Semboyan35 Indonesian Railfans
Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Printable Version

+- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com)
+-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=4)
+--- Forum: PPKA (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=12)
+--- Thread: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron (/showthread.php?tid=6687)

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17


RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Bangunkarta - 02-11-2011

@ Pak Adi Sutjipto

nah itu dia pak salah satu persoalan yang musti dipecahkan... saya pernah ngamati.. KA Sembrani di Stasiun Pekalongan, Tawang dan Bojonegoro... menurunkan bagasi dalam jumlah besar..... namun hal tersebut tidak terlalu memakan waktu.. ya mungkin orang lapangan bagian ekspedisi pasti udah punya pengalaman dalam pengaturan bagasi.. misalnya memberikan kode2 tertentu atau mengelompokkan bagasi di tempat2 yang sudah dipisah untuk di stasiun2 tersebut...

kalo misalnya... hal tersebut juga diterapkan pada KA Argo dulu misalnya... secara KA Argo kan brenti resminya juga sedikit... mungkin bisa ya diterapkan.. misalnya ABA dari jakarta tentu pelayanan bagasi hanya untuk stasiun Pekalongan, Semarang dan SBI... secara kurang masuk akal ajah orang ke CN dari jakarta naek ABA.. trus misalnya Argo Lawu dari Solo.. tentu pelayanan bagasi diberikan untuk penumpang ke Cirebon, Jatinegara dan Gambir... soalnya kurang umum juga orang Jogja ke PWT naek Lawu.. meskipun mungkin ada aja seh .. dan itu juga diberikan alokasi tempat khusus, meskipun sedikit dan sifatnya insidental

nah kalo misalnya hal tersebut diterapkan di KA kelas-1 dulu.. misalnya Argo, yang brentinya resminya juga sedikit, mungkin masuk akal juga seh.. karna bgongkar muat barang juga bisa cepat ketika barang dengan tujuan2 tertentu sudah ada sign tersendiri.. entah tempat penyimpanan atau sign-sign tertentu...

matur nuwun buat Share nyaXie Xie

@ mas Bonbon
sekaranmg udah cukup tertib koq mas.... emang beberapa waktu lalu ada banyak kasus... tapi sekarang sudah bisa diminimalisir dengan pembuatan dan penerapan peraturan secara ketat

pelayanan bagasi pesawat cukup ketat dan tertib, dan regulator telah menerapkan SOP tentang fasilitas bagasi kepada penumpang pesawat... dan di setiap bandara terdapat pos klaim bagasi yg tidak sesuai.. bahkan kalau operator memberikan pelayanan atas klaim.. bisa dilaporkan ke airport security.. dan akan ada proses lanjutan untuk menyelesaikannya serta operator bisa terkena penalty

dan tentu saja... operator musti selalu memperbaiki sistemnya... karna komplain penumpang pesawat kalo udah masuk media ternyata cukup ampuh juga mengurangi okupansi... terutama penumpang yg masih belum menjadi pelanggan setia



RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - pardjono - 04-11-2011

Quote:Penumpang Gelap KA Turun Drastis!

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO – Setelah terus menerus dilakukan razia, jumlah penumpang gelap atau penumpang tanpa tiket KA di wilayah kerja PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto, menurun drastis.

Manajer Humas PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto, Surono, menyebutkan jumlah penumpang gelap yang ditemukan petugas pemeriksa di atas KA pada bulan Oktober 2011 lalu, tercatat hanya 295 orang. Padahal bulan September sebelumnya, jumlah penumpang gelap yang berhasil dijaring petugas operasi mencapai 1.133 orang.

''Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan serentak (PS) atau razia yang kita intensifkan mulai membuahkan hasil. Untuk itu, ke depan kita akan terus mengintensifkan kegiatan PS, sehingga kelak tidak akan ada lagi penumpang KA yang tidak memiliki tiket,'' kata Surono, Jumat (4/11).

Menurut Surono, penumpang gelap yang berhasil dijaring petugas PS adalah dari kalangan penumpang umum dan anggota TNI/Polri. Untuk penumpang umum, yang terjaring tidak memiliki karcis pada bulan Oktober lalu berjumlah 249 orang. Sedangkan untuk anggota TNI/Polri, yang terjaring tidak memiliki tiket tercatat 46 orang.

Berdasarkan data bulan Oktober tersebut, operasi PS yang dilakukan intensif selama beberapa bulan terakhir, telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.

