![]() |
|
Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - Printable Version +- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com) +-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=4) +--- Forum: Kegiatan (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=10) +---- Forum: Laporan Perjalanan (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=42) +---- Thread: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo (/showthread.php?tid=5107) |
Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - antimon40 - 23-12-2010 Pulang kok pakai muter-muter segala sih? Memandangi persawahan di sepanjang pesisir utara Jawa Tengah dari dalam kereta Banyak jalan ke Roma, banyak juga jalan ke Jogja....kira-kira kalimat itulah yang tepat untuk menggambarkan ide gila saya yang satu ini : Pulang kampung ke Jogja dari Bandung lewat jalur utara, gonta-ganti kereta, naik di sini - turun di sana. Biasanya saya pulang ke Jogja lewat lewat jalur selatan (Bandung - Tasik - Banjar - Kroya - Kebumen - Kutoarjo - Jogja) dengan sekali naik kereta, biasanya naik Kahuripan atau Lodaya. Tapi karena saya mulai bosan dengan ritual pulang kampung yang rutenya itu-itu saja, saya mencoba untuk mencari rute lain yang belum pernah saya lewati. Dan akhirnya rute yang saya pilih adalah Bandung - Jakarta - Semarang - Solo - Jogja. Ada banyak alasan kenapa saya memilih rute tadi: 1. Bisa lewat beberapa kota besar sekaligus 2. Saya belum pernah naik kereta lewat jalur utara antara Cirebon-Semarang dan juga belum merasakan perjalanan lewat jalur KA tertua di Indonesia, antara Semarang s.d. Solo 3. Kira-kira 1 jam sebelum sampai Semarang, ada pemandangan eksotis pantai Plabuan yang posisinya persis di pinggir jalur KA 4. Secara kebetulan, pertandingan kedua antara Indonesia-Filipina Minggu malam kemarin (19/12) berlangsung sebelum KA Tawang Jaya jurusan Semarang Poncol berangkat dari Jakarta Kota pukul 21.00 Saya mencari-cari jadwal KA di internet dan Majalah Kereta Api yang saya punya, dan juga bertanya kepada beberapa railfans yang berdomisili di Jakarta untuk memastikan kebenaran jadwal KA tersebut. Setelah mendapatkan kepastian dan mengajak beberapa teman, akhirnya saya jadi melakukan ritual pulang kampung bersama dengan Sebastian Adi Nugroho dan Yulyan Wahyu Hadi pada hari minggu siang, tanggal 19 Desember 2010. Kami memulai perjalanan dari Bandung menuju Jakarta dengan KA Argo Parahyangan. Yulyan akan turun di Gambir lalu pulang ke rumahnya di Jurangmangu, Tangerang. Sementara saya dan Bastian turun di Jatinegara untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja lewat Semarang. Berangkat dari Bandung ![]() Teman-teman Komunitas Edan Sepur melepas kepergian kami di Stasiun Bandung Siang hari sebelum kami berangkat dari Stasiun Hall Bandung, kami bertemu dengan teman-teman dari Komunitas Edan Sepur Indonesia yang kebetulan sedang hunting foto di stasiun Bandung. Kami juga sempat berbagi cerita dengan masinis KA Argo Parahyangan yang kami naiki dan berfoto-foto di depan lokomotif CC 204 16 yang akan menarik rangkaian Argo Parahyangan menuju ke Gambir. Tepat pukul 15.00, kereta kami pun berangkat. Dalam perjalanan selama 3 jam menuju ke Jakarta, saya merekam pemandangan dari pintu kereta hanya pada saat kereta melewati tikungan besar Padalarang. Sebetulnya pemandangan indah antara Bandung-Jakarta kurang afdol juga kalau dilewatkan dari jepretan kamera, tapi demi menghemat isi baterai HP supaya masih kuat dipakai untuk mengambil gambar di antara Jakarta-Semarang-Solo, biarlah pemandangan antara Bandung-Jakarta terekam oleh mata saya saja... Tiba di Jatinegara Pukul 18.20 sore, kami tiba di Jatinegara, sementara Yulyan