-gara ada rangkaian didepannya yang terlambat, entah mogok atau hal lain, yang akibatnya berantai, mirip efek domino. Sehingga, bila harus mengambil barang di bagasi, membutuhkan waktu yang lebih lama. Kecuali ada kereta jarak jauh, yang berangkat dari tasiun awal, dan berhenti ditasiun akhir. Tapi, sepertinya hal ini tidak mungkin ya, belum tentu tidak ada yang ingin naik atau turun dikota yang dilalui kereta ini. Bagaimana ? ![]() RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - bonbon - 02-11-2011 kalau sering melihat pemberitaan kasus isi barang bawaan hilang di bandara/ dari pesawat, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) kyknya nggak mau repot soal komplain'an
|