Terhadap penumpang yang ditemukan tidak memiliki tiket, tindakan yang dilakukan adalah dengan menurunkan penumpang yang bersangkutan di stasiun terdekat. Mereka kemudian diminta untuk membeli tiket di stasiun tersebut, baru diizinkan lagi menumpang KA.

Selain penumpang tak bertiket, bentuk pelanggaran lain yang dilakukan penumpang KA, selama bulan Oktober juga mengalami penurunan signifikan. Penggunaan tiket KA yang bukan peruntukannya pada bulan Oktober mengalami penurunan menjadi 51 kasus. Padahal bulan sebelumnya mencapai 140 kasus.



RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - stasiunkastephanie - 14-11-2011

Menanggapi soal peniadaan karcis peron,

Harusnya, tidak hanya peron aja yg dibuat khusus buat penumpang KA, tapi semua yg ada di stasiun mulai dari tempat parkir, ruang tunggu, loket, loket pemesanan, musholla, masjid, wc umum, cafetaria, kios, hingga peron semuanya harus bersih dari pengantar, penjemput & yg tidak berkepentingan (kecuali pemesan karcis). Jadi, lingkungan stasiun hanya ditujukan untuk penumpang KA. Tujuannya jelas, untuk mengurangi tindak kejahatan hingga 90%. Sebab, jika tidak demikian, maka tindak kejahatan masih bisa terjadi di ruang tunggu (sekarang ruang tunggu beberapa stasiun sudah dipindah ke dalam stasiun, bukan di peron). Dengan sistem demikian, maka tindak kriminalitas di stasiun berkurang hingga 90%, ini berlaku di stasiun keberangkatan KA Ekspres kelas Ekonomi, Bisnis, & Eksekutif.

Harusnya lagi, penumpang hanya boleh masuk ke dalam peron stasiun jika KA yg akan mereka naiki benar2 sudah siap di jalurnya & ini harus berlaku di semua stasiun keberangkatan KA Ekspres. Tujuan dari sistem semacam ini adalah menekan penumpang gelap hingga 95%. Karena masih ada penumpang gelap di beberapa rangkaian KA Ekspres reguler. Dengan sistem yg dicontohkan sbg brikut: "Jika ada KA Ekspres A telah siap di jalur X, maka hanya calon penumpang KA Ekspres A saja yg boleh masuk, KA Lokal B, KA Ekspres C, dsb. tidak boleh masuk dulu sebelum keretanya telah datang/siap di jalurnya," maka tingkat kerawanan KA thd penumpang gelap bisa ditekan.

Semoga usul ini bisa bermanfaat buat misi memajukan pelayanan KA.Xie Xie


RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Joe_cn - 15-11-2011

(14-11-2011, 07:53 PM)stasiunkastephanie Wrote: [spoiler]
Menanggapi soal peniadaan karcis peron,

Harusnya, tidak hanya peron aja yg dibuat khusus buat penumpang KA, tapi semua yg ada di stasiun mulai dari tempat parkir, ruang tunggu, loket, loket pemesanan, musholla, masjid, wc umum, cafetaria, kios, hingga peron semuanya harus bersih dari pengantar, penjemput & yg tidak berkepentingan (kecuali pemesan karcis). Jadi, lingkungan stasiun hanya ditujukan untuk penumpang KA. Tujuannya jelas, untuk mengurangi tindak kejahatan hingga 90%. Sebab, jika tidak demikian, maka tindak kejahatan masih bisa terjadi di ruang tunggu (sekarang ruang tunggu beberapa stasiun sudah dipindah ke dalam stasiun, bukan di peron). Dengan sistem demikian, maka tindak kriminalitas di stasiun berkurang hingga 90%, ini berlaku di stasiun keberangkatan KA Ekspres kelas Ekonomi, Bisnis, & Eksekutif.

Harusnya lagi, penumpang hanya boleh masuk ke dalam peron stasiun jika KA yg akan mereka naiki benar2 sudah siap di jalurnya & ini harus berlaku di semua stasiun keberangkatan KA Ekspres. Tujuan dari sistem semacam ini adalah menekan penumpang gelap hingga 95%. Karena masih ada penumpang gelap di beberapa rangkaian KA Ekspres reguler. Dengan sistem yg dicontohkan sbg brikut: "Jika ada KA Ekspres A telah siap di jalur X, maka hanya calon penumpang KA Ekspres A saja yg boleh masuk, KA Lokal B, KA Ekspres C, dsb. tidak boleh masuk dulu sebelum keretanya telah datang/siap di jalurnya," maka tingkat kerawanan KA thd penumpang gelap bisa ditekan.