melanjutkan perjalanan ke Gambir. Setelah keluar dari kereta, kami harus keluar dulu dari stasiun agar dapat membeli tiket karena di Jatinegara, penjagaan pintu masuk ke peron cukup ketat sehingga kami tidak bisa langsung menuju ke loket antrian lewat pintu masuk peron. Pintu masuk akan ditutup oleh petugas jika calon penumpang yang akan masuk ke peron tidak memiliki tiket keberangkatan atau membeli karcis peron. Setibanya di depan loket KA jarak jauh tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur, antrian calon penumpang sudah panjang, padahal loket masih belum dibuka. Dengan keadaan seperti ini, mau tidak mau kami juga harus mengantri jika tidak mau kehabisan tempat duduk. ![]() Suasana antrian di loket Stasiun Jatinegara Saya pun menunggu di dekat pintu masuk dan mengambil foto ini, sementara Bastian mengantri untuk membeli tiket Tawang Jaya ke Semarang Poncol. Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya dua tiket keberangkatan ke Semarang Poncol berhasil kami dapatkan dengan harga tiket Rp33.500,00. Memang murah, karena KA Tawang Jaya yang akan kami naiki adalah KA kelas ekonomi favorit rakyat jelata. Kami pun langsung masuk kembali ke peron dan mencari KRL ke Stasiun Jakarta Kota supaya bisa langsung naik ke KA Tawang Jaya yang masih diparkir di sana dan baru berangkat pukul 21.00. Tapi sialnya, KRL ke Jakarta Kota sudah tidak ada lagi, sehingga kami harus menunggu kedatangan KA Serayu dari Kroya yang akan menuju ke Jakarta Kota. Tidak lama kemudian setelah shalat Magrib di mushola, KA Serayu tiba dan kami pun langsung masuk ke dalam gerbong yang masih penuh dengan penumpang karena sebagian besar penumpang akan turun di Pasar Senen.. Di dalam kereta, kami sempat berbincang dengan penumpang lain dari Banjar, Jawa Barat yang duduk berdampingan di sebelah kami. Tidak terasa akhirnya kereta sampai juga di Stasiun Jakarta Kota atau lebih dikenal oleh orang Jakarta sebagai Stasiun Beos. Ada TV di kereta ekonomi.... Setibanya di Jakarta Kota, rangkaian KA Tawang Jaya sudah dipersiapkan di jalur sebelah. Kami langsung masuk kereta dan menuju ke gerbong restorasi. Dengan membayar biaya tambahan Rp25000,00 kami bisa duduk di gerbong yang lebih aman dan nyaman karena selain dijaga oleh petugas, di tempat duduk kami juga ada meja makan, kipas angin dan hiasan bunga. Kami juga mendapatkan satu porsi makan malam. Istimewanya lagi, di gerbong tersebut bahkan ada TV yang sedang menayangkan laga semifinal AFF antara Indonesia vs. Filipina. Saat itu pukul 20.30 malam, pertandingan telah memasuki babak kedua. Indonesia mencetak gol pada babak pertama lewat tendangan Christian "El Loco" Gonzales di menit 43. Setelah mengambil tempat duduk, kami langsung ikut menonton pertandingan dari televisi di dalam gerbong bersama para petugas dan penumpang lainnya. Skor pun masih tetap 1-0 sampai pertandingan berakhir dengan 4 menit waktu tambahan. Skor bisa saja imbang 1-1 bila si bek tahan banting, Muhammad Nasuha, yang kepalanya sudah berbalut kain perban tidak berada di sisi kiri depan gawang Indonesia untuk menghalau bola yang direbut dan dishoot secara akurat oleh pemain Filipina akibat kesalahan komunikasi di lini belakang timnas kita. Jadi, selain Christian Gonzales, di pertandingan ini Indonesia juga patut berterima kasih kepada Muhammad Nasuha yang telah menyelamatkan gawang Indonesia dari ancaman shooting dari penyerang Filipina. Di penghujung pertandingan, Bambang Pamungkas masuk menggantikan Oktovianus Maniani. Dan lagi-lagi, si lucky player Arif Suyono yang juga baru saja masuk hampir mencetak gol kedua Indonesia, namun tendangannya berhasil dihalau oleh pemain belakang Filipina. Dan dengan berakhirnya