![]() |
|
Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Printable Version +- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com) +-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forum-4.html) +--- Forum: PPKA (https://www.semboyan35.com/forum-12.html) +--- Thread: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain (/thread-8814.html) |
RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - pws1996 - 19-09-2014 (18-09-2014, 09:45 PM)Ardhani Muhad Wrote: Coba saya membandingkan transportasi massal darat yang beroperasi di Yogyakarta, yaitu kereta dan bis. Khusus kali ini yang melayani relasi Jogja-Jakarta karena di trayek tersebut pada moda transportasi bis tersedia kelas yang lengkap mulai dari kelas ekonomi hingga super eksekutif. Mirip dengan kelas kereta milik Daop VI yang juga tersedia lengkap mulai dari ekonomi PSO hingga eksekutif: Ya benar, ini bukan untuk brand war atau tranport war, tapi untuk mengetahui lebih dalam tentang perkereta apian, untuk menunjukkan bahwa kereta api lebih efektif untuk angkutan darat jarak jauh dan atau masal, yg tidak hanya berdasar perkiraan saja. Karena selama ini kita tahu kereta api lebih efektif utk angkutan masal dan atau jarak jauh, tapi hamya sebatas perkiraan, dan kenyataanlain: - pemerintah kurang memprioritaskan mengembangkan moda transportasi - kalau mmemang kereta lebih hemat untuk biaya operasional kenapa tarifnya tidak lebih murah? RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - dixtra - 19-09-2014 (19-09-2014, 06:02 AM)pws1996 Wrote: Ya benar, ini bukan untuk brand war atau tranport war, tapi untuk mengetahui lebih dalam tentang perkereta apian, untuk menunjukkan bahwa kereta api lebih efektif untuk angkutan darat jarak jauh dan atau masal, yg tidak hanya berdasar perkiraan saja. Setahu saya (CMIIW) kereta api tidak lebih hemat untuk biaya operasional karena bahan bakar lokomotif memakai bahan bakar non subsidi (HSD), beda dengan bis yang pakai premium bersubsidi. Perlu diingat juga bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengoperasikan kereta api harus membayar TAC (Track Access Charge/ Biaya melewati jalur), bandingkan dengan bis yang tidak membayar (kecuali lewat jalan tol tapi tentu saja tidak seberapa dibandingkan TAC). Belum lagi komponen kereta api yang lebih susah dicari dan mahal daripada bus, pelemparan batu dan sabotase jalur juga menambah biaya perbaikan. Ini benar-benar perlu dukungan pemerintah agar biaya2 tersebut ditekan, tapi sayangnya pemerintahan baru periode selanjutnya fokusnya transportasi laut, terpaksa harus bersabar dan gigit 2 jari dulu
RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - pws1996 - 19-09-2014 (19-09-2014, 06:09 PM)dixtra Wrote: Setahu saya (CMIIW) kereta api tidak lebih hemat untuk biaya operasional karena bahan bakar lokomotif memakai bahan bakar non subsidi (HSD), beda dengan bis yang pakai premium bersubsidi. Perlu diingat juga bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengoperasikan kereta api harus membayar TAC (Track Access Charge/ Biaya melewati jalur), bandingkan dengan bis yang tidak membayar (kecuali lewat jalan tol tapi tentu saja tidak seberapa dibandingkan TAC). Belum lagi komponen kereta api yang lebih susah dicari dan mahal daripada bus, pelemparan batu dan sabotase jalur juga menambah biaya perbaikan. Ini benar-benar perlu dukungan pemerintah agar biaya2 tersebut ditekan, tapi sayangnya pemerintahan baru periode selanjutnya fokusnya transportasi laut, terpaksa harus bersabar dan gigit 2 jari dulu Akhirnya ketahuan juga kenapa tarif dasar kereta lebih mahal daripada tarif dasar bis, Kata kuncinya ada pada PEMERINTAH. Seharusnya pemerintah memberlakukan hal yg sama antara kereta dan bis, kalau memang ingin mengurangi beban jalan raya yg makin hari makin padat RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Ardhani Muhad - 21-09-2014 Jika berbicara soal efektifitas, belum tentu moda transportasi kereta api lebih efektif lho di sisi penumpang dan pengampu kebijakan. Coba bandingkan jumlah kota/kabupaten yang tercover kereta dan kota/kabupaten yang tidak tercover jalur kereta. Penduduk yang ibukota propinsinya tercover jalur kereta pun belum tentu merasa lebih efektif dan efisien menggunakan kereta, seperti di kabupaten Gunung Kidul. Penduduknya yang mau ke Jakarta/luar kota harus datang ke sta.Tugu, sta.Lempuyangan atau sta.Klaten. Perjalanan untuk ke stasiun tersebut dengan