Semoga usul ini bisa bermanfaat buat misi memajukan pelayanan KA.Xie Xie[/spoiler]

untuk paragraf pertama usulnya baik sekali karena memang intinya ingin membuat calon penumpang merasa aman dan nyaman, cuma saya kurang setuju bila seluruh stasiun hanya untuk penumpang KA, karena pertama berarti pengantar dan penjemput hanya diperkenankan mengantar dan menjemput di luar stasiun dong?
Lha apa gunanya lahan parkir?
kedua, saya sekarang tinggal di YK, dan sangat tidak memungkinkan sekali kalo mereka para pengantar dan penjemput dalam hal ini di stasiun YK dan LPN tunggu di luar stasiun, akan sangat membuat area di sekitar luar stasiun akan sangat macet.
Dan mungkin kalo yang dimaksud om./tante stefani para pengantar boleh menurunkan mereka yang akan naik kereta api di dalam stasiun hanya dari dalam mobil, ini juga akan menambah kemacetan panjang di dalam stasiun karena di saat bersamaan akan ada puluhan mobil yang akan mengantar calon penumpang karena para calon penumpang berpikir dia ga boleh masuk sampe tuh kereta nongol.

terus yang paragraf kedua juga entah kenapa saya juga kurang setuju, kebiasaan masyarakat Ina yang selalu tergesa-gesa bila ingin menaiki kereta api akan sangat beresiko sekali, apalagi di saat bersamaan para calon penumpang akan menyewa porter untuk membawakan barang mereka, bila dalam hal ini sekali lagi di sta YK, para penumpang ARGO LAWU tidak diperkenankan masuk sampai tuh kereta stabling di peron, dan ketika Argo lawu tiba ,wah ga bisa kebayang bila keamanan stasiun membuka pintu masuk ke peron akan jadi seperti apa situasinya mungkin saja malah kehilangan porter yang membawa barang bawaan mereka atau ketukar dengan porter bawaan calon penumpang yg laen, karena mereka berpikir kereta tersebut akan hanya berhenti 5-10 menit saja.

Tapi saya menghargai usul anda koq, karena memang semua RF pasti ingin KA semakin hari semakin maju dan mengutamakan penumpang dalam pelayanan mereka.
itu cuma pendapat saya yang lain mungkin ada yang setuju dengan usulan om/tante stephanie lho.Xie Xie

Ini cuma gambaran kalo di Yogya, gatau kalo di kota lainnya.Bye Bye


RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - see_204XX - 15-11-2011

Semalem sistem Boarding Pass di stasiun PSE jebol, PKD-nya dimel 5rebu dah bs masuk... NgakakNgakak


RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - stasiunkastephanie - 15-11-2011

(15-11-2011, 08:35 AM)Joe_cn Wrote:
(14-11-2011, 07:53 PM)stasiunkastephanie Wrote: [spoiler]
Menanggapi soal peniadaan karcis peron,

Harusnya, tidak hanya peron aja yg dibuat khusus buat penumpang KA, tapi semua yg ada di stasiun mulai dari tempat parkir, ruang tunggu, loket, loket pemesanan, musholla, masjid, wc umum, cafetaria, kios, hingga peron semuanya harus bersih dari pengantar, penjemput & yg tidak berkepentingan (kecuali pemesan karcis). Jadi, lingkungan stasiun hanya ditujukan untuk penumpang KA. Tujuannya jelas, untuk mengurangi tindak kejahatan hingga 90%. Sebab, jika tidak demikian, maka tindak kejahatan masih bisa terjadi di ruang tunggu (sekarang ruang tunggu beberapa stasiun sudah dipindah ke dalam stasiun, bukan di peron). Dengan sistem demikian, maka tindak kriminalitas di stasiun berkurang hingga 90%, ini berlaku di stasiun keberangkatan KA Ekspres kelas Ekonomi, Bisnis, & Eksekutif.

