![]() |
|
ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - Printable Version +- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com) +-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forum-4.html) +--- Forum: PPKA (https://www.semboyan35.com/forum-12.html) +--- Thread: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer (/thread-5575.html) |
RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - bonbon - 25-03-2011 Yang pasti pakai KA bebas biaya jembatan timbang yah ...Masih nunggu yang tahu tarif per kontainernya...dari muat sampai bongkar RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - WOODWARD - 25-03-2011 (25-03-2011, 02:31 PM)bonbon Wrote: Yang pasti pakai KA bebas biaya jembatan timbang yah kalo tarif container handling itu musti tanya ke Divisi komersial. tapi kyaknya maen ke terminal container terdekat juga bisa kok RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - Gege - 25-03-2011 Mo ngasih info plus ngiklanin dikit (walaupun ndak ada hubungan apapun dengan si blogger) [spoiler=Silahkan disimak] Meningkatkan Okupansi Kereta Api Oleh: Muh. Fajar Shidiq * Seperti yang sudah di beritakan oleh media ini(JP), pada tanggal 1 September 2003, PT. Kereta Api, akan mengurangi jadwal perjalanan kereta api Argo Anggrek dari 3 kali sehari menjadi 2 kali sehari. Hal ini dilakukan karena occupancy rate yang dicapai hanya sekitar 50% dari kapasitas gerbong yang disediakan dan untuk menutupi biaya operasionalnya tersebut perlu dilakukan rasionalisasi jadwal perjalanan sehingga diharapkan pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik dan efisien, namun pertanyaannya, akankah rasionalisasi jadwal perjalanan ini akan dapat menaikkan tingkat okupansi yang diharapkan?. Perang tarif penerbangan domestik yang dilakukan para maskapai penerbangan sampai saat ini telah menimbulkan efek negatif kepada angkutan kereta api executive khususnya KA Argo Anggrek yaitu dengan turunnya tingkat okupansi penumpangnya dalam beberapa bulan terakhir ini meskipun sejak tanggal 21 Maret 2003 PT. KA telah melakukan antisipasi dengan menurunkan tarif kereta api executive. Dengan keluarnya regulasi dari pemerintah yang memudahkan para investor untuk membuka usaha jasa penerbangan, maka semakin banyak perusahaan penerbangan yang bersaing terutama dirute padat Surabaya-Jakarta, perang tarif antar maskapai pun tidak terelakkan lagi, kebijaksaanan flexible pricing yang disesuaikan dengan keadaan pasar membuat transportasi ini semakin berat untuk disaingi oleh angkutan kereta api. Saat ini flight Surabaya-Jakarta terdapat sekitar 43 kali penerbangan dengan average load factor sekitar 55%, malah untuk Garuda Indonesia bisa 70% bandingkan dengan kereta api executive yang hanya dilayani KA Argo Anggrek, KA Gumarang, KA Bima, KA Sembrani. Kebijaksanaan yang dilakukan oleh PT. KA ini adalah dapat dipandang sebagai strategi pemasaran untuk bersaing dengan jenis transportasi lain khususnya pesawat terbang dalam memperebutkan ‘kue’ penumpang jarak jauh dan dalam meningkatkan jumlah pendapatan. Namun bagaimana menciptakan keunggulan bersaing bagi angkutan kereta api dalam kondisi yang demikian ini? untuk itu kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : Pertama, Kebijakan penetapan harga, perubahan harga atau tarif sekecil apapun akan mempengaruhi perolehan pendapatan, namun untuk jangka pendek jika memang dipandang lebih baik, dapat mengadopsi kebijaksaan flexible pricing, yaitu memberi tarif khusus kepada perusahaan atau institusi yang potensial dan pelanggan rutin yang sering memanfaatkan jasa kereta api. Tarif yang dikenakan juga harus dibedakan berdasarkan musimnya peak season maupun low season. Mendekati jadwal keberangkatan kereta, dari database tiket yang sudah dipesan atau terjual, akan diketahui berapa persen seat yang belum terjual, dan untuk memenuhinya dapat dilakukan cut off tarif. Dengan demikian diharapkan okupansi kereta dapat meningkat meskipun untuk sementara ada penurunan pendapatan. Kedua, Membuat tolok ukur, hal dasar yang memberi perbedaan dalam persaingan adalah kekuatan dari perusahaan itu sendiri dan informasi mengenai pesaing. PT. KA harus merancang