siaran langsung pertandingan Indonesia-Filipina, maka siaran televisi di dalam gerbong restorasi pun diganti dengan tayangan video klip dangdut favorit para petugas gerbong restorasi... ![]() Nonton Indonesia - Filipina dari dalam kereta....mantab jaya.... Saya keluar sebentar dari gerbong untuk melihat-lihat suasana di stasiun. Sebelum pukul 9 malam, Stasiun Jakarta Kota sudah sangat sepi karena kebanyakan orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing sejak sore tadi untuk menonton pertandingan. Ketika saya sedang memotret lokomotif yang akan menarik KA Tawang Jaya, kembang api bermunculan di tengah langit malam kota Jakarta, menyemarakkan suasana. Seluruh warga Jakarta merayakan kemenangan kedua atas Filipina di Stadion Gelora Bung Karno. Saya pun menuju ke hall stasiun untuk mengambil gambar stasiun yang sudah sepi. Pada pukul 21.00 KA Tawang Jaya berangkat dari Jakarta Kota menuju Pasar Senen. Sebelumnya, penumpang di dalam kereta masih belum banyak. Namun di Pasar Senen, ratusan penumpang yang akan pulang kampung ke Semarang rupanya sudah menunggu kedatangan kereta. Kehadiran mereka pun langsung merubah suasana di dalam kereta. Kursi di gerbong restorasi pun langsung penuh. Di gerbong lain ada banyak penumpang yang sampai tidak kebagian kursi dan duduk seadanya di lantai kereta beralaskan koran. Pemandangan yang sudah biasa kita jumpai di kereta-kereta kelas ekonomi, bahkan juga di kelas bisnis saat musim liburan tiba.... Menanti matahari terbit di Pantai Plabuan Malam masih panjang...Saya ingin segera tidur agar tenaga saya masih cukup untuk perjalanan yang juga masih panjang, namun video klip dangdut dari TV gerbong restorasi yang mendayu-dayu membuat tidur saya jadi kurang nyenyak. Saya baru tertidur sebentar setelah kereta berhenti di Bekasi. Ketika saya bangun pun, video klip dangdut itu pun masih saja diputar...membuat tidur lelap saya semakin pudar. Saya heran dengan Bastian yang sudah tertidur lelap sejak tadi, padahal suasana di gerbong restorasi jadi hingar-bingar karena suara dari video klip dangdut, obrolan para penumpang serta petugas dan suara dari para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di dalam kereta bercampur baur jadi satu. Akhirnya saya menyerah untuk tidur kembali dan mencoba melihat suasana malam yang gelap di luar kereta. Jam menunjukkan pukul 12.00 tengah malam, salah satu pedagang asongan memberi tahu para penumpang bahwa kereta sudah hampir sampai di Cirebon. Beberapa saat kemudian, laju kereta diperlambat. Kereta memasuki Stasiun Cirebon Kejaksan, namun kereta tidak berhenti di sini karena Cirebon Kejaksan adalah pemberhentian KA kelas bisnis dan eksekutif. KA Tawang Jaya yang berkelas ekonomi baru berhenti di Stasiun Cirebon Parujakan, persis setelah Stasiun Cirebon Kejaksan. Setelah kereta meninggalkan kota Cirebon, saya bisa tertidur kembali, namun juga tidak lama. Ketika saya terbangun, kereta ternyata baru sampai di stasiun Tegal. Bastian masih tertidur lelap, tidak terpengaruh oleh suara video klip dangdut maupun suara pedagang asongan yang membuat saya jadi insomnia. Saya hanya bisa memandangi suasana di luar kereta yang gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu-lampu dari rumah penduduk di sepanjang jalur rel yang kami lewati. Beberapa lama kemudian pada pukul 04.00 dini hari kereta berhenti di Stasiun Pemalang. Beberapa menit setelah melanjutkan perjalanan, kami melewati stasiun Petarukan. Ada aura mencekam di stasiun ini, karena pada tanggal 2 Oktober 2010 dini hari, stasiun Petarukan menjadi saksi bisu terjadinya kecelakaan hebat antara KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KA Senja Utama Semarang yang