Harusnya lagi, penumpang hanya boleh masuk ke dalam peron stasiun jika KA yg akan mereka naiki benar2 sudah siap di jalurnya & ini harus berlaku di semua stasiun keberangkatan KA Ekspres. Tujuan dari sistem semacam ini adalah menekan penumpang gelap hingga 95%. Karena masih ada penumpang gelap di beberapa rangkaian KA Ekspres reguler. Dengan sistem yg dicontohkan sbg brikut: "Jika ada KA Ekspres A telah siap di jalur X, maka hanya calon penumpang KA Ekspres A saja yg boleh masuk, KA Lokal B, KA Ekspres C, dsb. tidak boleh masuk dulu sebelum keretanya telah datang/siap di jalurnya," maka tingkat kerawanan KA thd penumpang gelap bisa ditekan.

Semoga usul ini bisa bermanfaat buat misi memajukan pelayanan KA.Xie Xie[/spoiler]

[spoiler]untuk paragraf pertama usulnya baik sekali karena memang intinya ingin membuat calon penumpang merasa aman dan nyaman, cuma saya kurang setuju bila seluruh stasiun hanya untuk penumpang KA, karena pertama berarti pengantar dan penjemput hanya diperkenankan mengantar dan menjemput di luar stasiun dong?
Lha apa gunanya lahan parkir?
kedua, saya sekarang tinggal di YK, dan sangat tidak memungkinkan sekali kalo mereka para pengantar dan penjemput dalam hal ini di stasiun YK dan LPN tunggu di luar stasiun, akan sangat membuat area di sekitar luar stasiun akan sangat macet.
Dan mungkin kalo yang dimaksud om./tante stefani para pengantar boleh menurunkan mereka yang akan naik kereta api di dalam stasiun hanya dari dalam mobil, ini juga akan menambah kemacetan panjang di dalam stasiun karena di saat bersamaan akan ada puluhan mobil yang akan mengantar calon penumpang karena para calon penumpang berpikir dia ga boleh masuk sampe tuh kereta nongol.

terus yang paragraf kedua juga entah kenapa saya juga kurang setuju, kebiasaan masyarakat Ina yang selalu tergesa-gesa bila ingin menaiki kereta api akan sangat beresiko sekali, apalagi di saat bersamaan para calon penumpang akan menyewa porter untuk membawakan barang mereka, bila dalam hal ini sekali lagi di sta YK, para penumpang ARGO LAWU tidak diperkenankan masuk sampai tuh kereta stabling di peron, dan ketika Argo lawu tiba ,wah ga bisa kebayang bila keamanan stasiun membuka pintu masuk ke peron akan jadi seperti apa situasinya mungkin saja malah kehilangan porter yang membawa barang bawaan mereka atau ketukar dengan porter bawaan calon penumpang yg laen, karena mereka berpikir kereta tersebut akan hanya berhenti 5-10 menit saja.

Tapi saya menghargai usul anda koq, karena memang semua RF pasti ingin KA semakin hari semakin maju dan mengutamakan penumpang dalam pelayanan mereka.
itu cuma pendapat saya yang lain mungkin ada yang setuju dengan usulan om/tante stephanie lho.Xie Xie

Ini cuma gambaran kalo di Yogya, gatau kalo di kota lainnya.Bye Bye[/spoiler]

Maksudnya kalo tempat parkir sih sah2 aja buat pengantar/penjemput, yg gak boleh tuh masuk ke dalam bangunan tasiyun, seperti di ruang tunggu, peron, dsb. Jadi, bangunan stasiun & peron murni hanya untuk penumpang KA. Nah, di situlah peran public services dalam memberikan kemudahan & kenyamanan bagi calon penumpang KA. Dengan begitu, penumpang KA bisa naik KA dg aman, mudah, & nyaman.Tepuk Tangan

@Joe_cn: jgn dipanggil om/tante, ntar kesannya gimana.... gitu.Ngikik



RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - TheLintang_32 - 15-11-2011

beberapa hari yg lalu saya mengantarkan saudara ke tasyun senen,yg ingin naik Gumarang
pas mau masuk peron saya di stop sama polsuska,karena barang bawaanya buanyak terpaksa deh.....
harus membanya sendirian.....Sakit


RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Bangunkarta - 24-11-2011

(02-11-2011, 08:42 PM)Adi Sutjipto Wrote: jika barang bisa dititipkan seperti pada pesawat, memang enak.
Sayapun pernah membicarakan hal ini dengan beberapa punggawa
tasiun.
Pesawat, mungkin hanya transit di 2 atau 3 bandara,
sehingga semua barang tinggal dikelompokkan
atau biasanya lebih banyak yang one shuttle.
Begitu landing dan berhenti, ya tinggal bongkar semua.
Belum lagi, semua penumpang dan barang,
hanya dalam 1 kendaraan transport.