kendaraan pribadi memakan waktu setidaknya 2-3 jam, belum lagi kalo naik transportasi umum yang bisa menghabiskan waktu 3-4 jam serta harus oper setidaknya 3 kali. Biaya yang dikeluarkan pun seharga tiket ekonomi PSO. Di sisi penumpang, ngapain harus susah-susah kalo bisa naik kendaraan 1 kali saja dan bisa naik dari depan rumah. Dari sisi pengampu kebijakan, mungkin saja ngapain ngasih subsidi jika yang menerima & memakai hanya masyarakat dan sekitar yang dilalui jalur kereta. Toh sarana dan prasarana di luar pulau Jawa yang perlu pembangunan & perbaikan memiliki prioritas yang lebih tinggi. Kemudian jika terjadi PLB di jalur kereta dimana transportasi sebagian bertumpu di jalur kereta, bayangkan apa yang terjadi? Jadwal kereta penumpang jadi kacau, ditambah gimana kabarnya kereta yang tidak punya rangkaian cadangan jika rangkaian utamanya tertahan. Kemudian angkutan barang menjadi terlambat sampai di tujuan yang berimbas bisa diberlakukan pinalti ke operator. Btw konon karena dimensi angkut kereta barang lebih kecil daripada truk, pengusaha lebih memilih angkutan darat lainnya. ![]() Menurut saya, subsidi (PSO) untuk KAJJ kelas ekonomi dan kommuter saat ini sudah tepat sasaran walaupun belum sempurna. Mengingat kereta Ekonomi lebih banyak digunakan oleh masyarakat kelas bawah. Sedangkan kelas diatasnya lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah keatas, kalo KAJJ diatas kelas Ekonomi diberi subsidi bisa bisa ga tepat sasaran. Lagipula kecuali pada masa lebaran, apakah setiap orang yang berpergian jarak jauh selalu menggunakan kendaraan pribadi? Kemudian subsidi untuk kereta kommuter justru yang paling tepat sasaran untuk mengurangi beban jalan. Masyarakat yang hendak berpergian jarak dekat dan menengah yang menggunakan kendaraan pribadi bisa dipindahkan ke kereta kommuter, untuk itu ada baiknya frekuensi kereta kommuter ditambah lagi ![]() [spoiler] Ngomongin soal solar subsidi, (pernah saya lontarkan pertanyaan di trit sebelah) saya malah menemukan artikel di majalah berita mingguan "Tempo" edisi 25-31 Agustus 2014 halaman 12 yang memuat PT.KAI adalah salah satu pengguna solar subsidi. Berikut saya naikin gambarnya: ![]() [/spoiler] RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Warteg - 30-09-2014 Transportasi Kereta Api memiliki daya angkut lebih besar, komsumsi bahan bakar lebih rendah, dan polutan lebih rendah dibanding moda transportasi lain
RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Aruna Kuwat - 30-09-2014 (18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA Setuju Bro
RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - bhaskara - 01-10-2014 (30-09-2014, 06:12 PM)Aruna Kuwat Wrote:(18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA Tapi di Jawa aja banyak tempat yang tidak dapat dan tidak dapat lagi dijangkau pakai kereta : Pacitan, Magelang, Salatiga, Wonosobo, Pangandaran, Magetan, dll., dsb., dst. RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Bayyu kurniawan - 03-10-2014 (01-10-2014, 03:03 PM)bhaskara Wrote:(30-09-2014, 06:12 PM)Aruna Kuwat Wrote:(18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA kembali lagi soal okupansi nya gan
RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - pws1996 - 04-10-2014 sekarang perbandingan kereta api dg bis untuk urusan tarif mulai januari 2015 bis kalah jauh mahalnya. (asumsi tarif bis naik tidak lebih 10%, atau malah tidak naik) RE: Perbandingan Kereta Api dengan alat angkutan lain - Darfian_R - 07-10-2014 (30-09-2014, 05:41 PM)Warteg Wrote: Transportasi Kereta Api memiliki daya angkut lebih besar, komsumsi bahan bakar lebih rendah, dan polutan lebih rendah dibanding moda transportasi lainNah, biasanya, besaran ini lah yang dipakai untuk membandingkan dua/lebih moda transportasi yang berbeda, yaitu Fuel/Pax*Distance. Setahu saya, ini digunakan, karena, setiap moda transportasi memiliki ciri khas tersendiri, dan hanya komponen bahan bakar, penumpang, dan jarak tempuh lah yang dimiliki setiap moda transportasi, walau, menurut saya, besaran ini seakan - akan "menutup mata" pada pengeluaran lain yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu moda transportasi. Maka, menurut saya, lebih tepat jika digunakan Running Cost/Pax yang digunakan. Running cost yang dimaksud adalah segala pengeluaran yang dibuuhkan untuk menjalankan suatu moda transportasi, mulai dari hal besar seperti perawatan sarpras hingga hal kecil seperti kertas tiket. |