strategi pemasaran bersaing yang paling sesuai dan cocok dengan posisinya dalam industri transportasi, peluang, tujuan maupun sumber daya nya. Ketiga, Membedakan produk dan proses dengan transportasi lain, bahwa diyakini masing-masing jasa transportasi memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu, salah satu contoh, mengenai kecepatan, jelas kereta api kalah dengan pesawat terbang tetapi unggul dalam kapasitas angkut penumpang. Proses chek-in untuk kereta api relatif lebih mudah dan stasiun keberangkatan maupun stasiun tujuan berada di pusat kota, hal ini akan memudahkan akses penumpang untuk meneruskan ke tujuan yang diinginkan. Pebisnis yang kehabisan tiket pesawat terbang tidak perlu menunda keberangkatan esok harinya dan tidak perlu nginap dihotel karena bisa istirahat dan tidur di dalam kereta (lebih hemat dan efisien). Calon penumpang diedukasi dengan pendekatan secara persuasif bahwa dengan membeli jasa kereta api itu selain faktor tarif yang ditawarkan, tetapi juga ‘kebutuhan’ untuk merasakan kenyamanan dan menikmati perjalanan kereta api. Jadi, disini dimunculkan sifat rekreatif dalam ‘produk’ yang ditawarkan oleh PT. KA Bagaimanapun agar pelanggan mempunyai rasa melu handarbeni (rasa ikut memiliki) terhadap ‘angkutan rakyat’ ini harus ditumbuhkan, karena diatas angkutan kereta api ini bagi sebagian penumpang terkandung memori atau pengalaman yang melibatkan perasaan seperti terjadinya jalinan asmara, nostalgia, heroik dan sebagainya yang tidak dapat dinilai secara materi, ‘memori’ seperti ini yang harus di tangkap oleh PT. KA untuk diolah sebagai amunisi dalam persaingan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Segmentasi pasar yang selama ini dibidik KA executive khususnya KA Argo Anggrek yaitu kelas menengah ke atas dan pebisnis harus di maintenance dengan cermat dan hati-hati karena berpotensi untuk berpindah ke transportasi lain termasuk pesawat terbang, karena bagi mereka tarif berbeda atau lebih tinggi tidak menjadi masalah, mereka lebih mengutamakan pelayanan. Faktor keterlambatan kereta, rintangan dijalan (kereta anjlok, lokomotif mogok, tabrakan, jembatan rusak dsb), dan buruknya pelayanan (di stasiun dan diatas kereta) harus segera dibenahi, agar tidak menjadi ‘batu sandungan’ dalam menciptakan keunggulan jasa transportasi, karena faktor-faktor inilah yang masih sering terjadi dan menjadikan kekecewaan para penumpang dan penumpang tidak dapat berbuat apa-apa. Permasalahan yang begitu komplek di PT. KA ini harus disikapi dengan rasa optimis bagi semua pihak yang terkait untuk membangun sarana angkutan kereta api yang mempunyai daya saing tinggi dan tarif yang terjangkau. Dengan demikian strategi yang dilakukan PT. KA dapat tepat pada sasaran. (*) Muh. Fajar Shidiq, Alumni Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya Malang dan kini bekerja dibidang transportasi Sumber [/spoiler] dan [spoiler=Dan Berita tahun 2007] Angkutan peti kemas kereta api dinilai lebih efisien & murah : detikcom - Bandung, PT Kereta Api (PT KA) mengklaim pengiriman peti kemas melalui Terminal Peti Kemas (dry port) Gede Bage Bandung dengan menggunakan kereta api lebih murah, efisien, dan tepat waktu dibandingkan melalui moda angkutan darat lainnya untuk pengangkutan di atas tujuh kontainer. Hadi Suseno, Kepala Terminal Peti Kemas Gede Bage, mengatakan jalur kereta api lebih efisien untuk pengiriman barang ekspor dan impor jika dilakukan dengan perencanaan yang matang, karena waktu tempuh Gede Bage-Pasoso pada waktu kondisi normal hanya 6,5 jam. "Kami memang tidak bisa melayani satu kontainer yang minta berangkat langsung karena keberangkatan kereta sudah terjadwal dengan delapan hingga 15 gerbong per rangkaian kereta yang berangkat," ujarnya kepada Bisnis, Rabu. Dia merinci waktu 6,5 jam terdiri atas waktu tempuh Gede Bage-Pasoso selama 4,5 jam, ditambah waktu bongkar-muat dari kereta ke truk di Pasoso hingga kapal sekitar dua jam. Menurut dia, angkutan barang dengan menggunakan kereta api juga bisa bersaing dari segi pembiayaan dibandingkan angkutan truk. PT KA menetapkan tarif dari Gede Bage hingga atas kapal untuk kontainer berukuran 20 twenty-foot