Yang jadi masalah,
jika dengan kereta api, ada banyak rangkaian,
penumpang tidak bisa langsung dikelompokkan,
karena ada yang naik/ turun ditasiun yang berbeda.
~EDITED~
maap pak... saya nyambung lagi ya..
yang saya Bold pak... kalo perspektif saya... arti dari kata masalah itu adalah: sesuatu yang harus dipecahkan dan sesuatu yang harus dicari jalan keluarnya... bukan sesuatu yang menjadi sebuah pembenaran ketika kita tidak melakukan apapun... saya sudah nulis di postingan sebelumnya seh, bisa diakalin dengan lokalisasi "ups.. ini maksudnya bukan yang "itu" ya Ngeledek" bagasi.. fuihh

mangkanya ada sebuah harapan pelayanan penumpang KA lebih ditingkatkan lagi.. salah sartunya adalah pelayanan bagasi cuma-cuma...

oh iya.. kalo sistemnya seperti boarding di bandara, ketika hanya yang berkarcis saja yang boleh masuk... saran aja seh, harusnya disamping ada pelayanan bagasi... seyogyangan stasiun2 besar juga menyediakan fasilitas Trolley... sehingga penumpang akan lebih mudah membawa barang bawaannya ke peron misalnya.... masalah ada porter atau tidak.. ya hak penumpang untuk pake jasa porter ato dibawa sendiri... (akan lebih baik kalo disediakan fasilitas trolley)... jadi penumpang kalo misalnya bawa barang... tentu lebih nyaman, mau dibawa sendiri ato pake porter... ya jujur aja seh, kadang2 porter ini suka nakal dan banyak penumpang yang ga suka dengan cara-cara menawarkan jasa, nodong biaya angkut dan kadang suka menghilang ato dioper ke temannya.. jadi ongkosnya kek buat 2 orang



RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - indoloko - 25-11-2011

[spoiler]
(24-11-2011, 11:06 PM)Bangunkarta Wrote:
(02-11-2011, 08:42 PM)Adi Sutjipto Wrote: jika barang bisa dititipkan seperti pada pesawat, memang enak.
Sayapun pernah membicarakan hal ini dengan beberapa punggawa
tasiun.
Pesawat, mungkin hanya transit di 2 atau 3 bandara,
sehingga semua barang tinggal dikelompokkan
atau biasanya lebih banyak yang one shuttle.
Begitu landing dan berhenti, ya tinggal bongkar semua.
Belum lagi, semua penumpang dan barang,
hanya dalam 1 kendaraan transport.

Yang jadi masalah,
jika dengan kereta api, ada banyak rangkaian,
penumpang tidak bisa langsung dikelompokkan,
karena ada yang naik/ turun ditasiun yang berbeda.
~EDITED~
maap pak... saya nyambung lagi ya..
yang saya Bold pak... kalo perspektif saya... arti dari kata masalah itu adalah: sesuatu yang harus dipecahkan dan sesuatu yang harus dicari jalan keluarnya... bukan sesuatu yang menjadi sebuah pembenaran ketika kita tidak melakukan apapun... saya sudah nulis di postingan sebelumnya seh, bisa diakalin dengan lokalisasi "ups.. ini maksudnya bukan yang "itu" ya Ngeledek" bagasi.. fuihh

mangkanya ada sebuah harapan pelayanan penumpang KA lebih ditingkatkan lagi.. salah sartunya adalah pelayanan bagasi cuma-cuma...

oh iya.. kalo sistemnya seperti boarding di bandara, ketika hanya yang berkarcis saja yang boleh masuk... saran aja seh, harusnya disamping ada pelayanan bagasi... seyogyangan stasiun2 besar juga menyediakan fasilitas Trolley... sehingga penumpang akan lebih mudah membawa barang bawaannya ke peron misalnya.... masalah ada porter atau tidak.. ya hak penumpang untuk pake jasa porter ato dibawa sendiri... (akan lebih baik kalo disediakan fasilitas trolley)... jadi penumpang kalo misalnya bawa barang... tentu lebih nyaman, mau dibawa sendiri ato pake porter... ya jujur aja seh, kadang2 porter ini suka nakal dan banyak penumpang yang ga suka dengan cara-cara menawarkan jasa, nodong biaya angkut dan kadang suka menghilang ato dioper ke temannya.. jadi ongkosnya kek buat 2 orang
[/spoiler]

Tidak hanya troli, tetapi mesti ada handling bagasi .. sebenarnya lucu juga lihat orang yang akan boarding sambil menenteng koper-koper besar.