sedang berhenti di stasiun Petarukan. Kereta api yang kami naiki lewat di jalur 3, persis di titik tempat terjadinya kecelakaan maut tersebut. Ada perasaan ngeri ketika saya melihat papan nama stasiun, seolah-olah stasiun Petarukan berubah menjadi tempat angker, tempat di mana 33 nyawa melayang karena tergencet di gerbong belakang Senja Utama Semarang yang ringsek, tak berbentuk, karena ditabrak oleh lokomotif CC20340 yang menarik Argo Bromo Anggrek yang saat itu melaju dengan kecepatan 50 km/jam. Siapapun yang naik kereta api pasti tidak akan menginginkan kejadian semacam itu terjadi. Kami terus melaju ke arah timur di sepanjang jalur pantai utara Jawa Tengah saat fajar belum menyingsing. Sepanjang perjalanan, kereta berhenti di stasiun Comal, stasiun Pekalongan, dan stasiun Batang. Setelah kereta meninggalkan stasiun Batang, cahaya matahari mulai terlihat. Saya langsung menuju ke pintu gerbong untuk memotret dan merekam pemandangan eksotis pantai Plabuan yang letaknya persis di pinggir jalur kereta api. Pemandangan pantai Plabuan terlihat sangat indah di bawah sorotan mentari pagi. ![]() Pemandangan eksotis pantai Plabuan, kabupaten Batang, Jawa Tengah dari kereta Tawang Jaya di pagi hari Menunggu lama di Semarang Poncol Setelah kereta cukup lama berjalan, kami tiba di stasiun Weleri, kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Cukup banyak penumpang yang turun di stasiun ini Sepanjang perjalanan setelah Weleri, di bagian selatan tampak beberapa gunung yang berderetan. Dugaan saya, gunung-gunung yang tampak di kejauhan tersebut adalah gunung Merbabu, Sumbing, Sindoro, dan gunung Slamet. ![]() Pemandangan sebelah selatan dari dalam KA Tawang Jaya, kira2 di daerah Weleri Kereta melaju dengan kecepatan tinggi sebelum berhenti di Kalibodri dan Kaliwungu untuk bersilang dengan KA lain dari arah timur. Dari sini, pemandangan sawah, hutan dan perbukitan di luar kereta berganti menjadi kawasan industri yang dipenuhi pabrik dan rumah-rumah penduduk yang padat, sebuah tanda bahwa kami akan masuk ke kota besar. Tidak lama kemudian pada pukul 06.40 kami akhirnya sampai di pemberhentian terakhir, stasiun Semarang Poncol. Setelah turun dari kereta, kami keluar dari Stasiun untuk beristirahat dan mencari sarapan di warung angkringan di luar stasiun, lalu kembali lagi ke stasiun untuk membeli tiket KA Pandanwangi tujuan Solo Balapan. Sambil menunggu kedatangan KA Pandanwangi, kami mengambil cukup banyak gambar di Semarang Poncol. Pada pukul 9.00, KA Pandanwangi dari Solo Balapan tiba. Ternyata cukup banyak juga penumpang yang sudah menunggu kedatangan kereta api ini untuk menuju ke daerah Solo dan sekitarnya.Kami pun tidak kebagian kursi dan duduk di dekat pintu kereta. Namun justru dengan begini kami bisa leluasa melihat dan memotret pemandangan sepanjang jalur Semarang - Solo yang merupakan jalur KA yang pertama dibangun di Indonesia sejak tahun 1867. Ketika KA Pandanwangi mulai berjalan meninggalkan stasiun ke arah timur, saya mengira kereta sudah berangkat, namun ternyata kereta ini malah dibawa ke Dipo lokomotiif Semarang Poncol. Sialnya, di sana kami harus menunggu kereta untuk diperbaiki selama 3 jam. Padahal seharusnya jam 9.10 kereta sudah diberangkatkan ke Solo Balapan. Saya dan penumpang lainnya sudah bosan menunggu di dalam dipo yang bau oli dan mesin tanpa ada kepastian keberangkatan ataupun pemberitahuan tentang sebab-musabab diperbaikinya kereta api oleh pihak stasiun. Ketika kereta baru diberangkatkan pada pukul 12.00, pihak stasiun hanya menyampaikan permohonan maaf. Sudah lumrah di dunia kereta api kita, kalau kereta terlambat 2 jam (bahkan 3 jam) itu sudah biasa, kata Bang Iwan Fals. Namun di