equivalent units (TEUs) sebesar Rp817.000 dan Rp1,3 juta untuk 40 TEUs, sedangkan tarif truk sebesar Rp1,8 juta di luar biaya pengurusan dokumen di pelabuhan. Tarif angkutan KA tersebut, lanjutnya, sudah termasuk biaya dokumen ekspor dan telah disiapkan sejak kereta berangkat dari Gede Bage. "Tidak ada biaya handling tambahan di Pasoso. Bahkan, jika nanti panjang rel sudah ditambah, waktu tempuh Gede Bage-JICT hanya sekitar 5,5 jam," paparnya. Menurut dia, waktu pemindahan muatan dari truk ke kereta yang akan berangkat juga tidak lama, yakni maksimal satu jam per kontainer. Dry port Gede Bage sendiri memiliki kemampuan beban angkut 15 ton untuk gerbong 20 TEUs dan 30 ton untuk gerbong 40 TEUs. Rel tambahan Hadi berharap pemerintah dapat menyelesaikan pembangunan tambahan rel hingga Jakarta International Container Terminal (JICT) pada 2008, bersamaan dengan beroperasinya terminal peti kemas di Cibungur pada awal 2008. "Banyak pengusaha eksportir dan importir yang telah menanti hal tersebut, terutama di kawasan Purwakarta. PT Bukit Indah Kargo Internasional pun telah sepakat untuk mengoordinasi peti kemas dari 81 industri di wilayah tersebut," ujarnya. Kepala Pemasaran Terminal Peti Kemas Gede Bage Sudarsyah memperkirakan tren pengiriman kontainer melalui jalur KA akan meningkat dalam tiga tahun ke depan karena saat ini jalur darat sudah sering macet. "Pembangunan jalan tol tidak akan bermanfaat banyak bagi kelancaran di pelabuhan, karena kemacetan terjadi di dalam Tanjung Priok mulai dari pintu gerbang 1," ujarnya.[/spoiler] Kalo MBACA INI dari site resminya operator... Monggo RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - WOODWARD - 25-03-2011 mantap penjelasannya lengkap jadi bisnis barang lebih untung kan penumpang buat pelayanan masyarakat aja, jgn cari untung, jadi taripnya bisa murah hehehehe RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - Gege - 25-03-2011 Ada tambahan lagi INI dan INI Kalo INI dari sisi truknya. Kayaknya moda transportasi darat non KA banyakan biaya silumannya dibandingkan dengan moda KA Bisa disimpulkan sendiri. Selamat membaca. RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - WOODWARD - 25-03-2011 (25-03-2011, 03:35 PM)Gege Wrote: Ada tambahan lagi INI dan INI iya untuk (◣_◢)┌∩┠emang udah rahasia umum kan untuk melancarkan perjalanannya, sampai soal keamanan segala. kereta tidak ada seperti itu, setidaknya tidak sebesar angkutan jalan raya, tapi jika muatan barang pindah ke atas Rel, mereka - mereka atau bisa di sebut oknum ini akan kehilangan sumber pendapatan tentunya, apa yang terjadi jika dapur orang diganggu? RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - nikmuracell - 25-03-2011 [spoiler] (25-03-2011, 02:08 PM)WOODWARD Wrote: sebenernya walaupun BBM nya tidak pakai subsidi, kereta api itu masih bisa untung kok, selaki bawa 20 container 40 Feet, ke surabaya dari jakarta 2 hari semalem. pakai (◣_◢)┌∩┠berapa lama tuh, satu satu lagi.[/spoiler] Emang gak di subsidikan BBMnya? untung sih untung ... tp patokan untungnyakan juga harus realistis, spy kaga nurunin citra ma ngerusakin rel dan bantalannya .... RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - WOODWARD - 25-03-2011 yang saya tau HSD untuk kereta itu non subsidi harga industri jadinya sekitar 7200 per liter nya RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - bonbon - 25-03-2011 sisi yg bila di bilang berlawanan dengan KA kontainer banyak, mulai dari tol luar dan dalam kota, nge mel ke oknum DLLAJ, oknum petugas jembatan timbang, ormas kedaerahan (preman berorganisasi), oknum kepolisian, biaya pengawalan (karena saking banyaknya ngemel sana sini, mereka supir truk dan perusahaan memilih jasa pengawalan oleh anggota TNI) dsb...behhh ribetnya, kuat banget ya jasa ekspidisi, apalagi supir truknya, kasihan mereka bisa bawa berapa itu sisa ongkos jalan RE: ASK : Perbandingan Tarif Antaboga vs Truk Kontainer - nikmuracell - 25-03-2011 (25-03-2011, 03:57 PM)WOODWARD Wrote: yang saya tau HSD untuk kereta itu non subsidila iyak bener lah kapan anekan juga nulis kaga di subsidi, dari tulisan nt juga gitu artinye kalo disubsidikan itu lebih untung lagi ... |