RE: Dampak Di Tiadakan Karcis Peron - Adi Sutjipto - 25-11-2011

(24-11-2011, 11:06 PM)Bangunkarta Wrote: [spoiler]
(02-11-2011, 08:42 PM)Adi Sutjipto Wrote: jika barang bisa dititipkan seperti pada pesawat, memang enak.
Sayapun pernah membicarakan hal ini dengan beberapa punggawa
tasiun.
Pesawat, mungkin hanya transit di 2 atau 3 bandara,
sehingga semua barang tinggal dikelompokkan
atau biasanya lebih banyak yang one shuttle.
Begitu landing dan berhenti, ya tinggal bongkar semua.
Belum lagi, semua penumpang dan barang,
hanya dalam 1 kendaraan transport.

Yang jadi masalah,
jika dengan kereta api, ada banyak rangkaian,
penumpang tidak bisa langsung dikelompokkan,
karena ada yang naik/ turun ditasiun yang berbeda.
~EDITED~
maap pak... saya nyambung lagi ya..
yang saya Bold pak... kalo perspektif saya... arti dari kata masalah itu adalah: sesuatu yang harus dipecahkan dan sesuatu yang harus dicari jalan keluarnya... bukan sesuatu yang menjadi sebuah pembenaran ketika kita tidak melakukan apapun... saya sudah nulis di postingan sebelumnya seh, bisa diakalin dengan lokalisasi "ups.. ini maksudnya bukan yang "itu" ya Ngeledek" bagasi.. fuihh

mangkanya ada sebuah harapan pelayanan penumpang KA lebih ditingkatkan lagi.. salah sartunya adalah pelayanan bagasi cuma-cuma...

oh iya.. kalo sistemnya seperti boarding di bandara, ketika hanya yang berkarcis saja yang boleh masuk... saran aja seh, harusnya disamping ada pelayanan bagasi... seyogyangan stasiun2 besar juga menyediakan fasilitas Trolley... sehingga penumpang akan lebih mudah membawa barang bawaannya ke peron misalnya.... masalah ada porter atau tidak.. ya hak penumpang untuk pake jasa porter ato dibawa sendiri... (akan lebih baik kalo disediakan fasilitas trolley)... jadi penumpang kalo misalnya bawa barang... tentu lebih nyaman, mau dibawa sendiri ato pake porter... ya jujur aja seh, kadang2 porter ini suka nakal dan banyak penumpang yang ga suka dengan cara-cara menawarkan jasa, nodong biaya angkut dan kadang suka menghilang ato dioper ke temannya.. jadi ongkosnya kek buat 2 orang[/spoiler]
Jangan lupa,
pesawat hanya ada satu, sedangkan kereta api,
ada banyak rangkaian.
Dari Surabaya ke Jakarta, misalnya,
hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat, dan jika ada transit, mungkin hanya sekali, di Jawa Tengah.

Untuk urusan bagasi, kebanyakkan, sekali muat, sekali bongkar.
Apa ada, kereta api dari Surabaya, hanya berhenti sekali di Semarang,
lalu Cirebon, langsung Jakarta ?
Bisa-bisa okupansi tidak bisa full, jika diberi 8-10 rangkaian.
Tetapi jika hanya membawa 4-6 rangkaian, sepertinya juga rugi.

Hayo,
kira-kira memungkinkan tidak untuk diberlakukan sisitim bagasi ?
Dari Surabaya sampai Jakarta, dengan mengabaikan calon penumpang ditiap kota besar yang dilewati, apa mungkin ?

Kecuali dibuat rangkaian dengan spesifikasi, hanya khusus berangkat
dari tiap kota besar, langsung menuju Jakarta dan sebaliknya,
jadi semua one way.

Kira-kira, butuh berapa loko, rangkaian, masinis dan crew lainnya ?

Xie XieNgakak