balik keterlambatan kereta yang cukup parah, kami bisa melihat secara langsung aktivitas yang dilakukan oleh para karyawan di dalam dipo. Akhirnya pada pukul 11.30 kereta selesai diperbaiki dan dibawa kembali ke Stasiun Semarang Poncol. Sebelum kereta diberangkatkan, saya membeli roti, minuman serta makanan ringan di stasiun untuk mengisi perut dan untuk berjaga-jaga jika selama di perjalanan ke Solo tidak ada pedagang yang menjual makan siang. Pada jam 12.00 di tengah siang hari yang terik, KA Pandanwangi akhirnya berangkat dari Stasiun Semarang Poncol. Tidak jauh setelah meninggalkan Semarang Poncol, kereta berhenti di Stasiun Semarang Tawang yang terkenal sering terendam banjir rob. Namun kami beruntung karena saat itu Semarang Tawang tidak terendam banjir walaupun saat ini sedang musim hujan. Jika terendam banjir rob, semua kereta yang lewat di Semarang terpaksa dialihkan ke jalur selatan, sehingga lalu lintas kereta api di jalur selatan menjadi sangat padat. Suasana di stasiun tampak sepi karena semua kereta api bisnis dan eksekutif pagi sudah diberangkatkan dari stasiun ini. Setelah berangkat dari Stasiun Tawang, kami melintasi areal pertambakan di pinggir rel yang berada di sebelah timur Stasiun Semarang Tawang. Sayang sekali, setelah mengambil foto di sini, baterai HP saya mulai kehabisan tegangan, sehingga saya tidak bisa memotret pemandangan sepanjang Semarang – Solo. Untung saja baterai kamera digital milik Bastian masih segar bugar karena baru dipakai pagi tadi saat kami masih di Semarang Poncol. Dari jalur utara ke jalur selatan Kereta terus melaju dengan kecepatan tinggi di tengah teriknya matahari dan berhenti di beberapa stasiun yang letaknya masih di jalur utara, di antaranya stasiun Alastua, Brumbung (titik percabangan ke Solo lewat Kedungjati), Gubug, dan Karangjati. Kemudian kami sampai di stasiun Gambringan yang merupakan titik percabangan antara jalur KA dari Surabaya ke arah Semarang dan dari Surabaya ke arah Solo. Di stasiun ini lokomotif harus pindah posisi ke gerbong belakang karena arah jalur percabangan ke Solo berlawanan dengan arah perjalanan kereta api dari Semarang. Sepanjang perjalanan antara Semarang Poncol – Gambringan selama hampir 1 jam, kami tidak menjumpai pedagang yang menjual makan siang dan minuman. Padahal selama di perjalanan, makanan dan minuman yang kami beli di Semarang Poncol hampir habis karena kami cukup kelaparan setelah menunggu kereta diperbaiki selama 3 jam di dipo Semarang Poncol. Syukurlah, di stasiun Gambringan ada beberapa penjual lontong sate dan pecel yang berkeliling di dalam kereta untuk menjual dagangannya selagi kami menunggu lokomotif pindah posisi. Kami pun membeli satu porsi lontong sate dan pecel untuk makan siang dan air minum untuk bekal perjalanan selanjutnya. Setelah selesai pindah lokomotif, kemudian KA Pandanwangi melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju ke Solo. Selepas Gambringan, pemandangan yang terlihat di sekeliling kereta adalah tanaman liar, pohon pisang, ladang singkong, hutan jati dan rumah-rumah penduduk yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu. Tanah di kabupaten Grobogan agak tandus sehingga kurang cocok untuk ditanami padi. Di daerah ini cukup banyak belokan sehingga kereta harus berjalan agak pelan. Kami tiba di stasiun Gundih. Stasiun ini adalah pertemuan antara jalur dari Semarang menuju Solo lewat Kedungjati dan jalur dari Gambringan yang kami lewati tadi. Stasiun ini terlihat sangat antik karena bentuk stasiun ini tetap dijaga sejak dibangun pada abad ke-19. Mulai dari atap, tiang, ukiran, jam dinding, kios pedagang, jendela, pintu, hingga lantainya yang berwarna kuning mirip milimeter blok alias buku cacah gori, semuanya masih asli sejak jaman Belanda. KA Pandanwangi melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Pemandangan di sekeliling kereta perlahan mulai berubah dari yang semula dipenuhi oleh tanaman liar dan hutan jati menjadi hamparan sawah yang hijau. Kali ini kereta sudah bisa berjalan dengan cepat karena belokan sudah relatif jarang. Kereta lewat di Stasiun Goprak, lalu berhenti di Stasiun Sumberlawang. Saat ini kami sudah masuk ke kabupaten Sragen, tepat sebelum sampai di Solo. Kereta berhenti lagi di Stasiun Salem, di sini penumpang mulai banyak yang turun sehingga kursi di dalam kereta mulai kosong, namun kami tetap duduk di dekat pintu kereta karena tidak ingin melewatkan pemandangan di sepanjang jalur antara Semarang dan Solo, yang baru kali ini saya lewati seumur hidup. Kereta berjalan semakin cepat, sehingga kami harus semakin berhati-hati ketika mengambil gambar karena di sepanjang rel terdapat banyak pohon yang dahannya menjulur hingga mencapai pintu kereta. Selepas Salem, kereta melewati stasiun Kalioso. Sayang sekali, akhirnya kekuatan baterai kamera Bastian sudah mencapai batasnya sebelum kami sampai di Solo. Kereta berjalan perlahan memasuki pemukiman yang cukup padat, kemudian berbelok ke arah barat dan memasuki areal Stasiun Solo Balapan yang sangat luas. Setelah mengemasi barang-barang bawaan, kami langsung turun dari kereta. Jam telah menunjukkan pukul 15.30 sore. Saya mulai kelelahan, namun juga lega karena perjalanan kami ke Jogja se akan tinggal selangkah lagi. Setelah membeli tiket KA Prambanan Ekspres (Prameks) dan menjamak shalat Dhuhur & Asar di mushola, kami langsung beristirahat di peron utara stasiun sambil menikmati minuman yang kami beli di sana untuk menunggu kedatangan KA Prameks yang akan mengantar kami sampai ke Jogja. Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba... Biasanya KA Prameks berwujud seperti KRL di Jakarta atau seperti KRD Patas di Bandung. Namun kali formasi KA Prameks yang datang pada pukul 16.15 sore terdiri dari 3 gerbong bisnis dan 1 gerbong makan ekonomi yang ditarik oleh lokomotif seperti kereta-kereta jarak jauh lainnya, berbeda dari yang biasanya. Kami pun langsung menuju ke gerbong belakang untuk menikmati pemandangan dari pintu kereta paling belakang atau biasa disebut backriding. Dari situ kami bisa melihat jalur rel yang baru saja dilewati oleh kereta hingga titik tejauh di cakrawala, ketika dua batang rel terlihat seolah-olah menjadi satu dari kejauhan. Hujan mulai mengguyur, namun kereta terus melaju kencang menuju ke Jogja. Rel di jalur ini adalah rel terbaik di Indonesia, sehingga kereta dapat melaju dengan kecepatan melebihi 100 km/jam di belokan sekalipun. Di dalam kereta, kami berkenalan dengan dua orang railfans dari Jogja yang baru saja berwisata dengan kereta api feeder Solo-Wonogiri dan saya juga bertukar foto dengan Bastian. Setelah kereta berhenti di Stasiun Klaten dan Maguwo, kereta sampai di stasiun Lempuyangan. Kedua railfans tadi turun di Lempuyangan, lalu kereta kembali berjalan dan mengakhiri perjalanan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Jam sudah menunjukkan pukul 17. 15, hujan masih mengguyur di sore hari yang gelap. Bastian langsung pulang ke rumahnya, sementara saya beristirahat di mushola stasiun sambil melihat foto-foto dan video hasil jepretan kami selama di perjalanan. Setelah mengumpulkan cukup tenaga, saya keluar dari stasiun, menyambut sore hari yang masih bergerimis di Jogja, kemudian menumpang taksi yang telah tersedia di luar stasiun untuk menuju ke rumah saya di Banguntapan. Demikianlah catatan perjalanan kami yang panjang ini. Perjalanan kami dari Bandung ke Jogja selama 1 hari 1 malam lewat Jakarta, Cirebon, Semarang dan Solo benar-benar melelahkan namun sangat berkesan. Pemandangan dan keunikan dari tiap daerah yang kami lewati tak akan terlupakan, mulai dari indahnya pegunungan antara Bandung dan Purwakarta, hiruk-pikuk ibukota Jakarta di malam hari saat semifinal AFF, eksotisme pantai Plabuan di pesisir utara Jawa Tengah, ramainya aktivitas di Semarang Poncol, dan suasana pedesaan di Grobogan menambah pengalaman kami sebagai railfans dalam menjelajahi jalur kereta api di sepanjang pulau Jawa. Di bawah ini adalah gambar rute yang kami lewati dari Bandung hingga ke Yogyakarta. Bagi teman-teman yang ingin merasakan perjalanan yang kami lakukan. Berikut adalah jadwal KA (yang seharusnya) dan rincian harga tiket KA dalam perjalanan kami – Berangkat dari Bandung pukul 15.00 dengan KA Argo Parahyangan kelas bisnis, harga tiket Rp30.000, sampai di Jatinegara pukul 18.00 – Dari Jakarta Kota ke Semarang Poncol dengan KA Tawang Jaya kelas ekonomi, berangkat pukul 21.00, harga tiket Rp33.500,00. Naik di gerbong restorasi dengan membayar tambahan Rp25.000,00. Sampai di Semarang Poncol pukul 05.16. – Dari Semarang Poncol ke Solo Balapan dengan KA Pandanwangi kelas ekonomi, berangkat pukul 09.10, harga tiket Rp13.000,00. Sampai di Solo Balapan pukul 12.00 – Dari Solo Balapan ke Yogyakarta dengan KA Prambanan Ekspres kelas bisnis. Beberapa jadwal keberangkatan dari Solo Balapan ke Yogyakarta di antaranya pukul 12.35, 13.35, 15.15 dan 16.15, lama perjalanan sekitar 1 jam. Harga tiket Rp9000,00. Biaya perjalanan total = Rp110.500,00 Ternyata ongkos perjalanan kami masih lebih murah ketimbang harga tiket KA Lodaya kelas bisnis dari Bandung ke Jogja di akhir pekan yang harganya Rp120.000,00. Naik kereta api lebih baik, lebih baik naik kereta api...dapet murahnya, dapet pemandangannya, nggak gampang bikin mabuk perjalanan, bebas macet dan mengurangi polusi..... Perjalanan ini dilakukan oleh 2 orang railfans DAOP VI, yaitu Sebastian Adi Nugroho a.k.a antimon40 dan Muhammad Ammar Wibisono. RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - ecko_234 - 23-12-2010 nice trip pak.... RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - arif96 - 23-12-2010 Nice and Great Trip Report, gan
RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - babay_elgoe - 24-12-2010 sip, bagus banget... RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - antimon40 - 24-12-2010 Busetlah banyubiru ga jalan gara2 rangkaiannya rusak.Pandanwangi jadwalnya sangat mengecewakan kaum non railfans. RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - eksazawa - 24-12-2010 mana foto-foto yang lainya gan? nggak Banyubiru ,nggak Pandanwangi dan nggak juga Pramex , lagi lagi rusak huft... RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - antimon40 - 24-12-2010 Foto menyusul, coz ni malam natal nguploadnya ntar aja
RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - ouilevio - 24-12-2010 sampai d SMC jam brp? ga sempat ngejar banyuiru kan? RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - antimon40 - 24-12-2010 (24-12-2010, 10:17 PM)ouilevio Wrote: sampai d SMC jam brp? TJ mpe SMC sekitar jam 7. Banyubiru emang jadwalnya brangkat jam 06.20 tapi saat itu banyubiru gak jalan, teronggok di dipo ![]() yang menyebalkan, penumpang pandanwangi dibawa ke dipo selama 3 jam buat membetulkan KRD nippon sharyo (hal ini tidak diberitahukan pada penumpang), walaupun pada akhirnya sama saja ditarik oleh loko CC 201 52. RE: Catatan Perjalanan Bandung Jogja via Jakarta - Cirebon - Semarang - Solo - rf_mataram - 24-12-2010 Knpa ga lewat Kedungjati ya ?? Jalur Kedungjati-Gundih jdi makin sepi aja
|